Nara

Kredit Pinterest.com

Hans berlari masuk ke laboratoriumnya, setelah Excel, sang asisten menghubunginya. Di depan Hans sudah berjajar monitor yang seluruh layarnya menampilkan data tentang rumus kimia sebuah virus.

"Aku pikir mereka sudah berhasil membuatnya."

Ucapan Excel membuat Hans menggebrak meja. Panik dan khawatir, dua rasa itu yang kini mengisi dada Hans. Evander Hans, pria itu pikir sudah berhasil menggagalkan ambisi Baron untuk menguasai dunia dengan cara mengubah manusia menjadi vampir. Menciptakan pasukan yang tidak bisa mati dan tidak bisa dikalahkan.

"Apa Lucifer belum bisa menemukannya?"

Sebuah pertanyaan langsung terucap dari bibir Hans. "Sampai sekarang belum."

Excel mulai mengutak atik layar monitor di hadapannya. Mencoba mencari chip yang mereka tanamkan pada Nara berpuluh tahun bahkan beratus tahun lalu. Mata Excel berkelap-kelip menatap setiap monitor yang tengah mencari sebuah satu titik.

"Apa kau yakin kalau dia masih hidup?"

Hans seketika mengangkat wajahnya yang sejak tadi setia tertunduk. Jika Nara sudah mati, dia pasti tahu. Tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kalau Nara sudah meninggal.

"Aku yakin umurnya akan panjang. Mungkin abadi, aku menjadikan umur vampir sebagai acuan umurnya. Lagipula dia tidak boleh mati."

Excel menghentikan gerakan tangannya di keyboard tak kasat mata yang ada di hadapannya. Keyboard yang hanya bisa dia lihat dengan kacamata yang sejak tadi berkelap kelip di matanya.

"Itu karena gelangnya terbawa oleh Lucifer, jadi kita kehilangan satu-satunya benda yang menjadi penghubung antara Lucifer dan Nara."

"Bagaimanapun aku harus menemukan dia. Harus.....secepatanya."

*

*

Kredit Pinterest.com

Sementara di sisi lain, di sebuah laboratorium yang hampir sama dengan milik Hans. Baron tertawa puas, virusnya sudah siap. Dan itu berarti pasukan yang sudah lama dia idamkan akan segera dia miliki.

Satu hal yang menjadi penghalangnya adalah Hans, rival yang selalu menentang penemuannya. Berkali-kali Baron memperingatkan Hans untuk tidak mencampuri urusannya. Tapi pria itu tidak mengindahkan peringatannya.

Pria itu malah dengan sengaja menciptakan satu makhluk yang mampu menjadi pemurni bagi virusnya. Antivirus, penawar untuk virus yang dia ciptakan. Makhluk yang tercipta dari mutasi genetik dan berevolusi, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekarang.

Makhluk murni yang susunan DNA-nya sudah berubah karena mendapat campuran serum pemurni dari Darah Murni di era sebelumnya.

Hingga makhluk ini bisa menjadi obat dari segala penyakit. Antivirus dari semua virus yang pernah tercipta. Penawar dari segala racun yang ada di muka bumi.

Baron mendengus geram. Karena sampai sekarang, para Hunter yang dia kirim untuk menangkap makhluk murni itu, selalu gagal dalam menjalankan misinya. Makhluk murni itu belum juga dia temukan sampai sekarang.

"Dia pintar sekali bersembungi."

Baron menggeram kesal. Dia semakin marah karena belakangan ini, pihak Black Castle mulai mencurigainya. Black Castle di bawah pimpinan Lucas Altemose dan dua kakaknya, Luis dan Krum, bahkan sudah meminta dirinya untuk menghentikan pembentukan tentara vampir yang dia rencanakan.

Tentu saja ini adalah desakan dari Hans. Rivalnya tersebut memang memiliki dukungan penuh dari Black Castle. Semua hal yang dilakukan Hans akan mendapat sokongan penuh dari istana. Sedang untuknya hanya peringatan terus menerus yang dia dapatkan.

Padahal dana riset semua adalah uang pribadi Baron dari hasil....pencucian uang di beberapa perusahaan milik dunia manusia.

"Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan rencanaku. Bagaimanapun tentara vampir itu harus terwujud."

Dengan begitu, Baron bisa melakukan kudeta. Menggulingkan rezim Verona yang sejak dulu menguasai Black Castle secara turun temurun. Memiliki Black Castle sama seperti menggenggam klan vampir di tanganmu. Baron ingin jadi penguasa klan vampir.

*

*

Seorang gadis terlihat mengerjapkan mata. Perlahan dia bangun dari tidurnya. Mulai menginjakkan kaki di lantai karpet kamarnya. Hingga ketika dia mulai berpijak, dia terkejut. Yang dia injak bukanlah karpet, melainkan sebuah lapisan es yang dingin saat ia sentuh dengan kaki telanjangnya.

Gadis itu mulai berjalan, baru beberapa langkah dan "kratak," lapisan es mulai retak. Tak berapa lama, tubuh gadis itu sudah tercebur ke dalam air dingin yang begitu menggigit saat menyentuh kulitnya.

