7. Nikah Yuk!

Sebuah paper bag besar ditenteng Ami begitu turun dari mobil. Ternyata Akbar tidak hanya memberi oleh-oleh untuk Bu Sekar saja, tetapi juga untuk Enin. Ia berjalan bersisian dengan Akbar menuju pintu utama yang terbuka lebar. Bisa jadi sengaja dibuka karena motor yang dipakai Leo sudah lebih dulu terparkir di pekarangan.

Ami dan Akbar bersamaan berucap salam. Di ruang tamu ada Panji dan Padma yang menemani Leo berbincang santai.

"Bestie!" Padma berseru riang usai menjawab salam. Langsung menepuk tempat duduk di sisinya yang kosong untuk Ami.

Sementara Akbar dan Panji adu tos dan berpelukan serta saling bertanya kabar. Ia juga menerima salamannya Padma.

"Lo kapan nyampe? Gue gak liat motor lo jalan di depan." Akbar mengerutkan kening menatap Leo.

"Dari tadi kali. Lo bawa mobil sport apa bawa odong-odong. Lelet banget. Gue tancap gas waktu di lampu merah." Leo mencibir dengan tatapan memicing.

"Ya kan lagi menikmati suasana jalanan. Lagian di jalan desa mana boleh ngebut. Bisa-bisa dicegat warga." Akbar beralasan.

Sementara Ami dan Padma memilih beranjak ke dalam. Bersamaan dengan Enin yang baru keluar dari kamar usai sholat isya.

"Enin, ini oleh-oleh dari Kak Akbar." Ucap Ami usai mencium tangan sepuh yang masih bugar itu dengan takzim.

"Akbar?! Akbar mana ya?" Enin menerima paper bag, tapi dengan wajah yang nampak bingung dan berpikir.

"Akbar pacarnya Ami, Enin. Hihihi." Celetuk Padma.

"Hus. Kau ini Munaroh!" Ami menyenggol Padma sampai oleng. Membuat bestie nya itu tertawa.

"Akbar sepupunya Kak Rama dari Papi Krisna. Enin ingat?" Ami mengikuti langkah Enin yang akan duduk ke sofa ruang tengah. "Tuh, orangnya, Enin." Tunjuknya begitu melihat tiga pria tampan sama-sama memasuki ruang tengah.

"Oh iya iya. Duh kalo udah tua mah jadi pelupa." Enin mengusap-usap bahu Akbar yang menyalaminya dan berlanjut saling bertanya kabar.

"Kalau aku Leo. Masih ingat nggak, Enin?" Ucap Leo sebelum mencium tangan sepuh yang ramah itu.

"Ingat atuh. Kalian kan satu paket. Kayak Rama sama Damar." Sahut Enin yang juga mengusap-usap bahu Leo. Kemudian menyuruh semuanya duduk.

"Ini teh udah pada nikah belum?" Enin menatap Akbar dan Leo silih berganti.

"Akbar belum. Kalau Leo udah, Enin." Akbar yang mewakili menjawab.

Enin manggut-manggut. "Akbar mau cari jodoh orang Ciamis juga kayak Rama? Panji juga masih jadi pejuang revolusi tuh. Enin mesti jadi penasehat terus soalnya Panji tidak sabaran."

Ucapan Eni membuat semua orang tertawa. Terkecuali Panji yang nyengir kuda.

"Enin please, jangan buka kartu. Ini rahasia antara Panji dan Enin." Protes Panji.

"Mi, ke kamar yuk. Ini obrolan 17 tahun ke atas." Bisik Padma di telinga Ami. Yang kemudian diangguki Ami. Dua anak gadis itu pun berpamitan.

"Nin, sepertinya Akbar juga pengen dapat jodoh gadis Ciamis." Ucap Akbar usai menatap punggung Ami yang menjauh dan hilang di balik pintu kamar. Tersenyum tipis penuh arti.

"Ya, Enin do'akan. Kalau pengen jodoh orang sini, Akbar harus sering main ke Ciamis. Kan witing tresno jalaran soko kulino."

"Noted, Enin. Insya Allah saran Enin nanti dipraktekin." Akbar tersenyum simpul.

Obrolan masih berlangsung dengan santai. Bahkan Enin menyuruh Akbar dan Leo untuk makan dulu. Namun ditolak dengan sopan dengan alasan sudah makan di Dapoer Ibu.

"Akbar sama Leo, malam ini harus nginep di sini. Jangan pulang ke Tasik. Kapan lagi coba kalian sengaja nengokin Enin. Orang pada sibuk gitu." Ucapan Enin bukanlah tawaran tapi perintah.

