2. Menuju Tasik

"Ami, makasih ya. Mang Kirman, makasih ya." Ucap Kia begitu mobil berhenti saat lampu merah menyala. Dari lampu merah, ia hanya butuh berjalan sekitar 50 meter di trotoar, lalu masuk ke dalam gang. Di situlah rumahnya.

"Sama-sama, Kia. Awas turunnya kaki dulu ya!" Ami memperhatikan teman sebangkunya yang bersiap membuka pintu mobil. Mang Kirman yang menyahut sapaan Kia terdengar terkekeh.

"Nggak. Mau ngegelinding aja." Kia menanggapi guyonan Ami yang setiap hari selalu menciptakan tawa itu. Ia melambaikan tangan begitu sudah di luar mobil.

"Neng Ami, langsung pulang atau jajan dulu?" Tanya sopir yang sudah mengabdi di keluarga Ibu Sekar lebih dari setahun itu. Kegiatannya terutama mengantar belanja ke pasar induk atau mengantar pesanan konsumen Dapoer Ibu.

"Langsung pulang aja, Mang. Aku udah punya donat. Nanti Mang Kir dibagi deh." Ami beralih membuka akun medsosnya selama perjalanan menuju rumah.

Tiba di rumah langsung menuju lantai dua karena ibunya belum pulang dari pengajian. Ami sudah mempunyai kamar sendiri. Menempati kamar bekas kakak pertamanya. Kamar yang paling luas yang ada di rumah itu. Dengan jendela menghadap pemandangan jalan raya. Karena semua orang belum pada pulang, ia memutuskan mandi saja sekalian lanjut menunaikan sholat ashar.

"Amiiiii." Itu teriakan Aul yang baru pulang menyurvei bangunan baru. Ia membuktikan kecintaannya pada usaha kuliner dengan mengelola usaha rintisan yang ada sehingga mampu menabung laba yang banyak. Akan menjadi penerus ibunya mengembangkan sayap Dapoer Ibu. Sebentar lagi Dapoer Ibu 2 dengan konsep cafe, akan segera grand opening. Masih berlokasi di Ciamis, sebelum kawasan Alun-Alun.

Ami membuka pintu masih dengan berbalut mukena. "Apa, Teh?"

"Ada titipan dari Kak Angga, kan?" Aul menaikkan satu alisnya.

"Eciee, tau aja ada hadiah dari Ayang." Goda Ami sembari masuk lagi ke dalam kamar dan membuka mukenanya diikuti oleh Aul.

"Mi, jangan bilang gitu. Entar keceplosan di depan Kak Panji jadi teteh yang nggak enak." Tegur Aul.

"Makanya teteh buruan pilih atuh kasian. Jangan...kau menggantungkan hubungan ini, kau tinggalkan aku tanpa sebab, maunya apa, ku harus bagaimana. Kasih....." Ujung-ujungnya Ami malah bernyanyi dengan penuh penjiwaan di hadapan Aul yang duduk di tepi ranjang.

Aul tidak merasa dinasehati, malah tertawa-tawa. Geli dengan tingkah si bungsu yang tetap saja kelakuannya tidak berubah. Sejak Zaky kuliah di Singapura dan kini masuk semester tiga dengan biaya 100% dari Papi Krisna, penghuni rumah hanya tinggal tiga perempuan saja. Ditambah satu orang ART.

"Diam ya, bocah mah mana paham urusan orang dewasa." Aul siap beranjak keluar dengan menenteng paper bag pemberian Anggara itu.

Ami merentangkan tangan, menghalangi jalan. "Eit, kata siapa bocah. Bentar lagi aku sweet seventeen. Itu artinya bocah udah bisa bikin bocah," ujarnya sambil terkikik.

"Hus, belajar dulu yang bener. Awas ya kalau pacaran!" Aul menyentil kening Ami. Sekali menggelitik pinggang adiknya itu, jalan keluar pun terbuka.

"Teteh, Ibu udah pulang belum?" Teriak Ami menatap Aul yang mulai menuruni tangga.

"Udah." Suara Aul terdengar sudah jauh.

"Ih, kenapa gak bilang. Kan aku pengen oleh-oleh snacknya." Gerutu Ami bicara sendiri. Bergegas menyusul menuruni tangga sambil bernyanyi-nyanyi,

Engkau masih anak sekolah, satu SMA

Belum tepat waktu tuk begitu begini

Anak sekolah datang kemari

Dua atu tiga tahun lagi

Ami mencari Ibu Sekar yang ternyata ada di kamar sedang berganti pakaian. Ia langsung saja berguling di ranjang yang dulunya dipakai tidur berdua dengan ibunya itu.

