Tak sadarkan diri

Mansion Albert

Menjelang malam

Mobil mewah milik Albert, sudah tiba di luar lobby mansion. Kepala Pelayan senantiasa menyambut kedatangan Tuannya, di ambilnya tas kerja serta jas yang telah di bukanya, ketika Tuannya turun dari mobilnya. Kemudian jalan di belakang Tuannya yang berjalan menuju kamar utama di lantai dua.“Siapkan saya air hangat untuk mandi,” perintah Albert.

“Baik Tuan,” jawab Pak Firman.

Kepala pelayan segera membuka pintu kamar utama, kemudian menaruh barang Tuannya pada tempatnya, lalu menyiapkan keperluan Tuannya.

Menikah dengan Marsha Angelica, bukan berarti dirinya di layani sepenuhnya oleh sang istri tercinta. Segala keperluan Albert masih di urusi oleh Pak Firman Kepala Pelayan yang telah bekerja selama sepuluh tahun.

Marsha sang istri dengan segala kesibukan di dunia entertainment, hampir bisa di katakan tidak memperhatikan keperluan suaminya, dan Albert memakluminya dengan status istrinya, dan menerima konsekuensinya menikah dengan super model. Lagi pula dia menikah bukan untuk mencari pembantu, menurut Albert.

Tapi untuk kebutuhan batin Albert, Marsha selalu bisa memenuhinya, wanita itu memberikan service yang terbaik di atas ranjang panas mereka berdua.

“Pak Firman nanti tolong sampaikan Bu Mimi untuk menyiapkan Tania malam ini,” pinta Albert, sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.

“Baik Tuan, akan saya sampaikan ke Mimi,” balas Pak Firman.

...----------------...

Jam 20.00 wib

Kamar Tania

Wanita muda yang terlihat pucat, duduk di tepi ranjang yang tak ada kasurnya, karena masih di jemur, belum kering. Suhu badannya 38 celcius ketika Bu Mimi mengeceknya dengan termometer.

“Tuan Albert, memintamu untuk ke kamar tamu malam ini,” ucap Bu Mimi.

“Kamu sedang sakit sebaiknya saya kasih tahu kondisimu ke Tuan Albert,” ucap lanjut Bu Mimi, dengan tatapan teduh dan pilunya.

Tania menahan tangan Bu Mimi ketika mau keluar dari kamarnya. “Tidak perlu kasih tahu tentang kondisi saya ke Pak Albert, Bu Mimi. Terkesan saya mencari perhatiannya, lagi pula saya di sini hanya wanita yang sudah dibelinya, dan harus menjalankan tugasnya,” jawab Tania, suaranya terdengar lemah.

“Kamu yakin?”

Tania mengangguk pelan. “Bu Mimi, saya minta tolong buatkan teh manis hangat serta roti, biar saya ada tenaga,” pinta Tania.

“Kalau begitu saya buatkan dulu.”

“Terima kasih Bu Mimi.”

Tania menatap kepergian Bu Mimi sejenak, lalu kembali menatap dinding kamarnya. Tak terasa wanita itu kembali menitikkan air matanya.

Lo ... harus kuat Tania. Lo ... Mampu melewati semuanya Tania. Jadilah wanita yang tangguh!

Batinnya berusaha menguatkan dirinya sendiri, walau sejujurnya terasa berat. Namun dia tidak ada tempat untuk bersandar, dan tak mungkin berkeluh kesah dengan temannya Kia.

Gue cuma berharap gue mandul, hingga bisa lepas dari jeratan ini. Ya Allah...salahkah aku memohon seperti itu.

Tania segera menghapus air matanya yang kembali membasahi pipinya ketika bu Mimi masuk ke kamarnya, mengantar yang dia pinta tadi. Sekilas Bu Mimi melihat semburat sedih du wajah Tania, ada rasa iba, namun dia tidak bisa banyak membantu Tania.

Wanita muda itu mulai menyesap teh hangatnya di temani dengan roti isi yang di buat Bu Mimi. Sebenarnya jam lima sore, Tania sudah makan, dan sekarang dia ngemil karena ingin minum obat penurun panas.

Bu Mimi sengaja menunggu di luar tidak menemaninya, hal ini yang di inginkan oleh Tania. Dengan leluasa setelah menghabiskan rotinya, wanita itu langsung minum pil KB, selang beberapa menit kemudian minum obat penurun panas, dengan harapan dirinya cepat tertidur.

