Tania sakit

Tak banyak kata yang ingin diucapkan Bu Mimi, wanita paruh baya itu hanya bisa menggenggam jemari lentik wanita itu, seakan memberikan kekuatan. Namun rupanya Tania kembali meneteskan air mata, setelah semalaman menghabiskan waktu dengan linangan air mata.

Salah satu maid yang di perintah Bu Mimi sudah datang kembali dengan membawa nampan.

“Tania, ini ada teh hangat, diminum dulu. Biar badanmu terasa hangat,” Bu Mimi menyodorkan cangkir teh nya. Dengan tangan gemetar, Tania meraih cangkir tersebut kemudian menyesapnya perlahan-lahan.

Bu Mimi setia menemani Tania, wanita paruh baya itu membantu Tania untuk menyantap sarapan paginya, yang tampak enggan menyuap makanannya.

“Bersabarlah kamu pasti bisa menghadapi semuanya,” ucap Bu Mimi pelan, berusaha mengajak Tania berbincang, yang sedari tadi hanya tersedu sambil makan.

Tania menghentikan makannya, lalu mengusap air matanya. “Apakah Bu Mimi tahu tentang saya, kenapa bisa ada saya di sini?”

Bu Mimi mengangguk pelan sebagai jawabannya.

“Kenapa tidak mencari wanita lain saja, kenapa harus saya!” seru Tania, sambil menepuk dadanya sendiri.

“Kenapa hidup saya dari kecil selalu bernasib malang, memang tidak bolehkah saya bahagia. Kenapa hal yang berharga saya harus hilang di tangan pria bejat itu!” maki Tania.

Bu Mimi segera meraih tangan Tania lalu mencekalnya agar tidak kembali memukul dadanya sendiri.

“Bersabarlah Tania, sekarang semua yang terjadi sama kamu, sudah garis takdir mu. Bertahanlah sesaat,” ucap Bu Mimi, memohon.

“Bu Mimi bilang ini semua garis takdir saya! Garis takdir buruk yang menghampiri saya. Saya juga ingin hidup bahagia, Bu!” Tania menangis sejadi-jadinya meluapkan apa yang dirasa di hatinya. Bu Mimi hanya bisa mengusap dengan lembutnya punggung Tania.

Hati wanita mana yang tak kan hancur berkeping-keping, ketika mahkotanya direnggut paksa dengan cara kasar, walau pria itu berstatus suami sirinya. Impian setiap wanita ingin mereguk malam pertama yang indah dan syahdu, namun itu tak terjadi di diri Tania. Pria itu memperlakukannya bak wanita bayaran, main celap celup tanpa ada rasa cinta, hanya mementingkan kebutuhan sepihak saja.

 Perasaan mengagumi Tania terhadap Albert, semakin lama berkurang, terkikis dengan sikap Albert terhadap dirinya.

Cukup lama Tania melampiaskan emosinya dengan tangisan, dan Bu Mimi masih bersabar menunggu reda tangisan wanita itu.

“Kamu masih bisa melakukan hal yang di sukai di luar mansion, masih bisa beraktivitas kerja. Walau hati mu terasa sakit tapi setidaknya kamu punya kehidupan di luar sana. Jadi jangan terlalu bersedih hati Tania, jika kamu tidak bahagia di sini, kamu berhak mencari kebahagiaan di luar sana. Cukup sudah kamu menangisnya, cepatlah bangkit dari keterpurukan ini. Jadikan takdir ini sebagai pecut dirimu agar menjadi wanita yang tangguh,” imbuh Bu Mimi.

Tania tidak berkomentar ketika Bu Mimi berbicara, karena masih merasakan sesak di dadanya.

“Ini minumlah obat paracetamol, badan kamu suhunya panas,” kata Bu Mimi, sembari memberikan satu tablet obat dan air minum. Wanita itu segera mengambil dari tangan Bu Mimi, dan langsung minum obatnya.

“Tenangkanlah dirimu, ingat kamu tidak sendiri di sini, ada saya tempat kamu berbagi. Sekarang istirahat lah, biar panas mu cepat turun.”

Tania hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali termenung ketika Bu Mimi keluar dari kamarnya.

Sepeninggalnya Bu Mimi dari kamarnya, wanita itu kembali merebahkan dirinya di atas ranjangnya, tatapan nya begitu kosong ketika menatap langit-langit kamar, pikirannya kembali dengan ingatan semalam, walau kejadian ya matanya tertutupi, namun dia masih teringat jelas ketika Albert melakukan penyatuannya dengan kasar.  

