12. Terngiang-ngiang

Jika teman-temannya Ami sudah pada pulang semuanya di jam satu siang, beda dengan Panji yang masih betah bertamu. Malah kini berpindah lokasi karena Aul mengajak makan siang bersama di saung gazebo. Tentu saja diterima dengan senang hati oleh putra dari Bunda Ratih itu.

Ibu Sekar meski hanya melihat raut muka dua muda mudi itu saat sejenak tadi menemani ngobrol, sudah bisa menebak. Ia tersenyum simpul sambil menatap plafon kamar. Memulai istirahat siang dengan suasana hati riang. Satu persatu anak-anaknya menemukan jodohnya.

Nanti Aul nikah, terus akan pergi dari rumah ini. Zaki kalau lulus kuliah mungkin bekerja di luar kota. Hanya tinggal Ami yang ada di rumah.

Ibu Sekar beralih memiringkan badan, memeluk guling. Pikirannya menerawang menjelajah masa depan. Setelah Pak Bagja pergi, sudah ada dua orang pria yang bertamu ke rumah dengan maksud pribadi. Mengajak menikah. Tapi saat itu juga ia tolak dengan sopan. Berbeda dengan dulu saat sang purnawirawan sering bertamu ke rumahnya. Ia memberi kesempatan pada hati untuk berpikir. Dan ia mengorbankan perasaan pribadi demi rasa sayangnya pada anak-anak. Menyesal dengan keputusannya? Tentu tidak. Ia bersyukur memiliki anak-anak yang soleh dan soleha. Karena dari bersyukur timbul bahagia.

Tok tok tok.

Ketukan di pintu menyadarkan Ibu Sekar dari lamunan panjang. "Siapa?"

"Ami, Bu."

"Masuk aja." Ibu Sekar memperbaiki posisi tidurnya dengan beralih miring ke arah kanan.

Ami masuk dan menutupkan lagi pintunya. "Ibu lagi boci?" tanyanya sambil ikut merebahkan badan di samping ibunya.

"Baru mau." Sahut Ibu Sekar singkat.

"Aku juga mau boci di sini ah. Lagi kangen kamar ini." Ami memeluk guling sambil senyum-senyum. Akbar mengirim pesan lagi menanyakan sudah selesai tidaknya belajar. Perhatian yang membuatnya senang.

"Hayoh lagi mikirin apa senyum-senyum sendiri gitu?" ujar Ibu yang memperhatikan ekspresi Ami.

Ami baru tersadar. Lantas tersenyum malu. "Itu...tadi ada chat lucu. Ngantuk ah." Ia sembunyikan wajah di balik bantal guling dan memejamkan mata.

Ibu Sekar mengernyit. Namun ia tidak bertanya lagi. Menyusul Ami memejamkan mata.

Sementara yang sudah selesai makan siang di gazebo, masih asyik duduk bersama. "Jadi berat untuk pulang. Pengennya sekalian bawa kamu pulang ke rumah kita." Panji menatap Aul dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya.

"Rumah kita? Emang ada rumah kita? Baru aja jadian udah pinter ngegombal deh." Aul mengulum senyum.

Panji mengangguk. "Aku udah beli rumah, Aul. Lokasinya di kota biar dekat ke kantor. Malah lebih dekat dengan cafe mu. Aku kan dari dulu berharap ingin menjalani masa depan denganmu. Tiga bulan yang lalu aku beli rumah itu. Cash. Alhamdulillah impianku nikah sama kamu bakal nyata," ujarnya dengan wajah semringah.

Wajah Aul merona. Ia merasa tersanjung dan melambung. "Kak, maaf ya bukan aku sengaja menggantungkan hubungan. Aku sebenarnya sudah suka sama Kak Panji dari sejak pertama kali nginep di rumah Enin. Waktu itu aku dan Ami tidur di kamar Kak Panji, kan. Aku lihat-lihat semua foto yang ada di kamarmu. Kesannya Kak Panji orang baik bukan playboy," ujarnya diiringi kekehan.

