Rapat marketing

Semua para staff marketing sekitar dua puluh orang menuju ruang meeting, termasuk Tania yang jalannya terseok-seok, antara maju atau mundur. Kia yang melihat temannya malas ikut rapat, langsung menggamit lengan Tania, agar turut masuk ke dalam ruang rapat.

Meja panjang besar dengan ukuran beberapa meter, lalu di kelilingi oleh beberapa kursi kerja, itu lah furniture yang ada di dalam ruang meeting. Semua peserta langsung mencari posisi duduk untuk mereka tempati, kecuali tempat duduk yang paling utama posisinya, sudah jelas tidak bisa di tempati, karena khusus buat pemimpin rapat, sang CEO.

“Kia, gue duduk paling ujung ya,” pinta Tania. Jika karyawan yang lain ingin duduk berdekatan dengan sang pemilik perusahaan, maka berbeda dengan Tania, lebih baik dia duduk paling ujung jadi tidak akan timbul interaksi langsung dengan Albert, suami sirinya.

“Mending di depan aja Tania, biar bisa melihat jelas wajah Pak Albert nya,” balas Kia, tidak suka dengan pilihan Tania.

“Elu aja deh yang duduk di depan, gue di ujung aja,” tolak Tania, lanjut melangkah ke belakang. Kia terlihat mendengus kesal, terpaksa mengikuti keinginan Tania.

Lima menit kemudian, hentakan sepatu pantofel pria mulai terdengar jelas, mulai memasuki ruang rapat. Sang pemilik perusahaan sekaligus menjabat CEO hadir bersama asisten pribadinya. Wajah dingin dan angkuh dari sang pria bernama Albert, sangat terpancar sekali. Ingin sekali Tania menyiram pakai air hangat, biar luntur es yang membeku di wajah tampan itu.

Tania yang tak sengaja melihat pria yang telah menikahinya semalam, sedikit menundukkan pandangannya, rasanya malas melihatnya, padahal sebelumnya dia sangat senang jika bisa melihat Albert, hatinya pasti berbunga-bunga melihat cinta monyetnya!

Albert yang baru datang langsung duduk di kursi pemimpin rapat. Gerry segera membuka rapat marketing di susul oleh Pak Yana selaku direktur marketing.

Tania terlihat memutar bola mata malasnya ketika mereka berdua tidak sengaja adu pandang, padahal jarak mereka sudah lumayan jauh. Akan tetapi Albert terkesan dingin dan datar ketika menatap Tania. Saat ini rapat mulai di pimpin oleh Albert, yang sedang memberikan visi misi kepada team marketing, hampir semua staf marketing menyimak apa yang di jelaskan Albert, sedangkan Tania lebih banyak menundukkan kepalanya dan mencatat apa yang di dengar.

“Itu yang kerjaannya menunduk terus, sudah paham apa yang saya jelaskan,” tegur Albert dari kejauhan, namun yang ditegur masih asik menulis.

“Tania...hey...,” ucap Kia sambil menyenggol siku tangan Tania, Kia baru menyadari jika sorot mata Albert menuju Tania.

“Mmm...apa,” jawab pelan Tania, tapi masih sibuk dengan tulisannya.

Albert yang merasa tidak di hormati, melangkahkan kakinya menuju Tania, semua mata karyawan memandang.

BRAK!!

“Ehh...copot jantung gue copot...astaga, ada kodok lompat,” Tania terlonjak dari duduknya, lalu melongo melihat pria yang menggebrak meja di hadapannya.

“Saya tidak suka dengan karyawan yang tidak memperhatikan jalannya rapat, sibuk sendiri!” tegur Albert suaranya naik 2 oktaf, plus dengan tatapan dinginnya.

“M-maaf Pak, saya memperhatikan rapatnya. Justru saya sibuk menulis yang bapak jelaskan biar saya tidak lupa. Maklum Pak, saya suka lupa ingatan kalau gak di catat,” ucap Tania sedikit nyengir ngeri-ngeri sedap, apalagi wajah tampan itu terlihat garang kayak mau makan orang.

“Pindah kamu duduk di depan,” perintah Albert, kemudian mengambil notebook milik Tania tanpa permisi.

Aaah...apes amat nasib gue.., cuma gara-gara gue gak natap dia, gue di suruh pindah duduk!

Tania menatap Kia, temannya hanya bisa nyengir kuda, mau bantu juga tidak bisa. Dengan langkah malas nya Tania terpaksa duduk di depan dekat Albert, bertukar duduk dengan teman yang lain, sumpah ingin rasanya ambil selendang terus di tutupi wajahnya, malu dengan sorot mata teman kerjanya.