...----------------...

Kamar Tamu

Albert agak kecewa ketika masuk ke dalam kamar tamu, tidak ada Tania. Pria itu paling tidak suka dengan hal menunggu. Dengan suara meninggi pria itu memanggil Pak Firman, lalu meminta di panggilkan Tania segera.

Tak selang berapa lama.

Ceklek!

Wanita muda itu membuka kenop pintu, dan langsung mendapati sorotan mata yang sangat tajam bagaikan burung Elang. Pria itu sudah berdiri dengan gagahnya, tak jauh dari daun pintu kamar.

Tania melangkahkan kakinya satu langkah, kemudian menutup pintu kamar rapat-rapat. Sejenak wanita itu menatap wajah Albert, lima detik kemudian dia memalingkan wajahnya.

“Saya paling tidak suka menunggu! Kamu harus tahu itu! Lain kali jangan di ulangi kembali!” tegur Albert dengan suara meninggi.

Teguran ... Hanya Teguran yang Tania dapatkan! bertanya tentang keadaannya pun tak keluar dari mulut pria itu. Menanyakan wajahnya kenapa pucat pun, tidak ada. Miris!

Tidak ada kata permohonan maaf yang keluar dari bibir pucat Tania, wanita itu kembali berjalan menuju ranjang melewati Albert begitu saja. Lalu mengambil penutup mata yang sudah ada di atas ranjang tersebut.

“Sepertinya telinga kamu tidak berfungsi dengan baik!” tegur Albert kembali. Pria itu membalikkan badannya agar bisa bisa melihat Tania, wanita yang hanya mengenakan daster rumahan, wajah yang terlihat pucat, lalu rambut sebahunya di ikat rendah...tidak ada kesan istimewanya di mata Albert.

Tania tidak membalas teguran Albert, dirinya sudah mulai terasa mengantuk akibat efek obat yang baru saja di minumnya.

“Dan satu lagi yang perlu kamu ketahui, jika tidak masuk kerja, segera beritahukan ke atasan kamu. Jangan seenak nya tidak masuk kerja, di perusahaan sudah ada peraturan yang jelas!”

“Terima kasih sudah mengingatkan saya, Pak Albert.”

Wanita itu tanpa menyingkap dasternya, dia menurunkan celana segitiganya di hadapan Albert tanpa rasa malu lagi, dan di biarkan jatuh ke lantai. Lalu memakai penutup matanya.

“Cepat lakukan Pak Albert, saya ingin menyelesaikan tugas saya. Lagi pula Pak Albert tidak suka berlama-lama berdua dengan saya. Bapak pasti akan di tunggu Nyonya Marsha di kamar utama,” pinta Tania sembari merebahkan dirinya di atas ranjang.

Sesaat Albert bergeming, melihat kepasrahan Tania begitu saja. Tapi yang di katakan Tania, semuanya benar.

Wanita yang sudah berbaring di atas, mulai memejamkan kedua netranya, rasa kantuknya membuat dirinya perlahan-lahan terbuai memasuki dunia mimpinya, dan tak memedulikan keadaan yang ada di sekelilingnya.

Lumayan lama Albert terpaku, namun kesadarannya kembali datang. Pria itu menyusul Tania di atas ranjang dan mulai mengungkung tubuh wanita itu, di tatapnya sejenak wajah Tania yang terlihat pucat, dan tak sengaja lengannya menyentuh lengan Tania yang terasa hangat. Namun hal itu di hiraukannya.

Pria itu langsung menjalankan keinginan, menabur benih di rahim Tania.

Suasana kamar tamu mulai terdengar suara racauan Albert ketika benda pusakanya berada di dalam tubuh Tania, berulang kali pria itu mengerang hebat, merengkuh kenikmatan seorang diri. Dan ini untuk kedua kali nya dia sangat menikmati berhubungan intim dengan Tania, rasa yang luar biasa hebat, ketimbang berhubungan dengan istri pertamanya Marsha.

Keringat sudah membasahi tubuh Albert yang tidak menggunakan apa-apa, napas beratnya terdengar jelas ketika pria itu sudah melakukan pelepasannya untuk kedua kali nya.

Pria itu menjatuhkan dirinya di sisi Tania, sesaat Albert menoleh ke arah Tania yang tak ada ekspresinya sama sekali.

“Tania,” panggil Albert, sembari menyentuh bahu wanita itu. Akan tetapi tidak ada respon dari wanita itu.