"Bu, dapat snack nggak? Aku liat di meja nggak ada." Ami menatap ibunya yang sedang menyisir rambut di depan meja rias. Sudah berganti baju daster. Sejak dulu, berburu buah tangan ibunya tiap pulang pengajian adalah kesenangan tersendiri. Suka penasaran dengan isinya.

"Tadinya dapet. Tapi ada nenek yang nggak kebagian, punya Ibu dikasihkan aja. Kasian. Nenek itu juga buat oleh-oleh cucu, katanya sampe suka nungguin di teras. Ami mah nggak dapat snack masih mampu beli, kan?" Bu Sekar duduk di tepi ranjang menatap Ami.

"Iya nggak apa-apa. Aku punya donat madu dari Kak Angga. Tadi pulang sekolah ketemu di parkiran. Kak Angga nitip hadiah buat Teh Aul." Ucap Ami santai. Rambut panjangnya diuraikan ke samping bahu agar tidak kusut.

"Ibu kenapa liatin aku senyum-senyum gitu?" sambung Ami menatap heran ibunya.

"Ibu masih nggak nyangka, Ami udah gede aja. Perasaan baru kemarin segini, sekarang udah segini." Bu Sekar memperagakan ketinggian badan dengan tangan ke bawah lalu berganti naik mendongak.

"Kurang, Bu. Cantik dan imutnya harus disebutin juga." Protes Ami yang berguling hingga beralih tiduran di pangkuan Ibu. Tetap saja masih suka bermanja.

"Iya. Anak bungsu Ibu makin cantik dan selimut. Hati-hati dalam bergaul ya, Neng. Harus pintar pilih teman. Jangan sampe kebawa arus." Ibu mengusap-usap rambut Ami penuh sayang.

"Asiap, Bu komandan." Ami memberi hormat dengan mengangkat tangan. "Eh, nyebut komandan jadi ingat Pak Happy. Bu, Pak Happy masih ada? Perasaan udah lama nggak datang lagi ke sini," sambungnya mendadak terkenang pernah menjahili dengan memberi tebak-tebakan.

"Hm, Ibu dengar sih tinggal di Jerman." Dada Bu Sekar mendadak berdesir. Gara-gara pertanyaan Ami. Nama yang sudah dikubur itu malah tergali lagi. Padahal sudah lama putus komunikasi. Pergi pun tanpa pamit. Hanya tahu informasi dari orang lain saat tak sengaja menguping obrolan saat menghadiri acara di gedung Bupati.

***

Akbar menuruni tangga dengan menenteng koper kecil. Mengenakan hoodie serta celana pendek yang terkesan santai. Rencana kunjungan kerja ke Tasik selama dua hari. Ingin memantau hotelnya secara langsung. Sekaligus memenuhi undangan ke sekolah SMA IT Al Barkah, sebagai motivator.

Sudah ada Leo menunggunya di ruang tengah. Sedang berbincang dengan Mama Mila. Sudah pasti sedang membicarakan seleksi calon pacar, tebaknya.

"Mam, Akbar berangkat ke Tasik sekarang." Akbar sengaja mempersingkat waktu agar pembahasan yang membuat panas kuping itu disudahi.

"Nanti dulu, Akbar. Duduk!" Perintah Mama Mila.

Mau tidak mau Akbar menurut. Duduk di samping Leo yang kentara melirik sambil tersenyum tipis.

"Leo bilang CV belum dibaca semua. Kenapa? Dilihat aja dulu fotonya, Bar. Orang tuh pertama kali bisa tertarik karena visual. Dari tertarik jadi suka, lalu jadi cinta. Mama kan janji nggak akan jodohin lagi. Gantinya ya itu. Masa sih dari semua CV nggak ada satu pun yang menarik. Anak Mama yang ganteng ini normal, kan?" Mama Mila mulai ceramah.

Akbar menyikut pinggang Leo yang kentara membekap mulut menahan tawa. "Iya, Mam. Pulang dari Tasik, Akbar akan pelajari lagi ya. Boleh pamit sekarang, Mam? Biar nggak terlalu malam," ujarnya diiringi memasang senyum manis agar ibunya itu selesai merepetnya.

"Rama anaknya udah mau dua. Adikmu bentar lagi nikah. Kamu kapan, Bar?" Mama Mila rupanya belum puas menceramahi anak pertamanya itu. Jawabannya di luar ekspektasi.

