20. Efek Pisang

"Wadidaw, 5 menit lagi vicall." Ami heboh sendiri. Bergegas menutup jendela karena memang sedang menatap langit yang pekat tanpa hiasan bintang. Sedang malas scroll medsos ataupun balas chatingan di grup. Tak menyangka aksi isengnya memancing Panda, berbuah video call.

"Ah, masa baju Doraemon. Ganti...ganti!" Ami bermonolog di depan cermin menatap penampilannya. Waktu yang mepet harus segera mengganti kaos Doraemon dengan kaos yang lain dari lemari. Acak-acak hingga tumpukan baju yang terlipat sebagian berjatuhan ke lantai.

Gerak cepat mengingat waktu video call dua menit lagi. Segera mengatur panjang kaki tripod di depan sofa lalu ponselnya pun dipasang. Bersamaan dengan itu, nama Panda tampil di layar. Ami tidak lantas menggeser ikon video, ia berlari ke depan cermin. Menyapukan bedak tipis-tipis dan memoles bibir dengan lip serum. Terakhir, merapihkan pasminanya. Barulah percaya diri.

"Ami, lagi dimana ini?" Sapa Akbar usai menjawab salam dari Ami.

"Di kamar, Kak. Di bawah lagi ada Kak Panji apel ke Teh Aul." Ami pun meneliti latar belakang Akbar yang sama duduk di sofa dan terlihat hiasan dinding lukisan abstrak.

"Sama dong. Kak Akbar juga lagi di kamar hotel. Tadinya sih di Coffee Shop. Tapi dapat chat dari Ami jadi pengen mojok deh sama si imut." Akbar tersenyum simpul.

Ami tersenyum sambil melipat bibir. Menahan rasa hidung yang merekah kembang kempis.

"Kalau Ami emangnya nggak ada yang apelin?" Tanya Akbar sengaja memancing ke arah pribadi.

"Nggak lah. SMA dilarang pacaran! Itu udah jadi rule wajib di keluarga aku. Fokus menuntut ilmu. Nanti juga ada masanya pacaran jika mental udah siap untuk menikah. Begitu aturan tidak tertulis yang katanya diamanahkan almarhum Ayah." Ucap Ami dengan wajah serius.

Akbar manggut-manggut. "Edukasi yang sangat bagus. Kak Akbar setuju dengan rule itu. Karena di luar sana banyak pelajar yang berpacaran, bahkan sejak SMP mula. Dan kebablasan pacaran bebas."

"Benar itu, Kak. Kemarin pas ujian hari kedua ada yang melahirkan di toilet sekolah. Tapi bukan di sekolah aku ya. Teman-temannya ngira selama ini orang itu gemuk biasa. Ternyata berisi bayi hasil pacaran bebas." Ami menggidikkan bahunya. Kabar itu sempat viral sampai masuk ke berita nasional.

"Nah kan jadinya sekolah berantakan, aib tersebar, dan yang lebih menekan mental itu efek domino. Keluarga jadi malu, bahan gibah tetangga, ditambah lagi sanksi hukum dan sosial."

"That's right." Ami manggut-manggut setuju dengan opini Akbar.

"Tapi kalau Ami ada yang nungguin sampe lulus SMA, boleh tidak?" Tanya Akbar diiringi senyum simpul.

"Maksudnya gimana, Kak?" Ami mengerutkan kening. Merasa ambigu.

Namun sejenak harus terjeda karena terdengar suara ketukan di pintu kamar. Ami sempat terkaget. Dan spontan menuju pintu mendengar Bi Ela memanggil-manggil.

"Ada apa, Bi?" Ami hanya membuka pintu sedikit, hanya untuk melongokkan kepala.

"Ada tamu, Neng. Katanya teman sekolah Neng Ami. Namanya Almond." Sahut Bi Ela.

"Oh, ya ya. Suruh tunggu, Bi. Bentar lagi aku turun." Meski terheran-heran karena datang tanpa konfirmasi, Ami memutuskan akan menemui Almond.

Ami kembali duduk menghadapi layar dimana Akbar masih setia berada di sebrang sana. "Kak, maaf ya harus udahan dulu. Ada teman datang," ujarnya dengan sorot menyesal karena terpaksa harus mengakhiri.

"Oke deh. Temannya cewek apa cowok?" Tanya Akbar. Meski kecewa karena pertanyaan pancingannya belum terjawab.

