Bahaya

Tabung-tabung yang berada di hadapan Baron mulai terbuka. Secara perlahan, cairan yang barada dalam tabung itu disedot keluar. Tak berapa lama terlihatlah sosok yang berada di dalamnya. Sepuluh pria dalam keadaan telanj**** keluar dari sana. Selayaknya bayi yang baru terlahir ke dunia. Wajah mereka identik, karena mereka berasal dari benih yang sama.

Baron tersenyum menyambut kehadiran sang "putra". Dia sangat kagum dengan hasil kerja Omega, ilmuwan yang bekerja padanya. Pria yang juga adalah rival Hans.

"Selamat datang, putra-putraku."

Pria itu mengangkat kedua tangannya. Menyambut hangat pada putranya. Menakjubkan. Satu kata lagi yang mampu mewakili rasa yang dimiliki oleh Baron saat ini.

Anak-anak Baron memeluk sang ayah satu persatu setelah mengenakan pakaian. Anak-anak Baron adalah ciptaan yang seratus persen adalah manusia. Bukan robot ataupun makhluk cyber ataupun mutant. Hanya saja Omega menambahkan kemampuan bertarung tingkat tinggi pada kesepuluh putra Baron.

Pria itu lantas memundurkan diri, berganti menatap pada May yang merasa terharu. Dia memiliki putra sekarang. Sepuluh putra yang wajahnya sangat mirip dengannya.

"Sapalah, mereka adalah putramu."

May mendekat ke arah sepuluh putranya. Seolah memiliki ikatan batin. Mereka semua langsung berpelukan, bahkan anak-anak May bisa menangis. Mereka mampu merasakan emosi seperti manusia pada umumnya.

Melihat hal itu, Baron ikut terharu. Dalam hati dia bertekad akan melindungi keluarga kecilnya. Tanpa dia tahu, Omega menyeringai penuh arti.

"Jika begini caranya, aku juga bisa membangun pasukanku sendiri."

Batin Omega senang.

Di sisi lain, Lucy tampak bergelayut manja di lengan Aro. Sementara Aro senantiasa memasang tampang datarnya. Di belakangnya, tampak Nara dan Lucifer yang berjalan mengikuti keduanya. Jika Lucy begitu menikmati moment saat bersama Aro, Nara justru sebalikya. Gadis itu masih canggung jika harus berdekatan dengan Lucidfer.

Beberapa kali tangan dingin Lucifer bergesekan dengan tangan hangat Nara. Pria itu melirik Nara melalui sudut matanya. Gadis itu melihat ke arah Aro dan Lucy, sesekali melihat ke kiri kanan jalan yang mereka lalui.

Lucifer menarik satu ujung bibirnya kala mata Nara fokus pada satu tempat, dengan tangan Nara reflek memegang ujung jas Lucifer takut jatuh atau menabrak sesuatu.

"Apa yang kau lihat?"

Nara kembali melihat ke arah Aro dan Lucy yang masih berjalan di depannya. Lucifer mencoba masuk ke benak Nara, hingga pria itu tersenyum.

"Mau itu lagi?"

Lucifer menunjuk kedai es krim di seberang jalan. Lagi-lagi, gadis itu hanya menginginkan es krim. Pria itu lantas menarik Nara untuk berbelok ke arah kedai es krim itu.

"Aku nggak mau."

Tolak Nara, melihat es krim, gadis itu jadi teringat ciuman mereka saat memakan es krim. Hal itu masih membekas di ingatan Nara.

"Aku tidak akan menciummu kalau kau makan dengan benar."

Nara memanyunkan bibirnya. Mana ada orang makan es krim bisa rapi tanpa belepotan. Lucifer aneh. Tak berapa lama Aro dan Lucy ternyata menyusul Nara serta Lucifer.

"Kak, aku mau."

Rengek Lucy pada Aro. Tanpa kata Aro ikut mengantri di belakang Nara dan Lucifer. Melihat hal itu, Lucy melebarkan senyumnya.

"Sebenarnya hubungan mereka itu seperti apa sih?"

Setelah diam saja dari tadi, akhirnya mulut Nara gatal juga untuk bertanya soal Aro dan Nara. Keempatnya duduk di dua bangku taman saling berhadapan. Meski wajah Aro selalu datar. Tapi pria itu selalu menurut pada permintaan Lucy. Pria itu kini memegang satu cup es krim milik Lucy.

Lucifer sesaat melihat ke arah Nara yang tampak asyik dengan es krimnya. Lucu sekali ekspresi Nara saat menggigit sendok es krimnya.

"Jangan menggigit sendoknya. Kalau kurang aku belikan lagi."

"Isshh, aku nanya apa. Dia jawabnya apa."

Lucifer mengulum senyumnya. Pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku itu. Lantas melipat tangan.