"Kalau Mama kapan mau pulang ke Singapore? Kasian Papa kesepian. Mana di sana ceweknya seksi-seksi. Mama nggak takut Papa ada yang godain?" Tanya Akbar dengan memasang wajah dan senyum jahil. Ibunya itu sudah seminggu ini mengunjunginya. Rumah besar dua lantai ini adalah rumah keluarga. Bahkan rencananya masa tua kedua orang tuanya itu akan kembali tinggal di Jakarta.

"Issshh, Akbar. Kalo orang tua ngomong tuh dijawab." Mama Mila menggeram gemas. Tangannya mencakar bantal sofa yang ada di pangkuannya. "Papa nggak mungkin selingkuh. Udah Mama ancam bakal disunat lagi. Udah ah, Mama mau vc an sama Papa. Sana kalau mau berangkat. Mudah-mudahan ada mojang Tasik yang nyantol." Ia akhirnya ketakutan juga karena ucapan Akbar. Teringat hari ini belum berkomunikasi dengan Papanya anak-anak.

Akbar tersenyum lebar. Menang. Ia beranjak pindah dan memeluk Mama Mila penuh sayang, meskipun akhir-akhir ini ibunya itu menjadi cerewet. Ia maklum. Kekhawatiran sang ibu sebagai bukti rasa sayang padanya.

"Hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut." Mama Mila mengecup kening Akbar.

Leo pun berpamitan dengan mencium tangan Mama Mila.

Pintu garasi bergeser dengan sendirinya hanya dengan menekan tombol. Tiga mobil mewah dan dua motor gede terparkir rapih. Sepeda terpajang di dinding menggunakan pengait khusus. Lengkap mulai dari jenis mountain bike, road bike, juga sepeda lipat.

"Kita pakai mobil mana, Bro?" Tanya Leo. Semua mobil terlihat bersih dan kinclong.

"Si kuning aja. Sekalian test drive di tol Cipularang." Sahut Akbar sambil mengambil kunci Lamborghini di kotak khusus yang menempel di dinding. Dan hanya bisa dibuka dengan password. Mobil sangar yang sangat kinclong itu baru dibelinya dua bulan yang lalu.

" Sini kuncinya!" Leo membuka tangan menunggu lemparan kunci.

"Gue yang nyetir. Pengen gas pol di tol." Tegas Akbar. Tak ingin dibantah.

"Gue aja yang nyetir, Bar. Karna tau lo bakal ngebut. Kalo nggak ngasih itu kunci, gue nggak jadi ikut!" Leo keukeuh memaksa diiringi ancaman.

Akbar menatap dengan sorot protes. Mendengkus kesal. Tak urung melemparkan kunci yang sigap ditangkap Leo.

"Gue ngerasain mental after married itu beda. Udah nggak pengen nongkrong sampe malam, lebih senang quality time berdua. Termasuk nggak berani lagi kebut-kebutan karena ada yang tercinta di rumah, nunggu kita pulang dengan selamat." Ucap Leo begitu mobil sudah melaju di jalan raya terdengar bijak.

"Begitukah?" Akbar menoleh dengan tatapan keraguan.

Leo mengangguk. Pandangannya tetap fokus ke depan. Cukup menyetir dengan kecepatan sedang. Tak dipungkiri godaan ingin mengggeber mobil sport dengan kecepatan maksimal 345 km/jam itu sangat kuat. Tapi bisa dikalahkan oleh mental yang menjadi ciut, takut. "Entar deh lo bakal ngalamin sendiri," ujarnya dengan yakin.

"Beda nih calon Bapak. Lo sekarang jadi dewasa kalo ngomong. Biasanya besok gimana nanti." Akbar tertawa meledek.

Leo hanya nyengir. Teringat kelakuan nakalnya dulu.

