Pertengkaran

Dari tempatnya menunggu, Arkana melihat Tania dan Kia di cegat oleh salah satu pria yang memiliki tubuh besar. Pria itu bergegas menghampiri kedua temannya.

“Ada apa ini?” tanya Arkana, dengan tatapan menyelidik ke pria tersebut.

“Ini Mas Arkana, bapak ini meminta Tania mengikutinya, sedangkan Tania tidak mengenalinya,” jawab Kia terlebih dahulu.

“Bapak ada keperluan apa ya dengan teman saya?” tanya Arkana dengan kesopanan.

Wah bisa berabeh kalau bodyguard Pak Albert bilang dia utusan Pak Albert. Jangan sampai Kia dan Mas Arkana tahu kalau gue ada hubungan dengan Pak Albert.

“Saya kebetulan teman ayahnya Non Tania, kebetulan ketemu di sini, jadi mau mengajaknya ke bawah karena ada ayahnya,” kata dusta sang bodyguard, dan wajahnya terlihat sangat menyakinkan.

Tania salut mendengar jawaban  bodyguard Albert, ternyata bisa mengantisipasi keadaan juga dengan mengucapkan kebohongan.

“Oh...bapak teman kerja ayah, kenapa tidak bilang dari tadi. Soalnya saya sempat bingung, kayak kenal tapi agak lupa,” balas dusta Tania, walau batinnya sudah mendesah pasrah.

“Syukurlah ternyata loe kenal,” sambung Kia.

Tidak banyak berargumen lagi, akhirnya Tania berpamitan dan berpisah di depan XXI dengan Arkana dan Kia, lalu terpaksa mengikuti bodyguard Albert.

Namun sorot mata Arkana mencurigai gelagat Tania berserta pria yang jalan di depan Tania.

...----------------...

Restoran

Wanita itu dengan terpaksa mengikuti langkah kaki bodyguard Albert, entah mau di bawa ke mana. Namun setelah turun ke lantai tiga menggunakan lift, baru tahu jika dirinya dibawa ke salah satu restoran jepang yang mewah dan sudah tentunya tidak ramah di kantong buat kaum jelata seperti Tania.

Bodyguard Albert mengiring Tania ke salah satu ruang vip. “Silakan masuk, Non Tania,” ucap bodyguard mempersilahkan, sembari membukakan pintu.

Tania melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, kemudian berdiri dekat meja, lalu melihat siapa yang berada di dalam ruangan.

Albert menatapnya dari tempat duduknya, dengan melipatkan kedua tangannya di dada bidangnya. Tania sudah mulai memutar malas bola matanya, ingin rasanya tidak memandang wajah pria itu.

“Duduk!” Suara Albert terdengar tak ramah, dan agak meninggi.

Tania menarik bangku kosong yang ada di hadapan Albert, kemudian mendaratkan bokongnya, lalu memangku tasnya di atas kedua pahanya.

Hening seketika, wajah mereka berdua tidak ada yang ramah. Tidak ada senyuman yang terbit di bibir mereka berdua, dan juga tidak ada tatapan hangat layaknya pasangan suami istri.

Dalam keheningan mereka berdua, tiba-tiba pelayan restoran masuk mengantarkan dan menyajikan beberapa menu makanan, terlihat enak jika dilihat dari penampilannya, namun sayang selera makan malam Tania sudah menghilang.

“Makan!” kembali lagi Albert berkata dengan satu kata saja, yang terkesan memaksa.

“Tidak lapar,” jawab Tania ketus.

Oh andaikan Albert bersikap baik dari awal menikahi Tania, mungkin wanita itu sudah terharu di ajak makan malam oleh Albert, jantungnya pun masih berdebar-debar di kala ditatap oleh Albert, pria yang dikaguminya.

Para pelayan restoran sudah meninggalkan mereka berdua, hingga Albert bisa menghentakkan sendok yang sudah di genggamannya di atas piring kosongnya.

Tania bergeming mendengarnya.

“Saya menyuruhmu makan!” seru Albert.

“Masih banyak wani—,”

“Wanita yang ingin sekali makan malam dengan Pak Albert!” sela Tania, sebelum Albert melanjutkan omongannya.

Albert terdiam.

“Tapi saya bukan wanita itu!” sambung Tania. Wanita itu berangsur dari duduknya.

“Selamat menikmati makan malamnya, Pak Albert.”

Kobaran api kecil mulai tersirat di kedua netra pria itu, melihat wanita itu sudah berjalan dan memegang kenop pintu, pria itu langsung beranjak dari duduknya, lalu bergegas menghampirinya, kemudian mencengkeram salah satu tangan Tania.

