Siang harinya Elena datang ke kost Arthur bersama Papanya. Cukup lama mereka mengendarai kendaraan beroda empat hingga mobil itu memasuki perkampungan kumuh yang terdapat beberapa kost yang kecil dan sempit. Erlan beberapa kali mengumpat karena mobil yang dikendarai nya masuk ke lubang yang ada di jalan.
"Sialan!!, jalan atau hutan ini, dari tadi berlubang terus,” gerutu Erlan disertai umpatan yang ia ucapkan.
Elena yang mendengar umpatan dari Papa nya itu, ia hanya bisa diam tanpa membantah sedikit pun.
Bahkan kini fikiran Elena menerawang jauh ketika ia dan Arthur nanti menikah. Elena sangat membenci pria itu, karena Arthur telah menghancurkan hidupnya. Hingga membuat ia hamil diluar pernikahan.
“Cittt...,” suara gesekan rem mobil dan roda mobil membuat kendaraan beroda empat itu berhenti.
Sampailah kini mereka di sebuah kost yang kecil dan sempit.
Erlan sudah turun dari mobilnya dan bersiap akan melabrak Arthur.
Dengan ragu-ragu Elena menyusul Papanya untuk melangkahkan kakinya ke kost Arthur.
Amarah Erlan sudah membara, tangannya mengepal erat. Elena melihat kemarahan yang tersirat dari mata papanya itu.
“Tok - tok - tok,” Erlan mulai mengetuk pintu kost itu hingga beberapa kali barulah pintu itu dibuka oleh Arthur.
Arthur keluar dengan raut muka kebingungan karena bos nya datang menemuinya. Tetapi yang ia herankan adalah seorang gadis yang berdiri di samping bos nya itu, seakan wajahnya seperti tidak asing.
Belum selesai Arthur kebingungan dan ingin bertanya.
Tanpa basa - basi sebuah bogem mentah menghantam wajah Arthur.
Arthur yang belum siap mendapatkan serangan akhirnya terjatuh.
“Bruk,”
“Apa - apaan Tuan?,” ucap Arthur heran sembari memegangi wajahnya yang terasa sakit.
“Kau hanya seorang pria miskin beraninya kau menghamili putri ku,” terang Erlan sembari tangannya menyengkram kerah kemeja Arthur.
Arthur menghela nafas panjang. Sembari bersabar menghadapi Papa dari Wanita yang ia hamili.
Arthur melepas paksa tangan Erlan yang berada di kerah nya.
Erlan pun menatap tajam Arthur sembari bersedekap dada.
“Saya minta kamu cepat menikahi Elena,” pinta Papa Erlan memaksa Arthur yang ada didepannya itu.
“Huh... Seperti janjiku yang dulu, aku akan menikahinya demi calon pewaris yang tengah dikandungnya,” batin Arthur sembari menatap lembut wajah Elena yang berada di sampingnya.
“Baiklah Tuan saya akan menikahi dia,” ucap Arthur membuat Elena terkejut.
“Siapkan dirimu, nanti sore kamu akan menikah dengan Elena di rumah kami,” perintah Erlan tentu disanggupi oleh Arthur.
“Elena Ayo, kita kembali,” ajak Erlan kepada Elena, tetapi Elena tidak menanggapi ucapan Papanya itu.
Setelah sedari tadi Elena hanya diam kini ia mulai angkat bicara.
“Pa, papa pulang dulu. Elena masih ada urusan disini,” ucap Elena sembari tersenyum kepada papanya itu dan berharap jika ia di izinkan di kost Arthur sebentar.
“Huh... Ya sudah, kalau begitu Papa pulang dulu,” ucap Papanya sembari masuk kedalam mobil. Dan kemudian ia menancapkan gas.
Setelah kepergian Papanya, Elena berbalik badan dan menatap tajam Arthur.
“Heyyyy, Tuan apakah benar kau adalah pria yang menghamili aku?” tanya Elena sembari mengerutkan keningnya.
Arthur menjawab, “Iya Nona. Saya yang menghamili Anda dan maaf soal itu,” ucap Arthur jujur hingga tidak berani menatap Elena.
Elena naik pitam, atas pengakuan yang diberikan Arthur. Ia menggenggam tangannya erat.
“Apakah saya boleh mengetahui kronologi nya? Dan penyebab kenapa bisa seperti itu?” tanya Elena mengingat karena pria yang ada didepannya itu adalah penyebab semua hal yang kini terjadi.
“Boleh Nona, tapi sebelum itu silakan masuk kedalam kost saya. Tidak baik berbicara seperti ini di luar rumah,” ajak Arthur sembari membukakan pintu kost nya.
Elena yang tidak biasa dengan keadaan itu pun, Hanya bisa menuruti keinginan Arthur jika tidak, pasti Arthur tidak akan menceritakan tentang kejadian malam itu.
Setelah keduanya masuk ke kost itu pun barulah Arthur menceritakan dengan detail kejadian malam itu.
