Gilma yang hendak menyiapkan makan malam dikagetkan oleh kehadiran Caerina di dapur. Gadis itu melangkah dengan sangat semangat seraya didampingi Letta.
"Halo, Gilma!" sapa Caerina sembari melambaikan tangan.
"Nona, apa yang Anda lakukan di sini? Dapur bukan tempat untuk Nona bangsawan seperti Anda," tutur Gilma.
"Aku tidak peduli. Sekarang aku mau memasak."
Letta menaruh keranjang berisi rempah-rempah dan sekantong garam. Gilma mendekati Caerina untuk melihat apa yang ia bawa itu.
"Bukankah ini tumbuhan liar? Mengapa Anda membawanya ke dapur?"
Caerina berdecak kesal. Entah sudah berapa kali ia mendengar bahan-bahan makanan itu adalah tumbuhan liar. Padahal ini merupakan harta karun paling berharga, terutama bagi para koki.
"Ini bukan tumbuhan liar. Asal kau tahu, tumbuhan ini akan membuat masakan menjadi lebih enak."
Gilma semakin tidak paham. Sebagai koki berpengalaman, tidak ada sejarahnya dia menggunakan bahan-bahan aneh itu sebagai pelengkap makanannya.
"Anda jangan bercanda, Nona. Bagaimana bisa makanan bisa menjadi lebih lezat karena tumbuhan liar ini," sanggah Gilma.
"Kan sudah saya bilang, Nona. Gilma sebagai ahli memasak kediaman Marquess Navre saja tahu kalau tumbuhan ini tidak lebih dari sekedar sampah," timpal Letta.
"Aku tidak mau mendengar apa kata kalian. Awas saja, nanti aku akan membuat kalian melayang di udara dan merasakan surga dunia yang sesungguhnya."
Caerina mengecek bahan-bahan makanan yang tersisa di dapur. Hanya ada mie, ikan, kentang, wortel, serta beberapa potong kecil ayam.
"Gilma, kau lebih baik diam saja di sana bersama Letta. Biar aku yang memasak," ujar Caerina.
"Tetapi Anda kan tidak bisa memasak." Gilma berucap demikian untuk menghentikan Caerina.
Caerina menyorot ke arah Gilma. "Diam! Mulutmu mau aku sumpal?"
Sontak Gilma dan Letta membungkam mulut mereka. Tidak ada pilihan lain selain membiarkan Caerina bertindak sesuka hatinya.
'Pertama-tama, aku harus mencuci bersih semua bahan-bahan ini.'
Caerina bekerja begitu teliti. Pergerakan tangannya sangat lincah, seakan-akan dia sudah terbiasa memasak di dapur. Bahkan, Gilma saja mematung tak menyangka menyaksikan gerakan memotong sang majikan.
'Sejak umur lima belas tahun, aku hidup sebatang kara karena kedua orang tuaku meninggal. Mau tidak mau terpaksa aku belajar memasak sendiri. Kemampuan memasak yang diturunkan dari Ibu, membawaku akhirnya pada jalan kesuksesan.'
Perusahaan Caerina dahulu, selain bergerak di bidang kosmetik dan fashion, perusahaannya juga merangkap di bidang kuliner. Dia sering terjun untuk meracik produk makanan terbaru di perusahaannya.
'Apakah itu garam? Dari mana Nona mendapatkan garam? Lalu mau diapakan tumbuhan liar itu?'
Gilma tercengang kala Caerina mencampurkan seluruh bahan tanpa ada keraguan. Dia benar-benar tidak menyangka Caerina selihai itu dalam hal memasak. Walaupun cara memasaknya jauh berbeda dari Gilma.
'Rasanya sudah pas.'
Caerina mematikan kompor ketika selesai koreksi rasa masakannya. Aroma harum dari masakan Caerina menyeruak ke mana-mana. Hingga orang-orang yang berada di luar pun merasa diundang oleh aroma tersebut. Sungguh menggugah selera, tampilannya pun menarik.
"Aroma apa ini? Perutku jadi lapar."
"Huh? Nona Caerina memasak? Apakah aroma ini berasal dari masakan Nona?"
"Sepertinya benar. Apa yang dimasak oleh Nona? Aku tidak pernah melihat makanan itu."
Gaduh. Para pelayan dan kesatria meributkan soal jenis makanan yang dimasak Caerina.
"Gilma, coba kau cicipi." Caerina menyuruh Gilma merasakan masakan buatan tangannya sendiri.