“Akh...sakit,” ringis kesakitan Tania, tangan Albert mencengkeramnya begitu kuat, menekannya seolah-olah lengannya benda mati.

Tatapan Albert begitu tajam, raut wajah tampan itu semakin terlihat garang, pembuluh darah yang berada di bagian rahang bawahnya terlihat berdenyut, menahan gejolak emosinya.

“Apakah kamu sadar, saya siapanya kamu! Dan berani tidak patuh dengan saya...hem!” Dengan rasa geramnya Albert berkata-kata.

Tidak perlu Tania menajamkan kedua netranya, wanita itu malah menyunggingkan salah satu sudut bibirnya dan memutar malas kedua bola mata indahnya.

“Siapa! Atasan saya di kantor, lalu pria yang membeli saya ... Betulkan!” jawab Tania lantang.

Kata suami tidak diucapkan oleh Tania, walau bibirnya ingin mengucapkan.

“Aakh...” rupanya jawaban Tania, semakin membuat cengkeraman Albert menyakiti lengannya.

“Lepaskan tangan saya, Pak Albert. Bukannya bapak jijik memegang saya!” seru Tania sembari berusaha menepis tangan besar pria itu dengan salah satu tangannya.

“Kenapa bapak harus marah dengan saya karena menolak makan! Kenapa bapak tidak makan dengan Nyonya Marsha, istri Pak Albert sendiri, bukan dengan saya!” lanjut kata Tania.

Pria itu semakin erat cengkeramannya, dan kedua netranya menatap lekat wajah Tania, lalu menatap dalam kedua iris mata berwarna abu-abu wanita itu.

“Harusnya kamu sadar diri jika kamu wanita yang saya beli, dan tak perlu mendekati pria siapa pun!” balas Albert, ucapannya penuh emosi. Namun pria itu juga bingung kenapa dirinya jadi naik pitam, ketika Tania menolak untuk makan bersamanya.

Hah....tidak perlu mendekati pria siapa pun!

“Tidak perlu mengingatkan saya, tentang hal itu. Tapi sungguh lucu tidak boleh dekat dengan pria lain!” jawab Tania, sedikit melawan.

Tania kembali berdecak kesal. “Ya saya memang di beli oleh Bapak dan hanya di anggap pelayan! Tapi sepertinya sebentar lagi akan ada orang yang akan menggantikan saya, lebih muda dan cantik tidak seperti saya yang jelek seperti pemulung. Dan dia juga seorang model pendatang baru, bukankah Pak Albert menyukai wanita cantik, siapa tahu saja dia bisa mengandung anak Pak Albert!” tukas Tania.

Pria itu mendorong tubuh Tania ke dinding dan menghimpitnya dengan tubuhnya hingga tak ada jarak lagi di antara mereka. Napas mereka berdua sudah membaur menjadi satu, irama detak jantung mereka pun terdengar walau samar-samar, aroma tubuh mereka pun menyeruak dan menjadi satu, wangi yang menenangkan.

“Sepertinya kamu senang ingin di gantikan...hem!” bentak Albert.

Tania memberanikan menatap wajah tampan pria itu. “Ya ... saya senang sekali! Saya tidak akan lagi berhubungan dengan pria yang tak punya hati. Dan anggap saja keperawanan saya bonus untuk bapak!” jawab Tania dengan ketusnya.

Posisi wajah mereka berdua sangat dekat, mungkin hidung mancung mereka sedikit lagi akan saling bersentuhan, begitu pula dengan bibir Albert dan Tania. Namun sayangnya mereka berdua sedang menaikkan bendera merah, pertengkaran suami istri sedang terjadi.

“Wow hebat sekali kamu bilang keperawananmu bonus untuk saya!” cemooh Albert.

“Saya tidak butuh bonus perawan kamu! Ck ... Jangan-jangan setelah bebas dari saya, kamu ingin menjual diri dengan pria lain!” lanjut kata pria itu, sinis.

Tania kembali memutar bola matanya malas, walau sebenarnya hati sakit dengan tuduhan Albert. “Kalau iya memangnya kenapa! Itu bukan urusan bapak!” balas Tania penuh emosi karena ucapan Albert.

 Albert mulai mengeram, tampak wajah putihnya mulai memerah seperti orang yang terbakar emosi. “KAMU BENAR-BENAR KETERLALUAN, TANIA!!” teriak Albert pas si wajah wanita itu, membuat tubuh Tania menegang seketika, lalu seketika memalingkan wajahnya.

Entah kenapa hati pria itu sangat marah, emosi atas jawaban Tania. Seharusnya dia tak perlu emosi, karena hak wanita itu untuk  memutuskan jalan hidupnya.

