Akhirnya Arthur pun berinisiatif membawa pakaiannya menggunakan tas kresek yang berukuran besar.
Setelah selesai mengemasi pakaiannya, Arthur pun mandi. Lima menit kemudian Arthur sudah bersiap-siap untuk pergi menuju mansion Elena, menggunakan taksi yang sudah ia pesan. Sore itu Arthur mengenakan kemeja berwarna hitam yang dua kancing baju dari atas ia biarkan terbuka, serta celana berwarna crem ia pakai.
Entah dari mana arthur sudah mengetahui alamat mansion Elena, padahal tadi tidak ada yang memberitahukannya.
Tidak menunggu lama taksi itu sudah sampai di depan kost Arthur. Arthur pun bergegas untuk menaiki kendaraan beroda empat.
“Jalan pak,” ucap Arthur kepada sopir taksi itu.
Pak sopir pun menoleh kebelakang dan meng iya kan perintah dari pelanggan taksi nya itu.
Kendaraan beroda empat itu melaju membelah jalan di Kota Jakarta. Arthur menghela napas panjang.
“Sampai kapan aku terus begini,” batin Arthur sembari tersenyum matanya melihat ke kaca jendela di taksi itu.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian compang-camping dan seorang anak kecil tengah berlindung dibawah teriknya sinar matahari. Terlihat anak kecil itu kelaparan. Dan seperti dugaan Arthur bahwa mereka tidak bisa membeli makan.
Hati Arthur terenyuh melihat peristiwa itu, hatinya tergerak untuk membantu wanita paruh baya dan seorang anak kecil itu.
“Pak berhenti,” ucap Arthur kepada seorang sopir taksi itu.
Lantas sang sopir pun menginjak rem dan menyingkir ke pinggir jalan.
“Pak sebentar ya, sama mau kesana. Nanti saya kembali lagi,”ucap Arthur sembari menunjuk seorang wanita paruh baya dan seorang anak kecil.
“Baik Tuan,” jawab sopir itu.
Arthur pun bergegas turun kemudian menghampiri mereka. Diambilnya uang dengan nominal seratus ribu sebanyak lima lembar dari dompet nya.
“Permisi bu, ini sedikit dari saya. Semoga bermanfaat,” ucap Arthur sembari memberikan lima lembar uang tersebut kepada Wanita paruh baya yang duduk bersimpuh di tanah.
Wanita paruh baya itupun berterimakasih tak henti kepada Arthur.
“Terimakasih Tuan, terimakasih. Semoga Tuhan selalu memudahkan urusan Anda,” sahut Wanita paruh baya itu.
Arthur mengusap punggung anak kecil yang ada disamping ibunya itu.
“Sehat-sehat ya sayang,” ucap Arthur sembari tersenyum kepada anak kecil itu. Pikirannya pun tiba-tiba tertuju pada Anak yang tengah dikandung Elena.
Ya.. Entah sejak kapan Arthur menyayangi janin yang tengah dikandung Elena.
“Ya sudah kalau begitu saya pamit,” ucap Arthur sembari berpamitan.
Arthur pun kembali ke mobilnya. Pak sopir ternyata sudah menunggunya sedari tadi membuat Arthur tidak enak.
Setelah menutup pintu taksi. Barulah mereka melanjutkan perjalanannya.
Tak terasa kendaraan itu sudah sampai di halaman mansion Elena. Arthur menarik napas dalam - dalam, kemudian menghembuskan nya pelan-pelan.
“Semoga, awal yang baik,” gumam Arthur sembari turun dan memberikan sejumlah uang kepada sopir taksi itu.
Arthur mengambil tas kresek yang berisikan beberapa potong pakaian nya. Ia kemudian menekan tombol bel yang ada di mansion itu.
“Ting - tong,”
“Ting - tong”
“Ting - tong,”
Setelah beberapa kali menekan bel. Kemudian seorang Wanita berusia 47 tahun keluar dengan menatapnya tidak suka.
Bahkan Arthur sudah menebak jika yang ada di hadapan nya itu adalah Ibu dari Elena.
Ya... Olivia Queen Harrison, wanita berusia 47 tahun itu adalah Ibu kandung dari Elena ia sudah bercerai dengan Erlan beberapa bulan yang lalu.
“Selamat sore, Nyonya,” ucap Arthur gugup. Tangannya bergetar mendapatkan tatapan sinis yang Olivia berikan kepada calon mantu nya itu.
“Hm..,” sahut Olivia enggan untuk menjawab sapaan pria miskin didepannya.