"Siap, Enin." Akbar mengangguk kuat. Tentu saja tidak akan menolak.

Di dalam kamar, Padma san Ami duduk sila di karpet dengan sekotak cemilan di tengah keduanya. Bekal yang dibawa Ami dari rumah. Berupa pisang goreng keju mozarella yang sudah dipotong-potong.

"Ami, Kak Akbar itu yang dulu hadir di nikahan Kak Cia, ya?" Tanya Padma. Ia mengusap lelehan keju mozarella di sudut bibirnya.

"Betullll, 100 buat Padma. Kak Akbar itu fans aku yang terbuang." Sahut Ami dengan mulut penuh pisang goreng yang masih dikunyah.

"Terbuang gimana maksudnya?" Padma serius bertanya.

"Nomer kontaknya terbuang bersama hapeku yang nyemplung ke sungai dulu. Aku juga udah lupa karena gak ada lagi komunikasi. Eh, nggak nyangka kemarin malah ketemu di sekolah." Ami pun menceritakan ulang tentang kedatangan Akbar ke kelasnya.

Padma menyimak dengan antusias. "Besok ke Padepokan, Mi?" Ia beralih topik pembicaraan.

"Iya. Pengen buru-buru naik tingkat. Tapi kalau sampe level atas seperti Teh Puput, aku nggak yakin deh. Soalnya sering malas latihan. Tapi mau usaha disiplin lagi ah. Seperti kata Coach Akbar, LAWAN DAN KALAHKAN DIRI SENDIRI."

"Semangat Selimut!" Padma mengepalkan tangan. Lalu terkikik bersamaan.

"Eh, aku nggak liat Ayah sama Bunda. Lagi kemana?" Ami menatap Padma dengan serius.

"Tadi siang Bunda nyusul Ayah ke Bandung. Ayah nggak bisa pulang ke sini karena lagi sibuk. Jadinya Bunda yang nyusul. Mau weekend di Bandung katanya." Penjelasan Padma membuat Ami manggut-manggut.

Panji mengajak Akbar dan Leo berpindah duduk di teras belakang setelah Enin berpamitan tidur lebih dulu. Sebuah papan catur terpasang di meja. Panji dan Akbar mulai permainan catur.

"Nji, hubungan sama Aul gimana? Udah nembak?" Akbar mulai melangkahkan dua bidak bersamaan.

***

Aul merapatkan ponsel di telinganya. Menunggu sambungan telepon dijawab oleh Anggara. Sudah dua kali menghubungi ulang. Berharap panggilan kedua itu bisa dijawab oleh Pak Polisi.

"Assalamu'alaikum, Aul."

Aul bernafas lega mendengar suara Anggara di ujung telepon. Ia menjawab salam dengan riang.

"Kak Angga, sekarang di mana?" Karena kabar terakhir yang Aul tahu, Anggara berada di Jakarta.

"Ada di Tasik. Baru pulang. Kenapa Aul? Kangen ya." Terdengar suara kekehan Anggara.

Aul hanya tersenyum tipis yang tentu saja tidak terlihat oleh Anggara. "Besok bisa ketemu nggak, Kak? Aku ada perlu sama Kak Angga." Ia berharap kali ini permintaannya bersambut. Mengingat susahnya bertemu dengan Anggara yang sedang disibukkan oleh tugas serta ikut pendidikan lagi di Akpol Semarang untuk meraih pangkat baru menjadi Ipda Anggara. Hanya hadiah dan hadiah serta komunikasi telepon yang masih terjalin selama setahun terakhir ini. Pernah bertemu, namun situasi selalu tidak pas untuk menyampaikan isi hatinya.

"Oke, Aul. Aku lagi libur. Tapi besok siang ada acara keluarga dulu. Paling bisanya malam minggu. Gimana?"

Aul terdiam sesaat. Lebih tepatnya, memikirkan tempat yang cocok untuk bicara serius. Tapi sebaiknya serahkan saja pilihan tempat kepada Anggara. "Oke, Kak. Kita ketemuan di mana?"

"Nggak gitu. Tunggu aja jam tujuh, aku akan jemput kamu. Oke?"

Aul mengakhiri panggilan usai menyetujui ajakan Anggara. Ia beralih membuka lemari. Tumpukan paper bag berderet ke atas sebanyak dua jajar. Semuanya hadiah dari Anggara dan juga Panji. Ia bukanlah seperti kebanyakan wanita yang akan senang dan melambung saat mendapat hadiah dari pria. Justru merasa beban akan adanya konsekuensi timbal balik yang harus dibayarnya.

