3. Coach Akbar Speechless

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Ami bergegas turun dan berucap terima kasih kepada Mang Kirman. Ibunya tegas dalam membuat aturan. Sebelum usia 17 tahun belum boleh memakai motor ke sekolah. Apalagi membawa mobil, meski sudah bisa menyetir pula. Intinya, harus memiliki SIM dulu.

"Ami!"

Ami memutar tubuh mendengar panggilan suara laki-laki di belakangnya. Ia mengulas senyum yang memperlihatkan dua lesung pipinya. "Hai, Emon," sapanya begitu teman seangkatan beda kelas itu mendekat.

"Almond, Mi. Bukan Emon. Untung aja senyummu manis, jadi aku nggak bisa marah." Protes Almond. Murid berparas tampan blasteran Arab itu, mensejajari langkah Ami memasuki gerbang sekolah. Sama-sama berangkat sekolah diantar sopir.

"Maklum, Mon. Lidah sunda mah begini susah nyebut Almond, enaknya Emon." Ami terkikik.

"Nah, itu bisa."

"Itu kan contoh. Kalau pas bicara bakalan spontan manggil Emon." Ami dan Almond memasuki koridor kelas dan sama-sama berbelok ke kiri menaiki tangga. Berbaur dengan murid lainnya.

"Up to you, Mi. Cuma Ami doang yang boleh manggil gitu. Kalo orang lain, gua eh aku akan marah." Sahut Almond yang merupakan asli Jakarta. Selesai menaiki tangga, sama-sama berjalan di lorong kelas lantai dua yang merupakan jajaran kelas XI dan Lab Kimia serta Lab Komputer.

Ami hanya tertawa. Kini berjalan lagi menaiki tangga menuju lantai tiga. Tempat berjajarnya kelas X dan Lab Matematika. Sementara laboratorium lainnya ada di lantai dasar. Sesekali ia bertegur sapa dengan teman lainnya. Berbeda dengan Almond yang cuek dan terkesan introvert.

"Tau nggak, Mi." Almond melanjutkan mengisi perjalanan dengan berbincang santai.

"Nggak." Sahut Ami, menoleh sekilas.

"Aku belum tamat, Mi." Almond mendengkus kesal. Membuat Ami tertawa lepas.

"Aku tuh awalnya ngambek sama Mami dan Abi. Masa disuruh lanjutin skul di Tasik, di kampung. Gengsi dong gua kan anak gaul Jakarta. Alasan mereka karena takut kebawa arus pergaulan bebas. Secara tetangga rumah ada anak SMP kelas sembilan yang hamil dan gak jadi ikut ujian karena harus lahiran. Dua bulan pertama aku ngerasa stres, ngerasa dibuang, nggak betah skul di sini. Tapi setelah kenal sama kamu, aku jadi betah sekolah di sini."Jelas Almond panjang lebar dengan nada serius.

"Kamu lagi curhat, Mon?" Ami menoleh dengan wajah tanpa dosa.

Sontak Almond menghentikan langkah yang diikuti pula oleh Ami. "Bukan. Aku lagi baca puisi," ujarnya dengan ketus.

Ami terkikik. "Pantesan cewek yang pengen deketin pada takut. Kamunya galak gini."

"Lagian kamu salah, Mon. Ralat dulu, Tasik tuh bukan kampung. Kota kecil yang udah modern. Mall nya Si Anak Singkong aja ada di Tasik. Bisa jadi ortu mu pengen kamu jadi anak soleh. Dapat pendidikan agama yang bagus. Soal pergaulan bebas, sekarang mah nggak di kampung nggak di kota. Soalnya kita punya gadget. Bisa meniru jika kita nggak kuat basic agama." Sambung Ami kali ini serius.

"Kamu benar, Mi. Setelah aku ikhlas sekolah di sini, baru sadar pendidikannya bagus, fasilitas juga lengkap kayak skul di Jakarta. Aku baru gabung ikut ekskul Rohis. Seru juga."

"Eh, awas salah niat, Mon. Masuk Rohis jangan karena ada aku, ya!" Ami memicingkan mata.

"Tapi emang iya sih." Almond nyengir kuda. Sontak ia kabur ke arah kelasnya saat Ami akan menoyor bahunya.

Ami hanya mendecak. Hal pertama yang dilakukan saat masuk kelas adalah melakukan absensi finger print, antri bersama teman-temannya.

***

Dua jam pelajaran pertama sudah selesai. Terdengar kehebohan dari luar kelas. Sontak di dalam kelas Ami pun penasaran dan melongok dari jendela.

