Suara tawa Caerina bergema di kediaman Marquess Navre. Kedua orang tuanya dan saudara laki-lakinya tercengang ketika mendengar penuturan Caerina. Sara hampir saja pingsan membayangkan kelakuan buruk Caerina yang tidak mencerminkan seorang bangsawan nan anggun.
"Kau tidak sedang demam kan?" Nathan menyentuh kening Caerina.
"Tidak, aku sangat sehat. Memangnya kenapa? Apakah ada yang salah?" Raut muka Caerina terlihat polos tak berdosa.
"Kenapa kau tiba-tiba menggila setelah kembali dari kematian? Apakah Dewa memberimu suatu berkah atau semacamnya?" selidik Nathan.
"Kak, biar aku katakan satu hal." Caerina menatap serius Nathan. "Aku selama ini sudah cukup menderita di kediaman Duke Wadson. Menurut Kakak apakah aku akan tetap hidup seperti dulu setelah mengalami kematian tragis?"
Nathan paham sekarang maksud perlakuan Caerina.
"Aku paham. Kau ada benarnya juga, memang kita harus membalas perbuatan Duke Wadson. Berani-beraninya dia menyakiti Adikku satu-satunya."
"Bagaimana cara kau membalasnya? Sedangkan posisi keluarga kita jauh di bawah keluarga Duke Wadson," tanya Kledson.
Caerina mengukir senyum miring. "Tentu saja aku akan melawannya menggunakan uang. Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan membuat keluarga kita menjadi keluarga paling kaya. Jadi, tidak ada seorang pun nanti yang berani mengusik kita."
Terlintas beberapa rencana jahat di kepala Caerina. Dirinya sebagai penggila bisnis telah memantapkan rencana pembalasan terhadap Heston dan Brenda. Kedua orang itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas kematian Caerina.
Meskipun orang tuanya tidak paham maksud perkataan Caerina, mereka tetap mendukung apa pun jenis rencananya asalkan Caerina tidak membahayakan dirinya sendiri. Itu sudah cukup bagi Caerina, setidaknya dia mendapatkan dukungan penuh.
"Caerina Navre, sembilan belas tahun, janda muda masih perawan. Aku masih belum rela menjalani hidup yang menyedihkan dan kembali merintis usahaku dari bawah," gumam Caerina seraya mengoleskan masker racikannya ke seluruh wajah.
"Sekarang mari mulai dari hal yang terpenting dulu. Aku harus mengamati isi dapur untuk memperbaiki rasa hambar makanan di kediaman ini."
Caerina berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Malam ini semua orang sudah tidur dan hanya tersisa ia yang masih sibuk melakukan perawatan diri.
Caerina memeriksa satu persatu seluruh bahan makanan di dapur. Tidak ada ditemukan garam atau rempah-rempah penambah rasa nikmat pada makanan.
"Pantas saja makanannya selalu hambar. Aku dengar garam harganya sangat mahal, makanya keluarga ini tidak bisa membeli garam. Kalau begitu, aku akan memulai dari garam."
Caerina pun keluar dari dapur. Dia telah mendapat satu peluang bisnis yang baru. Lalu ketika ia tiba di ujung lorong, tanpa sengaja ia malah berpapasan dengan Nathan.
"Hantu!" teriak Nathan ketakutan dan refleks menjauh.
Caerina ikut terlonjak kaget kala Nathan meneriki hantu.
"Hantu? Di mana hantu?" Caerina ikut mencari di mana keberadaan hantu yang dimaksud Nathan.
"Caerina? Apa itu kau?"
Nathan akhirnya bisa tenang selepas mendengar suara Caerina. Sejujurnya, dia terkejut karena muka Caerina ditutupi warna putih karena masker yang dia gunakan.
"Jangan-jangan hantu yang Kakak maksud itu aku?" tanya Caerina.
"Iya, ternyata benar kau Caerina. Hampir saja aku terkena serangan jantung. Lagi pula kenapa kau berkeliaran di mansion dengan wajah seperti itu?" omel Nathan.
"Aku sedang memakai masker untuk memulihkan jerawatku. Maafkan aku telah mengejutkanmu, Kak."
"Tidak apa-apa, aku pikir kau itu hantu."
Nathan mengatur irama napasnya. Detak jantungnya terasa berpacu lebih cepat. Setelah itu, mereka berjalan secara terpisah karena Nathan punya hal yang harus dia kerjakan. Sedangkan Caerina kembali masuk ke kamarnya.