Pagi menyapa. Di dapur rumah Enin penuh keriangan dua gadis yang sedang bersiap memasak sarapan. Itu karena Ami dan Padma sedang membuat nasi goreng sambil becanda.

"Padma, ini apa?" Ami mengacungkan apa yang dikeluarkannya dari kulkas.

Padma yang sedang mengirs bawang merah, mendongak. "Bakso," ujarnya.

"Kenapa dinamakan bakso?" Ami menyiapkan wajah di atas kompor gas. Menuangkan sedikit minyak. Menyalakan api kecil. Meski ada bibi yang bisa disuruh, ia dan Padma lebih senang melakukan sendiri setiap akhir pekan seperti ini.

"Ya karena bulat. Terus terbuat dari daging sapi." Padma beralih mengiris bakso. Sementara Ami mulai mengocok 2 butir telur di mangkuk.

"Salah, ih. Yang benar, karena lagi pengen." Ami mulai menumis bawang merah dan bawang putih.

Padma mendongak. Mengiris bakso sudah selesai dan memberikannya pada Ami. "Gimana-gimana? Padma nggak ngerti deh." Ia berdiri di samping Ami.

"Kan tadi aku nanyea, aku bertanyea-tanyea, KENAPA DINA MAKAN BAKSO? karena lagi pengen. Bener, kan?" Ami memeletkan lidah. Kocokkan telur sudah masuk ke dalam wajan kemudian disusul irisan bakso.

"Astaga, Marimar. Kirain nanya serius. Kejebak lagi deh Munaroh." Padma menyenggol pinggang Ami usai memasukkan nasi. Dua gadis itu tertawa bersama.

Mendengar kehebohan dari arah dapur, yang bagi Panji sudah tidak aneh, ia dan Akbar yang baru pulang joging, datang menghampiri. Leo masih di luar karena sedang menelepon istrinya. "Bagi dong. Kita juga mau."

"Boleh-boleh. Tapi kalau nggak enak harap maklum ya. Kita masih belajar." Sahut Ami yang menoleh sekilas. Ia sedang menambahkan kecap serta bumbu lainnya sebagai penyedap.

"Tapi dari wanginya ini pasti enak." Akbar memperhatikan dari dekat sebelum mengambil air minum di meja.

"Semoga saja. Hihihi." Ami menyuruh Padma untuk tes rasa. Setelah mendapat acungan dua jempol, barulah api dimatikan.

Padma menyiapkan piring. Ami mendekati Akbar yang minum sambil duduk di mini bar bersama Panji. Ia berdiri di samping Akbar yang mengenakan kaos putih slimfit.

"Kak Akbar, ini terbuat dari apa?" Ami menunjuk nampan coklat di samping lengan kanan Akbar.

Akbar menyimpan gelasnya di meja usai meneguk sampai habis. "Kayu," jawabnya yakin.

"Kalau ini?" Ami beralih mengambil sendok garpu estetik di pajangan.

"Kayu juga." Akbar mencoba meraba maksud pertanyaan Ami. Tapi masih gelap.

Padma urung menuangkan nasi goreng ke piring. Mendekati mini bar. Penasaran dan curiga terhadap pertanyaan Ami. Begitu juga Panji antusias menyimak dengan satu tangan menopang dagu.

Ami mulai menjajarkan nampan dan sendok garpu di tengah meja berbahan marmer. Lalu mulai menunjuk dan berkata, "Nih Kayu, nih kayu." Terakhir telunjuknya di tempelkan ke dada Akbar. "NIKAH, YUK! Hihihi."

"Ahahaha....kena deh!" Padma tertawa lepas. Begitu juga Panji.

Sementara Akbar menangkap tangan Ami. Dengan ekspresi gemas mengeratkan gigi. Seolah ingin menggigit telunjuk gadis itu yang cekikikan.

Terpopuler

Comments

ѴἶὉ

ѴἶὉ

Entah kenapa hati kayak gak begitu rela kalau Aul sama Anggara, walaupun Angga juga baik dan seorang Polisi, tapi hati lebih condong ke Panji.
tapi kembali lagi jodoh disini yang atur Nyonyah, Tapiiiii siap² aja di Demoo jangan harap bisa tidur tenang 🙊🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️

2023-01-20

266

𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄

𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄

🤣🤣🤣🤣

2024-11-21

0

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

🤣🤣🤣🤣

2024-11-11

0

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!