Albert langsung bangkit dari pembaringannya, kemudian mengambil bathrope lalu masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.

Tak lama kemudian Albert sudah mengenakan kembali bathropenya, lalu menghampiri Tania.

“Tania,” Albert berusaha memanggilnya, sambil melepaskan penutup mata dari mata Tania.

“Tania!” Albert menepuk pipi Tania, pria itu mulai terlihat cemas, karena Tania masih tidak meresponnya.

“Astaga jangan-jangan Tania pingsan,” gumam Albert sendiri, pria itu menyugarkan rambutnya.

Pria itu kembali masuk ke kamar mandi untuk mengambil handuk kecil, lalu membersihkan area bagian feminim Tania dari sisa benih miliknya dan memakaikan celana wanita itu serta menurunkan dasternya ke bawah, kemudian menyelimuti Tania.

Tak lama pria itu memanggil Pak Firman dan Bu Mimi untuk memanggilkan dokter serta menemani Tania. Urusan Tania diserahkannya kepada kedua orang tersebut, selanjutnya pria itu beristirahat di kamar utamanya, menunggu kepulangan istrinya. Benar-benar tidak berperasaan pria itu, habis manis sepah dibuang!

Malam ini Albert memberikan izin Tania untuk tidur di kamar tamu, setelahnya silakan kembali ke kamar belakang.

bersambung.......

Maaf ya Kakak Readers kalau ceritanya bikin emosi 🤧🤧. Please jangan lupa tinggalkan jejaknya, biar semangat menghalu dan menulisnya 😊😊.