"Terus kenapa dulu nolak kalau emang ada rasa?" Panji dibuat penasaran.

"Baru suka aja belum lebih, Kak. Lagian aku memang konsisten dengan komitmen sendiri. Fokus kuliah biar lulus tepat waktu dengan nilai bagus. Soal rasa itu mulai timbulnya waktu kita dinner karena aku kalah TOD. Kok rasanya nyaman dan ser-seran gitu." Aul terkekeh dengan wajah yang merona.

"Kamu pintar nyembunyikan perasaan." Panji menatap Aul yang duduk lesehan di hadapannya diiringi tersenyum simpul.

"Sejujurnya aku dilema. Masa iya pacaran sama adik sepupu Kak Rama. Kalau putus rasanya bakal jadi canggung kalau ada pertemuan keluarga. Makanya aku sambil jalan sambil timbang-timbang." Aul semakin terbuka mencurahkan isi hatinya.

"Kamu salah mengelola pikiran, Aul. Harusnya jangan dibawa negatif thinking." Panji menggeleng tidak setuju.

"Ya kan menjaga kemungkinan jeleknya, Kak. Sambil sibuk jadi marketing Dapoer Ibu, aku terus merhatiin sifat dan sikap Kak Panji di keluarga, nyuruh orang jadi stalker buat lihat pergaulannya Kak Panji. Dan terakhir yang bikin hati mantap, karena aku udah istikharah. Itu semua aku lakuin karena gak mau salah pilih pasangan. Kak Panji jangan marah ya." Pungkas Aul dengan mengatupkan kedua tangan di dada.

Panji menghembuskan nafas panjang. "Aku nggak marah. Malahan speechless. Kamu ibarat peribahasa air tenang menghanyutkan. Aku makin jatuh hati deh," ujarnya dengan tatapan sungguh-sungguh.

"Udah ah dari tadi Kak Panji terlalu banyak muji aku." Aul memalingkan muka dari tatapan Panji yang lembut yang membuat hatinya menghangat.

Perjumpaan hari ini usai sudah. Panji pulang dengan hati yang penuh keriaan. Masuk ke dalam rumah sambil bersiul-siul. Bertepatan di ruang tengah sedang berkumpul Bunda Ratih, Ayah Anjar, Enin, dan juga Padma.

"Eciiee Kakak happy banget abis ketemu Teh Aul. Sampe lupa salam." Ledek Padma.

Panji meringiskan wajah. Mengakui kekhilafannya. Ia mengacak-ngacak rambut Padma begitu melewatinya. Lalu duduk di samping Enin dan merangkum bahunya.

"Enin tebak ah. Roman-romannya ada yang baru metik buah sabar nih." Enin melirik Panji yang kini memijat-mijat bahunya.

Panji tersenyum simpul. Ia mencium pipi kiri nenek tersayangnya. Lalu menatap satu persatu keluarganya itu. "Yah, Bunda, Enin, nanti antar Panji melamar Aul ya. Tapi sebelum lamaran resmi, Panji pengen keluarga kita silaturahmi dulu dengan keluarga Bu Sekar."

Bunda Ratih tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Bunda senang banget dengar kabar ini. Panji atur aja waktunya kapan. Kita ngikut aja. Ya kan, Yah?" ujarnya menoleh pada sang suami.

Ayah Anjar mengangguk dan tersenyum.

***

Aul sudah cerita kepada Ibu Sekar tentang maksud Panji mengajak pertemuan keluarga. Yang akhirnya sepakat ditentukan waktunya sabtu depan.

Bagi Ami, pergantian hari adalah masa persiapan menuju ujian. Belajar semakin ditingkatkan. Kegiatan di luar sekolah libur dulu. Hingga jum'at pagi ini waktunya berangkat sekolah, ia mendengar ibunya menerima telepon dari kakak pertamanya di Jakarta.