Terpopuler

Comments

Tarn Ad

Tarn Ad

param juga di gituan pas mau ketasik beneran kecantol neng Puput mojang Tasik

2025-03-15

0

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

mantap kayak sorum aja mobilnya berjejer

2024-11-10

0

kafa ainshod

kafa ainshod

sama kaya ke dua anakku, pokoknya entah itu mamanya, neneknya entah kakeknya kalo pergi pengajian pasti pulangnya pd nanya snack

2024-10-25

0

lihat semua
Episodes
1 1. Ami Selimut
2 2. Menuju Tasik
3 3. Coach Akbar Speechless
4 4. Ya Salam
5 5. Dapoer Ibu
6 6. Boneka Panda
7 7. Nikah Yuk!
8 8. Sabar
9 9. Tidak Sabar
10 10. Seperti Dancow
11 11. Obrolan Minggu
12 12. Terngiang-ngiang
13 13. Tumben
14 14. Siapa Panda?
15 15. Malam Mingguan
16 16. I Miss You
17 17. Selamat Berjuang
18 18. Mobil Bikin Cemas
19 19. Balonku Ada Lima
20 20. Efek Pisang
21 21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22 22. Ibarat Nama Kota
23 23. Ketagihan
24 24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25 25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26 26. Ada Apa Dengan Ami
27 27. Room Sebelah
28 28. I Like You So Much
29 29. Virus MU
30 30. Mengkudu
31 31. Apapun Kulakukan
32 32. Berangkat Bareng
33 33. Hari Lamaran
34 34. Apa Aku Jatuh Cinta
35 35. Kado Panda
36 36. Sweet Seventeen
37 37. Dikira Calon, Ternyata?
38 38. Mind Mapping
39 39. Ternyata Mimpi
40 40. Step by Step
41 41. Resepsi Siang
42 42. Jebakan Sang Coach
43 43. Belum Waktunya Just Be Mine
44 44. Sarapan Pagi Kita
45 45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46 46. Be Calm, Babe
47 47. Kegelisahan Ami
48 48. Ami Melunak
49 49. Menuju Pertandingan Silat
50 50. Aku halusinasi?
51 51. Hadiah Pepaya
52 52. Undangan
53 53. Kiriman Paket
54 54. Resepsi Aiko
55 55. Resepsi Aiko (2)
56 56. Bismillah, Aku Siap
57 57. Reaksi Mama Mila
58 58. Menunggu Ibu
59 59. Sampai Bertemu Besok
60 60. Cerita Cinta Mekkah
61 61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62 62. Mikirin Mobil
63 63. Bakwan
64 64. Kartu Mengejutkan
65 65. Ada Paket
66 66. Hayuk Ke KUA
67 67. Masih Suasana Lebaran
68 68. Lebaran Kedua
69 69. Tentang Izin
70 70. Ambyar
71 71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72 72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73 73. Blasteran
74 74. Buah tangan
75 75. Jaga Hati
76 76. Kemesraan Ini
77 77. I Love You 3000
78 78. Apotek Tutup
79 79. Hari Yang Ditunggu
80 80. Happy Birthday To You
81 81. Sekuntum Mawar Merah
82 82. Rejeki Si Bungsu
83 83. Pernikahan Ibu
84 84. Pesta Usai
85 85. Usai Liburan
86 86. Awal Sekolah
87 87. Win Win Solution
88 88. Support System
89 89. Ayo Curhat
90 90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91 91. Gempar
92 92. Sikap Ami
93 93. Aku Datang
94 94. Panggil Ami!
95 95. Perjuangan Restu
96 96. Empat Mata
97 97. Deal
98 98. Mulai Menyebar
99 99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100 100. Salaman Lagi
101 101. Tantangan
102 102. Menjelang Pulang
103 103. Bersiap Pulang Kampung
104 104. Obrolan Adik Kakak
105 105. Undangan Panji
106 106. Jawaban Penantian
107 107. Ditunggu di Singapura
108 108. Tamu Rabu
109 109. Ciamis - KL
110 110. Deep Talk Singapura
111 111. Apel Pertama
112 112. Welcome Desember
113 113. Zaky Pulang
114 114. Hari Lamaran
115 115. Melamarmu
116 116. Alarm Bunyi
117 117. Kisah Malam Minggu
118 118. Dua Orang Yang Pergi
119 119. Akbar ke Sekolah
120 120. Paturay Tineung
121 121. Ponsel
122 122. Jiwa Yang Bersedih
123 123. Summer In München
124 124. Ungkap
125 125. Jiwa Yang Berontak
126 126. Hangatnya Summer in München
127 127. Maybe
128 128. Kisah Kasih AmBar
129 129. Akad Nikah
130 130. Aku Bagimu
131 131. Menempuh Hidup Baru
132 Pemenang Giveaway BAJC
133 Extra Part 1
134 Extra Part 2
135 Extra Part 3
136 Extra Part 4
Episodes

