Kredit Pinterest.com
Hans masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah tempat yang bisa dibilang mirip penjara. Tapi tempat itu sangat bersih dan rapi. Di mana ada banyak ruang yang menggunakan jeruji besi sebagai pintunya. Bersama Excel dan dua staf dari lab-nya, pria itu tampak membawa sebuah tas mirip koper kecil.
Ketika dia sampai di sana, teriakan penuh kesakitan dan geraman mengerikan terdengar di telinga Hans dan yang lainnya. Mereka juga melihat banyak orang yang dikurung di sana. Mereka tampak mengerang, ada yang mendelik penuh minat pada Hans.
Seorang pria dengan tubuh tinggi besar, wajah rupawan, sebanding dengan Hans langsung menyambut kedatangan pria itu.
"Paman sudah datang?"
Pria itu berucap sumringah. Sementara Hans langsung tersenyum melihat pria itu mendekat ke arahnya. Lucio Alderon Verona, ya dia adik dari Lucifer. Putra bungsu Luis dan Ara.
"Apa ada yang baru?"
Hans bertanya sembari memakai sarung tangan sterilnya. Membuka kopernya yang ternyata berisi serum penawar. Excel mengambil jarum suntik dan sebuah botol serum. Begitu pun dengan dua staf yang mereka bawa.
"Ada, tapi melihat gejalanya, sepertinya ini reaksi virus terbaru mereka. Reaksinya lebih cepat dalam mengubah mereka menjadi vampir. Dalam lima belas menit mereka sudah berubah sempurna seperti kita."
Terang Lucio. Hans menggeram marah. Lalu berjalan menuju sebual sel yang ditunjukkan oleh Lucio. Membuka pintu sel menggunakan layar monitor yang muncul di telapak tangannya. Hanya perlu dua detik, hingga pintu sel terbuka separuh. Hans dan Lucio masuk diikuti seorang penjaga.
Seorang pria menggeram marah, melihat kemunculan Hans dan Lucio. Pria itu lapar, sangat lapar. Dia ingin menghisap darah Hans sampai habis.
"Kau ingin menghisap darahku? Sayangnya aku juga sama sepertimu. Tidak punya darah."
Canda Hans sembari merobek lengan atas pria itu, yang tidak bisa melawan lantaran terikat pada sebuah papan metal dengan tangan dan kaki terikat otomatis.
Hans mengambil sample darah pria itu. Setelahnya, dia menyuntikkan serum penawar pada pria itu. Pria tersebut langsung meraung. Seolah merasakan sakit luar biasa yang mulai menyerang tubuhnya. Berawal dari bekas suntikan lalu menjalar ke sekujur tubuhnya. Seiring serum penawar yang mencoba menetralisir racun vampir yang menginfeksi tubuh pria itu.
"Apa ini akan berhasil?"
Mengingat beberapa serum sebelumnya bekerja kurang efektif. Jika virus vampir mampu mengubah manusia menjadi vampir dalam waktu lima belas menit. Maka serum penawarnya harus bisa bekerja lebih cepat dari virusnya.
"Aku pikir setidaknya ini lebih bagus dari yang kemarin."
Hans berkata sembari melihat alat pengukur kecepatan laju aliran darah yang terpasang di lengan pria itu. Excel tampak sudah berada di belakang mereka. Sedikit tersenyum pada Lucio, Excel mulai menyampaikan laporannya.
"85% sembuh total, yang lainnya masih dalam proses."
Hans mengembangkan senyumnya. Jika serum penawar ini berhasil maka Hans siap menghadapi teror virus vampir.
Jantung pria itu mulai berdetak, dan aliran darahnya sudah terbuka 50%. Virus vampir membekukan aliran darah manusia. Membuatnya tidak memiliki rasa sakit. Dan tidak bisa mati. Karena pada dasarnya vampir hampir seperti mayat hidup. Tapi masih memiliki keinginan seperti manusia pada umumnya. Makan, minum, hasrat, emosi, mereka semua memilikinya. Hanya satu yang berubah, jenis makanan mereka yang berubah.
Hans melirik jam di tangannya, sepuluh menit. 70%. Ini mengagumkan. Darah Nara benar-benar luar biasa.
Tepat saat itu terjadi keributan di luar sel tempat Hans berada. Lucio dengan cepat keluar dari sana, sembari berdecak kesal. Tak berapa lama, kehebohan semakin menjadi. Membuat Hans dan Excel ikut keluar dari sana.
"Ada apa?"
"Ada newborn (vampir baru) lepas dan menggigit tuan Lucio."
Hans dan Excel berlari ke arah kerumunan para penjaga. Dilihatnya Lucio yang tengah memegangi lengannya, yang baru saja digigit oleh seorang newborn, seorang gadis, sangat cantik menurut pandangan Hans.