"Ada apaan sih?" Tanya Kia pada Ami yang sedang memasukkan buku ke dalam tas. Berganti mengambil buku pelajaran Biologi.

"Nggak tau." Ami menggedikkan bahu.

"Woyyy, ada mobil Sultan baru datang. Sini pada kepoin." Sonya berseru heboh dari ambang pintu. Hampir semuanya berlarian ke luar. Ternyata murid kelas lain pun sudah pada berdiri berjajar di depan pagar tembok. Didominasi murid perempuan, semua melongok ke bawah. Sebagian mengabadikan dengan kamera ponsel.

"Oemji, itu artis bukan sih. Ganteng banget."

"Ya Salam, aku mau dong jadi makmumnya."

"Njirrr. Badannya keren-keren. Kayak di iklan R Men."

"Tuh yang salaman duluan sama Kepsek, aku suka, aku suka."

Dan banyak lagi komentar - komentar siswi yang menjadikan objek di parkiran itu sebagai bahan rumpian. Diiringi tawa cekikikan. Tak lama, murid kelas lain masuk kembali ke kelas karena guru sudah datang.

"Tamu itu bukan sih yang dibilang Pak Yaya kemarin?" Tanya Marga yang kembali masuk ke kelas karena dua orang yang turun dari mobil sport itu diajak memasuki ruang kepala sekolah.

"Bisa jadi. Soalnya Pak Yaya sekarang belum datang." Sahut Sonya yang kembali duduk di bangkunya.

"Mi, kamu nggak keluar sih. Ganteng-ganteng lho orangnya. Terutama yang pake kacamata hitam. Huhuhu keren bingit." Ucap Kia yang kembali duduk di samping Ami.

"Lagi tanggung, Kia. Ini baru beres bales chat dari Teh Aul." Ami menyimpan kembali ponsel dalam mode silent ke dalam tasnya.

Kia tidak jadi melanjutkan cerita. Kegaduhan di dalam kelas mendadak senyap. Itu karena kedatangan Pak Yaya.

"Anak-anak, tamu yang kemarin Bapak bilang, sudah datang. Sebentar lagi akan datang ke kelas kita dulu, didampingi Pak Muhtar. Beliau akan memberikan motivasi. Tolong jangan ada yang main hape, semuanya harus silent. Silakan nanti kalau mau bertanya, ajukan pertanyaan yang sopan. Paham?" Jelas Pak Yaya.

"PAHAM, PAK." Semua murid serempak menjawab.

Sementara itu Akbar dan kepala sekolah bernama Pak Muhtar berjalan beriringan menyusuri koridor. Leo memilih menunggu di ruang kepala sekolah sambil mengerjakan tugas kantor. Sepanjang jalan Pak Muhtar bertindak seolah guide yang menjelaskan semua fasilitas yang terlewati. Hingga keduanya pun tiba di depan kelas X MIPA 3.

"Assalamu'alaikum." Akbar masuk dengan berucap salam diiringi mengumbar senyum. Rasa percaya diri tersirat di raut wajah tampannya yang klimis karena habis bercukur kumis dan jambang. Jam terbang dalam memimpin rapat besar atau kecil, bergaul dengan berbagai kalangan dan berbagai forum, membuatnya tak merasa tegang.

Kompak seluruh murid menjawab salamnya. Hampir semua siswi saling pandang dengan teman sebangkunya diiringi sorot kekaguman dan senyam senyum penuh arti.

Dari bangku paling belakang, Ami melebarkan mata dengan wajah terkesiap. "Kak Akbar? Iya gitu?!" ucap batinnya. Dan segera menutup wajah dengan buku. Merasa tak percaya dan tak menduga. Karena lama tak bertemu dan tak ada komunikasi. Ada rasa girang di hati. Namun senyumnya ia sembunyikan di balik buku.

"Mi, itu yang aku bilang tadi yang pake kacamata hitam. Bener kan keren? Ganteng, kan?" ucap Kia berbisik.

"Ho oh keren bingit. Ganteng kayak gini mah gak akan seperti lagu Rossa." Sahut Ami tak kalah berbisik.

"Maksudnya, Mi?" Kia mengerutkan kening. Atensinya menjadi terlihat ke teman sebangkunya itu.

"Pudar." Sahut Ami enteng. Meski berbicara dengan Kia, namun pandangannya tak pernah lepas menatap lurus ke depan kelas.

"Hihihi, dasar Ami." Kia menoyor bahu Ami. Satu tangannya membekap mulut, menahan tawa.