Dia terus berenang, berusaha naik kembali, tapi dia tidak bisa. Dia juga tidak bisa bergerak ke mana-mana, seolah ada tembok tidak kasat mata yang ada di sekitarnya. Memenjarakan dirinya. dia memukul-mukul air yang ada di depannya. Berusaha menghancurkan apapun yang ada di sana.

Tapi semua itu tidak berhasil, ditambah lagi nafasnya mulai tersengal. Dia mulai kehabisan oksigen. Sekali lagi dia mencoba berenang ke atas. Mencari jalan keluar. Tapi belum sampai ke permukaan air, dia merasakan lehernya serasa tercekik. Detik berikutnya, tubuhnya melemas, dia bisa merasakan kalau dirinya mulai tenggelam.

"Apa aku akan mati kali ini?"

Pertanyaan itu yang selalu hadir di benaknya tiap kali dia merasa ketakutan. Tepat ketika dia hampir menyerah dengan hidupnya, sebuah tangan menarik tubuhnya ke atas. Dalam keadaan setengah sadar, dia bisa melihat siluet tubuh pria yang sedang berusaha menyelamatkannya.

"Kau siapa?"

"Diamlah, dan jangan lepaskan!"

Trrrriiiiiiiinngggg,

Seorang gadis terlonjak dari tempatnya tidur sambil duduk. Gadis itu melihat bingung ke arah kiri dan kanannya. Dilihatnya seorang wanita, memakai seragam yang sama dengan dirinya. Melihat ke arahnya dengan seringai meledek.

"Tidur lagi, bisa gak sih kamu tu gak asal merem aja. Lihat tempat dong."

"Sorry, aku ngantuk sekali."

"Insomia lagi?"

Gadis itu mengangguk. Dia memang memiliki gangguan insomia yang parah. Bukan karena apa, tapi tiap kali dia memejamkan mata. Mimpi buruk akan langsung menghantuinya. Salah satunya ya mimpi tadi. Mimpi tenggelam, mimpi dikejar-kejar. Bertemu binatang mengerikan. Dan masih banyak lagi. Hingga gadis itu takut untuk memejamkan matanya.

"Nara...Nara...berapa kali kubilang. Pergilah konsultasi, aku pikir insomiamu makin parah saja. Setidaknya kamu akan dapat obat tidur yang aman."

Gadis yang dipanggil Nara itu hanya tersenyum kecut. Obat tidur? Tidak ada obat yang mampu melumpuhkan tubuhnya. Berikanlah dia obat bius untuk gajah sekalipun. Dia akan tertidur tidak lebih dari lima menit. Setelahnya dia akan bangun, tanpa rasa kantuk sedikitpun.

Nara tidak tahu kenapa itu terjadi padanya. Dia hanya tahu kalau tubuhnya tidak mempan di beri obat apapun. Tubuhnya sangat kuat. Dengan daya tahan yang tidak masuk akal. Dia tidak pernah sakit sama sekali.

Juga satu hal yang selama ini dia pelajari, dia tidak boleh terluka. Jika dia berdarah satu tetes saja, dia akan dikejar oleh sekumpulan manusia berpakaian hitam dengan hoodie menutupi kepala mereka.

Dan itu selalu terjadi tiap kali dia terluka. Karena itulah Nara selalu berhati-hati, dan hidup berpindah-pindah. Tiap kali kelompok itu mengejarnya, dia akan pergi dari tempat itu. Dia takut kalau mereka akan kembali mendatanginya.

Seperti saat ini, dirinya tengah berada di antara ribuan karyawan yang sedang bekerja di sebuah pabrik perakitan komponen elektro. Meski zaman sudah semakin canggih dengan robot mengambil alih pekerjaan manusia. Tapi untungnya masih ada jenis pekerjaan yang tetap memerlukan tenaga manusia untuk mengerjakannya.

"Jangan lupa nanti malam. Kau harus pergi. Aku kan sudah membelikanmu gaun yang bagus. Jadi kau tidak punya alasan untuk tidak pergi."

Satu teman kerja Nara berbisik di tengah hiruk pikuk suara mesin yang terdengar bersahutan. Nara hanya memberi tanda "oke" dengan tangannya. Gadis itu melepaskan sarung tangan yang dipakainya. Tak lama ringisan lirih terdengar dari bibir mungilnya. Ujung telunjuknya terluka karena menyentuh palet tajam di depannya. Satu tiupan angin berhembus, membawa aroma darah Nara menguar ke udara bebas.

Dengan cepat Nara segera menghisap darahnya. Bola matanya bergerak cemas. Melihat ke arah kanan dan kiri, depan belakangnya. Tidak ada makhluk berhodie yang muncul.

Tanpa Nara tahu, di puncak gedung tempat Nara bekerja, tepatnya lantai 60, seorang pria dengan manik mata berwarna hitam, langsung menghentikan pekerjaannya. Pria itu memejamkan matanya. Seiring dengan bola matanya yang berubah merah.

"Aku menemukanmu."

****

Terpopuler

Comments

Damar Pawitra IG@anns_indri

Damar Pawitra IG@anns_indri

Manteb asli deh...

2023-01-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!