"Sialan! Berapa persen dia?"
Lucio menggeram marah. Excel menyahut lima puluh persen. Lucio menyeringai.
"Akan kujadikan dia seratus persen."
Detik berikutnya, Lucio merangsek maju. Menghimpit tubuh gadis itu, lalu tanpa ragu menancapkan taringnya di leher gadis itu.
Hans seketika memejamkan mata sembari memijat pelipisnya. Jika Lucifer boleh dibilang sangat dingin pada orang luar. Maka Lucio terkenal sangat emosial. Mode senggol bacok adalah miliknya.
Tubuh gadis itu melemas begitu Lucio melepaskan gigitannya. Lucio menyeringai penuh kepuasan. Darah gadis itu sangat manis. Terlebih dia meminumnya langsung dari leher jenjang nan mulus milik gadis itu.
"Dia sekarang tanggung jawabmu."
Hans berkata ketika Lucio berjalan menjauhi korbannya. Satu alis Lucio terangkat.
"Kenapa?"
"Kau menandainya."
Jawab Excel setengah mengejek. Lucio seketika menepuk jidatnya. Dia lupa dengan statusnya yang masuk ahli waris Black Castle, dia tidak boleh sembarang menggigit. Satu gigitan bisa menjadi cara untuk menandai mate mereka.
Lucio melihat ke arah gadis yang kini tidak sadarkan diri. Pikirannya langsung menerobos masuk ke kepala gadis itu. Beberapa bayangan kejadian masuk ke kepala Lucio.
"Alexa Sergie.Tidak buruk. Model dan putri penguasa wilayah ini"
"Ternyata meski sembarangan menggigit, targetnya pun bukan sembarang gadis."
Kekeh Excel. Lucio langsung melayangkan tatapan penuh ancaman pada asisten Hans itu.
"Sembunyikan ini dari ayah dan ibu."
"Aku tidak menjamin, kau tahu sendiri ayahmu seperti apa."
Excel terkekeh pelan di belakang punggung Hans. Mengejek pada Lucio.
"Hentikan tawamu Excel. Kau membuatku marah."
"Anak paman Luis dan tante Ara sudah sold out semua. Para putri vampir akan menangis darah kalau tahu ini."
"Masih ada Dominic. Kan dia putra mahkotanya."
Dominic putra Krum dengan Rin. Meski setengah manusia tapi statusnya malah putra mahkota. Meski pria itu bersikeras menolak statusnya.
"Dominic lebih suka berperang daripada duduk di singgasana. Apalagi memikirkan wanita."
Hal itu membuat Rin, sang ibu sering terkena sport jantung kalau bicara soal Dominic pergi ke perbatasan. Apalagi dia masih setengah vampir, setengah manusia.
"Sudah urus mate-mu itu dulu."
Hans melerai perdebatan Lucio dan Excel, duo itu memang terkenal paling berisik kalau sudah bertemu.
*
*
"Masuklah."
Satu kata terucap dari bibir Lucifer, ketika pria itu membuka pintu penthouse-nya. Nara terlihat ragu untuk melangkah masuk, ada rasa asing yang merayap di hati wanita itu. Jika mereka sudah lama menikah. Kenapa dia tidak mengenal tempat ini, maksudnya tidak merasakan apapun saat berada di tempat itu.
Nara melihat ke arah Lucifer. Wajah datar dengan tatapan dingin menusuk. Ahhh, kenapa juga dia punya suami model beginian. Tidak ada manis-manisnya. Uuuppss, Nara seketika menggelengkan kepalanya, berusaha mengendalikan isi kepala dan hatinya. Takut ketahuan Lucifer.
"Aku tidak mau tinggal di sini."
"Kau harus tinggal di sini. Itu perintah. Dan aku tidak suka dibantah."
Sekali lagi, Lucifer menunjukkan dominasinya. Pria itu seolah menegaskan kalau Nara sepenuhnya miliknya, dan dia harus menuruti semua keinginan Lucifer.
"Kita akan tidur terpisah jika itu yang kau mau."
Nara memandang wajah Lucifer. Inilah yang dia takutkan. Jika dia dan Lucifer adalah suami istri, maka mereka harus tidur bersama. Dan Nara belum siap untuk itu. Tapi mendengar perkataan Lucifer, dia pikir suaminya cukup pengertian.
"Aku harap dia tidak seburuk yang aku pikirkan."
"Tergantung bagaimana kau memikirkan soal diriku."
Lucifer dan Nara saling tatap satu sama lain. Ada rasa aneh yang mulai merayap masuk ke hati masing-masing.
**
Ritual jempolnya jangan lupa...😘😘
Ada yang mau visual Lucifer, sek author masih bingung soale 🤭🤭🤭
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Damar Pawitra IG@anns_indri
lanjoooot.....
2023-01-21
1