Aurora..?

"Apa kalian sedang mengejekku?" Monica menatap makanan yang melimpah di meja makan.

Semua pelayan mendongak melihat Monica yang berkacak pinggang.

"Apa yang terjadi Nyonya?" kepala pelayan menghampiri, saat melihat para pelayan mulai ketakutan.

"Untuk apa makanan sebanyak ini kalian akan mengadakan pesta? aku memang gemuk dan banyak makan, tapi tidak seperti ini juga.."

"Maafkan kami nyonya, kami terbiasa membuat berbagai macam jenis masakan, maka kami sediakan semua apa yang nyonya sukai.."

Monica menggeleng tak percaya, berapa yang mereka habiskan untuk membuat hidangan yang semuanya adalah makanan mewah, dan mejanya sudah seperti meja prasmanan.

" Untuk selanjutnya, masak secukupnya yang cukup untuk kita, dan jangan membuang makanan.." Para pelayan saling melirik lalu mengangguk.

Monica melihat kepala pelayan yang merupakan wanita paruh baya "Sekarang kalian harus bertanggung jawab!"

Kepala pelayan mendongak, dia di tunjuk untuk memenuhi kebutuhan nyonyanya dan memastikan nyonya nya senang, namun di hari pertama nyonyanya menginjakan kaki di rumah ini, dia sudah membuatnya marah.

Monica berjalan ke arah kepala pelayan lalu mendorong pelan punggungnya dan membuatnya duduk di kursi makan.

"Kalian semua duduklah, dan habiskan makanan ini.."

Para pelayan saling melirik dan melihat ke arah kepala pelayan yang mengangguk lalu mereka mulai duduk di kursi makan.

"Aku tidak suka makan sendiri.. jadi kita akan makan di meja yang sama setiap hari.."

"Kami tidak berani, nyonya.."

Monica mengerutkan keningnya "Aku tahu alasan kalian, tapi bisakah kalian jangan menggunakan alasan itu jika denganku, aku terbiasa makan dengan Ayah dan Kakakku, maka aku jadi tidak nafsu makan jika hanya sendiri.." Monica tersenyum sendu, mengingat kembali kenangannya dengan Kakak, dan Ayahnya. "Baiklah ayo kita makan.." Monica memulai makannya di susul kepala pelayan, dan pelayan yang lain.

...

Sudah satu bulan Monica tinggal di rumah besar itu di temani para pelayan, dan dua orang penjaga rumah.

Jika ada waktu luang Monica akan pergi ke perkebunan anggur milik ayahnya dan mempelajari sedikit demi sedikit, Monica masih berkuliah, dan benar saja seperti yang di katakan David bahwa uang kuliahnya telah di bayar lunas secara tunai, Monica jadi bertanya- tanya seberapa kaya, suaminya. Mengingat mobil mewah yang berjejer dan rumah mewah yang dia tempati.

Seperti yang di katakan David pula setiap bulan Marvin akan mengirimkan uang ke kartu hitamnya, dan Monica hanya bisa menghela nafasnya saat bahkan dia belum menggunakan sama sekali kartu itu sejak dia menerimanya.

Sejak terakhir kali Monica bahkan belum melihat batang hidung Marvin, apa menurutnya hubungan suami istri itu hanya sebatas memberi nafkah uang..

Bagus sekali Monica memang apa yang kau harapkan, seperti kata Alexa tidak akan ada yang mau menikah dengan gadis gendut sepertinya, dan seperti yang dia ketahui karena Marvin pun terpaksa menikah dengannya hanya karena kakeknya, sama seperti dirinya.

Monica menghela nafasnya namun dia merasa ini bukan sebuah kehidupan pernikahan normal seperti ibu dan ayahnya atau seperti pasangan lain pada umumnya, tentu saja karena tak ada cinta diantara mereka.

Monica melangkahkan kakinya, kearah dapur, dia sedang mengerjakan tugas, namun melihat minuman di meja sudah habis Monica memilih turun sendiri di banding mengganggu waktu istirahat pelayannya, lagipula ini sudah pukul 23 malam..

Monica menghentikan langkahnya saat melihat seseorang duduk di meja bar, punggung lebar itu sedang menegak minuman dalam satu kali tegukan.

Monica menelan ludahnya kasar saat memberanikan diri untuk menyapa Marvin..

"Kau pulang..?" Marvin menoleh dan menemukan gadis gendut yang sudah satu bulan menjadi istrinya, istri di atas kertas.

Marvin mengangguk.

"Kau baik- baik saja?" Monica melihat wajah Marvin sangat merah, mungkin karena terlalu banyak minum.

"Kau mabuk?" Marvin mendongak lalu menemukan Monica menunduk menatapnya, lalu dia tiba- tiba tertawa.

Monica mengerutkan keningnya saat melihat Marvin tertawa.

