Bertemu Lucy

Kredit Pinterest.com

Lucifer masuk ke sebuah lift transparan, berbentuk bundar, yang berada di tengah lobi kantor VR Group. Lift itu bergerak naik menuju lantai 60 di mana ruangannya berada.

Sepanjang perjalanan itu, baik Lucifer maupun Aro tidak saling bicara. Keduanya terdiam. Tanpa orang tahu, kalau Lucifer tengah berkomunikasi dengan Dominic. Kakaknya, putra dari Krum dan Rin.

"Aku sudah sampai. Kau bisa mengirimkan filenya padaku."

Meski sebenarnya Lucifer bisa menebak isi data yang ingin Dominic laporkan.

Kredit Pinterest.com

Lucifer dengan cepat membuka laptop canggihnya. Ketebalannya hanya setebal kaca. Terlihat sangat rapuh, padahal tidak akan pecah jika jatuh.

Sebuah data langsung masuk dan Lucifer terlihat mengamatinya. Keningnya mengerut melihat file yang dikirim oleh Domimic.

"Ini tidak mungkin."

Gumam Lucifer. Di belakangnya Aro setia menunggu. Hingga Lucifer memberikan laptop tersebut pada Aro.

"Apa dia sudah memulainya?"

Aro bertanya sembari menggeser layar benda canggih tersebut. Lucifer mengangguk pelan. Dia pikir kini semua tidak akan sama lagi. Jika Baron mulai bergerak untuk meninfeksi orang-orang, maka pihak mereka harus sudah siap dengan serum penawarnya.

Dari info terakhir yang Lucifer terima dari Hans. Serum penawar itu tinggal menunggu penyempurnaan saja. Meminimalkan efek samping yang mungkin timbul dari virus vampir tersebut.

Tak berapa lama, Lucifer kembali menjalin komunikasi dengan Dominic. Pria itu meminta sang kakak untuk mengetatkan patroli mereka. Terutama di wilayah yang dianggap rawan. Agar kehilangan manusia yang diculik Baron untuk dijadikan uji coba bisa ditekan.

"Apa dia belum mau berubah?"

Lucifer menggeleng. Demi keselamatan Dominic yang bekerja di perbatasan, pihak keluarga, terutama sang ibu menyarankan, agar Dominic mengubah diri menjadi vampir seutuhnya. Tapi sampai sekarang pria itu belum mau melakukannya. Alasannya dia masih bisa menjaga diri. Dia tidak tahu saja kecemasan yang sering melanda Rin kalau Dominic pergi ke perbatasan.

"Bisa kau menjemputnya? Dia ada di lantai bawah."

Kata Lucifer. Tak berapa lama, Aro pun menghilang dari pandangan Lucifer. Sesaat, Lucifer berdecak kesal. Aro selalu saja sesuka hatinya. Main menghilang dan muncul saja sembarangan. Tapi mau bagàimana lagi. Sifat sang ayah menurun hampir seratus persen padanya.

Sepeninggal Aro, Lucifer menegakkan badannya. Merasakan ada sesuatu tengah mendekat ke arahnya. Waspada, Lucifer memasang sikap berjaga-jaga. Hingga kewaspadaan Lucifer langsung menghilang. Begitu mendengar suara cempreng seorang gadis.

Lucifer memejamkan mata, ketika seorang gadis langsung menubruk, memeluknya.

"Aku rindu padamu....Kak."

Kejadian itu bersamaan dengan Aro yang masuk bersama Nara. Untuk sesaat, Nara terpaku di tempatnya. Melihat Lucifer dipeluk seorang wanita cantik. Seorang gadis berambut panjang dengan bola mata berwarna ungu. Perpaduan iblis dan vampir yang sangat sempurna. Dialah Lucy Ameythis Verona. Adik Lucifer, putri dari Lucas, sang paman dan Asha, ratu dunia iblis saat ini.

"Kau membuatnya salah paham, Lucy."

Lucifer seketika melepaskan diri dari belitan tangan ramping sang adik. Calon ratu iblis itu merengut. Pasti begitu, Lucifer tidak pernah hangat padanya. Sikap dinginnya membuat Lucy kesal. Lucifer memang terkadang menyebalkan, beda dengan Lucio. Adik kandung Lucifer itu terkenal lebih hangat dan humble pada semua orang.

Sedang Nara yang berada di balik punggung Aro hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada rasa tidak nyaman saat melihat sang suami dipeluk wanita lain. Cemburukah dia?

Mengabaikan perkataan Lucifer, senyum Lucy mengembang. Melihat Aro yang langsung melengos, saat beradu pandang dengan putri Lucas tersebut.. Dia memilih menghindari tatapan Lucy. Tapi sepertinya kali ini, perhatian Lucy tidak bertumpu pada Aro. Tapi pada Nara.