"Cowok. Teman beda kelas. Cuma teman kok, nggak lebih." Entah kenapa Ami merasa ingin menjelaskan agar Akbar tidak salah paham.

"Baiklah. Padahal masih betah, tapi apa boleh buat." Akbar menghela nafas panjang.

Ami terkekeh. "Besok siang Kak Akbar kesini lagi kan? Nanti kita lanjut ngobrolnya di darat. Tapi bawa pisang ya ke sininya. Bisa, Kak?"

"Apa sih yang nggak bisa buat Ami. Pengen pisang apa?" Tantang Akbar.

"Pisang...pilih aku yang kau sayang. Hihihi. Bye....Panda." Ami lebih dulu mematikan sambungan video. Sengaja tidak ingin melihat reaksi wajah Akbar yang sudah digodanya itu.

Bergegas keluar kamar untuk menemui Almond. Namun baru dua langkah menuruni tangga, mendadak menghentikan langkah. Terkejut tiba-tiba. "Kenapa aku tadi manggil Panda ya. Keceplosan deh," ucap batinnya. Wajahnya pun meringis, malu sendiri.

Melewati ruang tamu, masih ada Aul dan Panji yang duduk satu sofa dan sedang asyik berbincang. Tidak jelas apa yang lagi diucapkan kakaknya itu. Yang jelas, Panji menyimak sambil menatap penuh atensi. Ami berjalan santai menuju pintu utama yang terbuka lebar. Benar saja, ada Almond duduk di kursi teras ditemani Ibu Sekar.

"Ami, ajak Almond ngobrol di dalam!" Ucap Ibu Sekar yang baru bertemu pertama kalinya dengan temannya Ami itu.

"Nggak apa-apa, Tante. Biar disini aja ngobrolnya." Tolak Almond dengan sopan.

Ibu Sekar tersenyum bijak. "Baiklah, Ibu tinggal dulu ya. Almond jangan panggil Tante. Panggil Ibu aja. Semua teman-teman Ami yang main kesini juga sama manggilnya Ibu." Ia selalu merangkul siapapun teman dari anak-anaknya dengan kelembutan seorang ibu.

"Hehe iya, Bu." Almond mengangguk dan tersenyum.

Ami mengambil alih kursi bekas ibunya duduk. "Sengaja kesini atau sekalian lewat, Mon?" tanyanya sambil menatap wajah Almond.

"Sengaja makan di Dapoer Ibu sama Beben dan Reza. Mereka nunggu di mobil." Almond menunjuk dengan dagu ke arah sisi jalan. "Lagi apa, Mi? Aku ngeganggu nggak?" sambungnya dengan menatap Ami.

"Sedikit ganggu sih. Barusan lagi vicall sama sodara." Sahut Ami dengan santai. Sekilas memperhatikan deretan motor yang terparkir di samping rumah. Merupakan pengunjung Dapoer Ibu.

"Mi, jujur amat sih. Biasanya orang suka jawab yang nyenengin tamu. Oh gak ganggu kok, tidak merepotkan kok. Gitu, kan?" Ralat Almond dengan bibir mencebik.

"Eh, aku mah beda. Jujurly orangnya. Ngapain jaim. Tapi aku bisa duduk disini, berarti nerima kedatanganmu dengan senang hati, Emon." Ami menyanjung Almond yang kini berubah tersenyum lebar.

"Iya deh. Gak pernah menang gue kalau ngomong sama kamu. Betewe, ke Jakarta jadinya tanggal berapa, Mi?" Almond mengalihkan pembahasan.

"Belum pasti tinggalnya. Kenapa emang?" Ami menaikkan satu alisnya.

"Nanti kan Mami bakal datang buat ngambil raport. Kalau Ami mau, kita bareng aja ke Jakarta nya. Aku sih jujur berharap kamu mau. Pasti sepanjang jalan gak bakalan boring karena kamu hobi bikin orang ketawa." Jelas Almond diiringi tersenyum simpul.

"Hais, kau kira aku ini komedian Rina Nose, Mon." Ami memutar bola matanya. "Aku belum bisa jawab ya. Bisa jadi ke Jakarta nya sebelum dibagi raport. Toh yang ambil raport kan sama orang tua."