Rapat dilanjutkan kembali setelah sempat terjeda, Tania terpaksa membulatkan kedua matanya, sebulat-bulatnya bak kelereng saat Albert menjelaskan di depan.

Hampir dua jam rapat marketing berjalan, buat semua staff marketing adalah hal yang menyenangkan, tapi tidak untuk Tania, ini sungguh membosankan. Ahh ke mana rasa mengagumi Albert selama ini, kenapa tiba-tiba lenyap seketika, padahal pria itu jelas ada di hadapan wanita itu.

“Baik rapat marketing hari ini sudah selesai, saya mengharapkan kinerja kalian lebih di tingkatkan. Dan jika target marketing tercapai, maka saya akan memberikan reward berupa bonus satu bulan gaji,” ujar Albert.

Tepuk tangan riuh menggema di ruang meeting dari staff marketing ketika mendengar kata kata reward alias bonus, sebagai penyemangat untuk bekerja sesuai target.

“Akhirnya selesai juga rapat nya,” gumam Tania, wanita itu langsung menoleh ke belakang, memberi kode ke Kia. Kia hanya menganggukkan kepalanya.

Albert sang pemilik perusahaan terlebih dahulu meninggalkan ruang meeting. “ NonTania, bisa ikut saya sebentar,” pinta Gerry.

Tania yang baru saja mau menghampiri Kia, jadi berbelok arah. “Ooh...baik Pak Gerry,” jawab patuh Tania. Wanita itu mengikuti langkah kaki Gerry.

RUANG CEO

Selama mengikuti Gerry, wanita itu tidak bertanya mau ke mana. Tapi sekarang kedua netranya sudah terbelalak, harusnya tadi dia sadar kalau Gerry itu asisten pribadi Albert dan pastinya ini ada perintah Albert. Bukan Gerry yang ingin bertemu dengan dia.

Untuk pertama kali nya dalam satu tahun bekerja di Perusahaan Maxindo, sekarang wanita itu berdiri di depan ruang CEO.

Ceklek!

Gerry membukakan pintu, “Silakan masuk, Non Tania, Pak Albert sudah menunggu,” pintanya.

“O-oh iya...Pak Gerry, saya sendiri nih yang masuk? Pak Gerry gak ikutan masuk ke dalam” agak canggung Tania.

“Hanya Non Tania.”

Tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan pelan-pelan, kaki Tania melanjutkan langkah kakinya.

Sekarang wanita itu sudah berdiri di hadapan Albert, yang duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan dingin nya.

Wiss tatapannya begitu amat...

“Tania, kenapa tadi pagi pergi dari mansion tidak pamit dengan saya, apa kamu sengaja ingin kabur dari saya. Saya ini sudah membeli kamu...hem!” seru Albert.

GLEK!

“Maaf Pak Albert, saya sudah titip pesan dengan Bu Mimi dan menurut saya tidak masalahkan jika saya titip pesan. Lagi pula gak mungkin seorang pelayan mau pergi harus berpamitan dengan Tuan nya, bukankah cukup pamitan dengan kepala pelayan, “ jawab santai Tania, mulai memberanikan diri.

Albert berdecak kesal atas jawaban yang sungguh berani menurutnya. Pria itu kemudian membuka laci mejanya lalu mengambil botol kecil kemudian meletakkannya di atas meja.

“Ambil ini, dan minum satu butir sekarang juga!” perintah Albert.

Tania maju dua langkah lalu mengambil botol tersebut. “Ini apa?”

“Saya ingin kamu segera hamil, jadi saya beli obat penyubur,” jawab Albert dengan entengnya.

Ck...yakin sekali Pak Albert jika gue bisa hamil, bagaimana kalau gue tidak bisa hamil.

“Bagaimana kalau saya tidak bisa hamil? Apakah saya harus menggantikan uang Pak Albert?”

Albert mengerutkan dahinya. “ Semuanya sudah di atur dalam surat pembelian mu, jika dalam jangka waktu satu tahun kamu tidak hamil juga. Maka aku akan menceraikan mu dan kamu tidak perlu mengembalikan uangnya. Kecuali kamu berusaha kabur dari saya dalam jangka waktu satu tahun, maka ayahmu harus mengembalikan uang saya dua kali lipat!” ancam Albert.

Tania hanya bisa memutar malas bola matanya, jika dia kabur maka harus mengeluarkan uang lebih banyak. Sama saja dia akan dijual kembali oleh ayah Hans ke pria lain untuk membayar uang tersebut ke Albert.

“Cepat minum obatnya, saya mau lihat kalau kamu benar-benar meminum obatnya,” perintah Albert, sambil menyodorkan gelas minumnya yang belum tersentuh.

