17. Selamat Berjuang

"Ruangan ini sepertinya harus 'dibersihin'. Harus dirukiyah sama orangnya juga. Apa perlu gue panggil ustad nanti abis jum'atan?" Leo menarik kursi. Duduk di hadapan Akbar dengan tatapan serius.

"Emangnya ada apa dengan gue dan ruangan ini? Gak pernah ada penampakan makhluk halus." Akbar acuh tak acuh. Memilih menyeruput kopinya.

"Tiap masuk gue lihat lo lagi cengar cengir. Jamnya hampir sama. Kalau gak siang ya sore. Nggak itu aja. Lagi baca berkas tiba-tiba senyum-senyum gak jelas. Isi berkas tuh gak ada yang lucu. Yang ada bikin otak terkuras mikir. Kalau gak kemasukan makhluk halus, berarti lo rada sin ting." Ledek Leo tanpa sungkan.

Akbar tertawa sumbang. Tidak menanggapi ledekan Leo. Kopi dihadapannya lebih menarik untuk diseruput lagi.

"Siapa dia?" Leo mendekatkan wajah, menaik turunkan alisnya.

"Maksud lo?" Akbar menunda gelas yang sudah diangkatnya lagi. Keningnya mengernyit. Pertanyaan Leo serasa ambigu.

"Cewek yang bikin lo falling in love." Leo menatap tajam dengan tatapan menyelidik.

Akbar mengangkat bahu dengan bibir mencebik. "Belum ada."

Leo mendecih. "Kalau ngomongnya sama anak SD bakal percaya. Gue nih, mantan pecinta wanita. Lo kagak bisa bohongin gue." Akunya dengan percaya diri.

Akbar merapatkan punggung ke sandaran kursi dengan kedua tangan terlipat di dada. "Nanti lah masih make sure hati. Belum mau menyimpulkan sekarang. Jalanin aja dulu."

"Hm, biar gue tebak. Gue udah punya feeling nih." Leo mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan telunjuk kanan. Memicingkan mata.

Akbar melemparkan bulatan kertas mengenai kening Leo. "Kata Pak ustad sebagian prasangka itu dosa." Ia pun beranjak bangun dari kursinya.

"Selalu. Kalau terdesak keluar dalil. Bisa aja lo Bambang." Leo mengekori langkah Akbar yang akan meninggalkan ruangan. Waktunya pergi ke masjid untuk jum'atan.

Selepas sholat jum'at, Akbar dan Leo langsung bertolak menuju rumah Rama. Memenuhi undangan aqiqah Baby Rayyan, anak keduanya Rama.

Ternyata di rumah Rama sudah berkumpul keluarga Om Krisna dengan lengkap. Ramai sekali. Kedatangan Akbar dan Leo disambut dengan suka cita. Saling bertanya kabar dan berbincang santai penuh kehangatan dan kekeluargaan. Bercakap-cakap dengan Rama dan Damar serta Papi Krisna.

"Mama Mila mana, Akbar?" Tanya Mami Ratna sambil menyuapi cucu perempuan yang baru berusia 10 bulan. Anak dari pasangan Cia dan Damar.

"Mama udah terbang ke Singapore, Tante." Akbar menjawil pipi chubby Baby Dafiya yang tidak bisa diam di dalam baby chair. Gemas.

"Lah kapan? Terakhir kita ke salon bareng dua minggu yang lalu." Mami Ratna kaget mendengar jawaban Akbar.

"Udah semingguan lebih. Memang dadakan, Tante. Sekarang kan lagi viral penculikan bapak-bapak. Jadi Mama takut Papa ada yang nyulik." Akbar terkekeh.

"Bisa aja kamu ya." Mami Ratna pun tertawa.

Akbar melihat Ibu Sekar yang baru menuruni tangga sambil menggendong bayi. Diikuti Puput di belakangnya. Ia menghampiri saat mertuanya Rama itu duduk.

"Eh ada Om Akbar. Kapan datang?" Ibu Sekar tersenyum semringah.

"Baru saja, Bu. Sama Leo." Ucap Akbar usai mencium tangan Ibu Sekar. Kemudian menyalami Puput yang tersenyum ramah.

