Waktu makan malam...
Keluarga ayah Indra duduk bersama di meja makan untuk menikmati makan malam mereka. Suasana hening dan hanya dentingan sendok bersama piring beradu yang terdengar.
Tuti gelisah sendiri di kursinya meski sedang makan. Dan itu terlihat jelas semuanya di mata ayah Indra.
"Kenapa, Ma?" Tanyanya.
Ayah Indra selalu memanggil Tuti seperti cara Dea memanggil wanita itu saat ada anak-anak. Tentu saja untuk menghargai wanita itu.
"Eh, memangnya Mama kenapa?" Tanya Tuti balik dengan wajah kikuk.
Ayah Indra menghembuskan napasnya pelan sembari geleng kepala.
Dea melirik mamanya yang nampak gelisah itu, tentu saja gadis itu tahu alasan sang mama begitu.
Pasti mamanya sedang bingung, bagaimana cara menyampaikan keinginannya itu pada ayah tirinya. Sebab mereka tahu pasti kalau gadis yang jadi incaran Tuti itu adalah kesayangan para pria di rumah itu.
Hingga selesai makan malam, ayah Indra duduk di ruang keluarga menonton tv. Kal dan Dea duduk di sofa yang berbeda-beda sembari memainkan ponsel masing-masing.
Tuti datang membawa segelas kopi yang di letakkan di meja. Tepat di hadapan ayah Indra.
"Ayah! Ada yang aku omongin sama kamu. Terutama, Kal."
Tuti bicara dengan suara pelan dan takut-takut.
"Kalau memang ada masalah, bicara terus terang." Suara ayah Indra malah semakin membuat tubuh Tuti menegang.
Ia sudah merasa takut lebih dulu untuk bicara. Namun demi keberlangsungan hidupnya, wanita itu memberankkan diri untuk angkat suara.
"Begini, Yah. Mama berencana mau jodohin Kal sama anak temen Mama." Tuti melirik sang suami untuk melihat reaksinya.
Merasa suaminya diam saja dan tak merespon, Tuti melanjutkan kalimatnya.
"Temen Mama mau cari jodoh untuk anaknya. Kemarin sewaktu di acara arisan, dia bilang kalau ada yang punya anak gadis bisa di kenalin ke mereka."
"Siapa nama teman kamu itu?" Tanya ayah Indra buka suara.
Pria itu memang selalu santai dalam menghadapi setiap masalah. Meski ia kaget saat Tuti mengatakan ingin menjodohkan putri ke sayangannya. Tapi pria itu tak ingin bereaksi berlebihan.
Sedangkan yang di bicarakan sudah melotot kaget dengan apa yang di ucapkan ibu tirinya itu. Ingin protes tapi ia tahan, sebelum ayahnya memintanya untuk berkomentar.
"Dia nyonya Asti, istri dari pengusaha paling sukses di negara kita."
"Kenapa bukan Dea saja yang kamu jodohkan dengan anaknya?"
"Eh, aku sudah punya pacar, Yah." Dea buka suara saat ayah tirinya menyebut namanya.
"Mama, sudah tawari pada Dea. Tapi dia menolak karena sudah punya pacar, tidak mungkin Mama paksa."
Pandangan Tuti beralih pada Kal yang menatap ayahnya.
"Kamu mau, Kal? Tante Asti itu orang baik kok. Mama yakin anaknya juga pasti orang baik." Rayu Tuti berharap anak tirinya mau.
"Aku belum mau menikah, kuliah saja belum selesai. Masih harus magang juga," sahut Kal.
"Mama sudah mengatakan pada tante Asti kalau besok malam kita akan bertemu dengan keluarganya. Bahkan Mama sudah bilang kalau kamu setuju dengan perjodohan itu."
"Kenapa kamu mengambil keputusan seperti ini tanpa bicara padaku? Apa kamu pikir aku sudah tidak ada? Jika itu untuk Dea, aku tidak akan ikut campur. Tapi ini putriku sendiri, kamu seharusnya bicara padaku lebih dulu."
Tuti terdiam menunduk tanpa berani mengangkat kepala. Ayah Indra sudah mulai menampakkan kemarahannya mendengar ucapan istrinya yang terlalu sesuka hati memutuskan masa depan anaknya.
"Aku hanya ingin yang terbaik untu, Kal."
