Vampir? Lucifer vampir. Dua kata itu kini terasa berputar di kepala Nara. Gadis itu masih tidak percaya jika pria yang menikahinya adalah seorang vampir. Makhluk abadi yang suka menghisap darah manusia.
Jika Lucifer vampir, bagaimana dengan dirinya. Apa dia juga akan menggigitnya untuk dihisap darahnya. Nara seketika menyentuh lehernya, gadis itu bergidik ngeri. Mengingat bagaimana Lucifer menjilat lehernya tadi.
Dalam pikiran Nara langsung terbayang adegan ketika seorang vampir tengah menghisap darah korbannya. Nara langsung meringis seolah bisa merasakan taring Lucifer menembus nadi lehernya, lantas pria itu menghisap darahnya.
"Apa kau benar-benar ingin kuhisap darahnya."
Ha? Nara hampir menjatuhkan tabung reaksinya. Terkejut mendengar suara Lucifer di kepalanya.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan sebelum kau meledakkan lab Hans."
Duaarrr....
Aarrgghhh...
Nara menjerit ketika ledakan terjadi. Gadis itu menunduk dengan tangan reflek memeluk tabung reaksi yang tengah dipegangnya. Tanpa dia tahu, Hans sudah menaungi tubuh Nara sejak tadi. Begitu suara ledakan selesai terdengar, Hans dengan cepat merebut tabung reaksi yang dipegang Nara. Karena tabung itu juga berpotensi meledak.
Nara melongo melihat Hans ternyata ada di dekatnya. Padahal setahu dia, Hans tidak berada di sana. Pria itu berada di divisi lain.
"Apa yang terjadi?"
Excel bertanya sembari mengekor di belakang Hans.
"Tabung reaktor mini meledak. Kemungkinan salah kalkulasi."
Mata Hans berkilat merah. Menatap lurus ke depan. Di belakang mereka, Nara tampak mematung melihat kepergian Hans dan Excel.
*
*
Kredit Pinterest.com
Malam datang, Nara berjalan keluar dari lab Hans. Menyusuri koridor di laboratorium Hans. Suasana sangat sepi. Meski lampu sepanjang koridor menyala terang, tetap saja suasana terasa mencekam. Ketika dia keluar dari ruang ganti, dilihatnya Lucifer yang menunggu di depan pintu. Nara reflek memundurkan langkah, ketika Lucifer mendekat ke arahnya.
"Ayo pulang."
"Pulang.... ini juga mau pulang."
"Bersamaku."
"Kau?"
Nara melihat ke arah Lucifer. Di mana pria itu tengah menatapnya tajam.
"Apa dia bisa membaca pikiranku?"
"Ya, aku bisa melakukan itu."
Ha? Nara kali ini benar-benar shock. Pria di depannya ini bisa membaca pikirannya.
"Maka berhati-hatilah dengan isi kepalamu."
Lucifer menyentil kening Nara. Lalu berbalik meninggalkan gadis itu. Nara menarik nafasnya berkali-kali. Dia pikir harus menyiapkan jantungnya untuk menghadapi berbagai hal yang tidak terduga, yang mungkin saja akan terjadi dalam hidupnya.
Dimulai dengan kenyataan kalau Lucifer vampir. Sekarang ditambah dengan Lucifer yang bisa membaca pikirannya. Apa dia juga bisa terbang? Apa dia juga punya sepasang sayap hitam yang besar? Nara jadi penasaran dengan kehidupan Lucifer, dia ingin membuktikan cerita di film-film itu benar atau tidak.
Ketika sampai di lantai bawah, Lucifer menoleh ke arah Nara. Pria itu melihat Nara yang berjalan pelan di belakangnya. Dia tahu isi pikiran Nara yang masih tidak percaya kalau dirinya vampir.
"Mau langsung pulang atau kau ingin pergi ke tempat lain?"
Tumben ni vampir agak lemes mulutnya, biasanya juga lebih suka diam. Mendengar tawaran Lucifer, membuat Nara merasa senang. Dia memang ingin jalan-jalan, tapi dia takut kalau pria berhodie hitam akan mengejarnya.
"Bolehkah aku pergi jalan-jalan?"
Lucifer mengangguk, mengikuti ke mana Nara melangkah. Pria itu berjalan tepat di belakang Nara. Persis seperti pengawal dan tuannya. Nara memilih pergi ke pusat kota. Tempat itu tidak jauh dari laboratorium Hans. Lab Hans dan kantor VR Group memang terletak di kawasan elite, dekat dengan pusat keramaian.
Gadis itu berjalan di antara keramaian. Berbaur dengan banyak orang. Di belakang Nara, tampak Lucifer yang mengikuti Nara dengan sikap waspada. Sebenarnya sebuah resiko mengajak Nara berada di tempat seperti ini.
