“Dan siapa nama lengkap mu Arthur?” tanya Erlan kepada menantunya yang sedang duduk di sofa tunggal.
“Arthur Austin Fe--,” ucap Arthur tetapi ketika ia mengatakan kata terakhir namanya, Arthur segera menutup mulutnya.
“Hampir saja,” batin Arthur sembari mengelus dadanya.
“Arthur Austin? Apa? Tadi ucapan mu tidak jelas,” sahut Erlan.
“Bukan Tuan. Nama saya hanya Arthur Austin,” jawab Arthur sembari menyakinkan Erlan.
“Tapi sepertinya namamu tidak asing didunia bisnis?” tanya Erlan karena ia seperti mengingat nama seseorang di dunia bisnisnya.
“Ah... Itu hanya perasaan Anda, Saya kan hanya bekerja sebagai room attendant di salah satu Club Anda,” jawab Arthur ia pun sembari memperlihatkan wajah serius nya.
“Tapi sungguh saya pernah mendengar nama mu Arthur,” ujar Erlan kekeh sembari mengingat - ingat.
“Sudah - sudah, jangan berdebat hal seperti ini, hal ini tidak ada gunanya,” ucap Olivia memotong pembicaraan antara Arthur dan Erlan.
Arthur akhirnya bisa bernapas lega pembicaraan itu dihentikan oleh Olivia.
“Hahahah... Aku kira wanita paruh baya itu tidak ada gunanya. Ternyata ada gunanya juga,” batin Arthur sembari melirik Olivia. Lirikan itu ternyata sempat dilihat oleh Olivia.
“Heh.... Kamu Pria miskin saja, kenapa lihat-lihat saya. Terpesona sama kecantikan saya yang paripurna? Ingat saya ibu dari istri mu itu, mana mau saya dengan mu. Ya meskipun saya sudah cerai tetapi saya masih punya harga diri, tidak sembarangan untuk menerima pria sepertimu,” ucap Olivia panjang lebar hingga membuat Arthur menggelengkan kepalanya.
“Astaga... Ya Tuhan... Cobaan apalagi ini? Siapa juga yang mau dengan Wanita itu. Percaya diri sekali dia,” batin Arthur sembari melihat sekilas Olivia.
“Ini apa - apaan sih, Mah kok bahasnya sampai ke situ. Tadi sebenarnya kami disuruh kemari untuk apa?” tanya Elena kesabarannya kini sudah habis karena sang Papa sedari tadi tidak segera mengatakan inti dari pertemuan ini.
“Begini, Elena! Papa selama satu tahun kedepan akan ada pekerjaan di Aussie. Jadi papa akan meninggalkan mu di Indonesia. Tetapi jangan khawatir papa tetap akan mentransfer uang bulanan mu. Dan untuk Arthur bersabarlah dengan istri mu itu. Dia memang kasar tetapi jika kamu bisa mengambil hatinya ia pasti akan bersikap lemah lembut, papa dukung kalian. Arthur kamu bisa memanggil saya Papa, anggap saya seperti orang tuamu,” ucap Erlan sembari berdiri kemudian menepuk bahu Arthur.
“Baik pah,” jawab Arthur ragu-ragu.
“Good boy,” sahut Erlan sembari tersenyum kepada Arthur.
Erlan pun berpamitan kepada semua orang yang ada di mansion itu. Rencananya kini ke Aussie dia ingin memberikan waktu anak dan menantunya itu untuk beradaptasi. Erlan berharap jika ia sudah pulang kembali ke Indonesia maka antara Arthur dan Elena sudah berdamai.
“Yes..... Si Erlan ke luar negeri. Akhirnya aku bisa sesuka hati membuat Arthur tidak betah tinggal disini. Sehingga Arthur pun sampai ingin angkat kaki dari mansion ini,” batin Olivia senyuman licik ia tampilkan. Ribuan rencana jahat sudah ia susun sedemikian rupa.
Karena sudah larut malam, Mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
Tapi tidak untuk Erlan ia segera bergegas pulang untuk menyiapkan segala keperluannya untuk terbang ke Aussie.
Pagi pun telah tiba, Mansion milik Elena sudah ramai karena ulah seseorang pencuri perhiasan Elena.
Elena marah-marah dengan sangat keras hingga seisi mansion menjadi sasaran kemarahan Elena. Mulai dari pembantu, tukang kebun, security, bahkan seorang sopir menjadi bahan Elena mengamuk.
“APAKAH KALIAN ADA YANG TAU, DIMANA PERHIASAN KU?” tanya Elena dengan keras sembari berteriak.