"Yang terbaik untuk Kal? Bukannya tadi kamu bilang sudah menawari perjodohan itu untuk Dea. Tapi Dea menolak, lalu kamu alihkan pada Kal. Itu yang kamu sebut yang terbaik? Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan perasaan anakmu."
Ayah Indra berdiri dari duduknya.
"Anak Asti yang mana, yang ingin di jodohkan dengan Kal?" Tanyanya yang membuat Kal menatap ayahnya heran.
Untuk apa ayah menanyakan hal itu, pikirnya.
Sedangkan Tuti tersenyum bahagia karena merasa suaminya akan menyetujui keinginanya.
"Kata nyonya Asti, untuk anaknya yang pertama." Tuti tidak mengatakan status anak temannya itu pada suaminya.
Tuti takut kalau sampai ia mengatakannya, maka suaminya bisa saja memarahinya kembali.
"Katakan pada temanmu itu, besok kita akan bertemu untuk membahas hal ini lagi."
"Iya, Yah."
Tuti tersenyum girang mendengar kalimat yang di ucapkan suaminya.
Sedangkan Kal, jangan di tanya lagi bagaimana gadis itu merespon tanggapan ayahnya.
"Tidak Ayah! Aku tidak mau, Titik!"
"Tidak ada bantahan, Kal. Titik!"
"Ayah ..." rengek Kal memeluk ayahnya yang hendak beranjak.
"Sudah malam, waktunya kamu tidur. Besok Ayah antar ke kampus." Ayah Indea menggendong Kal di kedua lengannya.
"Tidak mau Ayah, aku belum mau menikah. Aku masih kecil." Kal terus merengek tidak mau di jodohkan.
Bahkan kedua kaki gadis itu ia goyang-goyangkan layaknya anak kecil yang tidak di turuti keinginannya.
Sementara ayah dan anak itu pergi ke lantai atas. Tuti nampak bersenandung pelan sembari menghubungi orang di seberang sana.
Beberapa saat kemudian, wanita itu sudah selesai menelpon. Wajahnya bahkan terlihat sangat bahagia.
"Aku harap Mama lebih hati-hati lagi lain kali. Mungkin kali ini Mama beruntung, tapi keberuntungan tidak selalu menyertai. Apa lagi kalau sampai ayah tahu ada niat terselubung di balik perjodohan itu." Dea mengingatkan mamanya.
"Niat terselubung apa? Mama kan sudah berbaik hati memberikan anak tomboy itu jodoh. Sekaligus mendapatkan keuntungan pastinya."
"Dia sudah menguasai ayah kamu bertahun-tahun. Bahkan semua yang Mama inginkan dia punya. Kebahagiaan, kekayaan, semua dia punya dan bisa nikmati. Sekarang biarkan Mama mendapatkan banyak keuntungan dari anak tomboy itu."
Tuti tersenyum bahagia sembari berdiri dari duduknya. Membawa gelas kopi yang bahkan belum tersentuh oleh ayah Indra.
"Ah ... sebentar lagi kantongku akan semanis kamu kopi," gumamnya melihat kopi di gelas.
"Mama sudah seperti orang tidak waras." Ejek Dea pada mamanya.
"Terserah, kamu saja yang bodoh. Tidak bisa mengambil hati ayah tiri kamu itu supaya bisa hidup mewah. Kalau perlu kamu jadi penjilat sekalian, siapa tahu kamu bisa lebih di sayang sama ayah tiri kamu yang pilih kasih itu?"
Tuti berjalan menuju dapur dengan riangnya.
Dea memang tak pernah mempermasalahkan kasih sayang ayah Indra yang lebih dominan pada Kal. Masih di beri perhatian dan uang untuk kuliah dan pribadinya saja, Dea sudah sangat berterimakasih.
Dea tidak akan meeibutkan kasih sayang ayah Indra, karena sebenarnya tanpa sepengetahuan Tuti. Dea sering bertemu dengan papa kandungnya dan mendapatkan nafkah.
Dea bahkan sering menginap di rumah papa kandungnya kala ada waktu luang atau sangat merindukan papanya.
Dea mengangkat kedua bahunya acuh dan tak perduli dengan apa yang di lakukan mamanya. Gadis itu berjalan menuju kamarnya sembari bermain ponsel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
ayu nuraini maulina
bagus lah dirimu g sama kyk ibumu
2023-08-15
0
Yoni Hartati
bener2 istri siri yg tdk tau diri
2023-01-25
1