Elena pun melihat ditempat Arthur berdiri. Matanya terbelalak kaget dengan apa yang ia lihat. Bukannya tadi Elena berbicara kepada Arthur jika harus mengenakan pakaian yang rapi dan bersih, lalu ini apa?.
Elena naik pitam, emosinya seakan ingin meledak - ledak.
“Dasar pria miskin, bukannya tadi sudah aku bilang memakai pakaian yang rapi dan bersih dan sekarang apa? Kau malah mandi sampah. Heyyy otak kamu dimana?,” Tak henti - hentinya Elena mencaci maki calon suaminya itu.
Arthur tak tinggal diam, ia pun ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada Elena.
“Tadi tidak seperti itu Nona, tadi ketika saya mencuci kaki tiba-tiba sebuah sampah turun begitu saja. Bahkan saya tidak tau jika ternyata sampah busuk itu turun kesini,” ucap Arthur kepada Elena.
“Halahh... Bohong kamu, tadi saya jelas-jelas lihat kau mengambil sampah yang ada di tong sampah samping mu itu,” ucap Olivia memberi pernyataan palsu, sembari menunjuk tong sampah yang ada disamping Arthur.
Dan sepertinya Elena percaya dengan pernyataan palsu yang dibuat Olivia. Bagaimana tidak percaya, dulu sewaktu masih muda Olivia adalah seorang aktris pemain sinetron yang selalu mendapatkan peran sebagai antagonis yang jahat.
“Hahh? Begitu Ma? Jadi dia benar-benar mandi sampah,” ucap Elena tak habis fikir dengan tingkah Arthur.
Arthur menggelengkan kepalanya, tetapi tidak ada yang peduli kepadanya.
Elena pun memanggil seorang tukang kebun yang berdiri tidak jauh darinya sedang menyirami bunga.
“Asepp!,” panggil Elena kepada tukang yang diketahui bernama Asep.
Mendengar panggilan dari Nona nya itu membuat Asep segera menemuinya.
“Iya, Nona? Ada apa?” sahut Asep.
“Mandikan Pria itu di kamar mandi yang ada dibelakang khusus untuk pembatu, dan minta tolong saja sama Bi Sri untuk mengambilkan pakaian Papa, paham?” Elena memberikan perintah kepada Asep.
“Siap Non,” jawab Asep sembari berjalan menuju Arthur.
“Mari Tuan ikuti saya,” ucap Asep sembari mengajak Arthur untuk mengikutinya. Akhirnya dari pada berdebat lagi Arthur pun mengikuti langkah Asep.
Mereka pun melangkahkan kakinya ke belakang mansion Elena.
Setelah Arthur dan Asep menghilang dari hadapan Elena. Olivia pun tidak henti - hentinya memaki calon menantunya itu.
“Dasar Pria miskin, huh....,” ucap Olivia menghina Arthur.
“Elena, kamu jangan dekat - dekat dengan Arthur. Mama takut kamu nanti jadi miskin, karena tertular oleh si hidupnya Arthur yang sudah menyedihkan,” ucap Olivia menasehati Elena.
Mendengar nasehat itu Elena pun menganggukkan kepalanya tanda ia setuju.
“Dan juga ingat Kita itu dari keluarga kaya raya, tidak baik dekat-dekat dengan pria miskin. Takut hartanya nanti di ambil sama dia,” ucap Olivia kepada Elena, dan lagi-lagi ia hanya menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu Elena izin masuk ma,” pamit Elena kepada Mama nya itu.
Elena pun berjalan memasuki mansion nya. Belum sampai lima langkah suara bariton dari tangga membuat Elena berhenti.
“Elena!” panggil Erlan menggema di ruangan itu.
Elena menoleh ke asal suara dan mendapati sang Papa tengah menatapnya.
“Iya, pa. Ada apa?” sahut Elena sembari berjalan menghampiri Papanya.
Erlan pun juga turun dari tangga. Setelah sampai lantai satu barulah Erlan mengajak Elena, untuk berbicara empat mata di ruang kerja nya yang dulu, sewaktu ia masih menjadi istri Olivia.
“Elena ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan. Oleh karena itu, mari ikut Papa ke ruang kerja,” ucap Erlan sembari mengajak Elena ke ruang kerja.
Elena paham akan situsi yang sedang ia hadapi saat ini, Elena pun mengikuti langkah panjang Erlan.
Sampailah mereka di ruang kerja itu.
Erlan pun menyuruh Elena untuk duduk di kursi.
“Elena duduk,” perintah Erlan tanpa menerima penolakan.