“Begitu ceritanya Nona,” ucap Arthur mengakhiri setelah ia bercerita.
“Kalau boleh tahu, nama Anda siapa Nona?” tanya Arthur sembari tersenyum.
“Elena,” jawab Elena singkat tanpa melihat wajah Arthur.
“Perkenalkan Nona, saya Arthur,” ucap Arthur sembari mengulurkan tangannya, tetapi langsung ditepis oleh Elena.
“Arthur - Arthur, aku sangat membencimu,” ucap Elena jujur sembari tersenyum sinis.
“Kau yang mengawalinya, maka jangan berharap kau bisa lepas tanggung jawab begitu saja, Mansion ku adalah neraka bagi mu,” ancam Elena sembari tertawa jahat.
“Terserah Nona mau bilang apapun, yang penting saya mohon jangan digugurkan anak itu,” ucap Arthur memohon dan tanpa disadari setetes air mata jatuh begitu saja.
“Oh jadi sekarang kau sangat peduli dengan janin sialan ini!” umpat Elena sembari memukul perutnya sendiri.
Tanpa disangka Arthur memegang erat tangan Elena membuat ia tidak bisa memukul perutnya kembali.
“Janin sialan, aku benci anak ini,” ungkap Elena sembari melepaskan tangannya yang tengah dipegang erat Arthur.
“Lepaskan tanganku,” bentak Elena matanya memerah menahan amarah yang meluap - luap.
Mendapatkan bentakan itu membuat Arthur melepaskan tangan Elena.
“Asal kau tahu, Arthur... Aku terpaksa menikah denganmu ingat itu,” ucap Elena sembari mengambil sebuah ponsel yang tersimpan disaku bajunya.
Elena pun memesan sebuah taksi yang akan mengantarnya untuk pulang.
Elena tanpa berpamitan langsung bergegas pergi keluar dari rumah kost yang kecil dan sempit.
Sampai diteras kost tak lupa Elena berbalik badan dan menatap Arthur dengan seksama.
“Aku hanya terpaksa. Aku tak sudi menikah dengan Pria miskin seperti mu,” ucap Elena menghina.
Arthur yang memang sudah terbiasa mendapatkan hinaan seperti itu hanya bisa diam.
Tak menunggu waktu lama sebuah taksi online datang menghampiri Elena yang akan pulang ke Mansion nya
Elena pun masuk ke taksi itu dan tak lupa pula ia menutup kencang pintu mobilnya.
“Brakkk,” pintu itu tertutup dengan keras.
“Jalan Pak,” perintah Elena kepada sopir taksi yang ada di kursi kemudi.
“Baik Nona,” jawab sopir itu sembari menghidupkan mesin mobilnya dan tak lupa untuk menancapkan gas nya.
Mobil itu pun melaju dengan sangat kencang hingga Arthur sudah tidak melihatnya.
“Sabar Arthur belum saatnya,” gumam Arthur sembari mengelus dadanya.
Arthur pun memasuki kamarnya dan mulai untuk membereskan baju-baju yang akan ia bawa ke mansion Elena.
“Haduh... Kopernya dimana ya?” tanya Arthur kepada dirinya sendiri sembari mengitari kamar kost nya itu.
“Oh iya, ada didalam lemari,” ucap Arthur ketika ialah sudah ingat dimana letak kopernya itu.
Tangan Arthur pun bergerak untuk membuka lemari nya tetapi ia tidak menemukan kopernya.
“Kok tidak ada, dimana ya?” ucap Arthur dan ia baru ingat bahwa beberapa bulan yang lalu ia memindahkan kopernya di kolong tempat tidur.
Ia pun mengambil senter dan mengarahkan benda itu ke kolong tempat tidur.
“Nah itu dia,” ucap Arthur sembari menunjuk pada kopernya. Ia pun menarik koper itu untuk ia bawa keluar.
Kopernya terdapat banyak debu bahkan banyak sarang laba-laba yang mulai bersarang.
Ketika Arthur membukanya ternyata kopernya rusak di bagian bawah akibat digigit tikus. Sehingga ketika Arthur ingin memasukkan pakaian nya ke dalam koper itu Pakaiannya secara otomatis keluar dari kopernya melalui lubang akibat gigitan tikus.
“Yah kopernya berlubang,” ucap Arthur menyayangkan kopernya tidak bisa ia pakai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Besar banget lubangnya,😂😂Koper apaan tuh bisa kenak gigit tikus,koper kan terbuat dari plastik tebal yg keras itu,Atau dari kain tebal itu kan..
2024-12-18
0
Qaisaa Nazarudin
Lha udah dengerin penjelasan Arthur,mengapa masih nyalahin Arthur,Tuh cari si Kaysa..
2024-12-18
0
Qaisaa Nazarudin
Nah gitu dong,minta dan dengerin penjelasannya,Jangan main marah2 aja..
2024-12-18
0