Selama berumah tangga dengan Marsha, Albert tidak pernah se-emosi ini dengan istrinya. Dan baru kali ini hatinya memanas dan berkobar api, entah kenapa.

“KAMU INGIN MENJADI PELACURR DILUAR SANA...HUH!” kembali membentak Albert.

Tania menarik napasnya dalam-dalam sebelum menghadapi Albert yang terlihat emosi. “Bukankah saya memang pelacurr untuk Pak Albert, istri Bapak juga mengatai saya seorang pelacurr untuk suaminya! Jadi kenapa tidak sekalian saya nyemplung saja, sudah terlanjur basah! Dan Pak Albert tidak perlu memarahi saya! Saya hanya pelayan, dan budak sekss bapak, tidak lebih kan!” jawab Tania, dengan mengulas senyum sinisnya.

Istri dan suami saja saja, buat apa kaya tapi mulut tidak seperti orang yang berpendidikan! Menyesal gue pernah kagum denganmu, Pak Albert.

Pria itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku kukunya memutih, yang masih menempel di di dinding, karena masih menghimpit tubuh Tania.

Sebenarnya Tania sudah risih dengan posisi mereka berdua, terlalu intim, apalagi ditatap oleh wajah tampan Albert, hati tidak bisa di bohongi, masih ada rasa suka walau sedikit.

“Minggirlah Pak Albert, tidak pantas rasanya seorang pelayan berdekatan dengan tuannya,” tegur Tania, sembari mendorong dada Albert. Ya untuk pertama kalinya Tania menyentuh dada Albert, terserah kalau pria itu kembali membentaknya karena sudah berani menyentuh bagian tubuh pria itu.

bersambung......

Kakak reader yang ganteng dan cantik, jangan lupa tinggalin jejaknya ya....please 🙏🏻🤗

