4. Ya Salam

Ami oh Ami. Andaikan bukan sedang berada di tengah forum formal, Akbar pasti akan tertawa lepas. Teringat dulu pun setiap bertemu selalu mendapat gombalan receh dari si imut itu. Dan berhasil membuatnya terhibur dari penatnya pekerjaan, dari kerasnya persaingan. Bisa tertawa lepas. Kali ini ia menahan gengsi dengan terkekeh saja. Usai tadi dibuatnya speechless.

"Kak, bales Kak!" Celetuk Ozi, nama panggilannya Fauzi. Mengompori Akbar agar membalas gombalan Ami.

Akbar lagi-lagi terkekeh. "Saya tidak bisa menggombal. Sepertinya Ami ini yang ahli ngegombal. Jadi setiap perkara harus diserahkan pada ahlinya." Ia menatap Ami yang masih berdiri di bangku paling belakang. Ada rasa penasaran menggelitik. Kenapa gadis itu memilih bangku di belakang. Yang biasanya identik dengan sikap murid yang suka ngobrol dan malas belajar.

"Aku bukan ahli gombal, Kak. Barusan cuma opening sebelum ke pertanyaan inti. Biar nggak tegang aja." Sahut Ami sambil nyengir kuda.

Akbar mengacungkan jempol diiringi senyum simpul.

"Pertanyaannya di luar tema. Nggak apa-apa, Kak?" Sambung Ami.

"Boleh." Akbar mengangguk kuat. Atensinya fokus tertuju pada Ami.

Sementara teman-teman sekelasnya tetap tidak yakin dengan keseriusan Ami. Sebagian murid ada yang menoleh memperhatikan ke arah Ami. Sebagian lagi fokus memasang pendengaran dengan pandangan lurus ke depan.

"Hm, Kak Akbar kan datang ke sekolah kami dengan outfit seperti ini. Nah, kalau pakai jas saat kegiatan apa saja, Kak?" Tanya Ami dengan wajah serius dan sorot mata penuh keingin tahuan.

"Bisa dibilang style harian saya memang seperti ini, pakai kemeja atau kaos. Termasuk kalau ke kantor juga outfitnya ya begini. Kalau pakai jas jika ada meeting dengan investor, ke acara formal, atau nikahan. Memangnya kenapa, Ami?" Akbar membalikkan pertanyaan. Sambil pikirannya meraba-raba tujuan pertanyaan yang out of the box itu. Bukan lagi pertanyaan tebak-tebakan berujung gombalan. Tapi, benarkah ini yang dimaksud pertanyaan di luar tema?

"Makasih untuk jawabannya, Kak. Mengapa aku bertanya seperti itu? Karena menurutku Kakak itu bagusnya JUST BE MINE." Ami langsung menurunkan badannya. Bersembunyi di kolong meja.

Suara gelak tawa lebih pecah daripada gombalan pertama tadi. Ozi dan Vino sampai menghentak-hentakkan kaki dan memukul-mukul paha saking kencangnya tertawa. Sungguh mengocok perut.

Akbar kali ini tidak bisa menahan tawa. Meski tetap sedikit ditahan. Dua kali terjebak gombalan Ami. Lagi-lagi membuatnya speechless. Entah kenapa juga wajahnya bereaksi memanas dan sudah dipastikan memerah.

Pak Yaya dan Pak Muhtar pun terkekeh-kekeh dengan bahu terguncang. Bukan tidak ingin tertawa lepas. Namun takut tidak sopan mentertawakan sang tamu yang menjadi korban keisengan muridnya.

Ami kembali muncul dari kolong meja dengan ekspresi biasa saja. Padahal teman sebangku dan yang lainnya saja masih menyisakan tawa cekikikan. Ia bahkan meminta atensi agar semuanya kembali diam. Dan tak lama suasana kelas pun kembali hening. Meski dalam pikiran semua orang menduga akan ada guyonan lagi.

