Black Castle, dua jam sebelum penjemputan Nara.
Lucifer berjalan sedikit tergesa. Dia baru saja menemukan apa yang dia cari selama ini. Dia harus segera membicarakan ini dengan pemimpin klan vampir, yang tidak lain adalah ayah dan pamannya.
Sebelumnya mereka telah membicarakan hal ini. Dan mereka setuju dengan rencananya. Kali ini, dia hanya ingin memastikan kembali jawaban mereka tidak berubah.
Setelah pintu besar itu dibuka, tampaklah bagian dalam Black Castle yang begitu megah.
Kredit Pinterest.com
Diujung sana terlihat empat pria yang sepertinya tengah menantinya. Keempatnya sama sekali tidak terlihat tua. Meski usia mereka sudah ratusan tahun.
Tiga pria duduk di tempat yang lebih tinggi sedang yang seorang berdiri di hadapan ketiganya. Begitu Lucifer berada di depan ketiga pria itu, dia membungkukkan badannya. Dia masih harus menggunakan tata krama saat bertemu raja klan vampir, meski mereka adalah ayah dan pamannya sendiri.
"Jadi kau sudah menemukannya?"
Luis membuka pembicaraan. Dia menatap sang putra yang sudah tumbuh dewasa. Lucifer adalah putra sulung dari Luis dan Ara.
"Aku sudah memastikan itu dia, dan aku ingin memastikan kembali kalau kalian menyetujui rencanaku."
"Kami tidak masalah dengan hal itu. Yang menjadi masalah adalah dia....dia setuju atau tidak?"
Lucas memandang penuh ledekan pada pria yang sejak tadi melihat pada Lucifer. Kini Lucifer pun ikut memandang pria itu.
"Apa aku kurang pantas untuknya?" tanya Lucifer.
Pria di hadapannya berdecak kesal. Bukan itu yang menjadi masalah. "Memangnya tidak ada pilihan lain apa selain jalan ini?"
"Kalau ada ide lain silahkan kau beritahu."
Krum ikut bersuara. Sama dengan Lucas, pandangan Krum adalah pandangan penuh ledekan. Setelah beberapa saat terdiam. Pria itu hanya bisa menarik nafasnya pelan. Hingga kemudian dia berbalik pergi. Tanpa mengatakan apapun.
"Temui aku sebelum pergi. Ada yang harus kuberikan."
Ucap pria itu sebelum menghilang di balik pintu. Setelah pria itu pergi, tawa meledak di ruangan itu. Hingga Lucifer manyun dibuatnya.
"Dia pasti stres sekali melihat Lucifer."
"Hei, aku tidak seburuk itu."
Lucifer menyangkal perkataan Lucas. Pria paling konyol di antara ketiganya, namun sayangnya dialah raja klan vampir sekarang. Tawa itu mulai mereda setelah Luis mengatakan, "Jaga dia baik-baik. Jangan sampai seperti ibumu."
Luis melirik Lucas. Di masanya, Yang Terpilih adalah Lucas dan Darah Murni adalah Ara. Tapi yang pontang panting melindungi Ara adalah Luis.
"Kau kan suaminya, jadi wajar dong kalau kau harus melindungi istrimu. Lagi pula untuk itu kau harus menyalahkan Maggie....."
"Kau menyuruhku mati."
Potong Luis cepat. Sebab Maggie, tetua dari Kastil Putih sudah meninggal.
"Aku kan tidak menyuruhmu mati hanya bertanya..."
Luis baru saja akan membalas perkataan Lucas ketika Krum, kakak tertua mereka menyela.
"Sudahlah, sama-sama bau abu jangan saling bertengkar."
Krum beranjak dari duduknya. Setelah melihat Lucifer yang berjalan keluar dari sana. Sementara Luis dan Lucas saling pandang. Hingga keduanya pun ikut berdiri ikut menyusul Krum.
"Lucifer, ibumu rindu padamu."
Luis berteriak pada sang putra, dan Lucifer hanya melambaikan tangannya.
"Dia sangat menyebalkan." Kata Luis sembari berdecak kesal.
"Sama sepertimu."
Luis dengan cepat keluar dari sana, menyusul sang adik yang selalu menggodanya.
*
*
Kedatangan Lucifer di lab Hans hanya disambut oleh pria itu dan Excel. Mata Hans sejenak berkaca-kaca saat melihat Nara yang berada dalam gendongan Lucifer. Tapi Hans dengan cepat menutupinya.
"Lakukan cepat, Excel."
Perintah Hans, Excel sigap bergerak. Dia mengambil jarum suntik dengan dua tabung kecil dari sisi kirinya.
"Berapa lama dia akan tidur?"
"20 menit, perkiraanku. Dan itu bisa meleset."
Dua puluh menit, dan dia sudah menghabiskan hampir separuhnya. Hans dengan cepat menyuntik lengan atas Nara, mengambil dua tabung kecil sample darah gadis itu. Ketika Hans selesai melakukannya. Mata Nara tiba-tiba terbuka.
