Setelah merasa semua aman barulah Elena pergi meninggalkan tempat laknat itu. Elena mengatakan jika ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di Club.
Elena tidak pulang ke mansion tetapi ia pergi ke mansion sahabatnya. Entah kenapa jika ada sesuatu masalah pasti Elena akan lari ke sahabatnya itu.
Anna Agatha Wiyata, nama panggilannya Anna sahabat dari Elena sejak kecil. Mereka berdua tumbuh dan besar bersama-sama dilingkungan yang sama, tetapi semenjak orang tua Elena cerai Elena pindah rumah, membuat Elena dan Anna jarang bertemu.
Elena menancapkan gas nya kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai-sampai ia tidak peduli dengan keselamatan nya.
“Cittt”
Mobil ferrari itu sudah terparkir rapi dihalaman mansion Anna. Elena dengan gembira berlari masuk ke mansion itu.
“Anna!!” panggil Elena dari luar tetapi yang keluar adalah seorang wanita paruh baya yang Elena ketahui sebagai asisten rumah tangga di mansion Anna.
“Wah ada Non Elena, maaf non Anna baru saja berangkat kerja,” ucap wanita paruh baya itu sembari tersenyum ramah.
“Kalau begitu ya, sudah Bi,” sahut Elena kini mukanya terlihat murung, seperti tak ada semangat untuk hidup.
Akhirnya Elena pun kembali pulang ke mansion nya.
Hari-hari selanjutnya Elena lalui seperti biasanya, ia sudah melupakan kejadian malam itu dan berharap tidak ada janin yang tumbuh di rahimnya.
Tetapi tidak untuk malam ini, ketika makan malam Elena tak sengaja menghirup bau sup yang membuat Elena mual, sehingga Elena memuntahkan semua isi perutnya.
“Huekk - huekk,”
Di wastafel Elena terus saja memuntahkan isi perutnya hingga sang Mama pun datang untuk melihat keadaan putrinya.
Olivia Queen Harrison, Mama dari Elena datang dengan wajah paniknya.
“Elena... Apa kamu sakit nak?” tanya Olivia sembari memijat tengkuk Elena.
Elena tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mama nya itu. Elena terduduk lemas di lantai.
“Ini non air hangatnya,” ucap seorang asisten rumah tangga sembari memberikan segelas air hangat kepada Elena.
Elena menerima air itu kemudian ia minum. Elena berfikir kenapa ia bisa muntah hanya karena mencium bau sup ayam itu, padahal biasanya ia tidak muntah.
“Em... Ma, Bi. Elena ke kamar dulu,” pamit Elena sembari berjalan dengan agak susah.
Sampailah Elena di kamarnya ia pun menutup pintu itu kemudian menguncinya dari dalam.
Elena mengambil sebuah benda pipih yang berlogo apel digigit di atas nakasnya. Kemudian ia mencari disebuah aplikasi penelusuran dengan kata kunci "Penyebab orang muntah ketika mencium bau makanan".
Sontak Elena menjatuhkan ponsel itu, jelas dilayar terlihat jika salah satu penyebabnya adalah karena sedang mengandung.
Elena sangat panik didalam kamar itu bahkan keringatnya bercucuran meskipun AC dikamar itu menyala.
“Tidak - tidak mungkin, aku hamil,” gumam Elena sembari mencari alat testpeck yang digunakan untuk mengecek kehamilan. Elena mengobrak-abrik isi laci meja kerjanya, seingat Elena ia pernah membeli dua alat mendeteksi kehamilan setelah pulang kantor beberapa hari yang lalu karena telat menstruasi.
“Nah ini dia, caranya celupkan ke urine,” ucap Elena sembari membaca cara menggunakan benda itu.
Elena pun segera mengambil wadah kecil sebagai wadah urine kemudian menyelupkan alat itu sampai batasnya.
Elena sangat ketakutan melihat hasil yang ditunjukkan alat itu.
“Deg”
Jantung Elena seperti berhenti berdetak melihat alat test peck itu bergaris merah dua.
“Tidakkk, tidak mungkin,” gumam Elena menangis kemudian ia kembali membuka alat test peck yang satunya.
