Sinar mentari telah menunjukkan pesonanya. Bulan segera meninggalkan singgasananya. Angin menari-nari mengikuti bunga-bunga yang tumbuh di taman belakang kediaman Nero. Yah, menyenangkan.
Hari masih pagi. Namun kesibukan sudah terlihat sejak beberapa jam yang lalu.
Nuwa membuka matanya yang masih terasa berat. Ini adalah pagi pertamanya di bumi, dan rasanya tidak menyenangkan sama sekali. Semua sangat jauh dari angan-angannya, Nuwa pikir bumi jauh lebih menyenangkan daripada istana langit.
Gadis itu mengulirkan pandangannya dan mendapati tempat di sampingnya sudah dalam keadaan kosong, dan ketika disentuh terasa dingin. Yang artinya sudah ditinggalkan sejak tadi, dan Nuwa tidak tahu kemana Nenek tua itu pergi.
"Sayang, kau sudah bangun?"
Perhatian sang Dewi teralihkan oleh seruan itu. Terlihat Nenek Nero masuk ke dalam bersama beberapa wanita yang pakaiannya sama semua, dan Nuwa berani bersumpah jika mereka adalah pelayan di rumah ini.
"Viona, Nenek membelikan banyak pakaian untukmu. Nenek, tidak tahu pakai yang seperti apa yang kau sukai. Jadi Nenek meminta mereka membawa seisi boutique kemari supaya kau bisa memilihnya sendiri."
Nuwa turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Nenek Nero. "Kau membawa pakaian-pakaian ini untukku?" ucap Nuwa memastikan.
Nenek Nero mengangguk. "Pilih semua pakaian yang kau suka. Dan kau boleh memilih sebanyak yang kau mau,"
Nuwa mendekati gaun-gaun itu. Dia memang membutuhkan pakaian sekarang, karena tidak mungkin seterusnya dia hanya memakai satu pakaian saja. Apalagi pakaiannya tidak sesuai dengan zaman dimana ia berada saat ini.
"Kenapa Nenek sangat baik padaku? Sementara aku hanya orang asing disini, dan aku sangat yakin jika sebenarnya Nenek mengetahui aku tak memiliki hubungan apapun dengan manusia musim dingin itu." Ucap Nuwa sambil mengunci langsung ke dalam manik abu-abu Nenek Nero.
Sebelum menjawab pertanyaan Nuwa, Nenek Nero meminta para pelayan untuk keluar.
Dan selepas kepergian beberapa pelayan itu, di Sana hanya menyisakan Nenek dan Sang Dewi.
Nenek Nero memejamkan kedua matanya. Dan seketika wujudnya berubah, membuat kedua mata Nuwa membelalak sempurna.
Wanita itu dalam balutan Hanfu putih bersalur sulaman emas, pakaian yang biasa dipakai oleh Dewi tertinggi, setelah Ratu.
"Ne..Nenek, jadi sebenarnya Kau adalah~!!"
Nuwa tak melanjutkan ucapannya, Sang Dewi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang disaksikan oleh matanya. Ternyata Nenek Nero juga berasal dari dunia yang sama seperti dirinya.
"Sekarang kau tahu bukan, kenapa Nenek sangat baik padamu dan berusaha untuk melindungimu. Karena Nenek sudah tahu siapa kau sebenarnya sejak pertama kali melihatmu."
"La..Lalu kenapa Nenek berada di bumi? Sebenarnya apa yang terjadi?!" tanya Nuwa penasaran.
"Ceritanya sangat panjang, dan Nenek pasti akan menceritakannya padamu, tapi tidak sekarang. Ini adalah rahasia kita berdua, hanya kau dan Nenek yang mengetahui tentang rahasia ini. jadi jangan beritahu siapapun, termasuk Rey "
Nuwa mengangguk mengerti. "Aku mengerti, Nek. Nenek tidak perlu cemas aku pasti bisa menjaga rahasia ini dengan baik."
Nenek Nero tersenyum tipis. dengan lembut dia mengusap kepala Nuwa. "Ya sudah, segera pilih pakaian-pakaian yang kau suka. Kau boleh memilih sebanyak apapun yang kau inginkan, Nenek keluar dulu. Dan setelah selesai mandi dan berganti pakaian, cepat turun kebawah, kita sarapan sama-sama." Ucap Nenek Nero dan dibalas anggukan oleh Nuwa.