Hans jelas terkejut, bahkan bius khususnya hanya mampu bertahan 12 menit. Gila! Darah Nara benar-benar ancaman bagi semua jenis obat.
"Siapa kalian?"
Nara bertanya. Dia dengan cepat melompat turun dari tempat tidur. Sementara Hans, Lucifer dan Excel memundurkan langkah mereka.
"Aku belum menyuntikkan serumnya."
Hans berkomunikasi dengan Lucifer.
"Aku akan melakukannya."
Lucifer cukup tahu bagaimana kekuatan Nara. Sementara Aro yang baru sampai, hanya berdiri di belakang semua orang. Seolah membaca situasi.
"Mundur. Atau aku akan menghancurkan tempat ini."
Gadis itu mengancam. Dia tahu, melihat tempat ini. Bisa dipastikan kalau semua yang ada di sana adalah benda berharga.
"Nara...tenanglah. Dengarkan aku dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik."
Nara memicingkan matanya, mendengar pria yang telah membawanya tahu namanya. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting sekarang. Dia harus bisa keluar dari sini.
"Aku tahu semua tentangmu. Kami semua tahu siapa kamu."
Lucifer mendekat ke arah Nara. Gadis itu mundur beberapa langkah. Detik berikutnya Nara mulai melawan Lucifer. Hans segera menekan sebuah tombol. Dan lab itu bertambah besar tiga kali lipat. Dengan begitu, perkelahian Lucifer dan Nara tidak akan menghancurkan isi lab-nya.
Lucifer cukup terkejut. Dengan tampilannya, Nara mampu menyerangnya dengan baik. Gaun panjang itu sama sekali tidak merepotkan dirinya. Pria itu membelalakkan matanya, ketika Nara menendangnya, kaki jenjang dan betis mulus gadis itu terlihat jelas. Hingga Excel dan Aro reflek menutup matanya. Sedang Hans langsung menatap marah pada Lucifer.
"Bukan salahku. Kenapa kau marah padaku?"
Lucifer protes pada Hans. Nara rupanya menguasai bela diri yang membuatnya mampu mengimbangi serangan Lucifer.
"Sekarang Lucifer!"
Hans berteriak, karena dia kesal. Dia tahu Lucifer sedang mengerjai Nara. Mengulur waktu untuk menguras energi Nara. Sebab tak lama, Nara mulai kelelahan. Nafasnya mulai tersengal. Sementara di depan sana, Lucifer tersenyum puas. Excel dan Aro saling pandang. Baru kali ini dia melihat pangeran vampir itu tersenyum. Selain pada Lucy, sepupunya
"Bagaimana.... mau menyerah?"
Lucifer melepas jasnya, jas itu terbang melayang lalu menutupi bahu polos Nara. Pria itu lantas menggulung kemejanya. Melihat ke arah Nara yang kebingungan.
Luis mengulurkan tangannya. Serum yang Excel pegang, langsung bergerak ke arahnya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Memberimu hidup baru."
Detik berikutnya, pria itu melesat ke arah Nara. Kembali, dua mata itu bertemu pandang. Hingga tak lama, gadis itu perlahan menutup matanya. Hans dan Excel dengan cepat mendekat. Excel membersihkan jarum suntik yang yang Lucifer buang begitu saja. Sedang Hans dengan cepat memeriksa Nara yang kini sudah tidak sadarkan diri dalam pelukan Lucifer.
"Berapa lama dia akan tidur?"
Lucifer bertanya sembari membenarkan letak kepala Nara. Sementara Hans masih terdiam, sambil memasangkan sebuah chip di belakang kepala Nara.
"Aku akan mengawasimu dari sini. Maaf."
Hans merapikan kembali rambut Nara, setelah selesai memasang chip itu.
"Dia akan tidur sampai besok. Aku memakai sedikit brain wash di chip yang aku pakaikan untuknya. Akan ada sedikit perubahan memori dalam otaknya."
Lucifer menarik nafasnya lega. Setidaknya baru besok dia akan menghadapi Nara lagi.
"Kau akan membawanya ke Black Castle?"
"Belum waktunya dia ke sana. Aku akan memakai penthouse di dekat kantor. Rumah utama ditempati Paman Yoon dan Paman Aiden."
Hans menarik nafasnya. Membiarkan Lucifer membawa Nara dalam gendongannya.
"Lucifer, jangan menyentuhnya!"
"Aku tidak janji."
Hans mendengus kesal mendengar jawaban Lucifer.
****
Ada yang mau kilas balik,
Luis, Lucas dan Krum,
Jangan lupa ritual jempolnya ya, like.. komen...vote-nya ditunggu...
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Damar Pawitra IG@anns_indri
wkwkwk bau abu nggak tuh... bukan bau tanah... ngakak sumpah bung 😁
2023-01-18
1
IG: @sskyrach
Sudah kuduga Lucifer anaknya Ara
2023-01-09
1