"Oke deh. Tapi nanti kabarin ya keputusannya!" Almond menatap dengan sorot memohon. Yang dijawab Ami dengan anggukkan. Ia pun melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.

"Kamu nyetir sendiri, Mon?" Tanya Ami yang mengantar sampai pintu gerbang yang setengahnya terbuka. Almond baru saja berpamitan juga kepada Ibu Sekar.

"Ya. Mau malam mingguan keliling kota. Nikmatin kemerdekaan otak after ujian. Mau ikut, Mi?" Tanya Almond meski pesimis. Karena kemungkinan ajakannya diterima sangat tipis.

"Ogah ah. Mendingan rebahan sambil makan kuaci. Kamu hati-hati ya, Mon. Jangan ngebut! Mana belum punya SIM, kan?" Tanya Ami dengan tatapan memicing.

"Siap, Mi. 18 hari lagi sweet seventeen di Jakarta. Kamu pasti aku undang. Ortu janji bakal ngasih hadiah mobil plus SIM. So, kelas XI bisa bawa mobil sendiri ke sekolah." Ucap Almond penuh bangga.

"Bersyukur Mon, lahir dari keluarga yang berkecukupan. Kamu harus low profile ya, jangan sombong. Sorry Mon, just reminder. Bukan mau nasehatin. Karena kita kan friend." Ami mengangkat dua jarinya.

Almond tersenyum sambil mengangkat jempolnya. "Aku suka temenan sama kamu, Mi. See you monday di sekolah. Jam istirahat aku traktir kamu jajan. Tidak ada penolakan! Kita kan friend." Ucapnya tegas. Ia lambaikan tangan saat melihat Ami membuka mulut hendak menjawab.

***

Jam menjadi lambat bergerak menuju waktu dzuhur bagi Akbar yang sedang menunggunya. Ia tidak sabar ingin segera meninggalkan hotel menuju rumah Ibu Sekar. Pagi tadi sudah mencoba menjajal lari pagi di kawasan kota Tasik ditemani Tommy dan dikawal dua orang staf. Kini hanya tinggal menunggu waktu pulang.

Akbar berkacak pinggang di depan cermin. Terkekeh sendiri diiringi geleng-geleng kepala. Bodoh? Mungkin. Gila? Bisa jadi. Demi untuk ketemu seorang Ami, ia sampai beralasan pergi ke Tasik. Rela membatalkan acara lanjutan slalom di sirkuit Sentul yang saat ini sedang berlangsung. Teman-temannya sampai menghubungi dan menyayangkan akan ketidak hadirannya.

Semalam sudah dibuat gemas oleh Ami yang mematikan sambungan video secara sepihak. Lagi-lagi terkecoh oleh wajah serius Ami yang meminta pisang.

Pisang...pilih aku yang kau sayang.

Akbar senyum-senyum menatap pantulan wajahnya di cermin. Gombalan Ami diiringi cekikikan tadi malam itu, berujung dirinya menjadi tidak waras. Cengar cengir sambil telentang di kasur dan menatap plafon. Padahal plafon kamar hanyalah sapuan cat warna putih tanpa ada gambar lucu.

Akbar menyadari, baru merasa lagi jatuh cinta setelah sepuluh tahun yang lalu pernah merasakannya. Sayangnya, pacaran selama empat tahun dari semasa kuliah di kampus yang sama itu harus kandas. Tidak ada angin tidak ada hujan, sang pacar tiba-tiba mengajak putus. Hancur sudah semua mimpi membangun usaha bersama yang sudah siap diwujudkan. Pacarnya itu berkilah tidak siap melangkah dari nol. Sebulan setelah putus, mantan pacarnya itu menikah dengan pengusaha tambang dengan gelaran pesta tujuh hari tujuh malam. Itulah mengapa ia menjadi selektif memilih pasangan.

"Ada apa, Tom?" Telepon dari Tommy membuyarkan angan yang sedang berlarian mengingat semua gombalan Ami dan kenangan masa lalu.

"Nanti mau makan siang menu apa, Pak? Chef akan memasak spesial untuk Pak Akbar," ucap Tommy yang hari liburnya berada di hotel yang sama, demi melayani sang boss.

"Gak usah, Tom. Saya ada undangan makan siang di luar. Nanti sekalian pulang." Akbar menyimpan ponselnya di sofa usai Tommy menjawab.

