Kediaman keluarga Harry Darmawan

"Kamu sudah datang Nak. Bilang mau makan apa? biar Ibu sampaikan sama Bibi nanti di masakin makanan kesukaanmu," ucap Ibu Rina Darmawan menyambut Nael Kesuma Darmawan putra kesayangannya yang baru saja datang pulang setelah lulus sekolah di luar negeri.

Ciuman dan pelukan hangat Ibu dan Anak walau mereka belum terlalu lama berpisah. Selalu menyempatkan diri pulang atau Ibunya dan keluarga yang mengunjunginya sekedar melepas kangen dan sekalian liburan keluarga Harry Darmawan.

"Nanti saja Bu, Nael masih capek mau makan apa ya? apa aja deh Bu kalau makanan rumahan semua Nael suka."

"Iya Sayang, Ibu pengen makan malam Kita istimewa karena keluarga kita komplit berkumpul kembali dan itu layak di syukuri juga atas keberhasilan Kamu Nak menjadi kebanggaan Ibu sama Bapak."

"Kak Nael sudah punya cewek belum? jangan jangan Dia sudah ada janji sama cewek bule di sana? kenapa tidak di bawa ke sini?" ucap Netty Adiknya Nael satu-satunya.

"Kamu sendiri punya nggak cowok? jangan jangan nggak laku dan jomblowati sampai sekarang! Nikah sana duluan biar Ibu sama Bapak nggak mendesak Aku lagi!" canda Nael sama Netty Adiknya.

"Ih, apaan kuliah saja belum selesai. Kakak tuh yang nikah duluan paling gede ya harus nikah duluan ya kan Bu?"

Netty dengan manja memeluk Ibunya yang duduk di sampingnya.

"Sudah-sudah, Ibu bukan mendesak siapapun Anak Ibu tapi mengingatkan! Ibu sama Bapak sudah tua apa salahnya ada yang meneruskan usaha keluarga ini minimal membantu

meringankan pekerjaan Bapakmu yang semakin hari semakin bertambah kesibukannya bukannya berkurang."

"Gimana usaha Kita itu Bu semakin berkembang saja? kalau dulu ada wacana ingin mengembangkan dr dan ekspansi ke luar negeri segala bagaimana perkembangannya itu Bu apa sudah mau terealisasi? kok kedengarannya tidak menjadi bahasan lagi Bapak sama Ibu?" tanya Nael memandang Ibunya yang masih kelihatan cantik dan bersih di usianya yang sekarang ini.

"Usaha Alhamdulillah semakin pesat saja Nak tapi kasihan Bapakmu setelah di tinggal Andari kepercayaan Bapakmu menjadi kelabakan sendiri mencari pengganti Andari tak semudah membalikkan tangan ya otomatis rencana pengembangan usaha di luar negeri juga belum terlaksana lah ngurus di sini saja keteteran."

"Memang kenapa Mbak Andari Bu? Apa resign kerja kenapa bukankah sudah seperti keluarga kita?"

"Oh ya, Kamu belum dengar ya Dia kena kasus pembunuhan suaminya. Katanya suaminya selingkuh dengan saudaranya sendiri Andari di penjara sekarang!" Ibu Rina sedikit menceritakan tentang Andari yang dulu sudah dianggapnya keluarga sendiri.

"Hah? Mbak Andari terlibat pembunuhan Astaghfirullah?"

"Bukan terlibat Kak tapi pelakunya bukan tersangka lagi sono tanya sendiri ke penjara!" ucap Netty menegaskan.

"Hus! nggak usah melibatkan diri jangan menengok Nak itu urusan pribadinya sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga Kita!"

"Ibu apa semua itu benar?"

"Masa Ibu bohong Nak? semua menjadi berita kriminal yang menggemparkan di media cetak dan elektronik juga perusahaan Kita sempat di interogasi juga, tapi perusahaan kita tidak terganggu Alhamdulillah."

"Apa Ibu bapak sudah menengok Mbak Andari?"

"Ah, buat apa menengok? hanya mencemarkan nama baik kita sja!"

"Sudah berapa lama kejadian itu Bu?"

"Ada kali setahun yang lalu, pasti hukumannya lama itu karena menghilangkan nyawa orang lain Ibu dengar 8 apa 10 tahun vonisnya."

"Astagfirullah bagaimana Anaknya Bu?"

"Kamu ini kenapa? itu urusan keluarganya. Sudahlah jangan membahas itu terus Ibu begitu takut dan tak mau membahasnya urusan kita dengan Andari sudah selesai hanya urusan pekerjaan mungkin Bapakmu telah memberikan kompensasi tidak ada resign tidak ada pengunduran diri dan tidak ada pemecatan semua berakhir begitu saja."

"Ibu, setidaknya ada ikatan kekeluargaan diantara kita dengan Mbak Andari begitu dekat sudah berapa tahun atau bulan dia dipenjara apakah Bapak tidak pernah menengoknya sebagai rasa simpati sebagai rasa terima kasih dan pengakuan terhadap pengabdiannya terhadap perusahaan kita?"

