Elena duduk di ruangan khusus untuk papanya.
“Elena ada apa ingin menemui Papa?” tanya Erlan setelah ia melepas dasi yang melilit di lehernya.
Elena gugup tidak main tangannya bermain jari dibawah meja kerja papanya.
“Pa, Elena boleh lihat CCTV di club ini tiga minggu yang lalu?” tanya Elena hati-hati takut papanya tidak memperbolehkan nya.
“Memangnya untuk apa? Kau ingin melihat CCTV?” tanya Erlan bali.
“Ada pokoknya pa, penting banget,” jawab Elena sembari tersenyum dan menampilkan wajah puppy eyes nya.
“Ayolah Pa...” Pinta Elena.
“Ya sudah kalau memang penting, boleh tapi ingat dilarang meng copy Videonya, atau pun merekam menggunakan ponsel. Demi keamanan privasi pelanggan,” ucap Erlan memperbolehkan nya.
“Ayo ke ruang CCTV,” ajak Erlan, Elena pun bernafas lega akhirnya ia diperbolehkan melihat CCTV.
Ketika Erlan ingin beranjak dari kursi kebesarannya suara ringtone ponsel miliknya berbunyi sehingga membuat Erlan pun mengurungkan niatnya untuk berdiri.
“Kring - kring - kring”
“Elena kamu kesana dulu, nanti Papa menyusul. Disana sudah ada anak buah papa, bilang saja kamu anak papa,” ucap Erlan langsung mendapatkan anggukan dari Elena.
Kemudian Elena pun segera berjalan menuju ruang CCTV. Sedangkan Erlan mengangkat telepon.
Dilihatnya layar itu ternyata dari mantan istrinya bernama Olivia. Iya Olivia itu Mamanya Elena.
“Hallo,” ucap Erlan.
“Hallo Erlan, aku cuma mau bilang. Kamu urus anakmu itu si Elena,” ucap Olivia di ujung telepon.
Erlan mengerutkan keningnya, tanda ia sedang bingung dengan ucapan Olivia.
“Memangnya kenapa si Elena? Bukannya ia seperti biasanya?” tanya Erlan.
“Heh... Asal kamu tau, dia sedang hamil Erlan!!!. Putri mu itu, ya tuhan entahlah apa ini karma karna kamu sering bermain wanita hingga putri mu mengandung anak di luar nikah!! Mau ditaruh dimana muka kita? Tadi pembantu di rumah ku menemukan dua alat test peck yang hasilnya positif di tempat sampah yang ada di kamar Elena. Dan hanya Elena yang masuk ke kamar itu,” ucap Olivia panjang lebar hingga membuat Erlan menggertak kan giginya, menahan amarah yang memuncak.
“ELENA!!!” teriak Erlan dari ruangannya menggema.
“Olivia, dia sekarang ada di salah satu Club ku. Dia bilang ingin melihat CCTV jangan-jangan dia ingin melihat siapa Pria yang menghamilinya,” tebak Erlan. Kembali ia mematikan ponselnya secara sepihak.
Erlan pun dengan buru-buru ia menyusul Elena di ruang CCTV, dan sampai disana tanpa basa - basi lagi, Erlan menampar pipi Elena dengan keras.
“Plakkk”
Tamparan itu begitu keras hingga membuat Elena hampir terhuyung kebelakang.
“Pa... Ada apa pa?” tanya Elena sembari menahan rasa sakit yang ada di pipinya.
“Ada apa? Heyyy Elena, anak tak tau untung. Apa pernah Papa mengajarkan mu untuk bermain dengan pria hingga hamil?” ucap Erlan sembari menahan amarah yang meledak - ledak.
“Glek”
Mendengar ucapan dari papanya membuat Elena kesusahan menelan saliva nya sendiri.
“Pa... Ini tidak seperti yang papa maksud,” ucap Elena kepada Papanya itu sembari menenangkan nya.
“Masih tidak mau mengaku?” tanya Erlan sembari menggelengkan kepalanya.
“Dasar pelacur!” tentu ucapan Papanya yang terakhir itu membuat Elena tidak bisa berkata lagi.
Perkataan dari papanya itu menusuk hatinya.
“Pah...,” bujuk Elena tetapi tidak berhasil.
“Sekarang siapa pria yang menghamili mu?” tanya Erlan langsung ke intinya.
“Elena tidak tahu Pa, dia siapa. Oleh karena itu Elena sengaja mendatangi Club ini untuk mencari Ayah dari bayi yang aku kandung ini pa,” ucap Elena menjelaskannya.
Erlan terdiam melihat Elena putri kandung nya itu beribu-ribu kali meminta maaf kepadanya.