“Tidak Nona,” jawab Bi Sri dengan sejujurnya.
“YANG LAINNYA? APA KALIAN TAU TIDAK DIMANA PERHIASAN KU?” tanya Elena sekali lagi, tetapi mereka semua pun menjawab dengan gelengan kepala.
Tiba - tiba Olivia turun dari tangga, karena mendengar keramaian dilantai bawah.
“Elena, ada apa ini. Pagi-pagi sudah ribut?” tanya Olivia sembari mengucek matanya dan sesekali menguap, karena Olivia masih mengantuk.
“Ma.... Perhiasan ku hilang,” ucap Elena kemudian ia menangis didepan Olivia.
“Hua.... Ma...... Dimana perhiasan Olivia.” Tangan Olivia ia gunakan untuk mengusap matanya yang mengalirkan air mata.
“La, Mama mana tau Elena. kamu sudah tanya semua penghuni rumah ini?” tanya Olivia memastikan.
Arthur yang masih tertidur nyenyak pun merasa terganggu akibat teriakan dari Elena hingga terdengar di lantai dua.
“Ada apa sih? Diluar. Apa mereka tidak tau, aku sudah lama tidak tidur di kasur empuk yang seperti ini,” gerutu Arthur sembari bangun dari posisinya tidur.
Dengan rasa malas yang masih menempel Arthur pun berjalan keluar dari kamarnya untuk turun ke lantai bawah, supaya ia bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Arthur bertanya - tanya di dalam hatinya, “Kenapa ART dan semua nya berkumpul disini?” batin Arthur sembari menebak jika mereka berkumpul karena Elena akan membagikan gaji mereka.
“Ada apa ini Nona?” tanya Arthur setelah ia sampai di lantai satu.
“Heh... Arthur apa kamu tahu dimana semua perhiasan ku?” tanya Elena kepada Arthur.
Sontak Arthur yang tidak mengetahui apapun itu, masih diam mencerna ucapan yang dilontarkan oleh Elena.
Tiba-tiba sebuah rencana jahat muncul dibenak Olivia.
“Elena, lihat Pria itu dia tidak memberikan jawaban. Pasti Arthur adalah pencuri perhiasan mu,” ucap Olivia menuduh Arthur.
Mendadak Arthur melotot kan matanya. “Tidak Nyona, saya tidak mencuri perhiasan Elena,” jawab Arthur bersungguh-sungguh. Bagaimana ia mencuri perhiasannya padahal ia baru bangun tidur.
“Halah jujur saja kamu Arthur, kamu pembohong kan!” ucap Olivia terus memojokkan Arthur.
“Tidak, demi tuhan saya tidak bohong. Kalau pun saya mencuri memangnya untuk apa?” tanya Arthur balik.
“Cih.... Apa - apaan ini. Bisa-bisanya seorang Arthur dituduh mencuri perhiasan, kalau pun aku mau aku bisa membelinya,” batin Arthur sembari menatap Olivia.
“Ya pasti untuk kamu jual lah. Arthur. Kamu kan tidak punya uang. Pria miskin,” ucap Olivia semakin membuat Elena panas dan sepertinya Elena mulai terhasut dengan perkataan Mamanya.
“Sepertinya, ucapan Mama benar. Arthur seperti itu. Jujur kamu Arthur,” ucap Elena dan kini dua orang manusia memojokkan Arthur.
Ditengah perdebatan yang panas itu, Bi Sri izin ke dapur.
“Maaf memotong percakapan Nyonya dan Nona, saya izin ke dapur karena tadi saya masih menyalakan kompor,” ucap Bi Sri sembari meminta izin.
“Ya,” jawab Elena dengan singkat tanpa melihat Bi Sri.
Mendengar jika ia telah diizinkan, Bi Sri pun segera bergegas untuk pergi ke dapur.
Elena risih melihat para, pembantu, tukang kebun, dan sopir bahkan security melihat perdebatan mereka.
“Kalian, ngapain masih di sini?” tanya Elena kepada mereka yang tengah memperhatikan ia berdebat.
Mereka pun tidak ada yang berani untuk menjawabnya.
“Cepat pergi kembali ke pekerjaan kalian,” perintah Elena mereka pun membubarkan diri
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Muhamad Bardi
ditunggu bab selanjutnya kak thor
2023-02-10
1
Muhamad Bardi
semoga rencana jahat olivia untuk mengeluarkan athur dari mansion itu gatot alias gagal total 😁😁
2023-02-10
1