"Maaf ya, Kak. Barusan intermezo aja. Aku sama seperti Vino, mau bilang terima kasih untuk motivasinya. Empat kunci keberhasilan udah aku catat. Dan akan ditempel di dinding hati, eh di dinding kamar." Ami menutup mulutnya karena salah ucap. Bahkan Kia yang ada di sampingnya terdengar cekikikan.

"Empat poin itu akan menjadi charger karena godaan terberat bagiku bukan rindunya Dilan. Tapi cemilan bikin aku betah rebahan. Terima kasih sekali lagi, Coach." Ami menutup unjuk rasa dengan anggukkan dan senyuman manis. Kembali duduk.

Akbar balas mengangguk dan tersenyum. Hatinya menghangat. Ia menatap jam di pergelangan tangannya. "Adek-adek, karena waktunya sudah habis. Pertemuan manis ini saya cukupkan sampai di sini. Semoga sharing ilmunya bermanfaat. Sebentar lagi ujian ya. Meski masih sekitar seminggu an lagi, saya ucapkan selamat berjuang. Gaspol belajar!"

"Jangan lupa nanti yang mau liburan akhir tahun, instal aplikasi pulangpergi. Saya akan memberikan voucher cashback hotel dalam negeri khusus pelajar di kelas ini dengan kuota 15 orang. Caranya follow ig pulangpergi dan daftarkan diri via email yang ada di bio."

"Semoga lain waktu kita ketemu lagi. Sekali lagi terima kasih untuk atensi adek-adek semuanya. Semangat belajar! Semangat mewujudkan mimpi!" Akbar pun menutup perjumpaan dengan ucap salam.

Masih ada sisa waktu lima belas menit sebelum bel istirahat berbunyi. Sesi foto berlangsung. Mulai dari selfie hingga foto bersama. Akbar sengaja berdiri di belakang, di samping Ami. Saat wali kelas memfoto dari ambang pintu agar semuanya ter capture. Menyempatkan menoleh sekejap dan saling tatap dengan Ami usai sesi foto.

Akbar meninggalkan kelas ditemani Pak Muhtar dan Pak Yaya. Bersamaan dengan bel istirahat berbunyi dan murid-murid berhamburan keluar kelas. Sepanjang melewati koridor kelas, ia mengumbar senyum ramah pada murid-murid yang menyapanya.

"Mas Akbar, maafin murid saya tadi. Ami memang paling rame di kelas. Suka becanda dan ngebanyol. Anaknya supel. Saya juga pernah digombalin. Tapi dia anak pintar dan sopan. Rangking pertama di kelas." Ucap Pak Yaya begitu duduk bersama di ruang kepala sekolah. Ia merasa perlu menyampaikan klasifikasi karena takut sang tamu tidak nyaman.

Leo yang mendengarkan, mengerutkan kening. Merasa familiar dengan nama itu.

Akbar menyimpan lagi gelas kopinya usai menyeruput mencicipi. "Tidak apa-apa, Pak. Saya malah senang karena suasana jadi santai. Mungkin Ami berani karena udah kenal dengan saya. Lagian Ami memang dari dulu begitu, Pak. Centil, narsis, rame, dan lawak." Ia terkekeh. Mendadak tergambar reka adegan saat ia baru datang ke acara siraman Cia. Ami menarik tangannya dan menyuruh mulung sawer sambil berjingkrak-jingkrak.

"Mas Akbar udah kenal dengan Ami?" Kali ini kepala sekolah yang bertanya dengan kaget. Pak Yaya yang sepemikiran pun penasaran menunggu jawaban Akbar.

"Iya, Pak. Kakaknya Ami menikah dengan sepupu saya. Terakhir ketemu Ami masih SMP. Tadi kaget juga kok sekolah di sini. Dia kan tinggal di Ciamis." Jelas Akbar.

Leo menaikkan satu alisnya. Terjawab sudah rasa kagetnya mendengar nama yang familiar itu.