“Pa... Elena minta maaf,” ucap Elena sembari ber sujud di kaki Papanya, ia sudah tidak peduli jika semua orang melihatnya dengan aneh.
Setelah cukup lama menenangkan diri akhirnya Erlan pun bisa fokus kembali.
“Okey, Papa bantu untuk mencari pria itu ya Elena,” ucap Erlan menawarkan bantuannya.
“Sebelum itu kita lihat tayangan ulang CCTV nya,” ujar Erlan sembari menyuruh anak buahnya untuk mem mutar video CCTV.
“Tanggal berapa kamu ke Club ini?” tanya Erlan, sembari mengotak - atik komputer yang ada di depannya.
“Tanggal lima Januari pah,” jawab Elena mantap tanpa ada rasa bimbang sedikitpun.
“Pada pukul berapa?” tanya Erlan kembali matanya masih setia menatap layar komputer yang ada didepannya.
“Malam Pa, pokoknya sekitar jam sepuluh,” jawab Elena sembari mengingat - ingat kejadian beberapa minggu lalu.
“Kamar nomor?” tanya Erlan kembali.
“Kamar nomor lima belas,” jawab Elena ketika ia ingat dengan nomor kamarnya
Setelah beberapa saat mengotak - atik komputer akhirnya Erlan pun menemukan Pria yang menghamili anaknya.
Erlan pun meng hentikan video itu tepat ketika Arthur masuk ke kamar dan ada Kayla yang berdiri disamping Arthur kemudian Kayla membiarkan Arthur untuk masuk ke dalam kamar nomor 15.
“Sepertinya pria itu juga menjadi Room Attendant, di Club ini,” gumam Erlan karena muka orang yang ada di video itu seperti tidak asing.
“Kamu cari semua identitas nya,” perintah Arthur kepada bawahannya
Lantas anak buah dari Arthur pun segera mencari identitas yang dimiliki Pria yang ada di CCTV.
“Tuan ini sudah ketemu, semua identitas nya ada disini,” ucap salah satu bawahan dari Erlan, sembari memberikan berkas-berkas yang Ia dapatkan.
Erlan pun segera membuka dokumen itu.
Arthur Austin Fenedrick, pria miskin yang tinggal disebuah rumah kost yang kecil dan sempit. Pekerjaannya adalah sebagai seorang Room Attendant di sebuah club malam di Kota. Pria berusia 30 tahun itu masih belum menikah dan hidup sebatang kara. Keluarga dan asal usulnya tidak tertulis di dokumen itu. Hanya alamat yang ada di dokumen tersebut.
“Astaga... Elena, dia hanya seorang pria miskin. Bagaimana dia, bisa menghidupi mu!!,” ucap Erlan menyayangkan jika anaknya tersayang harus mengandung anak dari seorang pria miskin.
“Baiklah siang nanti kita akan ke kost nya, untuk memaksa dia bertanggung jawab atas kehamilan mu,” ucap Erlan membuat Elena membelalakkan matanya.
“Papa akan memaksa pria itu untuk menikahi mu,” ucap Erlan sembari menatap Elena sungguh - sungguh.
“Pa... Elena tidak mau menikah dengan pria itu,” ucap Elena menantang ucapan dari Erlan.
“Tidak ada bantahan Elena,” ucap Erlan tegas hingga membuat Elena tidak bisa membantahnya lagi.
“Tapi pah,” ucap Elena memohon.
“ELENA!,” bentak Erlan.
Elena pun sudah tidak berani lagi dan mau tidak mau ia menuruti keinginan papanya itu, walaupun terpaksa.
.
Siang harinya Elena datang ke kost Arthur bersama Papanya. Cukup lama mereka mengendarai kendaraan beroda empat hingga mobil itu memasuki perkampungan kumuh yang terdapat beberapa kost yang kecil dan sempit. Erlan beberapa kali mengumpat karena mobil yang dikendarai nya masuk ke lubang yang ada di jalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Aku pasti Arthur juga bukan orang biasa..Pasti dia anak buangan atau Pria yg menyamar karena sesuatu hal..
Erlan mah sok bilang anaknya Pelacur,Apa kabar dgn dia yg katanya pemain wanita,Oliv aja bilang ini Karma dari kamu.. Elena juga bukannya sengaja kayak kamu yg seorang pemain,Lemes banget mulutnya..🙄🙄
2024-12-18
0
Conny Radiansyah
ada typo lagi Thor ✌️
btw, ga boleh ngomong gitu Erlan, anak sendiri dikatain pelacur 😠
2023-03-23
0
ossy Novica
Mulut bokap pedes ngak ngaca kalo dia hobi main perempuan.
2023-03-10
1