15. Malam Mingguan

Akbar baru pulang ke rumah menjelang senja. Akhir pekan kali ini penuh keseruan karena usai mengikuti turnamen mini soccer yang diinisiasi Tim Kreatif perusahaannya. Setiap tim yang terdiri dari lima orang pemain adalah perwakilan dari tiap divisi. Ia sendiri bergabung dengan tim dari Divisi Sales Tour and Travel. Sementara Leo masuk ke tim dari Divisi HRD. Mulai babak penyisihan sampai final dilaksanakan sekaligus dari pagi hingga berakhir jam tiga sore. Meski timnya hanya berhasil masuk sampai semi final, ia cukup puas. Karena yang terpenting baginya adalah kebersamaan dan kekompakan seluruh karyawan. Biarkan mereka bahagia menikmati hadiah darinya.

"Mas, liat siapa nih. Masih kenal nggak?" Iko menyambut antusias kedatangan Akbar yang baru muncul di ruang tengah sambil menenteng tas ransel berisi pakaian seragam tim mini soccer.

Akbar menatap wanita berambut hitam panjang tergerai yang duduk di samping Iko. Dahi mengernyit dengan mata menyipit. Berpikir keras mengingat-ngingat wajah cantik yang sedang tersenyum padanya itu.

"Ck. Mas Akbar loadingnya lama banget sih. Iko kasih clue deh. Dia best friend Iko waktu SMA. Sering nginep di sini juga." Jelas Iko dengan mata berbinar.

"Oh Diva, ya?!" Akbar mulai mengingat teman adiknya itu. Pantas saja merasa familiar melihat tahi lalat di atas bibir.

"Iya, Mas. Mas Akbar apa kabarnya?" sapa Diva yang berdiri dan mengulurkan tangan diiringi senyum manis.

"Alhamdulillah, baik." Akbar menyambut jabat tangan. Ia pun duduk di sofa berhadapan dengan sang tamu. "Sorry Diva, berapa tahun ya nggak ketemu. Lima apa enam tahun ya. Jadinya lupa-lupa ingat," sambungnya dengan jujur.

"Manglingi. Makin cantik ya, Mas." Ucap Iko sambil menaik turunkan alisnya. Tersenyum tipis.

"He em." Sahut Akbar singkat. "Silakan lanjutin ngobrolnya. Aku tinggal dulu, mau mandi," sambungnya usai melihat jam. Setengah jam lagi waktu magrib.

Wajah Diva yang sudah merona karena pujian, berubah sedikit kecewa melihat Akbar berlalu menuju tangga. Berharap bisa berbincang lama, namun kakaknya Iko itu masih sama seperti dulu. Tidak mudah didekati. Selalu seperlunya.

Pintu kamar diketuk Iko saat Akbar sedang melipat sajadah. Istiqomahnya menjalankan kewajiban sebagai muslim baru berjalan dua tahun ini. Ia yang tinggal di Singapura saat sedang memulihkan perusahaan orang tuanya, diajak teman untuk bergabung dengan komunitas pengusaha muslim Singapura dimana anggotanya lintas etnis. Sharing and Caring di setiap pertemuan membuatnya semakin naik level iman.

"Ada apa?" Tanya Akbar begitu sang adik disuruh masuk. Sudah berdandan cantik seperti mau pergi. Iya baru ingat kalau ini malam minggu.

"Ada Galih pengen ketemu Mas Akbar." Iko mengajak Akbar turun sekarang juga. Galih adalah tunangannya Iko. Tiga bulan lagi mereka akan menikah.

Akbar menemui Galih di ruang tamu. Adu tos dan berpelukan menjadi sapaan awal. "Kalian mau pergi kemana?" Introgasinya sebagai bentuk rasa sayang terhadap adik satu-satunya itu.

"Aku mau ngajak Iko dinner. Mas ikut kami yuk!" Sahut Galih.

Akbar menggeleng. "Aku juga mau pergi ada acara. Jangan pulang malam ya!" Sampai menjelang pernikahan, Iko kembali tinggal di rumah itu. Biar lebih mudah mempersiapkan pernikahan yang akan digelar di Jakarta. Mama Mila sudah menitipkan si bungsu padanya.

"Siap, Mas." Galih paham kekhawatiran calon kakak iparnya itu. "Oh ya Mas, keluargaku masih memegang tradisi Langkahan. Selain minta izin, minimal memberi hadiah barang untuk kakak yang dilangkahi menikah. Aku tau Mas Akbar mampu membeli apapun, tapi izinkan aku membelikan sesuatu barang sebagai bentuk penghormatan padamu, Mas. Karena aku mau menikahi adik Mas Akbar," sambungnya dengan wajah serius.