Pak Muhtar dan Pak Yaya manggut-manggut. Sambil menunggu dua sesi lagi kunjungan ke kelas XI dan Kelas XII, sang kepala sekolah melanjutkan obrolan santai sekalian diplomasi dan negosiasi sewa ballroom hotel Seruni untuk wacana acara reuni akbar. Meminta diskon kepada owner nya langsung.

***

Dua meja disatukan. Anak-anak kelas MIPA 3 berjumlah 10 orang, duduk bersama menikmati jajanan kantin di jam istirahat ini. Topik pembicaraan masih seru membahas seputar gombalan Ami kepada sang motivator.

"Ami keren euy. Berani gombalin CEO Pulangpergi. Aku malah baru niat nanya aja udah gemetar." Sonya terkikik mengingat kejadian tadi di kelas.

Ami memeras sepotong jeruk limau di atas siomay miliknya. Mengaduk-ngaduk hingga tercampur dan menguarkan aroma segarnya yang khas. "Itu karena aku udah kenal sama Kak Akbar. Kalo nggak kenal mah mana berani lah," sahutnya santai. Disambung menyuapkan sesendok penuh siomay rasa ikan tenggiri yang rasanya enak.

"APA?!" Kompak seluruh teman Ami memekik dengan intonasi kaget. Semua mata tertuju pada Ami yang langsung menutup kuping.

"Ya Salam. Telingaku sampe berdengung gini." Ami mengusap-ngusap telinganya sambil memutar bola mata. Sesama pelajar di meja lain pun sampai menoleh.

"Mi, kenal kapan, dimana?" Marga mencondongkan badannya saking penasaran.

"Entar ya ceritanya. Mau abisin dulu siomaynya keburu dingin." Dengan santai, Ami melahap sesendok demi sesendok jajanannya. Membiarkan teman-temannya yang terus merayu agar cepat bercerita.

"Mi, cepetan dong keburu bel." Ifa mencolek pinggang Ami yang duduk di sampingnya. Sudah tidak sabar.

Ami tersenyum menyeringai melihat wajah-wajah kepo yang kompak melipat kedua tangan di meja.

"Jadi gini....Teteh aku yang pertama namanya Teh Puput, nikah sama Kak Rama. Kak Rama itu sepupuan sama Kak Akbar. Bukan sepupu dekat kayak Marga sama Yuma. Kurang tau juga sih silsilahnya. Yang pasti masih kerabat we lah." Jelas Ami.

"Oohhh...." Sahut semua orang kompak satu suara.

"Udah cocok kalau aku bikinin grup paduan suara kayaknya." Ami memutar bola matanya. Dua kali teman-temannya itu menyahut kompak. Ucapannya itu dijawab tawa lepas.

"Nggak nyangka Ami diem-diem bae. Low profile. Padahal dari keluarga Sultan euy." Celetuk Yuma yang mana ibunya adik kakak dengan ibunya Marga. Dijawab anggukkan teman lainnya.

Ami menggoyangkan tangan. "Yang sultan mah mereka. Kalau aku mah B aja." Melihat waktu istirahat lima belas menit lagi, Ami pamit lebih dulu. Memutus obrolan yang menyanjung dirinya.

"Bu, punya Ami totalnya berapa?" Tanya Ami di depan meja kasir.

"Udah dibayar, Neng. Ini siomay yang dibungkunya ya." Ibu kantin memberikan kantong kresek putih.

"Dibayar sama siapa, Bu?" Ami terkejut. Mengerutkan kening.

"Itu lho yang cakep kayak orang Arab. Lupa namanya tadi liat tuh susah dibaca. Cuma depannya Al gitu. Baru aja keluar." Sahut Ibu kantin terlihat keningnya mengkerut saat meraba-raba nama.

Si Emon mungkin ya? Almond Adeba Dhizwar. Dia kan pasang nama di baju tanpa spasi. Bikin pusing yang baca. (Almondadebadhizwar)

Ami menerka itu Almond. Bergegas keluar kantin dengan langkah cepat. Benar saja ia melihat Almond berjalan berdua menaiki tangga.

"Emon, tunggu!" Ami berlari hingga langkahnya sejajar dengan Almond yang berhenti berjalan. "Kamu yang bayarin jajan aku?"

