🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kamu yakin, aku cuma bawa badan?" tanya Viana di minggu pagi sebelum ia dan Andra pulang kerumah keluarga Bramasta.
"Emang lo mau bawa apa? kasur?" ledek Andra sambil menalikan sepatu berwarna putihnya yang cocok dengan celana hitam dan Hoodie.
Viana menggelengkan kepala pelan, seumur-umur tak pernah di ajak bertemu calon mertua tapi ini malah langsung akan menginap satu minggu di keluargan suaminya. Jangan tanya sek kacau apa ritme detak jantung gadis itu sekarang. Ia gelisah, bingung bahkan sakit perut mendadak.
Andra yang tahu hal itu, langsung mengulurkan tangannya.
"Gak apa-apa, yuk." Ajaknya kemudian yang langsung diterima oleh Viana. Jika sudah di rumah atau sedang berdua di luar sekolah, keduanya sudah terbiasa saling menggenggam tangan hanya karna Andra ingin memastikan jika istrinya itu akan baik baik saja di dekatnya.
Setelah berpamitan pada Ayah dan Bunda keduanya bergegas masuk kedalam mobil milik Andra, mobil yang setiap pagi dan siang selalu dipakai untuk antar jemput Haura.
Selama perjalanan, pasangan suami istri dibawah tangan itu hanya sesekali mengobrol karna Viana masih menata hatinya yang akan bersiap bertemu Mamih dan Papih suaminya.
"Mereka--," ucap Viana saat mobil sudah berada di garasi.
"Mereka menunggumu, ayo."
Dan, Viana benar-benar tak percaya dengan yang di lihatnya sekarang karna ia pikir Andra hanya merayunya saja saat dirumah yang mengatakan jika ia adalah menantu kesayangan.
Andra turun bersama Viana langsung menghampiri orangtuanya, ia yang tak pulang selama beberapa hari sungguh rindu dengan bangunan mewah tersebut, apalagi kebersamaan dengan para penghuninya.
"Mamih menunggu sekali hari ini, kamu datang juga," ucap Mami setelah ia mengurai pelukan dari tubuh menantu perempuannya.
Viana hanya tersenyum, pelukan Mami sama seperti Bunda yang hangat dan menenangkannya, ia senang dengan penyambutan mertuanya yang nampak tulus. Padhal, Ia dulu berharap menikah dengan pemuda yatim piatu karna takut dengan yang namanya mertua.
Lain halnya dengan Andra yang sudah lebih dulu masuk bersama Papih ke ruang kerja. Kini dua pria beda generasi itu sudah duduk berhadapan dengan meja bulat kayu sebagai pemisah jarak antara anak dan ayah tersebut.
"Terima kasih sudah mau bertahan selama satu Minggu ini dalam pernikahanmu," Ujar Papih yang tak lain adalah Tuan besar Bramasta.
"Papih tak menanyakan perasaanku? bagaimana hatiku yang harus mati-matian menerima gadis lain padahal jelas hatiku sudah termiliki oleh yang lain, hem?" tanya Andra dengan suara pelan
"Pemilik yang lama akan segera menyerah, tunggu saja," balas Papih dengan sangat yakin.
Andra hanya tertawa kecil, pria paruh baya itu begitu egois tak memikirkan hari hari yang sudah ia lewati selama satu minggu kemarin di rumah istrinya.
Atas nama bakti kepada orang tua ia harus mengesampingkan cintanya yang sudah tumbuh subur selama dua tahun ini.
"Kapan kamu memutuskan hubungan dengan Haura? mau mengulur waktu sampai kapan? Sudah jelas hubungan kalian tak akan ada titik temu," ujar Papih lagi.
Andra menarik napas dan membuangnya perlahan, ia sangat benci dengan pertanyaan ini seakan sedang mematahkan apa yang sudah ia perjuangkan bersama Haura. Orang lain tak pernah tahu bagaimana usaha ia dan gadis itu untuk bisa menjaga cinta mereka diatas...
.
.
Iman dan Aamiin yang sama...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
Mamah Kekey
beda keyakinan akan sulit bersama selamanya... mending pilih satu iman...
2024-06-16
0
Nacita
owwwwwehhhhh beda keyakinan tohhh...
2024-04-07
0
sagitariusGirl
kasihan haura😭
2024-02-03
0