"Kemari!" Marvin melambaikan tangannya agar Monica mendekat, jarak mereka yang terhalang meja bar membuat Monica hanya mencondongkan wajahnya, dengan alis terangkat "Kau sangat gendut..hahhahaa.." Marvin kembali tertawa, sedangkan Monica mendengus.

Dia memang gendut, kenapa memangnya apa itu sesuatu yang lucu.. Monica memalingkan wajahnya saat melihat Marvin tertawa, terlihat jelas matanya menyipit dengan pipi yang terangkat karena mulutnya tak henti tertawa, sesuatu yang tak pernah Monica lihat dari pria yang baru satu bulan dia kenali dan satu bulan pula pria itu menjadi suaminya, Marvin yang selalu berwajah datar tapi tampan kini terlihat semakin tampan saat tertawa.

Namun Monica kembali mengerutkan keningnya saat melihat tawa Marvin mengecil lalu berubah menjadi kekehan kemudian Marvin terisak..

Apa Marvin menangis?, sepertinya Marvin sudah benar- benar mabuk, Monica berniat mengabaikan dan dia akan kembali ke kamarnya, biarkan saja pria itu mabuk dan meracau sendirian.

Namun langkah Monica terhenti saat Marvin berkata. "Semuanya karena kau gadis gendut, Auroraku pergi meninggalkan aku sekarang.." Monica menegang lalu berbalik saat mendengar Marvin melangkahkan kaki ke arahnya.

Marvin berusaha menegakan tubuhnya yang sudah tak terkendali akibat minuman yang dia teguk sejak dia menginjakan kaki ke sana.

Monica melangkah mundur saat Marvin terus melangkah ke arahnya, mata Marvin yang merah membuat Monica mengerut ketakutan.

Marvin terus melangkah mendekat hingga kaki Monica terkantuk kaki sofa, dan menghimpitnya "Mo.. ni.. ca.." Marvin bahkan mengeja nama 'Monica' "..harusnya kau cantik seperti namamu!" Marvin mendekatkan wajahnya, dan membuat Monica menahan nafas, dapat tercium olehnya aroma alkohol yang menyengat hingga Monica menahan mual.. astaga, berapa botol yang Marvin habiskan..

"Kau tahu, melihatmu aku sungguh.. tak selerraaa, gendut.. dan berlemak.." Marvin menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri sambil mencondongkan tubuhnya, saat akan menegakkan tubuhnya Marvin justru terhunyung hingga menerjang tubuh Monica, Monica yang awalnya akan menghindar justru terjatuh ke atas sofa dan terhimpit oleh Marvin yang kini berada di atasnya.. dengan bibir yang saling menempel.

Monica terpaku melihat mata merah Marvin yang juga menatapnya, bukan melepaskan Marvin justru memejamkan matanya lalu menggerakkan bibirnya yang berada di atas bibir Monica.

Monica masih terkejut hingga tak tahu apa yang harus dia lakukan saat Marvin menyesap dan mel umat bibirnya lembut.

Monica merasakan manis dan pahit rasa bibir Marvin yang menelusup masuk ke dalam mulutnya, akibat alkohol yang di minum pria itu, Monica ingin meronta namun dia mengingat statusnya sebagai istri Marvin tidak mungkin dia menolak..

Monica merasakan jantungnya berdebar saat tangan Marvin meremas gunung kembar yang masih terbalut kaos oblong yang dia kenakan, hingga Monica menggelinjang geli dan spontan membuka mulutnya, membuat Marvin semakin leluasa menjelajah isi di dalam mulutnya, dan membuat Monica merasa panas dingin yang menjalar ke setiap aliran darahnya, dan menyajikan sensasi yang luar biasa.

Monica yang baru pertama kali merasakan perasaan tersebut seolah melayang di buatnya.. apalagi tangan Marvin yang tidak berhenti meremas kedua buah kembarnya dan membuat Monica mengeluarkan desa han manja dari mulutnya.

Monica semakin kelang kabut saat Marvin beralih ke lehernya dan tangan Marvin mulai turun menyusuri perut dan berhenti di segitiga bermuda miliknya, Apa yang akan Marvin lakukan "Ahhhh" Monica kembali mengeluarkan desa hannya, saat Marvin menggigit kecil bagian cupangnya.

Suasana semakin panas kala Monica merasakan sesuatu yang keras di atas pahanya, Monica bukan anak kecil yang tak tahu apa itu, tentu saja itu milik Marvin, yang ternyata sudah menegang..

Astaga.. apa mereka akan melakukan ini sekarang.. fikiran Monica mulai melayang saat Marvin terus menelusuri bagian atas tubuhnya dan kini bibir Marvin berada di atas buah kembar yang besar, tentu saja.. karena buah kembar tersebut mengikuti bentuk tubuhnya yang besar, Marvin melu mat dan menggigit kecil buah kembarnya dan membuat Monica semakin menggelinjang, Monica tak menyadari bahkan saat kancing piyamanya terbuka, entah sejak kapan.

Monica melayang.. dengan detak jantung yang semakin cepat saat Marvin mendongak menatapnya, pria tampan itu sedang menatapnya dengan tatapan lembut, dan membuat Monica semakin berdebar.