"Iya." Sahut Almond pendek. Temannya Almond hanya diam menjadi pendengar.

"Makasih ya. Tapi lain kali bilang dulu kalau mau traktir. Aku jajannya banyak nih. Aku jadi nggak enak. Tadi di kantin kok aku gak liat kamu deh." Ami berkata apa adanya.

"Tadi aku di pojokan. Minder ah sama genk kamu. Soal traktir, santuy, Mi. Cuma 40 ribu juga. Jajan 400 ribu juga gak masalah kalo buat Ami." Almond menaik turunkan alisnya. Mengajak kembali berjalan.

"Percaya. Anak juragan tekstil Tanah Abang gitu lho." Jawaban Ami membuat Almond tertawa. T

"Itu tadi teman sekelas aku. Kita nggak ada geng - gengan kok. Besok-besok gabung aja biar kamu nggak disangka orang sombong. Padahal aslinya kamu tuh baik,Emon."

"Ya, liat nanti aja." Almond menanggapi singkat.

Ami pamit lebih dulu kepada Almond. Sengaja berlari agar segera sampai di kelasnya karena waktu sudah mepet. Tidak memberi kesempatan Almond menjawab pamitnya.

"Kia, nih makan dulu. Jangan belajar melulu lah. Otak tuh butuh istirahat." Ami menyerahkan tentengannya. Sengaja membungkus karena teman sebangkunya itu tidak pernah ke kantin.

"Ami ih, kenapa repot-repot sih. Aku masih kenyang kok." Kia menutup bukunya. Merasa sungkan dengan kebaikan Ami yang sering membantunya.

"Ngobrolnya nanti. Sekarang dimakan dulu keburu bel 7 menit lagi." Ami membantu membuka box sterofoam. Kelas masih kosong. Teman-temannya masih di kantin.

Kia menurut. Mulai makan siomay dengan kunyahan cepat. "Aku kalo gak belajar sekarang, sore ada kegiatan jadi guru les anak SD. Malam gak ada waktu. Harus bantu Bapak jualan nasi goreng dari magrib sampe jam 9 malam. Belajar subuh paling efektif setengah jam. Soalnya bantu beres-beres rumah dulu. Kalo aku anjlok dari ranking 5 besar, kelas XI aku gak dapat beasiswa lagi. Kalau bayar normal, orang tua mana mampu," ujarnya jujur menjelaskan alasan sebenarnya.

Ami manggut-manggut. Selama ini sudah tahu keadaan ekonomi keluarga Kia. Tapi tidak tahu begitu padatnya jadwal teman sebangkunya itu setiap harinya. Sulung tiga bersaudara itu arus membantu orang tua mencari nafkah karena dua adiknya pun sekolah.

"Udah dulu ngobrolnya. Abisin siomaynya, Kia. Kalo dingin kurang nikmat." Ami beralih membuka ponselnya. Membiarkan Kia fokus makan. Iseng membuka akun sosmed milik Akbar yang baru tadi di follow.

Hingga jam pulang tiba, supercar kuning masih terparkir mencolok di parkiran khusus guru. Ami melihatnya dari selasar lantai tiga. Mungkinkah Akbar akan sholat jumat di masjid sekolahnya? Ia mengangkat bahunya.

***

Ami baru tiba di rumah jam lima sore usai mengikuti kegiatan ekskul rohis. Waktu duduk-duduk di Taman Jomblo bersama teman rohis nya, ia melihat Akbar dan Leo keluar dari masjid. Benar dugaannya, mereka sholat jum'at di Masjid Al Barkah sekolahnya bersama Pak Muhtar dan guru lainnya.

Ami tidak berani menyapa Akbar dan Leo yang berjalan melewati Taman Jomblo bersama kaum Adam lainnya. Memilih membelakangi dan menunduk dengan memeluk tas. Malu. Berbeda dengan teman-temannya yang terdengar sengaja menyapa dengan mengucap salam.