Akbar mengulas senyum. Memasang wajah bijak. Ia sudah mencari tahu latar belakang calon suami Iko. Di samping merupakan teman kuliah sang adik di kampus Singapura, keluarga Galih juga memiliki darah keturunan Jawa meski tinggalnya di Jakarta. "Iko udah minta izin mau langkahin nikah. Dan aku ikhlas mengizinkannya. Aku gak akan minta hadiah. Cuma minta kamu harus janji tidak akan sakiti Aiko, baik fisik maupun psikisnya. Karena kalau sampe terjadi, aku akan buat perhitungan!" Ucapannya tegas dan lugas.

"Aku janji, Mas. Aku sangat sayang sama Aiko. Nggak akan pernah menyakitinya." Sahut Galih dengan kepala tegak menatap sungguh-sungguh sang calon kakak ipar.

Iko tersenyum simpul. Ia tahu betul jika Akbar adalah sosok kakak yang perhatian dan menyayanginya. Tak ada lagi yang harus dibahas karena sang kakak bergeming menolak hadiah barang. Ia dan Galih pamit pergi keluar untuk dinner malam minggu.

Akbar makan malam dengan cepat. Malam ini ada temannya yang merayakan ulang tahun. Mengadakan privat party di salah satu hotel bintang lima. Sebetulnya malas untuk hadir di pesta kelas atas itu. Apalagi dresscode pria harus mengenakan jas hitam. Malasnya, sudah tampil keren tapi tanpa gandengan. "Ami," gumamnya spontan. Mendadak ia teringat sumber mood booster yang seharian ini belum ada kabarnya. Ia tuntaskan makan dan beranjak menuju kamarnya.

***

Ami menjawab panggilan telepon dari Akbar dengan ucap salam ketika sudah sampai di puncak tangga. Sudah berada di jarak aman, tidak akan ada yang nguping. Lalu masuk ke dalam kamar. Sempatkan berkaca untuk memastikan penampakan wajahnya begitu Akbar menjawab salamnya.

"Lagi apa, Ami Selimut?" Suara Akbar di sebrang sana terdengar renyah.

"Lagi santai aja, Kak. Ada tamu Kak Panji sama Padma. Sini deh ikutan ngumpul, malam mingguan santai bareng." Ami masih berdiri di depan meja rias. Menyapukan sedikit bedak ke permukaan wajahnya.

"Wah jadi pengen gabung. Sayangnya Kak Akbar lagi di Jakarta." Terdengar suara Akbar bernada kecewa.

Ami terkekeh.

"Mi, VC ya!" Ucap Akbar meminta izin lebih dulu.

"Oke, Kak." Ami menyimpan ponselnya di meja. Bergegas mengoleskan dulu lip serum di bibirnya biar terlihat segar dan pink merona. Barulah percaya diri menerima panggilan video dari Akbar.

"Wow, Kak Akbar keren. Mau kemana, Kak?" Ami terpana melihat visual Akbar dalam balutan jas hitam dengan wajah segar. Tulus dan polos memuji.

"Mau ke birthday party teman. Beneran udah keren nih? Nggak bohong?" Akbar bersikap tenang padahal hidungnya mengembang. Pura-pura meluruskan dasi kupu-kupunya.

"Cius handsome, Kak. Pasti ciwik-ciwik pada lirik deh." Ami duduk sila di sofa sambil memangku bantal. Ponsel tersimpan di tripod sehingga leluasa berekspresi.

Akbar terkekeh. "Kalau Ami ada di Jakarta, mau Kak Akbar ajak buat jadi gandengan. Biar aman dari lirikan ciwik-ciwik," ujarnya sengaja memancing reaksi anak baru gede itu. Entahlah apa yang terjadi dengan hatinya. Belum bisa menyimpulkan rasa suka dan perhatiannya nya terhadap Ami sebagai apa. Adikkah? atau perasaan suka terhadap lawan jenis? Sementara biarkan mengalir seperti air.

"Hihihi, Kak Akbar bisa aja. Sayangnya aku gak punya pintu Doraemon. Biar atuh Kak dilirik ciwik-ciwik. Biar gak jomblo terus." Ami sebenarnya merasa tersanjung.

"Aku tuh Jomat. Jomblo terhormat gelar dari Neng Ami dulu. Masih ingat nggak?" Akbar menaikkan satu alisnya.

"Hehe, iya." Ami berubah tersipu malu dipanggil 'Neng'. Mendadak kalimat panjang yang siap meluncur, tersendat di tenggorokan.