Apa dia sedang bermimpi..?

Hingga kata- kata Marvin menyadarkan otak dan seluruh syaraf nya, hingga kembali ke alam nyata.

"Kau menyukainya Aurora.."

Bugh..!

....

🤣🤣🤣🤣

Apa yang terjadi?..

Terpopuler

Comments

Nana Niez

Nana Niez

🤣🤣🤣🤣🤣akhirnya Marvin pun di SmackDown oleh Monica🤣🤣🤣🤣

2025-01-04

0

Uthie

Uthie

Wadduuhhhh... parah itu mahhh 😂

2025-03-21

0

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

ikut t.anggung jawab ikut menghabiskan makanannya

2024-02-01

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Monica Harvey
3 Marvin Alfaro
4 Pernikahan Kilat
5 Pernikahan Alexa
6 Bunga Lily
7 Memulai Kembali
8 Aurora..?
9 Merasa Terhina
10 Tiga Tahun Kemudian
11 Pertemuan
12 Tidak Mengenali
13 Gugatan Cerai Sudah Dilayangkan
14 Kecupan Setelah Tiga Tahun Berlalu
15 Sial..?
16 Apa Yang Terjadi Sebenarnya..?
17 Suaminya Sendiri
18 Kesialan Monica
19 Tertangkap
20 Terkurung
21 Siapa Suaminya..?
22 Warisan Terakhir
23 Tidak Akan Bercerai
24 Alasan Marvin
25 Kesempatan
26 Bunga..?
27 Memikat
28 Bukan Up tapi Promo
29 Mengawasi
30 Terbakar
31 Pergi Ke Perkebunan
32 Misteri Marvin
33 Agnes Dan Sofia
34 Muhasabah Cinta: Di Akhir Usia
35 Ambisi Stevan
36 Alasan Sebenarnya
37 Lebih Dekat
38 Lebih Intenss
39 Awal Baru
40 Sakit Sekali..
41 Mengetahui
42 Berpisah..?
43 Tidak Akan Menyerah
44 Pergi
45 Andrew
46 Belum Ketemu
47 Bertemu Sofia
48 Menemui Dokter
49 Bagaimana Perasaanmu?
50 Bertemu Lagi
51 Pulang
52 Tetap Bercerai
53 Tidak Rela
54 Melakukannya Untukmu
55 Bersatu Kembali
56 Mendampingi
57 Jangan Beraninya kau!
58 Ingin Punya Tiga Anak
59 Jangan Dibaca Siang Hari Lagi Puasa!
60 Dear My Ex Husband
61 Promo
62 Kisah Belum Usai
63 Boleh Mampir
64 My Sweet Daddy
65 Broken Marriage
66 Mampir Yuk!
67 mampir yuk
68 Bukan Sekedar Secretary
69 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Prolog
2
Monica Harvey
3
Marvin Alfaro
4
Pernikahan Kilat
5
Pernikahan Alexa
6
Bunga Lily
7
Memulai Kembali
8
Aurora..?
9
Merasa Terhina
10
Tiga Tahun Kemudian
11
Pertemuan
12
Tidak Mengenali
13
Gugatan Cerai Sudah Dilayangkan
14
Kecupan Setelah Tiga Tahun Berlalu
15
Sial..?
16
Apa Yang Terjadi Sebenarnya..?
17
Suaminya Sendiri
18
Kesialan Monica
19
Tertangkap
20
Terkurung
21
Siapa Suaminya..?
22
Warisan Terakhir
23
Tidak Akan Bercerai
24
Alasan Marvin
25
Kesempatan
26
Bunga..?
27
Memikat
28
Bukan Up tapi Promo
29
Mengawasi
30
Terbakar
31
Pergi Ke Perkebunan
32
Misteri Marvin
33
Agnes Dan Sofia
34
Muhasabah Cinta: Di Akhir Usia
35
Ambisi Stevan
36
Alasan Sebenarnya
37
Lebih Dekat
38
Lebih Intenss
39
Awal Baru
40
Sakit Sekali..
41
Mengetahui
42
Berpisah..?
43
Tidak Akan Menyerah
44
Pergi
45
Andrew
46
Belum Ketemu
47
Bertemu Sofia
48
Menemui Dokter
49
Bagaimana Perasaanmu?
50
Bertemu Lagi
51
Pulang
52
Tetap Bercerai
53
Tidak Rela
54
Melakukannya Untukmu
55
Bersatu Kembali
56
Mendampingi
57
Jangan Beraninya kau!
58
Ingin Punya Tiga Anak
59
Jangan Dibaca Siang Hari Lagi Puasa!
60
Dear My Ex Husband
61
Promo
62
Kisah Belum Usai
63
Boleh Mampir
64
My Sweet Daddy
65
Broken Marriage
66
Mampir Yuk!
67
mampir yuk
68
Bukan Sekedar Secretary
69
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!