"Nael! Andari itu narapidana kini. Semua orang telah mencapnya seperti itu dan predikat itu tidak akan pernah bisa lepas dari dirinya jadi kita juga jangan terlalu dekat dan hubungan ikatan pekerjaan kini sudah usai!"

"Ya Allah Ibu, siapa yang memberi dukungan pada Mbak Andari selama persidangan sampai sekarang sudah berada di penjara tak pernah sekalipun Ibu Bapak atau siapa saja dari perusahaan kita yang menengoknya sebagai rasa simpati?"

"Menengok ke penjara bagi Ibu adalah aib Anakku, dan Bapakmu mungkin sudah memutuskan hubungan kerja sejak Andari kena kasus itu."

"Aib apa Bu? sepertinya Mbak Andari hanya seorang korban keadaan keterpaksaan karena melihat kenyataan di depan matanya, Aku melihat pengorbanannya di perusahaan kita dari awal perusahaan itu berdiri dengan gigih Mbak Andari dan Bapak menjadi tulang punggung perusahaan itu sampai berhasil mencapai puncak keemasan dan ibu berniat untuk ekspansi memperlebar jaringan perusahaan itu sampai ke luar negeri tapi kenapa tidak ada sedikitpun perhatian dari Bapak juga Ibu dari perusahaan yang Andari adalah bagian dari perusahaan Kita dan ikut andil membesarkannya!"

"Nael! sudah! jangan pikirkan semua itu, silahkan istirahat dan jangan bahas soal itu lagi di depan ibu, Andari sudah Ibu anggap bagian dari masa lalu perusahaan karena Ibu sama Bapak telah memberikan kompensasi yang cukup besar mungkin untuk bekal Anaknya sekolah nanti."

Nael diam, hatinya berontak atas ketidakadilan yang dilakukan kedua orang tuanya sejak kejadian itu telah berbulan-bulan Andari mengikuti proses persidangan sampai sekarang telah divonis dan di penjara kini Andari telah menjadi warga binaan LP wanita entah di mana itu. Kedua orang tuanya belum pernah menengoknya sekalipun.

Mungkin pada Anaknya juga, hanya kompensasi yang katanya telah di berikan entahlah seberapa besar.

Masih terbayang dalam benak dan ingatan Nael sosok tinggi semampai cantik putih mulus Mbak Andari yang usianya mungkin sama seperti dirinya tapi mereka bertemu saat Andari sudah berkeluarga.

Semua tak membatasi kekaguman Nael tiga tahun lalu sebelum dirinya memperdalam ilmu Advertising di luar negeri.

Nael berjalan ke arah kamarnya dan melempar tubuhnya ke tempat tidur yang terbayang dalam ingatannya tubuh tubuh tinggi semampai cantik putih kini sedang meringkuk di dalam sel penjara.

Hati Nael berontak dan ingin bertemu dengan sosok yang dikaguminya dulu hanya ingin memastikan baik-baik saja keadaannya.

Entah salah atau benar semua keinginannya karena melihat penolakan Ibunya begitu kuat tapi Nael berpikiran lain, baginya Andari adalah sosok luar biasa yang telah memberikan kontribusi lebih bagi perusahaannya dari mulai berjalan setahap demi setahap sampai berkibar mencapai masa keemasan, Dirinya tidak tahu Andari terkena masalah dan orang tuanya juga tak pernah sedikitpun membicarakannya walaupun selama dirinya menuntut ilmu di luar negeri pernah beberapa kali pulang tetapi tidak sempat pergi ke kantor Bapaknya dan bertemu Andari mungkin di situ kesalahannya sehingga Nael begitu tidak terima akan sikap kedua orang tuanya yang tidak memberikan perhatian atau saudara rasa simpati karena bagi orang tuanya cukup hanya memberikan kompensasi tetapi bagian akhir itu sungguh kurang.

*******

Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

Terpopuler

Comments

Dwisya12Aurizra

Dwisya12Aurizra

orang tuanya nael tuh seperti tidak tahu terimakasih, masa nengok ke lp jd aib, setidaknya menunjukkan sikap empati gitu memberi support, Andari melakukannya karena hilang kontrol, lagian siapa juga gak bakalan Terima melihat secara langsung perselingkuhan dgn orang terdekat.