"Aul sama Ami kesini nggak, Teh?" Tanyanya basa basi. Meski usia Puput di bawahnya, ia menghargai memanggil dengan Teteh karena Rama adalah familinya.

"Nggak, Mas. Soalnya Ami lagi ujian. Baru hari ini beresnya." Sahut Puput.

Akbar tersenyum samar. Teringat ucapan Ami yang harus merahasiakan kalau kurir yang selalu mengirim makanan tiap sore adalah orderan darinya. Takut diintrogasi Aul, katanya.

"Mana si jagoan nggak keliatan, Teh?" Akbar menanyakan Rasya yang sudah dilatih silat oleh Puput. Ia melihatnya di sosmed Puput.

"Rasya sama encus. Masih di atas lagi vc an sama Ate Ami. Dia tuh kalau udah ngobrol sama Ami suka anteng."

Akbar tersenyum tipis. Rasanya pengen ikutan bergabung video call namun situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Tamu-tamu undangan terlihat mulai berdatangan. Disambut Rama dan Om Krisna.

***

"Ibu pulang ke Ciamis kapan?" Akbar sengaja melipir ke dapur membuntuti Bu Sekar. Acara aqiqah sudah selesai. Para tamu undangan sudah pulang menenteng goodie bag bingkisan. Acara makan hanya untuk keluarga besar saja.

"InsyaAllah besok pagi sama Enin." Bu Sekar menyalakan kompor gas untuk memanaskan lagi sop.

"Diantar siapa, Bu?" Akbar mengekori langkah Bu Sekar yang meninjau isi meja makan hasil penataan ART.

"Diantar sopirnya Aa Rama. Kebetulan sabtu kan nggak ngantor. Bu Ratih sama Pak Anjar juga ngajak pulang bareng sore ini. Tapi mereka kan mau nginep dulu di Bandung. Ibu milih besok aja biar semalam lagi kangen-kangenan sama cucu." Ibu Sekar merapihkan sajian capcay yang sedikit berantakan di bagian sisi.

Lagi, Akbar membuntuti Ibu Sekar yang kembali ke dapur. Ternyata mengecek sopan mematikan apinya. "Bu, bareng sama Akbar aja. Besok pagi juga sama mau ke Tasik."

Bu Sekar memutar tubuh. Menatap Akbar dengan ragu.

"Akbar berangkat berdua sama sopir. Kalau Ibu sama Enin mau bareng, jadi Akbar ada teman ngobrol di jalan. Bareng aja ya Bu, ya?" Akbar menatap Ibu dengan sorot penuh harap.

"Ibu bicara dulu sama Rama ya. Sekarang makan dulu yuk!" Ibu Sekar menepuk bahu Akbar mengajak kembali ke ruang makan.

Sambil makan bersama di ruang tengah, Ibu Sekar menyampaikan saran Akbar kepada Rama. Tentu saja didengar pula oleh seluruh keluarga yang berkumpul. Dan akhirnya menyetujui, toh memang sejalan arah tujuan. Serta Akbar juga bukan orang lain bagi keluarga Papi Krisna.

Kecuali Leo yang menatap Akbar dengan sorot mata penuh tanya, butuh penjelasan. Hingga saat sudah pamit pulang, mobil baru melaju meninggalkan bahu jalan rumah Rama, ia mengemukakan keheranannya. "Bro, nggak ada agenda ke Tasik besok ataupun dalam sebulan ini."

"Yaaa tiba-tiba pengen ke Tasik aja. Konfirmasi ke Tommy, besok gue ke Tasik!" Sahut Akbar dengan santai. Tommy adalah manajer hotel Seruni miliknya di Tasik.

Leo menoleh sekilas lalu meluruskan lagi pandangan ke depan. Kembali fokus menyetir. "Tapi jangan ajak gue. Gue sama Tasya mau weekend nan."

"Iya. Gue pergi sama sopir aja."

"AKBAR!" Teriakan Leo mengagetkan Akbar yang akan membuka ponsel.

"Apaan sih. Gue gak budeg." Akbar menoyor bahu Leo sambil menggerutu.

Leo tertawa-tawa. "Lo udah gak bisa ngeles. Semua bukti udah meyakinkan. Lo lagi deketin Ami, ya? Hayo ngaku!"