Lucy jelas sudah tahu kalau sang sepupu sudah menikah. Hampir semua orang di Black Castel tahu. Tapi semua orang belum tahu seperti apa rupa istri Lucifer tersebut.

Wanita itu berjalan ke arah Nara, setelah mencium tanpa permisi pipi Aro. Membuat pria itu mendengus geram. Lucy selalu saja seperti itu. Sedang Lucifer langsung geleng-geleng melihat keagresifan Lucy.

"Halo, kamu pasti istri Lucifer kan. Aku Lucy, adik sepupunya."

Nara membulatkan mata abu-abu. Ha? Dia baru saja berpikir yang tidak-tidak soal hubungan Lucifer dan Lucy. Tapi barusan gadis itu juga mencium pipi Aro. Sebenarnya hubungan mereka bertiga itu seperti apa sih. Nara bingung melihat interaksi tiga orang itu.

"Malah melamun."

Nara tersentak ketika Lucifer menatapnya tajam serta satu pikiran pria itu yang masuk ke kepalanya. Nara segera menguasai diri. Lalu berusaha tersenyum ramah pada Lucy.

"Aku Nara."

Nara masih belum menerima kenyataan kalau dirinya memang sudah menikah dengan Lucifer. Meski hubungan keduanya semakin dekat saja.

Lucy mendekati Nara, mengajaknya berjabat tangan. Begitu tangan keduanya bersentuhan. Rasa tersengat aliran listrik seperti terasa di kulit Nara. Meski begitu dia tidak melepaskan jabat tangan mereka.

Lucy mengukir smirk di bibirnya. Nara cukup kuat menghadapi teror halusnya.

"Apa kamu betah dengan pria kaku dan dingin seperti dia?"

Lucy bertanya dengan wajah meledek ke arah Lucifer. Pria itu mendelik ke arah Lucy, sedang Nara kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Jangan membuatnya berpikir aneh-aneh soal diriku."

Lucifer berucap sembari melepas jasnya. Meninggalkan kemeja maroon yang sangat kontras dengan kulit pucatnya. Di sisi lain Aro juga mulai bekerja, sama dengan Lucifer yang mulai tenggelam dalam kesibukannya.

Melihat hal tersebut Nara salah tingkah. Kenapa juga dia harus duduk di sini jika hanya mengobrol dengan Lucy. Gadis sepertinya mudah bergaul. Sangat cerewet tapi menyenangkan di mata Nara. Lama-lama, Nara pun ikut hanyut dalam topik pembicaraan yang Lucy hadirkan. Sesekali tawa mulai terdengar di sudut ruangan Lucifer itu. Hingga pria yang terkenal dingin itu bisa menarik dua sudut bibirnya. Dia tersenyum simpul.

"Kakak belum menandainya?"

Lucy bertanya sembari melipat tangannya. Melihat pemandangan kota dari kantor Lucifer. Di sofa bed, Nara tertidur setelah menikmati makan siang dengan Lucy.

"Dia tidak akan mengizinkan."

"Apa kakak tidak tertarik padanya. Dia cantik, baik. Pintar....."

"Tentu semua yang ada dalam dirinya adalah yang terbaik. Ingat... dia diciptakan. Hans tentu memilih sifat DNA paling bagus." Ekor mata Lucifer melirik Nara ketika gadis itu menggeliat pelan. Jas Lucifer segera terbang menutupi tubuh sang istri. Meski Nara memakai pakaian tertutup.

Lucy memanyunkan bibirnya ketika Lucifer memotong ucapannyà.

"Apa kakak akan jatuh cinta padanya?"

Akhirnya pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Lucy.

"Aku.....belum tahu. Kenapa kau ingin tahu sekali."

"Tentu saja aku ingin tahu. Apa kakak ini normal, apa kakak tidak ada keinginan untuk memakannya atau malah bercinta dengannya."

Goda Lucy. Lucifer melotot mendengar pertanyaan vulgar sepupu yang memang terkenal jahil dan no filter kalau bicara.

"Jaga bicaramu Lucy."

Desis Lucifer. Tapi bukannya takut, Lucy malah semakin getol menggoda Lucifer. Kesal, hal itu yang selalu Lucifer rasakan saat bertemu Lucy.

"Kau ini memang menyebalkan. Aku jadi heran apa Aro akan menerimamu."

"Dia akan menjadi menjadi milikku. Kakak tenang saja."

Lucifer berdecih pelan mendengar jawaban penuh percaya diri dari Lucy.

*****

Terpopuler

Comments

Damar Pawitra IG@anns_indri

Damar Pawitra IG@anns_indri

noooo... Lucy bar bar tapi aku suka...

2023-01-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!