Serendah itukah dirinya hingga di perlakukan seperti itu, tak berperasaan! Sejijik itukah pria itu pada wanita itu!

Ini kah jalan hidup ku!

...----------------...

Sedangkan di ruang makan...

Pagi ini wajah Marsha tampak cerah, begitu pun dengan Albert, setelah semalaman mereka menikmati malam syahdunya. Dengan penuh perhatian Albert menyuapi Marsha makan penuh kemesraan, bak pengantin baru.

Setelah menyuapi Marsha, pria itu juga turut makan. Tapi merasa ada yang berbeda dengan masakan pagi ini, rasanya kembali semula, tidak seenak kemarin.

“Pak Firman, maid yang bagian masak masih sama kan orangnya?” tanya Albert kepada kepala pelayannya.

“Masih sama Tuan, tidak ada yang berubah. Kalau boleh tahu, ada masalah dengan masakannya?”

“Rasanya berbeda dengan yang kemarin, yang kemarin saya makan, masakannya enak. Kalau ini rasa yang seperti biasa.”

Pak Firman melirik pandangannya ke maid yang juga berada di ruang makan, maid itu hanya mengangkat kedua bahunya.

“Nanti akan saya sampaikan ke maid bagian dapur untuk lebih baik lagi dalam cita rasa masakannya, Tuan Albert.”

“Ya...segera di sampaikan.”

Pak Firman hanya bisa mengangguk kan kepalanya. Sedangkan Albert kembali menyantap sarapannya.

Bagaimana rasa masakannya tidak berbeda, kalau kemarin Tania ikut memasak untuk sarapan pagi, sedangkan pagi ini Tania sedang sakit di kamarnya.

“Sayang, nanti siang aku syuting iklan di puncak, jadi aku tidak bisa menemani makan siang,” tutur Marsha dengan manjanya.

“Gak pa-pa, tapi ingat jangan pulang terlalu larut malam. Nanti aku kesepian tidurnya,” jawab Albert, menatap damba wanita cantiknya.

Marha mengecup pipi Albert. “Ya sayang, aku tidak akan pulang laut malam. Apalagi pasti nanti malam kamu akan bersama Tania lagi. Aku harus menjagamu dari wanita kampungan itu!” kata Marsha, berada sedikit kesal.

“Kamu tidak perlu cemburu dengan wanita itu, tidak pantas rasanya. Kamu adalah pemilik jiwa dan ragaku,” balas Albert, masih betah menatap Marsha yang mulai merengut.

“Dari pada kamu cemburu, bagaimana kalau besok siang, aku temani kamu shopping. Bukankah kamu sudah lama tidak beli tas baru?” Albert membujuk, agar istrinya tidak terlalu memikirkan Tania.

Sungguh senang sekali ketika telinga Marsha mendengar kata-kata shopping. “Benarkah Kak Albert mau mengajak ku shopping, aku boleh membeli apapun yang aku mau?” tanya Marsha dengan mata yang berbinar senang.

“Iya, kamu bebas belanja apa pun, untuk istriku tercinta.”

Marsha langsung memeluk suaminya. “Makasih, sayang.”

Wanita mana yang tak menolak di ajak shopping oleh suaminya, walau hati jengkel, tapi rezeki tidak boleh di tolak. Tapi miris sekali lihatnya, yang satu sedang kesakitan di kamar, sedangkan yang satu terlihat bahagia walau ada kesedihan di hatinya.

...----------------...

Selesai menikmati sarapan, Albert langsung berangkat ke perusahaan nya. Sedangkan Marsha di temani Gisel menuju kamar Tania.

Istri pertama Albert langsung mendobrak pintu kamar Tania yang tidak terkunci. Wanita itu menyeringai tipis ketika melihat Tania yang masih tidur.

Dengan salah satu kakinya, wanita itu menggoyangkan kan tubuh Tania. “Eh...pela cur bangun lo! Enak banget udah jam sembilan lo masih tidur,” bentak Marsha.

“Nyonya Marsha banguninya kurang kalau pakai kaki, mending di siram aja,” tercetus ide Gisel.

“Boleh juga ide kamu, cepetan ambil air seember,” perintah Marsha.

“Baik Nyonya,” Gisel, segera mengambil air seember dari kamar mandi yang ada di kamar Tania.

“Cepat siram!” kembali memerintah Marsha.