Lope-lope sekebon 🍊🍊🍊🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻

Terpopuler

Comments

Alby Raziq

Alby Raziq

suka Ama ceritanya,suka jg Ama karakter Tania

2025-01-24

0

Muji Lestari Tari

Muji Lestari Tari

asik makin seru ni berdua

2025-01-06

0

febby fadila

febby fadila

asyiiiiiiik makin seru nii

2025-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Renternir (revisi)
2 Ceroboh
3 Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4 Perdana ke mansion Albert
5 Menghadap Albert
6 Pelayan
7 Rapat marketing
8 Keinginan Clara
9 Persiapan Tania
10 Malam Pertama
11 Tania sakit
12 Dibeli bukan buat sakit
13 Tak sadarkan diri
14 Melawan Albert
15 Kedatangan Bu Rita dan Clara
16 Berpapasan
17 We time
18 Nonton di bioskop
19 Pertengkaran
20 Masih bertengkar
21 Mainan baru
22 Masakan Tania
23 Amarah Marsha
24 Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25 Cintai diri sendiri
26 Semua berkat Tania
27 Opa Thamrin
28 Me timenya Tania
29 Makan malam
30 Ada apa dengan diriku
31 Menjemput Tania
32 Jaminan
33 Pemilik rumah sakit H
34 Hasil cek laboratorium
35 Siapa??
36 Perintah Albert
37 Pindah ruangan
38 Ada apa dengan hati Albert
39 Keributan kecil
40 Menginap di rumah sakit
41 Efek tidur seranjang
42 Nyonya Mansion Albert
43 Tania, please jangan membuat saya takut!
44 Mencari keberadaan suami
45 Di usir
46 Babu Baru
47 Keluhan Albert
48 Menemui renternir
49 Foto Tania
50 Terbakar api cemburu
51 Meredakan emosi
52 Di kira mimpi
53 Marsha curiga
54 Dilabrak
55 PIL KB
56 Rahasia
57 Keberadaan Tania
58 Penyelidikan Albert
59 Jatuh sakit
60 Sakit merindu
61 Kamu anakku!!
62 Ibu kandung
63 Ngidam
64 Cek ke dokter kandungan
65 Mulai mencari Tania
66 Menghubungi Bu Mimi
67 Clara berulah
68 Rapuhnya Albert
69 CEO Arogan
70 Teguran Jelita
71 Menguntit Marsha
72 Gerebek Marsha
73 Gosip beredar
74 Konferensi Pers- 1
75 Konferensi Pers - 2
76 Keadaan Tania, galaunya Albert
77 Perjalanan menuju Bandung
78 Maafkan Aku, Istriku
79 Keadaan Ayah Hans
80 Ingin bertemu dengan Tania
81 Pertemuan yang tak disengaja
82 Albert memohon maaf
83 Bu Rita ke mansion Albert
84 Aku jatuh cinta dengan Tania
85 Restu Mama Shinta
86 Mulai pendekatan
87 Menemani Tania
88 Jadi suami siaga
89 Ungkapan hati Albert
90 Bicara dari hati ke hati
91 Kedatangan Marsha
92 Bukti cinta Albert
93 Hasil operasi
94 Respon Albert
95 Bangun dari koma
96 Rita sang pelakor
97 Kehancuran Ayah Hans
98 Mencari tempat tinggal baru
99 Meyakinkan Tania
100 Kembali ke Jakarta
101 Tiba di mansion Albert
102 Memberitahukan Bu Mimi
103 Mandi bersama
104 Mulai beraksi!
105 Tragedi makan malam
106 Malam yang mencekam
107 Siapa yang kena??
108 Nasib Clara
109 Acara Baby Shower
110 Welcome Baby Triple
111 Akhir kisah Tania dan Albert
112 Kisah anak Albert dan Tania
113 Info Karya Terbaru
114 Info Terbaru Karya Mommy Ghina
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Kedatangan Renternir (revisi)
2
Ceroboh
3
Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4
Perdana ke mansion Albert
5
Menghadap Albert
6
Pelayan
7
Rapat marketing
8
Keinginan Clara
9
Persiapan Tania
10
Malam Pertama
11
Tania sakit
12
Dibeli bukan buat sakit
13
Tak sadarkan diri
14
Melawan Albert
15
Kedatangan Bu Rita dan Clara
16
Berpapasan
17
We time
18
Nonton di bioskop
19
Pertengkaran
20
Masih bertengkar
21
Mainan baru
22
Masakan Tania
23
Amarah Marsha
24
Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25
Cintai diri sendiri
26
Semua berkat Tania
27
Opa Thamrin
28
Me timenya Tania
29
Makan malam
30
Ada apa dengan diriku
31
Menjemput Tania
32
Jaminan
33
Pemilik rumah sakit H
34
Hasil cek laboratorium
35
Siapa??
36
Perintah Albert
37
Pindah ruangan
38
Ada apa dengan hati Albert
39
Keributan kecil
40
Menginap di rumah sakit
41
Efek tidur seranjang
42
Nyonya Mansion Albert
43
Tania, please jangan membuat saya takut!
44
Mencari keberadaan suami
45
Di usir
46
Babu Baru
47
Keluhan Albert
48
Menemui renternir
49
Foto Tania
50
Terbakar api cemburu
51
Meredakan emosi
52
Di kira mimpi
53
Marsha curiga
54
Dilabrak
55
PIL KB
56
Rahasia
57
Keberadaan Tania
58
Penyelidikan Albert
59
Jatuh sakit
60
Sakit merindu
61
Kamu anakku!!
62
Ibu kandung
63
Ngidam
64
Cek ke dokter kandungan
65
Mulai mencari Tania
66
Menghubungi Bu Mimi
67
Clara berulah
68
Rapuhnya Albert
69
CEO Arogan
70
Teguran Jelita
71
Menguntit Marsha
72
Gerebek Marsha
73
Gosip beredar
74
Konferensi Pers- 1
75
Konferensi Pers - 2
76
Keadaan Tania, galaunya Albert
77
Perjalanan menuju Bandung
78
Maafkan Aku, Istriku
79
Keadaan Ayah Hans
80
Ingin bertemu dengan Tania
81
Pertemuan yang tak disengaja
82
Albert memohon maaf
83
Bu Rita ke mansion Albert
84
Aku jatuh cinta dengan Tania
85
Restu Mama Shinta
86
Mulai pendekatan
87
Menemani Tania
88
Jadi suami siaga
89
Ungkapan hati Albert
90
Bicara dari hati ke hati
91
Kedatangan Marsha
92
Bukti cinta Albert
93
Hasil operasi
94
Respon Albert
95
Bangun dari koma
96
Rita sang pelakor
97
Kehancuran Ayah Hans
98
Mencari tempat tinggal baru
99
Meyakinkan Tania
100
Kembali ke Jakarta
101
Tiba di mansion Albert
102
Memberitahukan Bu Mimi
103
Mandi bersama
104
Mulai beraksi!
105
Tragedi makan malam
106
Malam yang mencekam
107
Siapa yang kena??
108
Nasib Clara
109
Acara Baby Shower
110
Welcome Baby Triple
111
Akhir kisah Tania dan Albert
112
Kisah anak Albert dan Tania
113
Info Karya Terbaru
114
Info Terbaru Karya Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!