"Lucy sudah tertarik pada Aro, bahkan sejak Aro baru lahir. Lucy lebih tua dari Aro. Tapi Lucy menolak memanggil adik pada Aro. Menurutnya karena ayah Aro lebih tua dari ayahnya. Jadi dia kekeuh memanggil kakak pada Aro. Terlebih Lucy dengan pedenya mengklaim kalau Aro adalah calon suaminya."

Lucifer menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Lucy. Sementara Nara fokus pada Aro dan Lucy dengan sendok tergigit di mulutnya. Heran dengan hubungan Aro dan Lucy.

"Eehh."

Nara merengut ketika Lucifer merebut sendok yang ada di mulutnya.

"Makanya makan es krim. Bukan sendoknya."

Di depan sana terlihat Aro yang tengah disuapi oleh Lucy. Pria itu lagi-lagi hanya menurut pada keinginan Lucy.

"Oh iya, dia kan juga....vampir...(Nara berbisik di telinga Lucifer. Saat pria itu menundukkan wajahnya)...dia bisa makan es krim....."

"Aku juga bisa makan. Tapi aku lebih suka darah....apalagi yang dihisap langsung dari lehermu....pasti manis rasanya."

Nara buru-buru menaikkan kerah coatnya. Menutupi leher yang tadinya terpampang jelas, karena Nara menguncir tinggi rambutnya. Lucifer kembali mengulum senyumnya. Dia menyukai raut ketakutan di wajah Nara.

"Jangan sembarangan bicara ya."

"Kau mulai berani ya?"

Ledek Lucifer. Satu tatapan menantang Lucifer dapat dari Nara.

"Apa hubungan mereka akan berhasil?"

Lucy bertanya setengah berbisik pada Aro. Mereka sejak tadi diam-diam memperhatikan tingkah Nara dan Lucifer yang sibuk berdebat.

"Entahlah."

Jawaban singkat Aro membuat Lucy kesal. Selalu saja seperti itu.

"Jangan hanya entahlah. Kan Kakak yang selalu ada di samping kak Lucifer."

"Memang iya. Tapi hubungan mereka masih begitu-begitu saja. Tidak ada romantis-romantisnya."

"Dasar vampir kaku. Dia itu selalu seperti itu."

"Biarkan saja. Yang penting mereka berdekatan. Setidaknya untuk saat ini, hal itu yang paling penting."

Lucy mengangguk paham. Gadis itu tersenyum. Aro mulai banyak bicara. Tak lama keempatnya kembali melahap es krim masing-masing, sembari menikmati suasana malam yang tenang. Meski detik berikutnya, Aro langsung melihat ke arah Lucifer. Suasana malam yang tenang malah membuat dua pria itu waspada.

"Kenapa sih selalu saja ada yang mengganggu kesenanganku."

Lucifer mengumpat, hingga Aro yang berada di depannya mengulas senyum tipisnya.

"Ada yang datang."

Lucy tiba-tiba berkata. Wanita itu melirik ke arah Nara yang masih memakan es krimya dengan lahap. Di sampingnya, Lucifer menatap tajam pada sang adik.

Hingga angin berhembus lumayan kencang, membuat Nara berhenti memakan es krimnya. Gadis itu memindai lingkungan sekelilingnya. Sepi tapi terasa aneh. Sunyi yang membangkitkan bulu kuduk di tengkuk Nara.

Tak berapa lama, sekumpulan pria berhodie hitam muncul dari berbagai arah. Mereka seketika mengepung keempatnya.

"Menyebalkan sekali. Es krimku belum habis."

Lucy merengek karena es krimnya belum habis separuhnya. Sedang Nara langsung memasang wajah waspadanya. Sama dengan Lucifer dan yang lainnya.

Nara memundurkan langkahnya begitu melihat satu di antara mereka membuka hodie-nya. Melihat itu, Lucifer dengan cepat membawa tubuh Nara untuk bersembungi di belakang tubuhnya. Dengan Lucy dan Aro mulai mengitarinya.

"Kenapa kau takut padaku. Aku hanya ingin mengenalkan putraku padamu. Lihat, meski kau mengambil dia dariku. Aku bisa lebih bahagia darimu."

Lucy mendelik mendengar perkataan orang itu.

"Kau main serong dengan manusia lain?"

"Sembarangan kalau ngomong. Nanti aku jelaskan."

"Tidak perlu. Aku akan mencari tahu sendiri."

Lucifer kembali melihat ke depan. Di mana sepuluh pria berhodie hitam berdiri di samping kiri dan kanan May.

"Dia berhasil membuat keturunan campuran. Juga menggunakan serum pertumbuhan Hans."

"Ini bahaya."

****

Jempolnya...jempolnya ditunggu...👍👍😘😘

Terpopuler

Comments

Damar Pawitra IG@anns_indri

Damar Pawitra IG@anns_indri

entah mengapa aku jadi bayangin twilight bund hahahha ....
mbayangin lucy tuh kayak alice

2023-02-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!