Updated 136 Episodes

1
1. Ami Selimut
2
2. Menuju Tasik
3
3. Coach Akbar Speechless
4
4. Ya Salam
5
5. Dapoer Ibu
6
6. Boneka Panda
7
7. Nikah Yuk!
8
8. Sabar
9
9. Tidak Sabar
10
10. Seperti Dancow
11
11. Obrolan Minggu
12
12. Terngiang-ngiang
13
13. Tumben
14
14. Siapa Panda?
15
15. Malam Mingguan
16
16. I Miss You
17
17. Selamat Berjuang
18
18. Mobil Bikin Cemas
19
19. Balonku Ada Lima
20
20. Efek Pisang
21
21. Ikan Arwana Terbang Melayang
22
22. Ibarat Nama Kota
23
23. Ketagihan
24
24. Layang-Layang Terbang Bermanuver
25
25. Awalnya Hampa Jadinya Kaget
26
26. Ada Apa Dengan Ami
27
27. Room Sebelah
28
28. I Like You So Much
29
29. Virus MU
30
30. Mengkudu
31
31. Apapun Kulakukan
32
32. Berangkat Bareng
33
33. Hari Lamaran
34
34. Apa Aku Jatuh Cinta
35
35. Kado Panda
36
36. Sweet Seventeen
37
37. Dikira Calon, Ternyata?
38
38. Mind Mapping
39
39. Ternyata Mimpi
40
40. Step by Step
41
41. Resepsi Siang
42
42. Jebakan Sang Coach
43
43. Belum Waktunya Just Be Mine
44
44. Sarapan Pagi Kita
45
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan
46
46. Be Calm, Babe
47
47. Kegelisahan Ami
48
48. Ami Melunak
49
49. Menuju Pertandingan Silat
50
50. Aku halusinasi?
51
51. Hadiah Pepaya
52
52. Undangan
53
53. Kiriman Paket
54
54. Resepsi Aiko
55
55. Resepsi Aiko (2)
56
56. Bismillah, Aku Siap
57
57. Reaksi Mama Mila
58
58. Menunggu Ibu
59
59. Sampai Bertemu Besok
60
60. Cerita Cinta Mekkah
61
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang
62
62. Mikirin Mobil
63
63. Bakwan
64
64. Kartu Mengejutkan
65
65. Ada Paket
66
66. Hayuk Ke KUA
67
67. Masih Suasana Lebaran
68
68. Lebaran Kedua
69
69. Tentang Izin
70
70. Ambyar
71
71. Pertemuan Yang Kuimpikan
72
72. Berburu Rusa Ke Bukit Barisan
73
73. Blasteran
74
74. Buah tangan
75
75. Jaga Hati
76
76. Kemesraan Ini
77
77. I Love You 3000
78
78. Apotek Tutup
79
79. Hari Yang Ditunggu
80
80. Happy Birthday To You
81
81. Sekuntum Mawar Merah
82
82. Rejeki Si Bungsu
83
83. Pernikahan Ibu
84
84. Pesta Usai
85
85. Usai Liburan
86
86. Awal Sekolah
87
87. Win Win Solution
88
88. Support System
89
89. Ayo Curhat
90
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu
91
91. Gempar
92
92. Sikap Ami
93
93. Aku Datang
94
94. Panggil Ami!
95
95. Perjuangan Restu
96
96. Empat Mata
97
97. Deal
98
98. Mulai Menyebar
99
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan
100
100. Salaman Lagi
101
101. Tantangan
102
102. Menjelang Pulang
103
103. Bersiap Pulang Kampung
104
104. Obrolan Adik Kakak
105
105. Undangan Panji
106
106. Jawaban Penantian
107
107. Ditunggu di Singapura
108
108. Tamu Rabu
109
109. Ciamis - KL
110
110. Deep Talk Singapura
111
111. Apel Pertama
112
112. Welcome Desember
113
113. Zaky Pulang
114
114. Hari Lamaran
115
115. Melamarmu
116
116. Alarm Bunyi
117
117. Kisah Malam Minggu
118
118. Dua Orang Yang Pergi
119
119. Akbar ke Sekolah
120
120. Paturay Tineung
121
121. Ponsel
122
122. Jiwa Yang Bersedih
123
123. Summer In München
124
124. Ungkap
125
125. Jiwa Yang Berontak
126
126. Hangatnya Summer in München
127
127. Maybe
128
128. Kisah Kasih AmBar
129
129. Akad Nikah
130
130. Aku Bagimu
131
131. Menempuh Hidup Baru
132
Pemenang Giveaway BAJC
133
Extra Part 1
134
Extra Part 2
135
Extra Part 3
136
Extra Part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!