“Bahkan dia lebih buruk dari bayangan ku, Apa dia tidak punya sebuah tas hingga harus membawa pakaian nya menggunakan tas kresek? Cihh... Memalukan saja. Yang benar saja menantu dari pemilik perusahaan Harriso, adalah seorang pria miskin yang bekerja menjadi Room Attendant di salah saty Club malam milik mertuanya? Cih.... Lucu,” batin Olivia kemudian ia segera menggelengkan kepalanya.
“Masuk,” ucap Olivia dengan menatap rendah Arthur.
Mendengar ia sudah dipersilakan masuk ia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion yang besar dan mewah ini, mempunyai lima lantai yang masing-masing juga mempunyai ruangan yang sangat besar. Arthur sangat terpesona dengan mansion Elena ini gaya elegan berhasil mansion ini dapatkan, dengan semua barang-barang yang dilapisi emas menambah kesan mewah yang tercipta.
“Stop,” teriak Olivia tiba-tiba hingga suara nya menggema.
“Kau,” ucap Olivia sembari menunjuk wajah Arthur.
“Iya Nyonya,” sahut Arthur sembari mengernyitkan dahinya.
“Keluar, bersihkan kaki mu yang kotor itu baru boleh masuk. Jangan sampai kau masuk ke mansion ini dengan membawa kuman dan virus,” perintah Olivia dan tanpa bantahan sedikit pun Arthur menjalankan perintah dari calon mertuanya itu.
“Baik Nyona,” jawab Arthur.
Arthur pun membersihkan kakinya di halaman mansion yang terdapat kran yang mengalir.
Olivia menampilkan senyum miringnya sebuah rencana sudah ia susun dengan matang. Untuk membuat Mansion ini bagaikan neraka bagi Arthur.
Olivia merogoh ponsel disaku nya, kemudian ia menelpon pembantu yang sudah bersiap di balkon lantai dua.
“Lena, apa kau sudah siap?,” ucap Olivia kepada seseorang yang berada di ujung telepon.
“Sudah Nyonya,” sahut orang yang ada di telepon.
“Sekarang!” perintah Olivia dan diwaktu yang bersamaan sampah sebanyak dua tong sampah busuk tiba-tiba jatuh dari balkon hingga mengenai tubuh Arthur, sampah yang ada didalamnya pun berserakan jatuh. Olivia tersenyum kemenangan, rencananya yang pertama berhasil.
“Baru pertama kok, masih permulaan,” gumam Olivia sembari tertawa kemenangan.
Arthur yang baru saja selesai membersihkan kakinya mendapatkan hujan sampah dari atas pun, ia kaget tidak main. Tubuhnya mengeluarkan bau busuk, Arthur menghela napas sembari mengelus dadanya.
“Sabar,” ucap Arthur kepada dirinya sendiri. Kini baju kemeja hitam itu sudah kotor akibat sampah busuk yang jatuh dari atas.
Olivia pun keluar dari dalam mansion nya dam tertawa dengan keras melihat kondisi Arthur yang mengenaskan. Bahkan seperti seorang gelandangan di bawah kolong jembatan.
“ELENA! ELENA!,” teriak Olivia memanggil putrinya untuk turun ke bawah.
Mendengar panggilan itu, Elena pun turun ke bawah.
“Ada apa Ma?” tanya Elena kepada Olivia setelah ia sudah sampai di bawah.
“Lihat Elena, calon suami mu itu, si pria miskin. Kini sudah seperti gelandangan saja,” ucap Olivia menghina Arthur untuk yang kesekian kalinya.
Elena pun melihat ditempat Arthur berdiri. Matanya terbelalak kaget dengan apa yang ia lihat. Bukannya tadi Elena berbicara kepada Arthur jika harus mengenakan pakaian yang rapi dan bersih, lalu ini apa?.
Elena naik pitam, emosinya seakan ingin meledak - ledak.
“Dasar pria miskin, bukannya tadi sudah aku bilang memakai pakaian yang rapi dan bersih dan sekarang apa? Kau malah mandi sampah. Heyyy otak kamu dimana?,” Tak henti - hentinya Elena mencaci maki calon suaminya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
ossy Novica
sekarang kal8an boleh mencaci Arthur tapi nanti kalian malah memujanya karna Arthur penuh teka teki
2023-03-10
1
Muhamad Bardi
aq kasih bunga buat kak thor biar lebih semangaaat up nya😁😁
2023-02-06
2
Muhamad Bardi
ditunggu kelanjutannya kak thot
2023-02-06
1