"Bu, abis magrib aku ke rumah Enin ya. Padma ngajak nginep." Ami yang sudah wangi segar usai mandi, mendekati ibunya di dapur.

"Boleh. Nanti sekalian bawa pepes ayam buat Enin." Ibu melakukan tes rasa sop buntut bumbu rempah hasil masakan Aul.

"Nah yang sekarang pas. Cengkeh sama kapulaga terasa hangatnya. Udah oke chef Aul." Ibu membulatkan jempol dan telunjuknya.

"Belum oke, Bu. Aku belum nyicip. Masa dewan juri cuma satu. Nggak fair dong." Protes Ami yang segera menyambar mangkuk dari meja.

Ibu Sekar terkekeh. Aul mencebik. Menurut memberikan kuah sop ke mangkuk yang disodorkan Ami.

"Yaah masa airnya doang sesendok. Semangkuk lah, Teh. Biar terasa enak apa nggaknya. Ini mah cuma nyangkut di tenggorokan."

"Namanya juga tes rasa. Bilang aja lapar pengen makan." Aul sudah bisa membaca modus adik bungsunya itu. Tak urung menuangkan seporsi sop buntut yang masih panas itu. Eksperimen untuk menu baru di cafe Dapoer Ibu nanti.

"Ish, kalau ngomong suka bener deh." Ami tak lagi bicara. Wangi rempah dari sop buntut racikan kakaknya itu memanggil cacing-cacing di perut untuk berdisko. Segera menuangkan nasi ke dalam piring. Membawanya ke meja makan. Tak butuh waktu lama, nasi dan sop habis.

"Beneran Teh, enak banget. Perfecto, Teh." Ami mengusap perutnya yang sudah kenyang.

"Makasih adikku yang imut." Aul tersenyum lebar. Senang hasil eksperimen keduanya dipuji.

"Jadi Teteh mau milih siapa nih? Kak Panji atau Kak Angga?" Tanya Ami, tidak nyambung. Dengan wajah tanpa dosa, mengupas jeruk yang tersaji di meja.

Aul memberengut. Ibu terkekeh.

Ting tong.

Obrolan tidak berlanjut karena terdengar bel pintu berbunyi. Ibu menyuruh Ami untuk melihat siapa yang bertamu.

Ya Salam 🎶

Jangan jangan dulu Janganlah diganggu

Biarkan saja biar duduk dengan tenang

Senyum senyum dulu, Senyum dari jauh

Kalau dia senyum tandanya hatinya mau

Ami sengaja bernyanyi dengan memutari Aul yang membuka apron dengan wajah memberengut. Mencolek dagu, lalu mencolek pinggang kakaknya itu sampai kemudian tak tahan untuk tertawa.

"Ami, itu liat tamu siapa?" Aul mendorong bahu Ami yang terus saja menggodanya. Ibu yang sudah tidak aneh dengan kelakuan Ami, hanya geleng-geleng kepala.

Ami menurut pergi ke arah ruang tamu usai memakai pasmina yang tersampir di sofa. Membukakan pintu. Matanya melebar, dadanya berdebar, melihat siapa yang datang. "Ya Salam!" ceplosnya.

Terpopuler

Comments

⸙ᵍᵏKᵝ⃟ᴸIp

⸙ᵍᵏKᵝ⃟ᴸIp

Yasallam.... Berdebarrr, Fix lah...
Walaupun Ami belum faham untuk saat ini arti dari debaran itu, tapi yang pasti debaran itu lah yang akan mengawali semuanya,.
Semoga yang datang pun merasakan hal yang sama, hatinya berdebar 😍🤭

Duuh yang koment udah Sekecamatan, ketinggalan terus 😔

2023-01-17

151

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

asyik lanjut mi udah kenyang ya

2024-11-10

0

ARKANA20 GAMING

ARKANA20 GAMING

aku juga setuju we lah Ami sm Akbar,,mana tim Ambar,, salam kenal teh Nia dr Cipanas Cianjur
😍😍👍👍🌷🌷

2024-01-07

1

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!