Gilma mengambil satu sendok kari ayam di panci. Lalu dia mencicipinya perlahan.
Boom!
Layaknya ledakan bom. Rasa dari kari ayam yang kaya akan rempah menedang lidah Gilma. Sangat mengejutkan! Dia tidak percaya Caerina menciptakan makanan yang dapat mematahkan standar kelezatan di dunia ini.
"Apa ini, Nona? Kenapa rasanya sangat enak?" tanya Gilma.
"Ini namanya kari ayam. Nanti aku jelaskan, sekarang coba kau cicipi dua menu ini."
Gilma beralih mencicipi ikan bakar dan spaghetti. Reaksinya juga sama. Sekarang Gilma merasa sedang melayang di udara. Kenikmatan dari rempah-rempah itu meledak-ledak di mulutnya.
"Surga dunia ... ini adalah surga dunia. Dari mana Anda belajar memasak makanan seenak ini, Nona?" Gilma sampai menangis seusai mencicipi ledakan rasa masakan Caerina.
"Aku belajar sendiri. Lihat kan? Apa yang aku bawa tadi itu bukan tumbuhan liar, melainkan penambah kenikmatan makanan. Kau harus belajar cara mengolahkan, Gilma," tutur Caerina.
"Saya akan belajar. Maka dari itu, tolong ajari saya, Nona." Gilma membungkuk memohon agar Caerina mengajarinya.
"Baiklah, nanti aku akan mengajarimu." Caerina menjawabnya tanpa berpikir panjang.
Selepas itu, Caerina melihat ke arah pintu. Sekitar lima belas orang pekerja mansion berkumpul sedari tadi di sana.
"Kenapa kalian di sana? Ayo masuk. Aku memasak banyak, kalian boleh mencobanya."
Mereka langsung masuk ke dapur. Caerina menghidangkan kari dengan nasi panas. Ini adalah kombinasi terbaik. Letta juga ikut mencicipi masakan Caerina.
Pada waktu itu, semua orang sangat tidak menyangka ada makanan seenak itu di dunia ini.
"Rasanya meleleh di mulut."
"Tidak masalah jika aku mati sekarang karena aku sudah merasakan kelezatan dunia."
"Apa-apaan ini? Aku rasanya ingin menangis saat menyantapnya."
Caerina sangat puas terhadap respon semua orang. Sekarang dia beralih membuat makanan penutup.
"Apa lagi yang ingin Anda buat, Nona?" Gilma penasaran.
"Puding. Aku ingin membuat puding."
"Puding?"
Caerina menghela napas kasar sambil menepuk kening. Sepertinya dunia ini adalah bentuk dari neraka kecil sebab jarang ada makanan-makanan seperti puding dan yang lain.
"Ini makanan manis. Kau akan tahu setelah aku selesai membuatnya."
Gilma mengamati baik-baik apa yang hendak dibuat oleh Caerina. Dia mengeluarkan beberapa bahan sisa dari lemari penyimpanan. Caerina sengaja menghabiskan seluruh stok agar dia bisa membagikannya kepada seluruh pekerja di mansion ini.
Caerina memasak dengan bantuan aura sehingga dia dapat lebih cepat selesai memasaknya. Sekarang puding yang dimaksud Caerina sudah masak. Saatnya bagi mereka mencicipi makanan penutup tersebut.
"Wah, sangat lembut. Ini namanya apa, Nona?" tanya Letta.
"Ini adalah puding cokelat. Coba rasakan sekarang."
Letta memotong hati-hati pudingnya karena teksturnya yang amat lembut, dia jadi khawatir akan menghancurkan bentuk puding itu. Begitu pudingnya masuk mulut, rasa cokelatnya meleleh di langit-langit mulut. Lagi-lagi mereka memberikan reaksi terkejut.
"Nona, ini sangat enak. Pertama kali seumur hidup saya merasakan makanan selezat ini," ujar seorang pelayan diangguki yang lain.
"Benarkah? Syukurlah kalau kalian menikmatinya. Sekarang aku akan menghidangkannya untuk Ayah, Ibu, dan Kakak. Mereka sudah berada di ruang makan, kan?"
"Sudah, Nona. Nyonya dan Tuan sepertinya sedang menunggu Anda," sahut seorang kestria.
"Baiklah. Aku segera ke sana. Tolong bantu aku membawanya ke ruang makan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
hersita maharani
.
2024-07-23
0
Dede Mila
/Drool/
2024-04-04
0
Andi Dilla
oh kari ayam toh dibuatnya 😊
2024-04-03
0