BYUR

Tubuh Tania sudah di siram dengan air seember ukuran sedang, membuat wanita itu tiba-tiba gelagapan bagai orang yang tenggelam di kolam menang.

“T-tolong...” ucap Tania dengan rasa terkejut nya dari tidurnya, sembari mengusap wajahnya dari guyuran air. Kemudian kedua netranya menatap Marsha dan Gisel yang sudah berkacak pinggang.

“Tolong apa...hem! Dasar pela cur gak tahu diri, sudah jam sembilan masih enak-enakan tidur...huh!” maki Marsha.

Keadaan tubuh Tania sudah kuyup, begitu juga dengan ranjang kecilnya, ikutan basah, setelah di guyur oleh Gisel.

“Eh pela cur...kok malah diam aja. Lo jangan mentang suami aku udah campuri lo semalam, jadi merasa seenak dengkul lo aja ya di sini!” kembali memaki Marsha. Gisel tampak senang melihat Tania di caci maki oleh Marsha.

Tania menatap nanar wajah istri pertama Albert, belum usai rasa sakitnya karena Albert, sekarang dirinya di caci maki dengan kata pela cur oleh istri pertama Albert.

*bersambung.....

Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 😊😊😊, biar semangat nulisnya.

Terpopuler

Comments

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

bilang aja kalo aq pelacur suami lu apa...yg mau sm pelacur kan lelaki hidung belang berarti suami lu lelaki hidung belang dong 🤣🤣🤣

2025-01-20

0

Aidul Putra

Aidul Putra

KLO GW BILANG MAH NAJIS...... ORG TUA BGTU TP MSH JUGA D HORMATI.... ATURAN DARIMANA ITU...??? KLO GW SDH GW BABAT HABIS TUH... ENAK AJA..