"Mi, apa Panji udah jadian sama Aul?" Akbar teringat ucapan Ami awal tadi. Menjadi penasaran.

Ami mengangguk. "Iya, Kak. Udah siap mau lamaran. Tapi nunggu Ibu pulang dari Jakarta."

Akbar manggut-manggut. Ia sudah lama tidak bermain ke rumah Rama. Hanya mengucapkan selamat atas kelahiran anak kedua via chat. Belum ada waktu senggang untuk berkunjung.

"Udah lama jadiannya?" Rasa penasaran Akbar belum tuntas mengingat waktu itu melihat Aul malam mingguan dengan pria lain.

"Hm, belum lama sih. Kurang lebih dua mingguan deh. Terus aku dengar dari Padma, Kak Panji udah discuss sama keluarga mau segera lamar Teh Aul, gitu." Jelas Ami.

"Bagus. Gercep." Akbar mengacungkan jempolnya.

"Eh Kak, itu seperti banyak semut di bibir." Ami dengan serius mencontohkan dengan menunjuk bibirnya.

Akbar sontak mengusap bibirnya. "Nggak ada kok, Mi," Ia mengusap ulang untuk kedua kalinya.

"Oh, aku salah liat. Efek bibirnya keliatan manis sih." Ami memeletkan lidahnya. Berhasil nge prank Akbar yang kini tertawa.

"Ciee Kak Akbar baper. Muka sama telinganya merah gitu." Ami semakin menjadi menggoda Akbar.

"Haha...kamu ya. Kalau deket pengen uyel-uyel deh." Ucap Akbar dengan gemas. "Mi, tau nggak," sambungnya sengaja menggantung ucapan.

"Enggak." Ami menggelengkan kepala sambil menahan senyum.

"Berarti kita jodoh."

"Lah kok gitu?" Ami terkikik.

"Kan jodoh nggak ada yang tau." Kali ini Akbar yang memeletkan lidah. Akhirnya bisa juga ilham gombalan datang tiba-tiba.

"Aw aw gubrak." Ami berakting lemas. Membuat wajah tampan berjambang yang memenuhi layar ponselnya, tertawa lepas.

"Kak Akbar hebat udah jago gombal." Ami menyambung lagi percakapan sambil memperbaiki duduknya.

"Kena virus Ami nih. Menyerangnya udah sampe ke otak. Jadi tiba-tiba dapat inspirasi deh." Akbar terkekeh

Ami nyengir kuda. "Eh, Kak Akbar kan mau pergi. Kita udahan dulu deh."

"Jadi males pergi. Betah ngobrol sama Ami." Akbar terlihat menatap jam tangannya.

"Eits, nggak boleh gitu. Menghadiri undangan itu wajib. Kecuali ada halangan." Ucap Ami mengingatkan.

Bibir Akbar melengkungkan senyum manis. "Oke deh. Mi, tolong cek. Penampilanku udah rapih belum?" Ia sengaja berdiri dan berputar memperlihatkan bagian belakang.

"Udah perfect, Kak. Kayak Sheila on 7." Puji Ami.

"Maksud Ami, kayak vokalisnya?" Akbar kembali duduk dan menunggu jawaban Ami.

"Bukan. Kau anugerah terindah yang pernah kumiliki." Sahut Ami sambil dinyanyikan.

Akbar tersenyum meringis sambil memegang dada. "Ami...oh Ami. Lama-lama kena serangan jantung nih. Mana tadi katanya bibir udah dikerubutin semut. Fixed, diabetes," ujarnya memasang wajah putus asa.

Giliran Ami yang mentertawakan ekspresi Akbar. Kemudian beralih memasang wajah serius. "Ya udah, ya udah. Kak Akbar berangkat gih! Have fun and enjoy the party. Tapi ingat, jangan minum alkohol ya, Kak!"

Akbar tersenyum dan mengangguk. "Baik, Nona Ami yang cantik dan imut. Happy saturday night at home. Bye!" Sebuah kedipan mata dan senyum manis menutup tatap muka jarak jauh itu.

Layar sudah hitam. Tapi Ami masih terdiam memeluk bantal dan menenggelamkan wajahnya yang matang. Pujian Akbar mendebarkan jantungnya dalam ritme cepat. Menghangatkan dadanya serta melambungkan perasaannya.

"Amiiiii!"

Suara panggilan Padma mengagetkan Ami yang sedang senyum-senyum sendiri. Bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu.

"Lama amat yang teleponan. Kirain terus ketiduran." Ucap Padma di ambang pintu.