"Sstt, diem. Lagi mulai perkenalan tuh." Bisik Ami lagi. Masih tetap menyembunyikan wajah di balik buku.

"Anak-anak, sebelumnya Bapak mau memperkenalkan dulu tamu kita. Namanya Akbar Pahlevi Bachtiar. Bisa dipanggil Kak Akbar. Beliau ini merupakan salah satu deretan CEO muda yang ada di Indonesia. Penemu dan pendiri startup Pulangpergi. Bahkan startup nya ini sudah mendapat gelar unicorn."

"Sudah sering dengar kan aplikasi pulangpergi? iklannya seliweran di tv. Pulangpergi membantu masyarakat untuk mudah mendapatkan tiket pesawat, penginapan dan layanan lain saat akan melakukan liburan atau berpergian. Selain itu beliau ini memiliki jaringan hotel juga sebuah mall di Jakarta."

"Kenapa Bapak uraikan kesuksesan Kak Akbar dengan rinci? Supaya menjadi inspirasi untuk kalian semua generasi muda, agar terbakar semangat belajar demi meraih cita-cita."

"Nah, mari kita dengarkan apa dan bagaimana kunci rahasia sukses dari seorang CEO muda bernama Kak Akbar ini. Waktu dan tempat dipersilakan." Pak Yaya mengakhiri opening nya. Ia menuruti permintaan Akbar yang tidak ingin diperkenalkan sebagai donator terbesar sekolah.

Ruang kelas hening. Tidak ada yang bersuara. Semua terpusat kepada sang bintang tamu yang tampan menawan dalam balutan kemeja putih slimfit dan celana chinos krem.

"Selamat pagi adek-adek nu gareulis dan karasep." Akbar mulai menyapa dengan menyisipkan kata bahasa sunda. Wajah yang tenang diiringi senyum penuh keramahan. Sontak semua menjawab serempak dan semangat.

"Sudah tidak perlu perkenalan lagi ya. Karena sudah dijelaskan oleh Pak Yaya."

"Nomer hape sama ig nya belum Kak." celetuk siswi dari bangku jajaran tengah. Sehingga menimbulkan riuh bersahutan berucap membenarkan.

"Oke." Akbar mengangguk dan tersenyum. Ia menuju white board dan menuliskan akun ig nya. "Untuk contact person ada di bio ya. Atau DM juga bisa," sambungnya sambil kembali berdiri di tempat semula.

"Baik, adek-adek. Sebelum lanjut pada materi, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada komite sekolah yang sudah mengundang saya. Ini adalah sebuah kehormatan buat saya bisa bersilaturahmi ke sekolah penuh prestasi ini, Pak." Akbar menatap silih berganti kepada Pak Muhtar dan Pak Yaya. Yang dibalas keduanya dengan senyum dan anggukkan.

"Sebenarnya saya ini bukan seorang motivator. Hanya saja saya berdiri di depan adek-adek semua untuk sharing ilmu." Ucap Akbar yang kini berdiri tegak seorang diri di titik tengah.

"Kalau ditanya sama saya, apa kunci keberhasilan dan apa yang akan membuat kita selalu bisa berada di top level performance. Kunci yang pertama adalah LAWAN DAN KALAHKAN DIRI SENDIRI. Kita sudah tau apa saja kekurangan kita. Nah, lawan dan ubah itu."

Semuanya seolah terbius oleh pemaparan Akbar yang tegas berucap dan bahasanya enak didengar. Hampir gestur semua murid melipat kedua tangan di meja.

"Kedua, KERJA KERAS DAN DEDIKASI. Khusus kalian pelajar, go...benar-benar fight. Gaspol. Nggak ada ampun. Jangan buang waktu dengan berleha-leha kebanyakan rebahan."

Beberapa murid nampak ada yang mencatat poin kunci keberhasilan. Termasuk murid di bangku paling belakang.

"Ketiga adalah PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH. Tingkatkan ketakwaan kita. Perkuat ibadah. Perbaiki niat."

"Dan kunci yang keempat, KONSISTEN, ISTIQOMAH, DISIPLIN. Ini satu paket. Pastikan perbaikan, perubahan, dan kebaikan itu kita pertahankan sekuat tenaga. Nggak usah banyak teori! Stop scroll media sosial! Kejar mimpimu! Taklukan dunia! Siap semangat adek-adek?" Akbar mengepalkan tangan ke udara dengan intonasi membakar semangat.