Akbar menghembuskan nafas panjang. Mengusap wajah dengan kasar. "Semua gara-gara lo, Leo. Lo harus tanggung jawab!"

Leo menoleh sekilas sambil keningnya mengkerut. "Kenapa gue disalahain? Apa hubungannya sama gue?"

"Karena ucapan lo dulu. Lo nyuruh gue deketin Ami. Lo dulu nyumpahin gue berjodoh sama Ami, biarin beda umur 16 tahun juga. Lo bilang Ami cocok jadi obat stres. And now, gue selalu happy tiap hari komunikasi sama dia. Lawakannya, gombalannya, imutnya, haisss udah nempel di otak." Akbar akhirnya terbuka sama Leo. Ia sampai mengacak-ngacak rambutnya dengan wajah prustasi.

"Ahahaha...." Leo tertawa terbahak-bahak. Tertawa puas, puas sekali. Ia abaikan Akbar yang mendengkus kesal.

"Alhamdulillah ucapan gue dicatat malaikat" Leo melanjutkan tertawa lepas, sampai keluar air mata. "Gue udah curiga sejak di gazebo dulu. Lo malas banget ngangkat bo kong. Sementara gue udah pengen balik kangen bini. Congrats, Bro. Perjuangkan bidadari imut lo itu sampai dapat. Tenang....gue bakal jadibsupporter garis keras. Hihihi," sambungnya. Ia merasa geli. Baru sadar sudah mentertawakan bossnya, ia melipat bibir untuk mengerem tawa.

"Gue tadi spontan pengen nganterin Bu Sekar." Ucap Akbar jujur.

Leo mengangguk. "Bagus. Deketin dulu calon mertua biar nanti gak jantungan kalau nanti tau calon mantu anak bungsunya ternyata lebih tua dari anak pertamanya. Eh tapi lumayan sih, lebih muda dari mantu pertamanya." Ia mengulum senyum, menahan tawa.

"Semprul lo." Akbar menoyor bahu Leo dengan keras. "Bukannya ngasih saran, gue mesti gimana me manage perasaan ini," sambungnya diiringi hembusan nafas kasar.

Leo menoleh dengan sudut bibir tertarik. Leluasa menatap sang boss karena berada di lampu merah. "Ini definisi Love is blind. Karena buta, dia berjalan nabrak hati orang secara random. Menurut gue, ikuti aja kata hati. Nggak ada yang salah kok."

"Tapi gestur Ami gimana selama kalian sering komunikasi?" sambung Leo.

"Sepertinya Ami juga suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan merona kalau gue puji. Keliatan masih polos urusan cinta."

"Berarti anak-anak Bu Sekar gak cuma cantik, tapi berkualitas semua." Leo kembali melajukan mobilnya begitu lampu lalu lintas menyala hijau.

"True. Si Panji aja rela nunggu lama bertahun-tahun. Sekarang baru diterima sama Aul. Katanya mau segera lamaran."

"Ya udah. Lo juga perjuangin Ami. Tebar pesona dari sekarang kalau emang hati lo udah yakin. Karna Ami pasti jadi most wanted di sekolahnya. So, pastiin dulu hatinya si narsis itu dapet. Baru pinta sama ibunya. Gasss, Bro. Lulus SMA bawa ke KUA. Nanti kuliahin di Jakarta." Ucap Leo menyemangati.

"Gue cuma curhat ke lo doang. Awas ya, jaga rahasia!" Tegas Akbar.

"Siap. Selamat berjuang, Bro! Lo pekerja keras dan bekerja cerdas. Yakin bisa sukses dah." Leo menepuk-nepuk bahu Akbar dengan ucap optimis.

Terpopuler

Comments

Rini Anggraini

Rini Anggraini

suka ya novelnya berbobot sekali,setiap pembahasan yg bisa dijadiin pembelajaran buat yg baca....semangat kak me nia...semoga tetep istiqomah buat bikin novel yg cerdas dan lebih baik lagi

2025-02-11

0

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

semangat baru 💪💪

2024-11-14

0

Ta..h

Ta..h

akbar akhirnya g tahan juga ya memendam rasa sendirian tanpa cerita ke teman.
leo emang sahabat terbaik.

2024-10-20

0

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!