Terpopuler

Comments

Rafinsa

Rafinsa

jangan minum obat KB lagi Tania.. biar kamu cepat hamil dan pergi dari sana

2025-02-11

0

febby fadila

febby fadila

ya allah nggak ada perasaan
kamu akan menyesal albert

2025-01-08

0

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

kayaknya si Albert mulai ketagihan 🥴🥴

2025-01-20

0

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Renternir (revisi)
2 Ceroboh
3 Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4 Perdana ke mansion Albert
5 Menghadap Albert
6 Pelayan
7 Rapat marketing
8 Keinginan Clara
9 Persiapan Tania
10 Malam Pertama
11 Tania sakit
12 Dibeli bukan buat sakit
13 Tak sadarkan diri
14 Melawan Albert
15 Kedatangan Bu Rita dan Clara
16 Berpapasan
17 We time
18 Nonton di bioskop
19 Pertengkaran
20 Masih bertengkar
21 Mainan baru
22 Masakan Tania
23 Amarah Marsha
24 Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25 Cintai diri sendiri
26 Semua berkat Tania
27 Opa Thamrin
28 Me timenya Tania
29 Makan malam
30 Ada apa dengan diriku
31 Menjemput Tania
32 Jaminan
33 Pemilik rumah sakit H
34 Hasil cek laboratorium
35 Siapa??
36 Perintah Albert
37 Pindah ruangan
38 Ada apa dengan hati Albert
39 Keributan kecil
40 Menginap di rumah sakit
41 Efek tidur seranjang
42 Nyonya Mansion Albert
43 Tania, please jangan membuat saya takut!
44 Mencari keberadaan suami
45 Di usir
46 Babu Baru
47 Keluhan Albert
48 Menemui renternir
49 Foto Tania
50 Terbakar api cemburu
51 Meredakan emosi
52 Di kira mimpi
53 Marsha curiga
54 Dilabrak
55 PIL KB
56 Rahasia
57 Keberadaan Tania
58 Penyelidikan Albert
59 Jatuh sakit
60 Sakit merindu
61 Kamu anakku!!
62 Ibu kandung
63 Ngidam
64 Cek ke dokter kandungan
65 Mulai mencari Tania
66 Menghubungi Bu Mimi
67 Clara berulah
68 Rapuhnya Albert
69 CEO Arogan
70 Teguran Jelita
71 Menguntit Marsha
72 Gerebek Marsha
73 Gosip beredar
74 Konferensi Pers- 1
75 Konferensi Pers - 2
76 Keadaan Tania, galaunya Albert
77 Perjalanan menuju Bandung
78 Maafkan Aku, Istriku
79 Keadaan Ayah Hans
80 Ingin bertemu dengan Tania
81 Pertemuan yang tak disengaja
82 Albert memohon maaf
83 Bu Rita ke mansion Albert
84 Aku jatuh cinta dengan Tania
85 Restu Mama Shinta
86 Mulai pendekatan
87 Menemani Tania
88 Jadi suami siaga
89 Ungkapan hati Albert
90 Bicara dari hati ke hati
91 Kedatangan Marsha
92 Bukti cinta Albert
93 Hasil operasi
94 Respon Albert
95 Bangun dari koma
96 Rita sang pelakor
97 Kehancuran Ayah Hans
98 Mencari tempat tinggal baru
99 Meyakinkan Tania
100 Kembali ke Jakarta
101 Tiba di mansion Albert
102 Memberitahukan Bu Mimi
103 Mandi bersama
104 Mulai beraksi!
105 Tragedi makan malam
106 Malam yang mencekam
107 Siapa yang kena??
108 Nasib Clara
109 Acara Baby Shower
110 Welcome Baby Triple
111 Akhir kisah Tania dan Albert
112 Kisah anak Albert dan Tania
113 Info Karya Terbaru
114 Info Terbaru Karya Mommy Ghina
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Kedatangan Renternir (revisi)
2
Ceroboh
3
Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4
Perdana ke mansion Albert
5
Menghadap Albert
6
Pelayan
7
Rapat marketing
8
Keinginan Clara
9
Persiapan Tania
10
Malam Pertama
11
Tania sakit
12
Dibeli bukan buat sakit
13
Tak sadarkan diri
14
Melawan Albert
15
Kedatangan Bu Rita dan Clara
16
Berpapasan
17
We time
18
Nonton di bioskop
19
Pertengkaran
20
Masih bertengkar
21
Mainan baru
22
Masakan Tania
23
Amarah Marsha
24
Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25
Cintai diri sendiri
26
Semua berkat Tania
27
Opa Thamrin
28
Me timenya Tania
29
Makan malam
30
Ada apa dengan diriku
31
Menjemput Tania
32
Jaminan
33
Pemilik rumah sakit H
34
Hasil cek laboratorium
35
Siapa??
36
Perintah Albert
37
Pindah ruangan
38
Ada apa dengan hati Albert
39
Keributan kecil
40
Menginap di rumah sakit
41
Efek tidur seranjang
42
Nyonya Mansion Albert
43
Tania, please jangan membuat saya takut!
44
Mencari keberadaan suami
45
Di usir
46
Babu Baru
47
Keluhan Albert
48
Menemui renternir
49
Foto Tania
50
Terbakar api cemburu
51
Meredakan emosi
52
Di kira mimpi
53
Marsha curiga
54
Dilabrak
55
PIL KB
56
Rahasia
57
Keberadaan Tania
58
Penyelidikan Albert
59
Jatuh sakit
60
Sakit merindu
61
Kamu anakku!!
62
Ibu kandung
63
Ngidam
64
Cek ke dokter kandungan
65
Mulai mencari Tania
66
Menghubungi Bu Mimi
67
Clara berulah
68
Rapuhnya Albert
69
CEO Arogan
70
Teguran Jelita
71
Menguntit Marsha
72
Gerebek Marsha
73
Gosip beredar
74
Konferensi Pers- 1
75
Konferensi Pers - 2
76
Keadaan Tania, galaunya Albert
77
Perjalanan menuju Bandung
78
Maafkan Aku, Istriku
79
Keadaan Ayah Hans
80
Ingin bertemu dengan Tania
81
Pertemuan yang tak disengaja
82
Albert memohon maaf
83
Bu Rita ke mansion Albert
84
Aku jatuh cinta dengan Tania
85
Restu Mama Shinta
86
Mulai pendekatan
87
Menemani Tania
88
Jadi suami siaga
89
Ungkapan hati Albert
90
Bicara dari hati ke hati
91
Kedatangan Marsha
92
Bukti cinta Albert
93
Hasil operasi
94
Respon Albert
95
Bangun dari koma
96
Rita sang pelakor
97
Kehancuran Ayah Hans
98
Mencari tempat tinggal baru
99
Meyakinkan Tania
100
Kembali ke Jakarta
101
Tiba di mansion Albert
102
Memberitahukan Bu Mimi
103
Mandi bersama
104
Mulai beraksi!
105
Tragedi makan malam
106
Malam yang mencekam
107
Siapa yang kena??
108
Nasib Clara
109
Acara Baby Shower
110
Welcome Baby Triple
111
Akhir kisah Tania dan Albert
112
Kisah anak Albert dan Tania
113
Info Karya Terbaru
114
Info Terbaru Karya Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!