"Aul, Ami, Ibu harus ke Jakarta sekarang. Teteh udah mau lahiran." Ucap Ibu Sekar usai sambungan telepon dengan Puput berakhir.

"Alhamdulillah. Launching keponakan kedua. Nanti liburan aku mau ke Jakarta. Kumpul bocah sama anaknya Kak Cia juga. Pasti seru." Ami tersenyum lebar membayangkan nanti. Ia memang sangat suka dengan anak-anak.

"Aul, bilang sama Panji. Silaturahminya diundur dulu sepulang Ibu dari Jakarta. Nggak apa-apa ya, nak?" Ibu Sekar menatap Aul.

Aul urung menjawab karena ponselnya berdering. "Nah panjang umur, Kak Panji nya nelpon." Ia menggeser ikon jawab.

Ami dan Ibu Sekar menunggu Aul yang mendengarkan dan menyahut serius ucapan dari sebrang sana. Hingga tak lama panggilan pun berakhir.

"Bu, Enin juga mau ke Jakarta. Katanya Ibu berangkatnya sama Enin. Jam tujuh Mang Yaya akan jemput. Kak Panji juga tidak keberatan acara silaturahmi diundur dulu." Aul melaporkan hasil pembicaraannya dengan Panji.

"Ami, belajar yang baik ya. Ibu nggak bisa nemenin Ami selama ujian. Baik-baik di rumah sama Teh Aul." Ibu Sekar mengusap puncak kepala Ami yang bersiap berangkat sekolah.

"Siap, Bu. Tenang aja sesajen aman. Ada yang ngirim tiap sore selama ujian." Ucap Ami sambil mengecek lagi isi tasnya.

"Siapa?" Ibu dan Aul kompak bertanya.

Ami terkejut. Merasa keceplosan. Untung sedang membelakangi Ibu dan Aul sehingga tidak kentara wajahnya. "Ya Mamang gofood lah. Tinggal pesan, langsung antar." Entahlah, ia merasa malu untuk jujur jika Akbar selalu intens memberi perhatian dan berjanji akan order makanan setiap sore selama ujian.

Jadilah hari ini Ibu berangkat ke Jakarta bersama Enin dan tiba jam empat sore di rumah Puput. Tidak sempat menemani sang anak saat melahirkan. Karena lebih dulu menerima kabar dari Rama jika Puput sudah melahirkan bayi laki-laki jam tiga sore.

"Alhamdulillah, Aa punya dua jagoan. Paling Ibu abis magrib ke rumah sakitnya ya. Mau istirahat dulu." Ibu bernafas lega dengan wajah semringah menanggapi kabar dari Rama. Selama di perjalanan tadi, tiada henti mendoakan proses melahirkan normal sang anak agar diberi kelancaran dan keselamatan.

Di sebuah gedung kantor. Akbar baru selesai memimpin rapat internal dengan manajer semua divisi. Ia berjalan bersama Leo dan juga Gita sekretarisnya, meninggalkan ruang rapat menuju ruang kerjanya. Rival di bidang usaha yang sama terus bermunculan. Membuatnya harus sering evaluasi dan terus melakukan inovasi.

"Pak, barusan ada email dari sekretaris Mr. John. Konfirmasi reshcedule meeting jadi tanggal 29. Apa bisa katanya?" Gita duduk di hadapan meja Akbar begitu sang boss lebih dulu di kursi kebesarannya.

"Tanggal 29?" Tiba-tiba saja pikiran Akbar berpindah dimensi. Malah ucapan Ami yang kini terngiang di benaknya.

Kalau tanggal 29 sumpah apa, Kak? Sumpah aku suka kamu.

Akbar mengulum senyum. Bisa-bisanya mendadak teringat gombalan receh di kelas Ami waktu itu.

"Pak, gimana?" Tanya Gita yang terheran melihat Akbar bengong sambil senyum-senyum.