Ami tersenyum miring. "Sorry bestie, baru beres teleponannya. Itu si Panda ngajak ngobrol terus. Kalo nggak aku stop, bisa-bisa terus aja sampe subuh."

"Namanya lucu. Panda. Itu cewek apa cowok sih?" tanya Padma penasaran.

Ami menggaruk kepala yang terbalut jilbab biru. "Hm, cowok. Sodara jauh."

"Ciee...Sodara apa sodara?" Padma memicingkan mata menggoda Ami.

"Hais, jangan mikir macem-macem ya! Beneran sodara jauh." Ami memiting leher Padma. Membawa masuk ke dalam kamarnya.

Padma terkikik karena bukannya tercekik, tapi merasa geli. "Mi, turun lagi yuk ah," ujarnya setelah sama-sama menjatuhkan punggung di kasur. Telentang.

"Kita di sini aja lah menyantai rebahan." Sahut Ami yang giliran malam ini Padma menginap di rumahnya.

"Jangan ninggalin Kak Panji dan Teh Aul berduaan saja. Nanti yang ketiganya setan." Padma mengingatkan.

"Ho oh, lupa. Yuk, turun. Kita cie ciein lagi kalo denger Kak Panji nyebut ayang." Ami terbangun lebih dulu. Menarik tangan Padma untuk bangun.

Ami dan Padma kembali duduk bergabung di karpet. Ada cemilan yang belum disentuh. Donat madu. Secara bersamaan duo rusuh itu mengambil toping yang sama. Coklat tabur kacang almond.

"Ini Padma. Ami yang coklat kacang aja." Padma mempertahankan pegangannya sambil cekikikan.

"Ah nggak mau. Ini ada almondnya. Jadi ingat sama temen sekolah, namanya sama." Ami sama-sama bertahan sampai donat pun terbelah dua. Adil. Sama-sama mendapat setengahnya. Bahkan balapan memakannya dengan cepat.

Aul dan Panji hanya geleng-geleng kepala. Obrolan tentang rencana opening cafe mendadak terhenti karena situasi kembali rame.

"Kak, tebak ya. Apa bedanya gubuk sama Teh Aul?" Ami menatap Panji dengan mulut menggembung karena sedang mengunyah.

Padma langsung saja terkikik. Kemudian mendorong bahu Panji dengan semangat. "Kak, harus bisa jawab! Jangan malu-maluin Padma."

Panji terkekeh. "Bentar mikir dulu!" ujarnya mulai mengerutkan kening. Hingga dua menit kemudian...

"Ah, lama mikirnya. Munaroh, kasih bisikan! Kamu kan muridku yang pintar." Ucap Ami.

"Oke, Suhu Marimar!" Padma pun berbisik di telinga kakaknya.

Aul sudah pasrah menjadi bulan-bulanan lagi. Ia mendekap bantal sofa di dadanya melihat Panji mulai senyum-senyum saat dibisikkan Padma.

"Apa jawabannya, Kak?" Tanya Ami.

Panji menatap Aul dengan lembut sambi mengulum senyum. "Kalau gubuk jelek. Kalau Aul cantik."

"Ecieee." Kompak Ami dan Padma menggoda Aul yang wajahnya merona.

"Sekarang dari Padma ya. Marimar harus bantu kalau Teh Aul nggak bisa jawab. Apa bedanya nyamuk sama Kak Panji."

"Teh, jawab, Teh. Jangan jatuhkan wibawa adikmu yang imut ini. Teteh pasti bisa! Kita tiap hari hidup satu atap. Virus udah meresap." Ami menyenggol lengan Aul.

Aul menoyor bahu adiknya yang menyebalkan itu. Sementara Panji dan Padma mentertawakan.

"Kalau nyamuk ngeselin. Kalau Kak Panji....ngangenin." Jawab Aul dengan wajah merona dan senyum dikulum.

"Kamu juga ngangenin, Yang." Balas Panji diiringi senyuman.

"ECIEEE, AYANG." Kompak Ami dan Padma menggoda.

Malam mingguan yang malah mengocok perut penuh hiburan. Meski berat, Panji terpaksa harus pulang saat jam menunjukkan angka sembilan. Karena diusir tegas oleh tiga orang gadis sekaligus. Tak mengapa, besok pagi akan datang lagi. Karena sama-sama akan joging di Car Free Day.

Terpopuler

Comments

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-11-13

0

fitriani

fitriani

astaga ami🤭🤭🤭🤭🤭🤭

2024-10-27

0

Ta..h

Ta..h

🤩🤩🤩🤩🤩 amiiiii 🥰🥰🥰.

2024-10-20

0

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!