"Baik, Nek."
.
.
Seorang pria terkapar dengan bersimbah darahh. Darahh segar yang menggenangi tubuhnya mulai mengering, menandakan jika insiden itu terjadi semalam.
Luka terlihat di beberapa bagian tubuhnya, dan paling parah adalah luka di perut sebelah kanannya.
Banyak orang silih berganti melewati pria malang tersebut, namun tak seorang pun dari mereka ada yang berani mendekat apalagi menolongnya saat melihat tulisan yang ditinggalkan oleh si pelaku di lengannya. Tulisan yang diukir dengan sebuah belati kecil.
Jangankan warga sipil. Polisi pun tak ada yang berani bertindak, mereka tak ingin berada dalam bahaya karena berani ikut campur. 'Black Devil' adalah kata yang tertulis di lengan pria itu. Namun sayangnya tak seorang pun tau siapa 'Black Devil' yang sebenarnya. Siapa dia, dan seperti apa rupanya, tak ada yang tau.
Yang jelas. 'Black Devil' adalah sebuah organisasi gelap Mafia yang tak diragukan lagi kekejamannya. Banyak desas-desus yang beredar tentang Bos dari organisasi tersebut.
Ada yang mengatakan jika dia adalah pria setengah baya, ada juga yang mengatakan jika dia adalah pria muda yang usianya kisaran antara 25-30 tahunan. Namun itu masih belum pasti, dan ada juga yang bilang jika Bos dari 'Black Devil' adalah seorang wanita.
Namun belum ada yang bisa membuktikan siapa sebenarnya Bos besar dari organisasi hitam tersebut. Karena dia begitu misterius.
"To..Tolong aku," lirih pria itu sambil mengulurkan tangannya yang berlumur darahh.
Orang-orang hanya melihatnya dengan iba dan kasihan. Tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena mereka juga memikirkan keselamatan diri sendiri dan keluarganya.
Dan yang menjadi korban dari kekejaman organisasi itu tentu bukan asal orang, melainkan mereka yang telah berani mencari masalah dan membuat marah Bos besarnya.
.
.
"Nenek, sampai kapan kita hanya duduk seperti orang bodoh?! Aku sudah lapar, memangnya siapa sih yang sedang kita tunggu?!"
Selena melayangkan protesnya pada Nenek Nero karena menunda sarapan. Sudah hampir sepuluh menit mereka di meja makan. Tetapi wanita tua itu melarang semua orang untuk makan, padahal Selena sudah sangat lapar.
"Sabar sebentar, Selena. Kita masih menunggu satu orang lagi," jawab Nenek Nero dengan lembut.
"Bibi, memangnya siapa yang kita tunggu?" tanya Renata penasaran.
"Dia!!" jawab Nenek Nero sambil menunjuk seseorang yang sedang menuruni tangga. Membuat perhatian semua orang di meja makan seketika teralihkan padanya.
Rey dan Delon sama-sama tertegun dan tak berkedip sedikitpun ketika melihat sosok jelita yang sedang menuruni tangga.
Tubuh rampingnya dalam balutan gaun putih panjang dan setengah lengan.
Rambut panjangnya terurai bebas dengan polesan make up tipis, natural namun tak sedikitpun mengurangi kecantikannya.
Nenek Nero tersenyum lebar menyambut kedatangan Nuwa. "Sayang, kemarilah dan duduk di samping, Rey. Dan karena semua orang sudah ada disini, kita bisa sarapan sekarang." Ucap Nenek Nero tanpa melunturkan senyum tipis di bibirnya.
Rey menoleh dan matanya bersirobok dengan Nuwa. Mereka saling menatap dan menyelami keindahan mata masing-masing, dan tak bisa Rey pungkiri jika Nuwa memang sangatlah cantik.
Dan kecantikan yang dia miliki melebihi kecantikan orang-orang yang pernah ia temui selama ini. bisa dikatakan jika kecantikan Nuwa sangatlah tidak manusiawi.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Triiyyaazz Ajuach
Rey lgsg terpesona
2023-02-05
0
Sumawita
Rey kamu akan terpesona sma viona
2023-02-02
1
Dea
jelaslah kecantikan Nuwa tak akan bisa terbandingkan..
karena Nuwa adalah sang Dewi dari khayangan...
ternyata diam" manusia dingin mengagumi kecantikan Dewi Nuwa😅😅😅
2023-02-02
1