Akbar berdehem dan menetralkan wajahnya. "Kamu yang tahu schedule saya tanggal 29," ujarnya menanggapi.

"Dari pagi sampai jam 11 kosong, Pak. Setelah jam istirahat full agenda sampai malam ada undangan dinner," Sahut Gita usai melihat Tab nya.

"Oke, deal kan jam 10 aja."

"Baik, Pak." Gita segera mencatatnya. "Saya prepare outfit Pak Akbar dari sekarang. Mau pakai jas apa, Pak?" sambungnya kembali menatap sang boss yang hanya mengenakan jas jika ada pertemuan penting.

"Jas....." Ucapan Akbar menjadi menggantung karena pikirannya dilibas kilasan balik.

Kak Akbar kan datang ke sekolah kami dengan outfit seperti ini. Nah, kalau pakai jas saat kegiatan apa, Kak?"

"Pak Akbar?" Gita menyapa Akbar yang kembali bengong. Bahkan ia saling tatap dengan Leo.

Karena menurutku Kakak itu bagusnya JUST BE MINE.

Akbar melengkungkan senyum. Teringat Ami yang bersembunyi di kolong meja usai menggombal dengan kata 'jas'. Kenapa bisa terngiang-ngiang. Padahal tidak memikirkan. Setiap hari ia bertanya kabar pelajar yang akan bersiap ujian itu sekadar memotivasi. Karena gombalan si imut itu selalu menyenangkan hatinya.

"Boss." Kali ini Leo yang menepuk bahu Akbar. Sorot matanya menatap penuh tanya dengan perubahan sikap sang boss yang baru kali ini terlihat aneh.

Akbar mengerjapkan mata. "Iya, gimana?" Ia menatap Leo dan Gita.

"Gita nanya, Anda mau pakai jas apa untuk meeting dengan Mr. John nanti." Leo menahan diri meledek Akbar karena ada Gita.

"Hm, terserah kamu aja, Git. Kalau udah selesai, kamu keluar!" Sahut Akbar dengan isyarat jari menyuruh pergi.

Gita berdiri dan mengangguk sopan. Sambil berlalu, dalam hati bertanya-tanya apa yang terjadi dengan sang boss yang biasanya selalu fokus dan penuh wibawa.

Akbar merebahkan punggung ke sandaran kursi. Menopang belakang kepala dengan kedua tangan. Terbit senyum lebar menghiasi wajah tampannya.

"Bar, besok sabtu. Gue saranin lo healing dulu ke pantai karna lo ada gejala stres. Gue suruh Gita booking tiket pesawat sama hotel ya. Mau ke Bali or Lombok?" Leo berkacak pinggang di samping kursi Akbar diiringi geleng-geleng kepala. Saat sedang berdua, ia bebas berekspresi dengan sahabatnya itu.

Akbar beralih melipat kedua tangan di dada dan menatap Leo dengan mata memicing. "Nggak ada kata stres di kamus gue. Gue lagi happy karna Mama udah terbang ke Singapore. Di rumah adem lagi nggak ada yang ceramah bahas jodoh," ujarnya beralasan.

"Udah sana balik lagi ke ruangan lo. Gue mau vc." Akbar mengusir Leo dengan mengibaskan tangannya.

"Kalau vc ama klien, lo nggak pernah usir gue? Lo mau vc sama siapa? Selena or Loly or Nola or...."

"No one!" Akbar kembali mengibaskan tangan. Leo pun berlalu dengan bibir mencebik dan pikiran menduga-duga.

Terpopuler

Comments

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

ahhaayyy lg mikirin ayang ya

2024-11-13

0

Normahasrul

Normahasrul

Cieee kesambet setan gombalnya si ami😂😂😂

2024-04-05

1

☠ᵏᵋᶜᶟ ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ

🤣🤣🤣🤣 ada yg terngiang-ngiang niyeeee

2023-09-28

1

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!