"SIAP SEMANGAT, KAK!" Kompak semuanya menyahut. Entah siapa yang mulai, semua murid memberi standing aplause.

Akbar tersenyum lebar. "Seperti yang saya bilang, nggak usah banyak teori. Jadi itulah empat kunci yang saya pegang dan praktekkan. Semoga bermanfaat buat adek-adek generasi Z ini. Kalau ada yang mau bertanya, silakan. Jangan malu-malu, harus berani ya." Ia memberi kesempatan sesi tanya jawab.

Satu orang siswa mengacungkan tangan dan berdiri. Akbar menyuruhnya untuk perkenalan dulu.

"Namaku Vino. Tidak ada pertanyaan sih, Coach. Hanya mau mengucapkan terima kasih karena sharing Kakak simple tapi sangat bernilai. InsyaAllah ini menjadi motivasi buat kami belajar lebih sungguh-sungguh dan meluruskan niat yang tadinya datang ke sekolah itu banyak terpaksanya. Mengingat sistem absennya pakai finger print jadi nggak bisa titip absen. Hehehe. Sekali lagi terima kasih banyak Kak untuk coaching and sharing, today." Ucap Vino menutup dengan sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormat.

"Bagus. Saya lihat Vino ini ada bakat jadi pemimpin di lembaga legislatif. Kita aminkan ya!" Ucapan Akbar kompak diaminkan seisi kelas.

"Next, siapa lagi yang mau bertanya? Oke, yang di belakang dulu ya." Akbar memberi kesempatan siswi yang mengacungkan tangan di belakang. Sepertinya pemalu. Karena berdiri sambil menutup wajah dengan buku. Tapi kemudian saat buku diturunkan....

Lho, mirip Ami. Benarkah itu Ami?

Akbar menyembunyikan rasa terkejutnya yang sekilas menghiasi wajah. Kembali dengan bersikap tenang dan profesional.

"Perkenalkan namaku ada dua, Kak. Kakak mau tau namaku yang mana nih?" Tanya siswi yang tak lain adalah Ami.

Kalau Ami sudah bicara, seisi kelas langsung gaduh oleh kekehan. Padahal orangnya belum menyampaikan tanya. Tapi entahlah, pikiran semua orang sudah traveling bakal ada sesuatu yang menggelikan.

"Boleh, perkenalkan saja dua-duanya." Akbar tersenyum simpul.

"Nama asliku Rahmi Ramadhania. Kalau nama bekennya Ami Selimut, Kak. Mau tanya...."

Akbar menahan rasa ingin tertawa dengan cara menahan nafas. Ini bukan situasi dan kondisi yang pas untuk menyapa Ami yang sepertinya tidak berubah narsisnya. Ia pusatkan atensi penuh pada gadis cantik dan imut berkerudung putih itu.

"Kak, kalau tanggal 28 Oktober itu diperingati hari sumpah apa, kak?" Tanya Ami dengan tenang dan serius.

"Sumpah Pemuda." Akbar mantap menjawab.

"Nah, kalau tanggal 29 nya sumpah apa, Kak?" Ami melemparkan pertanyaan kedua.

Akbar mengerutkan kening. "Waduh, saya mungkin buta pelajaran sejarah. Memangnya tanggal 29 nya hari sumpah apa? ujarnya menyerah.

"SUMPAH AKU SUKA KAMU." Ami cengengesan sambil mengacungkan dua jari membentuk simbol V.

Benar kan, dugaan teman-teman sekelas Ami. Bayangkan saja bagaimana riuhnya tawa satu kelas saat ini. Termasuk wali kelas dan kepala sekolah, terkekeh menahan tawa sambil geleng-geleng kepala.

Sementara Akbar menggosok-gosok pangkal hidungnya dengan wajah yang memerah dan senyum meringis. Satu kata, dia SPEECHLESS.

...****************...

Yang belum follow ig, yuk follow : @authormenia Biar tidak ketinggalan update karena kisah AmBar akan disertai foto or video klip mereka di igstory aku.

Terpopuler

Comments

Prilya Mcvee

Prilya Mcvee

wkwkwk Sa ae yaa..
ini yg bikin kangen pengen baca si Ami ma Akbar lagi.. to tweett bgt mereka tuh

2025-04-03

0

Prilya Mcvee

Prilya Mcvee

aduh.. kaum rebahan merasa tersindir ini mah🤭

2025-04-03

0

Khairul Azam

Khairul Azam

aku baca untuk yg kedua kalinya, nunggu novel zaky blm tamat sih jd balik baca ini lagi 🤭

2025-01-16

1

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!