Di keesokan hari, Caerina menggeledah buku di perpustakaan. Dia ingin tahu lebih banyak soal dunia yang ia tinggali saat ini.
"Jadi, di dunia ini orang menggunakan aura untuk melakukan beberapa pekerjaan seperti bertarung dan membasmi undead? Aku paham. Sepertinya aku juga harus mempelajari aura. Kakak dan Ayah pengguna aura, seharusnya mereka bisa mengajariku."
Caerina memutuskan untuk menemui Nathan dan Kledson. Dia penasaran tentang bagaimana cara penggunaan aura. Ternyata mereka berdua saat itu tengah berada di lapangan latihan.
"Ayah, Kakak!" panggil Caerina menghampiri keduanya.
"Caerina, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kledson.
"Bisakah kalian mengajariku cara menggunakan aura?"
Sungguh permintaan yang tidak terduga! Kledson dan Nathan saling bertukar pandang saat permintaan itu terlontar dari mulut Caerina. Gadis lemah yang dulunya malas bergerak kini malah meminta untuk diajarkan menggunakan aura.
"Kau mau belajar cara menggunakan aura?"
Caerina mengangguk cepat. "Iya, tolong ajarkan aku."
Ayah dan Kakaknya tidak langsung menjawab permintaan Caerina. Mereka berdiskusi terlebih dahulu sambil berbisik-bisik. Caerina dengan sabar menunggu jawaban dari keduanya.
"Baiklah, Nathan yang akan mengajarimu cara menggunakan aura," kata Kledson.
Caerina kegirangan begitu mereka menerima permintaannya. Dia tidak sabar lagi belajar menggunakan aura.
"Kapan aku bisa mulai belajar?" tanya Caerina.
"Besok pagi datanglah ke lapangan latihan, tetapi aku harap kau jangan sampai menangis karena latihannya tidaklah mudah," ucap Nathan.
"Baiklah, Kak. Besok aku akan datang latihan di lapangan."
Sesuai janji di hari sebelumnya, Caerina pun tiba di lapangan latihan. Dia datang lebih awal karena ingin mengamati tempat latihan yang dilapisi oleh aura.
'Meskipun keluarga ini jatuh bangkrut, tetapi keluarga Marquess Navre punya kekuatan pengendalian aura yang sangat kuat. Walau samar-samar, aku merasakan adanya gejolak aura di tubuhku. Lalu alasan mengapa aku mempelajari aura adalah agar aku bisa bepergian untuk mencari bahan utama dalam mengembangkan bisnis,' pikir Caerina.
Berselang sepuluh menit, Nathan pun tiba di lapangan latihan. Dia salut melihat antusias sang Adik dalam belajar pengendalian aura. Namun, ada sesuatu yang membuat Caerina terus menerus menggerutu.
"Ayo cepat, Caerina! Dua putaran lagi!"
Caerina sesak napas karena disuruh berlarian sampai sepuluh putaran lapangan.
"Sial! Kenapa tubuh ini lemah sekali?! Padahal dulu aku terbilang sangat kuat dalam berolahraga, terutama lari. Membuatku jengkel saja."
Selesai berlari, Caerina beristirahat sebentar. Lalu dilanjutkan lagi dengan beberapa latihan yang cukup memberatkan tubuh. Latihan terakhir yang dilakukan ialah bermeditasi di bawah air terjun.
"Sebelum itu, aku akan memperlihatkan padamu bagaimana bentuk aura itu," ujar Nathan.
Nathan mengambil posisi bersiap untuk melontarkan auranya ke sebuah pohon. Kilatan cahaya lembut keluar dari tangan Nathan dan melaju cepat menghancurkan pohon tersebut. Ini sangat berbeda dengan sihir, pengendalian aura sedikit lebih mudah dari sihir.
"Wah, ternyata begitu. Aku jadi semakin tidak sabar ingin segera menggunakan aura." Caerina menatap kagum kepada Nathan.
"Ya, sekarang ayo lakukan latihan terakhir. Aku yakin kau juga pasti bisa mengendalikan aura seperti aku dan Ayah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
☆White Cygnus☆
sampe sini dulu, nanti lanjut lagi.
2024-07-04
0
Inisial 🤍R🤍
gila ini sih cerita terkeren yang aku baca!!!!
2024-04-08
1
Andi Dilla
Ga apa apa! lanjutkan saja
2024-04-03
0