Tapi pria itu juga paham, kalau Nara perlu hiburan. Terlebih setelah kejadian May. Dia tahu, Nara masih merasa sedih soal May.
"Mau ke mana?"
Lucifer berteriak ketika tiba-tiba Nara berlari. Pria itu mendengus kesal. Melihat Nara yang mengantri di depan sebuah kedai ice cream. Cukup lama Lucifer menunggu Nara. Hingga gadis itu kembali dengan dua es krim di tangannya.
"Aku tidak makan es krim."
Desis Lucifer, setengah membulatkan matanya.
"Kau tidak akan mati kalau hanya makan es krim kan?"
Kali ini Lucifer mendelik mendengar perkataan Nara.
"Tapi aku lebih suka menghisap darah ketimbang menjilati es krim itu. Apalagi darahmu."
Nara reflek menutupi lehernya, mendengar pikiran Lucifer di kepàlanya. Lucifer dengan cepat menahan tangan Nara.
"Meleleh."
Tindakan Lucifer membuat Nara terkejut. Terlebih tangan dingin pria itu terasa sekali di kulit Nara yang hangat. Sesaat, keduanya bertahan dengan posisi itu. Bagi Lucifer, Nara adalah gadis pertama di luar circle vampir yang mampu menarik perhatiannya. Bahkan sejak hari pertama Nara "lahir" ke dunia.
Hans menciptakan Nara dengan visual sempurna. Meski tidak meninggalkan jejak DNA orang tuanya. Dua hal yang menonjol dari Nara soal genetik siapa yang turun padanya adalah mata dan kepintaran.
Fitur wajah Nara adalah perpaduan wajah ayah dan ibunya. Dengan mata Nara, adalah mata sang ibu. Sedang Hans, memilih menurunkan kepintaran sang ayah pada Nara. Selebihnya adalah sifat dominan dari ****** sang ayah yang seorang vampir. Bisa dikatakan jika Nara adalah campuran. Setengah vampir, setengah manusia.
"Tidakkah dia mengagumkan?"
Kata Hans pada Lucifer, sesaat setelah kelahiran Nara, gadis itu lahir di usia manusia 10 tahun.
Nara dengan cepat memakan es krimnya. Mengabaikan tatapan tajam Lucifer. Jakun Lucifer turun naik, melihat bibir Nara yang terlihat begitu menggoda saat menjilati es krimnya.
"Makanlah ini. Ini enak."
Nara risih ketika Lucifer terus menatapnya dengan tatapan ingin menerkam. Lucifer hanya diam tanpa merespon ucapan Nara. Keduanya berdiri di tengah lalu lalang orang yang menikmati malam mereka sembari berjalan-jalan.
"Jadi aku nih yang makan semua?"
Nara bertanya kesal, ketika Lucifer sama sekali tidak berminat pada es krim yang dia tawarkan pada suaminya itu.
"Sudah kubilang, aku lebih suka menghisap darahmu ketimbang makan benda menjijikkan itu."
"Ini enak, bukan menjijikkan."
Nara protes dengan jawaban Lucifer yang pria itu kirim ke kepalanya. Sepertinya Nara mulai biasa pada suara yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Nara menggerutu, harus menghabiskan dua es krim sendirian. Hanya saja, ketika gadis itu mulai kekenyangan. Nara membiarkan es krim itu meleleh begitu saja.
"Ehhh...."
Nara terkejut ketika Lucifer menarik tangannya, lalu menjilat es krim yang mengalir di tangan gadis itu tanpa ragu. Sapuan lidah Lucifer membuat tubuh Nara menegang.
"Manis."
Nara menatap tidak percaya ketika pada akhirnya Lucifer yang menghabiskan sisa es krim yang memang tinggal sedikit. Sesaat Lucifer menatap wajah Nara. Detik berikutnya, pria itu menarik tubuh sang istri mendekat, dengan satu tangan menangkup wajah Nara.
Mata Nara membulat sempurna, ketika Lucifer kembali mencium bibirnya. Gadis itu berpikir apa sisi vampir Lucifer bangkit lagi.
Nara berusaha melepaskan diri dari ciuman Lucifer yang sedikit banyak mulai diterimanya.
"Lucifer!"
Nara mencoba bicara pada sang suami melalui pikirannya. Bukannya berhenti, pria itu malah semakin intens menikmati bibir Nara, di tengah banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Pria itu tidak peduli pada pandangan dan pikiran orang yang menatap kepo pada mereka.
"Manis."
Lagi satu kata itu yang menjadi balasan Lucifer atas protes Nara pada dirinya. Lucifer pikir, dia mulai memiliki rasa pada Nara
***
Kredit Pinterest.com
Nara.....
Jangan lupa ritual jempolnya 😘😘
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Damar Pawitra IG@anns_indri
iyak... halu nya lancar deh... asli bun meleleh juga aku lihat lucifer begitu... oh no.... sweet sekaleee
2023-01-23
1