2024-11-18

0

febby fadila

febby fadila

hati2 marsha jangan sampai kata pelacur melekat di buat kamu

2025-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Renternir (revisi)
2 Ceroboh
3 Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4 Perdana ke mansion Albert
5 Menghadap Albert
6 Pelayan
7 Rapat marketing
8 Keinginan Clara
9 Persiapan Tania
10 Malam Pertama
11 Tania sakit
12 Dibeli bukan buat sakit
13 Tak sadarkan diri
14 Melawan Albert
15 Kedatangan Bu Rita dan Clara
16 Berpapasan
17 We time
18 Nonton di bioskop
19 Pertengkaran
20 Masih bertengkar
21 Mainan baru
22 Masakan Tania
23 Amarah Marsha
24 Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25 Cintai diri sendiri
26 Semua berkat Tania
27 Opa Thamrin
28 Me timenya Tania
29 Makan malam
30 Ada apa dengan diriku
31 Menjemput Tania
32 Jaminan
33 Pemilik rumah sakit H
34 Hasil cek laboratorium
35 Siapa??
36 Perintah Albert
37 Pindah ruangan
38 Ada apa dengan hati Albert
39 Keributan kecil
40 Menginap di rumah sakit
41 Efek tidur seranjang
42 Nyonya Mansion Albert
43 Tania, please jangan membuat saya takut!
44 Mencari keberadaan suami
45 Di usir
46 Babu Baru
47 Keluhan Albert
48 Menemui renternir
49 Foto Tania
50 Terbakar api cemburu
51 Meredakan emosi
52 Di kira mimpi
53 Marsha curiga
54 Dilabrak
55 PIL KB
56 Rahasia
57 Keberadaan Tania
58 Penyelidikan Albert
59 Jatuh sakit
60 Sakit merindu
61 Kamu anakku!!
62 Ibu kandung
63 Ngidam
64 Cek ke dokter kandungan
65 Mulai mencari Tania
66 Menghubungi Bu Mimi
67 Clara berulah
68 Rapuhnya Albert
69 CEO Arogan
70 Teguran Jelita
71 Menguntit Marsha
72 Gerebek Marsha
73 Gosip beredar
74 Konferensi Pers- 1
75 Konferensi Pers - 2
76 Keadaan Tania, galaunya Albert
77 Perjalanan menuju Bandung
78 Maafkan Aku, Istriku
79 Keadaan Ayah Hans
80 Ingin bertemu dengan Tania
81 Pertemuan yang tak disengaja
82 Albert memohon maaf
83 Bu Rita ke mansion Albert
84 Aku jatuh cinta dengan Tania
85 Restu Mama Shinta
86 Mulai pendekatan
87 Menemani Tania
88 Jadi suami siaga
89 Ungkapan hati Albert
90 Bicara dari hati ke hati
91 Kedatangan Marsha
92 Bukti cinta Albert
93 Hasil operasi
94 Respon Albert
95 Bangun dari koma
96 Rita sang pelakor
97 Kehancuran Ayah Hans
98 Mencari tempat tinggal baru
99 Meyakinkan Tania
100 Kembali ke Jakarta
101 Tiba di mansion Albert
102 Memberitahukan Bu Mimi
103 Mandi bersama
104 Mulai beraksi!
105 Tragedi makan malam
106 Malam yang mencekam
107 Siapa yang kena??
108 Nasib Clara
109 Acara Baby Shower
110 Welcome Baby Triple
111 Akhir kisah Tania dan Albert
112 Kisah anak Albert dan Tania
113 Info Karya Terbaru
114 Info Terbaru Karya Mommy Ghina
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Kedatangan Renternir (revisi)
2
Ceroboh
3
Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4
Perdana ke mansion Albert
5
Menghadap Albert
6
Pelayan
7
Rapat marketing
8
Keinginan Clara
9
Persiapan Tania
10
Malam Pertama
11
Tania sakit
12
Dibeli bukan buat sakit
13
Tak sadarkan diri
14
Melawan Albert
15
Kedatangan Bu Rita dan Clara
16
Berpapasan
17
We time
18
Nonton di bioskop
19
Pertengkaran
20
Masih bertengkar
21
Mainan baru
22
Masakan Tania
23
Amarah Marsha
24
Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25
Cintai diri sendiri
26
Semua berkat Tania
27
Opa Thamrin
28
Me timenya Tania
29
Makan malam
30
Ada apa dengan diriku
31
Menjemput Tania
32
Jaminan
33
Pemilik rumah sakit H
34
Hasil cek laboratorium
35
Siapa??
36
Perintah Albert
37
Pindah ruangan
38
Ada apa dengan hati Albert
39
Keributan kecil
40
Menginap di rumah sakit
41
Efek tidur seranjang
42
Nyonya Mansion Albert
43
Tania, please jangan membuat saya takut!
44
Mencari keberadaan suami
45
Di usir
46
Babu Baru
47
Keluhan Albert
48
Menemui renternir
49
Foto Tania
50
Terbakar api cemburu
51
Meredakan emosi
52
Di kira mimpi
53
Marsha curiga
54
Dilabrak
55
PIL KB
56
Rahasia
57
Keberadaan Tania
58
Penyelidikan Albert
59
Jatuh sakit
60
Sakit merindu
61
Kamu anakku!!
62
Ibu kandung
63
Ngidam
64
Cek ke dokter kandungan
65
Mulai mencari Tania
66
Menghubungi Bu Mimi
67
Clara berulah
68
Rapuhnya Albert
69
CEO Arogan
70
Teguran Jelita
71
Menguntit Marsha
72
Gerebek Marsha
73
Gosip beredar
74
Konferensi Pers- 1
75
Konferensi Pers - 2
76
Keadaan Tania, galaunya Albert
77
Perjalanan menuju Bandung
78
Maafkan Aku, Istriku
79
Keadaan Ayah Hans
80
Ingin bertemu dengan Tania
81
Pertemuan yang tak disengaja
82
Albert memohon maaf
83
Bu Rita ke mansion Albert
84
Aku jatuh cinta dengan Tania
85
Restu Mama Shinta
86
Mulai pendekatan
87
Menemani Tania
88
Jadi suami siaga
89
Ungkapan hati Albert
90
Bicara dari hati ke hati
91
Kedatangan Marsha
92
Bukti cinta Albert
93
Hasil operasi
94
Respon Albert
95
Bangun dari koma
96
Rita sang pelakor
97
Kehancuran Ayah Hans
98
Mencari tempat tinggal baru
99
Meyakinkan Tania
100
Kembali ke Jakarta
101
Tiba di mansion Albert
102
Memberitahukan Bu Mimi
103
Mandi bersama
104
Mulai beraksi!
105
Tragedi makan malam
106
Malam yang mencekam
107
Siapa yang kena??
108
Nasib Clara
109
Acara Baby Shower
110
Welcome Baby Triple
111
Akhir kisah Tania dan Albert
112
Kisah anak Albert dan Tania
113
Info Karya Terbaru
114
Info Terbaru Karya Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!