Semoga gue gak hamil anaknya, emangnya istrinya gak bisa hamil...

Dengan terpaksa Tania membuka botol obat dan mengambil satu kapsul, kemudian menelannya berbarengan dengan air minum.

“Kenapa bukan istri bapak saja yang minum, biar tambah subur rahimnya. Siapa tahu saja nanti hamil, jadi tidak usah berharap ke saya, lagian saya hanya dianggap pelayan. Udah kayak novel yang judulnya Hamil Benih Majikanku,” gumam Tania sendiri, tak perduli jika Albert mendengarnya.

BRAK!!

Sungguh geram Albert dengan mulut Tania, tak sadar tangannya menggebrak meja kerjanya. Tania kembali berjingkat kaget dalam keadaan berdirinya.

“Lama-lama bisa copot nih jantung di sini,” gumamnya lagi, menghiraukan tatapan tajam Albert.

“Jangan lupa tugasmu dimulai malam ini! Sekarang keluarlah dari ruangan saya,” perintah Albert dengan mengibaskan salah satu tangannya.

Ck...sombong amat..

“Tugas apa Pak Albert? Cuci baju, setrika, masak, bebenah rumah. Siap di kerjakan Pak, saya kan pelayan!” celetuk asal Tania. Padahal dia sedang membuang pikiran yang di maksud tugasnya nanti malam. Bulu kuduknya sudah merinding.

Kedua netra Albert seketika membulat, seakan kedua bola matanya ingin keluar dari sarangnya. Sudah cukup kesabarannya di uji sama makhluk halus yang ada di hadapannya.

Tania tidak menjawab lagi, buru-buru meletakkan botol obat ke meja Albert setelah dapat pelototan, lalu memutar balik badannya begitu saja.