2023-02-08

2

lihat semua
Episodes
1 Sidang yang tertunda
2 Menangislah jika itu membuatmu tenang!
3 Andari KO
4 Sadar dari pingsan
5 Malam pertama
6 Kembali ke sel
7 Si Ikal jadi teman pertama
8 Makan siang Andari
9 Masih di Bully
10 Andari bagai kenangan lama
11 Hai Cantik!
12 Tertawa lagi
13 Kediaman keluarga Harry Darmawan
14 Berjuta andai
15 Bayangan Andari di mata Nael
16 Agenda harian yang tertinggal
17 Hati dr Barry yang terusik
18 Jangan ucapkan terimakasih
19 Jadi leader
20 Assalamualaikum Bu Andari!
21 Sarapan bersama
22 Kejujuran dr Barry
23 Mau berkunjung
24 Andari!
25 Kunjungan pertama
26 Wangi parfum
27 Teman Netty
28 Pengakuan perasaan
29 Harapan Ibu Rina Darmawan
30 Semangat makan malam
31 Makan malam santai
32 Sikap Nael biasa saja
33 Obrolan dan pertemuan berharga
34 Angan Andari
35 Tidak ada komitmen
36 Menyiratkan suatu
37 Mencoba jujur
38 Relasi yang sudah kenal
39 Netty love
40 Kecewa Ricko
41 Akhirnya ungkapan rasa
42 Jadian walau bukan ABG
43 Kunjungan Yasmin
44 Sikap biasa saja Nael
45 Amanda
46 Pertemuan manis
47 Perhatian dr Barry
48 Titip salam lewat bingkisan
49 Sandaran jiwa
50 Perhatian lain
51 Jujur yang mengusik
52 Mencari jejak seseorang
53 Kakak sama Adik
54 Penolakan Netty
55 Kemuraman Ibu
56 Debat pertama
57 Keinginan Ortu
58 Debat apa diskusi
59 Berpikirlah lagi Nak
60 Keakraban Adik dan Kakak
61 Kangen
62 Ingin memenangkan hatinya.
63 Andari tahu sikap orangtuanya Nael
64 Masih ada asa
65 Kompetitor
66 Bersaing
67 Kesal Monik
68 Assalamu'alaikum dokter!
69 Kunjungan Ibu Rina Darmawan
70 Tafakur Andari
71 Perenungan
72 Hati Andari tak berpaling
73 Pergi dari rumah
74 Kecewa Monik
75 Bimbang Andari
76 Perdebatan
77 Bayangan menghirup dunia luar
78 Kesadaran sahabat
79 Panggilan Bu Yohana
80 Arti kebebasan
81 Nazar bersujud
82 Tak sabar
83 Papa?
84 Mau di lamar
85 Bertemu Atasan masa kerja
86 Tak bertemu Ibu
87 Masih merasa bersalah
88 Selangkah lagi
89 Akhirnya penantian itu datang
90 Aku kini milikmu Mas
91 Darah buat Ibu
92 Senyum bahagia
93 Kebahagiaan
94 Bulan madu
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Sidang yang tertunda
2
Menangislah jika itu membuatmu tenang!
3
Andari KO
4
Sadar dari pingsan
5
Malam pertama
6
Kembali ke sel
7
Si Ikal jadi teman pertama
8
Makan siang Andari
9
Masih di Bully
10
Andari bagai kenangan lama
11
Hai Cantik!
12
Tertawa lagi
13
Kediaman keluarga Harry Darmawan
14
Berjuta andai
15
Bayangan Andari di mata Nael
16
Agenda harian yang tertinggal
17
Hati dr Barry yang terusik
18
Jangan ucapkan terimakasih
19
Jadi leader
20
Assalamualaikum Bu Andari!
21
Sarapan bersama
22
Kejujuran dr Barry
23
Mau berkunjung
24
Andari!
25
Kunjungan pertama
26
Wangi parfum
27
Teman Netty
28
Pengakuan perasaan
29
Harapan Ibu Rina Darmawan
30
Semangat makan malam
31
Makan malam santai
32
Sikap Nael biasa saja
33
Obrolan dan pertemuan berharga
34
Angan Andari
35
Tidak ada komitmen
36
Menyiratkan suatu
37
Mencoba jujur
38
Relasi yang sudah kenal
39
Netty love
40
Kecewa Ricko
41
Akhirnya ungkapan rasa
42
Jadian walau bukan ABG
43
Kunjungan Yasmin
44
Sikap biasa saja Nael
45
Amanda
46
Pertemuan manis
47
Perhatian dr Barry
48
Titip salam lewat bingkisan
49
Sandaran jiwa
50
Perhatian lain
51
Jujur yang mengusik
52
Mencari jejak seseorang
53
Kakak sama Adik
54
Penolakan Netty
55
Kemuraman Ibu
56
Debat pertama
57
Keinginan Ortu
58
Debat apa diskusi
59
Berpikirlah lagi Nak
60
Keakraban Adik dan Kakak
61
Kangen
62
Ingin memenangkan hatinya.
63
Andari tahu sikap orangtuanya Nael
64
Masih ada asa
65
Kompetitor
66
Bersaing
67
Kesal Monik
68
Assalamu'alaikum dokter!
69
Kunjungan Ibu Rina Darmawan
70
Tafakur Andari
71
Perenungan
72
Hati Andari tak berpaling
73
Pergi dari rumah
74
Kecewa Monik
75
Bimbang Andari
76
Perdebatan
77
Bayangan menghirup dunia luar
78
Kesadaran sahabat
79
Panggilan Bu Yohana
80
Arti kebebasan
81
Nazar bersujud
82
Tak sabar
83
Papa?
84
Mau di lamar
85
Bertemu Atasan masa kerja
86
Tak bertemu Ibu
87
Masih merasa bersalah
88
Selangkah lagi
89
Akhirnya penantian itu datang
90
Aku kini milikmu Mas
91
Darah buat Ibu
92
Senyum bahagia
93
Kebahagiaan
94
Bulan madu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!