Elena pun menuruti keinginan papanya itu. Ia pun duduk didepan Erlan, ya.... Mereka duduk dengan saling berhadapan.
Tiba-tiba Erlan meneteskan air matanya, entah karena apa.
“Elena, papa sudah merencanakan semua ini matang - matang, pernikahan kamu dan Arthur akan tetap dilaksanakan malam ini. Dan papa hanya mengundang beberapa orang yang berkepentingan saja. Pernikahan berlangsung di mansion ini, dan bersifat tertutup,” ucap Erlan panjang lebar untuk memberitahu Elena tentang pernikahan ia dengan Arthhr malam ini.
Secara spontan Elena membuka mulutnya dan ingin membantah ucapan Papa nya itu. Karena menurut Elena ini tidak sangat adil. Semua ditentukan oleh papanya sedangkan ia bagaikan sebuah robot yang selalu menuruti semua keinginan Papanya.
“Pah... Elena tidak mau menikah dengan Arthur... Apalagi malam ini. Elena belum mencapai semua cita-cita Elena. Pliss pah.... Beri sedikit waktu,” ucap Elena memohon kepada Papanya.
“Maaf Elena, tapi ini sudah keputusan bulat dari papa. Kamu tidak bisa membantahnya lagi, yang kamu bisa lakukan hanya menerima.” Erlan tetap bersih kukuh dengan pendiriannya selama ini.
“Pa.. Elena mohon tunda dulu pernikahannya, Elena belum siap,” ucap Elena sembari mengusap air mata yang keluar dari kelopak matanya.
“Tapi kamu sudah terbukti hamil Elena. Maka, mau tidak mau kamu dan Arthur harus bertanggung jawab,” ucap Erlan kembali menasehati nya.
“Tapi pah,” mohon Elena untuk yang kesekian kalinya tetapi masih tidak ditanggapi oleh Papanya.
“Elena dengarkan Papa. Ini juga untuk kebaikan mu,” ucap Erlan sembari merangkul putrinya itu.
“Memang Papa sama Mama sudah bercerai, Ada yang namanya mantan Istri, mantan suami. Tetapi tidak ada kata mantan anak ataupun mantan Papa. sampai kapan pun Papa masih tetap menjadi papa mu,” ucap Erlan tersenyum sembari menatap Elena.
“Papa hanya minta kamu menikah dengan Arthur saja, Ingat Elena didalam perut kamu, ada calon pewaris keluarga kita. Heyyy apa kamu tidak sayang dengan dia?” tanya Erlan sembari menunjuk perut Elena.
Elena sudah tak sanggup lagi untuk melihat Papanya itu. Buliran air mata mengalir deras dipipi putih nan mulus Elena. Suara sesak air mata memenuhi ruangan itu. Ruang kerja menjadi saksi bahwa seorang Ayah tetap menjadi Ayah meski sudah bercerai dengan Mamanya Elena.
“Kalau mau nangis, nangis saja itu akan menjadi lebih baik, dibanding kamu tahan,” nasehat Erlan sembari menarik Elena ke dalam pelukannya.
“Dan ingat satu ini Elena, se miskin apapun Arthur ia tetap menjadi Ayah bagi janin di dalam sini. Tanpa dia kamu tak akan bisa memiliki janin ini? Apa kamu sudah mengerti?,” ucap Erlan. Mempererat pelukan diantara keduanya.
“Tapi pah.... Aku tidak ingin memiliki Bayi ini. Bahkan dia terlahir atas kesalahan saja. Apa aku tidak boleh menggugurkan dia----,” ucap Elena membuat Erlan tersulut emosi nya kembali.
“Jaga ucapan mu Elena, seorang bayi tidak bisa memilih ingin keluar dari rahim wanita yang menginginkannya atau justru membencinya,” ucap Erlan menasehati Elena.
“Tapi Pah,” bantah Elena mendapatkan tamparan keras dari Erlan.
“Plakkk,” tamparan itu terdengar begitu nyaring apalagi suaranya menggema di ruang kerja Erlan.
“Kamu tinggal menurut saja susah,” ledek Erlan membuat Elena mengrucut kan bibirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SOMBONG SEKALI NI ELENA,, PANTAS LO DIJEBAK KOMPETITOR LO SI KAYLA.. HRSNYA LO SELIDIKI KAYLA YG TRLIHAT DI CCTV BRSAMA ATHUR
2023-06-19
0
Muhamad Bardi
ditunggu bab selanjutnya kak thor
2023-02-07
1
Muhamad Bardi
kayanya papah erlan itu baik deh ga kaya mamah olivia yang sombong dan sifat yang di miliki elena itu sama kaya mamah olivia sombong...
2023-02-07
1