Akhirnya waktu itu tiba. Dalam hati memohon ampun kepada Allah jika ada yang salah dengan niat. Karena bersemangat menunggu adzan agar bisa segera sholat, demi untuk secepatnya bertemu Ami.

Di persimpangan jalan, pandangan Akbar tak sengaja menangkap sosok seorang pedagang tua yang berjualan pisang di trotoar. Ia meminta sopir menepikan mobil.

"Tunggu sebentar, Pak Sob. Nanti mundurin mobilnya. Saya mau beli pisang dulu." Akbar bergegas turun tanpa menunggu jawaban sopirnya. Ia berjalan cepat di trotoar menuju pedagang pisang tadi. Hingga kemudian berjongkok di depan dagangan pisang.

"Ini pisang apa, Mang?" Akbar menilik pisang satu sisir pisang yang ukurannya besar-besar yang sudah matang siap makan.

"Ini pisang raja, Aden. Rasanya dijamin raos, manis legit karena matang pohon bukan karbitan."

Akbar manggut-manggut. "Harga berapa, Mang?"

"Ini teh tiga puluh ribu satu sisirnya. Harga segitu teh sesuai sama rasanya, Aden. Nanamnya pakai pupuk organik. Rasanya teu aya kesed-kesed." Ucap Mamang penjual pisang yang kebanyakan orang tidak jadi beli karena kemahalan.

"Boleh nawar ya, Mang. Lima puluh ribuan satu sisirnya. Saya beli semuanya, Mang!"

"HAH?!" Penjual pisang yang sudah sepuh itu melongo mendengar penawaran Akbar. Kening yang sudah berhias kerutan semakin berlipat karena keheranan dan kekagetan.

"Dikasih nggak, Mang? Atau nawarnya kurang tinggi? Emang pengennya berapa?" Tanya Akbar sambil menahan senyum karena sang penjual masih mangap seperti terhipnotis.

"Eh anu eta, bukan begitu. Emang kaget kan biasanya nawar mah lebih murah bukan lebih tinggi?" Mamang penjual pisang masih planga plongo, bingung dan tidak mengerti.

Akbar tersenyum. "Nawar rendah itu sih sudah biasa. Saya pengen nawar yang tidak biasa. Sok Mang, total jadi berapa? Bantu masukin ke mobil ya, Mang!"

Mamang dengan sigap sekaligus menghitung jumlah pisang yang ternyata ada 20 sisir. Tangan keriput dan legam karena terpaan sinar matahari itu gemetar saat menerima sepuluh lembaran merah. Matanya pun berkaca-kaca penuh keharuan. Sampai membuka kopiah lusuhnya dan menyimpan lembaran itu di atas kepalanya. Disuhun dina embun-embunan.*

"Alhamdulillah ya Alloh. Baru kali ini jualan pisang sampai habis dalam setengah hari. Biasanya paling cepat habis dua hari. Ditambah ini rejeki yang tidak disangka." Mamang sepuh itu berucap penuh syukur dengan suara serak karena keharuan. Tidak mengira mendapat rejeki berlimpah.

"Aden, Emang doakan mugia rejekinya semakin berkah. Diganti sama gusti Alloh berlipat ganda. Mugia segala urusan dimudahkan. Segala hajat Aden segera dikabulkan. Aamiin Ya Alloh." Pungkas Mamang penjual pisang dengan kedua tangan menengadah, berdoa penuh ketulusan.

Akbar mengaminkan dan tersenyum. Segera menenteng kantong kresek berisi pisang yang mampu dibawanya. Sisanya dibawakan oleh sang penjual yang mengekori langkahnya menuju mobil yang sudah dimundurkan oleh sopir.

Mobil kembali melaju dalam lalu lintas ramai lancar menuju perbatasan Ciamis. Sehingga tak lama kemudian, mobil dengan kenyamanan kelas eksekutif itu pun tiba di bahu jalan depan rumah Ibu Sekar.

...****...

*Peribahasa sunda. Disuhun dina embun-embunan \= diterima dengan senang hati.

Terpopuler

Comments

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

rezeki gak di duga ya mang

2024-11-14

0

✨️ɛ.

✨️ɛ.

anggap aja lagi di bursa lelang, mang.. 😌

2024-10-08

0

Werdi Kaboel

Werdi Kaboel

jatuh cinta berjuta rasanya , pengen buru2 ketemu si imut.

2024-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!