“Sial, hasilnya sama. Argh.... Gimana ini siapa bajingan itu.. Argh... Kenapa aku mengandung anak pria brengsek itu,” ucap Elena sembari membuang alat test peck ditempat sampah.
Malam itupun Elena tidak bisa tidur pikirannya dipenuhi oleh kalimat-kalimat yang akan dilontarkan oleh para teman-temannya maupun teman kerja, petinggi perusahaan. Jika mengetahui pewaris perusahaan Harrison hamil tanpa ada suami.
.
Pagi hari Elena berniat untuk pergi ke Club tempat ia dan Arthur bercinta. Ia datang untuk mencari tahu siapa pria yang bermalam dengannya.
Tidak memerlukan waktu yang lama Elena sudah sampai di Club itu.
Elena ingin menemui pemilik Club tetapi tidak diperbolehkan oleh para penjaga yang ada di sana.
“Ayolah Tuan saya hanya ingin menemui pemilik Club ini,” pinta Elena kepada penjaga Club yang berada di gerbang masuk.
“Memangnya ada urusan apa Nona, ingin bertemu dengan pemilik Club ini?” tanya Penjaga itu balik.
“Saya mempunyai urusan sangat penting dengan beliau, maka dari itu izinkan saya bertemu dengannya.” Elena pun memohon kepada para penjaga itu.
Mereka pun saling tatap - tatapan.
“Maaf Nona, Apakah sebelumnya Anda sudah membuat janji dulu? Dengan pemilik Club ini?” tanya pria botak yang tak jauh dari tempat Elena berdiri.
“Belum Tuan,” ucap Elena menunduk kan kepalanya karena pasti mereka tidak akan mengizinkannya.
“Tin-tin” suara klakson mobil membuat perhatian mereka tersita.
Elena melihat kebelakang, tak kalah kaget sekarang Elena melihat Papanya yang berada di dalam mobil itu.
Erlan Wayman Harrison, pria paruh baya berusia 50 tahun itu tampak masih terlihat bugar dan sehat meskipun usianya sudah tua. Bahkan seperti pria yang baru berusia 35 tahun. Erlan mempunyai banyak hotel dan beberapa tempat hiburan yang tersebar di Jakarta
“Itu kan papa, kenapa Papa ada disini? Club ini kan buka nya hanya malam hari,” batin Elena sembari menebak - nebak.
“Ada apa ini? Kenapa ramai sekali. Saya tidak menggaji kalian untuk bergosip disini,” ucap pria paruh baya dengan lantang didalam mobilnya.
Elena membulatkan bola matanya mengetahui jika Papa nya adalah bos dari para curut - curut yang menghentikan aksinya untuk menghadap pemilik club.
“Jangan - Jangan, Papa yang memiliki Club ini,” batin Elena ia pun kesusahan untuk menelan saliva nya sendiri.
Erlan pun turun dari mobilnya untuk melihat langsung apa yang sedang terjadi.
Erlan pun tak kalah terkejut melihat Putrinya berada di tempat hiburan malam pada pagi hari.
“Elena?” ucap Erlan dengan kening yang berkerut menandakan ia sedang bingung.
“Hai, papa,” ucap Elena menyapa Papanya, tentu saja membuat para curut - curut itu berkeringat dingin.
“Mati, ternyata dia anak Bos,” bisik pria botak kepada temannya yang berada di sampingnya.
“Waduhh, pasti gaji kita dipotong nih,” sahut temannya.
“Tu - an, maaf - kan kami,” ucap pria botak terbatas - bata.
“Kami sudah lancang mencegah Putri Tuan untuk menemui Tuan,” sahut temannya.
“Iya, tidak apa-apa, kalian semuanya urus yang lainnya,” ucap Erlan, mereka pun pergi meninggalkan Erlan dan Putrinya di depan gerbang.
“Elena! Ayo ikut papa masuk,” ajak Erlan kepada putrinya yang berdiri dengan badan gemetar.
Mau tidak mau akhirnya Elena mengikuti papanya itu.
Mereka berdua pun masuk ke dalam Club.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Conny Radiansyah
Semoga cepat bertemu Arthur
2023-03-23
0
ossy Novica
penuh kejutan
2023-03-10
1
ig : @unchiha.sanskeh
salam kenal kakk💓🤝
2023-02-24
1