bersambung........sabar ya Tania

Terpopuler

Comments

Dewi Soraya

Dewi Soraya

mampus u albert.jgn sk lg m albert tania

2025-01-21

0

🏠⃟ᵐᵒᵐરuyzz🤎𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ🍁🥑⃟❣️

🏠⃟ᵐᵒᵐરuyzz🤎𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ🍁🥑⃟❣️

good hahahahhahahah...
suka banget cara mu

2025-01-21

0

febby fadila

febby fadila

bagus tania buat albert srtuk ringan 😂😂😂

2025-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Renternir (revisi)
2 Ceroboh
3 Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4 Perdana ke mansion Albert
5 Menghadap Albert
6 Pelayan
7 Rapat marketing
8 Keinginan Clara
9 Persiapan Tania
10 Malam Pertama
11 Tania sakit
12 Dibeli bukan buat sakit
13 Tak sadarkan diri
14 Melawan Albert
15 Kedatangan Bu Rita dan Clara
16 Berpapasan
17 We time
18 Nonton di bioskop
19 Pertengkaran
20 Masih bertengkar
21 Mainan baru
22 Masakan Tania
23 Amarah Marsha
24 Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25 Cintai diri sendiri
26 Semua berkat Tania
27 Opa Thamrin
28 Me timenya Tania
29 Makan malam
30 Ada apa dengan diriku
31 Menjemput Tania
32 Jaminan
33 Pemilik rumah sakit H
34 Hasil cek laboratorium
35 Siapa??
36 Perintah Albert
37 Pindah ruangan
38 Ada apa dengan hati Albert
39 Keributan kecil
40 Menginap di rumah sakit
41 Efek tidur seranjang
42 Nyonya Mansion Albert
43 Tania, please jangan membuat saya takut!
44 Mencari keberadaan suami
45 Di usir
46 Babu Baru
47 Keluhan Albert
48 Menemui renternir
49 Foto Tania
50 Terbakar api cemburu
51 Meredakan emosi
52 Di kira mimpi
53 Marsha curiga
54 Dilabrak
55 PIL KB
56 Rahasia
57 Keberadaan Tania
58 Penyelidikan Albert
59 Jatuh sakit
60 Sakit merindu
61 Kamu anakku!!
62 Ibu kandung
63 Ngidam
64 Cek ke dokter kandungan
65 Mulai mencari Tania
66 Menghubungi Bu Mimi
67 Clara berulah
68 Rapuhnya Albert
69 CEO Arogan
70 Teguran Jelita
71 Menguntit Marsha
72 Gerebek Marsha
73 Gosip beredar
74 Konferensi Pers- 1
75 Konferensi Pers - 2
76 Keadaan Tania, galaunya Albert
77 Perjalanan menuju Bandung
78 Maafkan Aku, Istriku
79 Keadaan Ayah Hans
80 Ingin bertemu dengan Tania
81 Pertemuan yang tak disengaja
82 Albert memohon maaf
83 Bu Rita ke mansion Albert
84 Aku jatuh cinta dengan Tania
85 Restu Mama Shinta
86 Mulai pendekatan
87 Menemani Tania
88 Jadi suami siaga
89 Ungkapan hati Albert
90 Bicara dari hati ke hati
91 Kedatangan Marsha
92 Bukti cinta Albert
93 Hasil operasi
94 Respon Albert
95 Bangun dari koma
96 Rita sang pelakor
97 Kehancuran Ayah Hans
98 Mencari tempat tinggal baru
99 Meyakinkan Tania
100 Kembali ke Jakarta
101 Tiba di mansion Albert
102 Memberitahukan Bu Mimi
103 Mandi bersama
104 Mulai beraksi!
105 Tragedi makan malam
106 Malam yang mencekam
107 Siapa yang kena??
108 Nasib Clara
109 Acara Baby Shower
110 Welcome Baby Triple
111 Akhir kisah Tania dan Albert
112 Kisah anak Albert dan Tania
113 Info Karya Terbaru
114 Info Terbaru Karya Mommy Ghina
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Kedatangan Renternir (revisi)
2
Ceroboh
3
Dijual Ayahku Dibeli Bosku
4
Perdana ke mansion Albert
5
Menghadap Albert
6
Pelayan
7
Rapat marketing
8
Keinginan Clara
9
Persiapan Tania
10
Malam Pertama
11
Tania sakit
12
Dibeli bukan buat sakit
13
Tak sadarkan diri
14
Melawan Albert
15
Kedatangan Bu Rita dan Clara
16
Berpapasan
17
We time
18
Nonton di bioskop
19
Pertengkaran
20
Masih bertengkar
21
Mainan baru
22
Masakan Tania
23
Amarah Marsha
24
Pertemuan dengan Bu Rita dan Clara
25
Cintai diri sendiri
26
Semua berkat Tania
27
Opa Thamrin
28
Me timenya Tania
29
Makan malam
30
Ada apa dengan diriku
31
Menjemput Tania
32
Jaminan
33
Pemilik rumah sakit H
34
Hasil cek laboratorium
35
Siapa??
36
Perintah Albert
37
Pindah ruangan
38
Ada apa dengan hati Albert
39
Keributan kecil
40
Menginap di rumah sakit
41
Efek tidur seranjang
42
Nyonya Mansion Albert
43
Tania, please jangan membuat saya takut!
44
Mencari keberadaan suami
45
Di usir
46
Babu Baru
47
Keluhan Albert
48
Menemui renternir
49
Foto Tania
50
Terbakar api cemburu
51
Meredakan emosi
52
Di kira mimpi
53
Marsha curiga
54
Dilabrak
55
PIL KB
56
Rahasia
57
Keberadaan Tania
58
Penyelidikan Albert
59
Jatuh sakit
60
Sakit merindu
61
Kamu anakku!!
62
Ibu kandung
63
Ngidam
64
Cek ke dokter kandungan
65
Mulai mencari Tania
66
Menghubungi Bu Mimi
67
Clara berulah
68
Rapuhnya Albert
69
CEO Arogan
70
Teguran Jelita
71
Menguntit Marsha
72
Gerebek Marsha
73
Gosip beredar
74
Konferensi Pers- 1
75
Konferensi Pers - 2
76
Keadaan Tania, galaunya Albert
77
Perjalanan menuju Bandung
78
Maafkan Aku, Istriku
79
Keadaan Ayah Hans
80
Ingin bertemu dengan Tania
81
Pertemuan yang tak disengaja
82
Albert memohon maaf
83
Bu Rita ke mansion Albert
84
Aku jatuh cinta dengan Tania
85
Restu Mama Shinta
86
Mulai pendekatan
87
Menemani Tania
88
Jadi suami siaga
89
Ungkapan hati Albert
90
Bicara dari hati ke hati
91
Kedatangan Marsha
92
Bukti cinta Albert
93
Hasil operasi
94
Respon Albert
95
Bangun dari koma
96
Rita sang pelakor
97
Kehancuran Ayah Hans
98
Mencari tempat tinggal baru
99
Meyakinkan Tania
100
Kembali ke Jakarta
101
Tiba di mansion Albert
102
Memberitahukan Bu Mimi
103
Mandi bersama
104
Mulai beraksi!
105
Tragedi makan malam
106
Malam yang mencekam
107
Siapa yang kena??
108
Nasib Clara
109
Acara Baby Shower
110
Welcome Baby Triple
111
Akhir kisah Tania dan Albert
112
Kisah anak Albert dan Tania
113
Info Karya Terbaru
114
Info Terbaru Karya Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!