Arjuna tersenyum melihat foto seorang wanita cantik yang sudah terpajang indah menjadi walpaper di phonselnya. Arjuna terkadang bertanya-tanya kenapa dia bisa begitu tertarik pada Vani, disaat sebelumnya begitu banyak wanita cantik yang coba mendekatinya. Arjuna bahkan tak merasa keberatan saat orang-orang mengira dia seorang gay, saking tidak pernah nya terlihat dekat dengan wanita. Namun, sekarang Arjuna justru seperti orang tak punya malu yang terus mengejar Vani. Entahlah, yang jelas sejak bertemu Vani, Arjuna merasa hidupnya menjadi lebih berarti dan lebih menyenangkan.
"Stevani Lakeswara, nama itu lebih cocok untukmu," ucap Arjuna tersenyum hanya dengan mengingat sosok wanita yang selalu mengabaikannya.
"Tuan, semuanya sudah beres!" Dika datang mengusik ketenangan Arjuna.
Arjuna menyimpan kembali ponselnya, memeriksa hasil kerja Dika. "Bagus, sekarang pulanglah!" ucapnya beberapa saat kemudian setelah memastikan semua barang yang dia butuhkan di apartemen kecil itu sudah cukup dengan apa yang dia butuhkan.
"Anda yakin ingin tinggal di sini?" Dika lagi-lagi bertanya, memastikan Arjuna sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Tempat ini akan terasa nyaman jika dekat dengannya, sekarang pergilah!" usir Arjuna lagi setelah menjawab pertanyaan Dika.
"Nona Vani benar-benar beruntung disukai oleh Tuan Juna," gumam Dika pelan, tetapi dapat didengar jelas oleh Arjuna.
Beberapa jam berlalu, Arjuna yang kelelahan tanpa sadar terlelap cukup lama. Arjuna terbangun saat matahari sudah tenggelam. Pria tampan itu melirik jam di pergelangan tangannya, menyadari sudah waktunya untuk makan malam, Arjuna bergegas mandi, karena setelah itu dia berniat meminta makan pada wanita yang tinggal berhadapan dengannya.
***
Vani baru saja duduk di kursi makannya, bersiap menikmati hasil masakannya, tetapi terusik dengan suara dering ponselnya.
Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal membuat Vani menautkan kedua alisnya, tanpa niat untuk membaca pesan masuk tersebut.
Baru saja Vani menyuapkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya, dering panggilan masuk terdengar dari phonselnya dari nomor yang sebelumnya mengirimkan Vani pesan. Vani baru teringat akan seseorang yang belakangan ini selalu mengusiknya.
"Kapan dia berhenti menggangguku?" ucap Vani meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Vani mencoba mengacuhkan telepon tersebut namun sepertinya yang penelepon tidak akan berhenti, sebelum teleponnya di jawab. Dengan kesal akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"Halo," ucap Vani ketus.
"Hai calon istriku, Stevani Lakeswara. Ini aku calon suamimu, aku lapar," ucap lawan bicara Vani di seberang sana yang membuat Vani tesedak makanannya.
Vani mengambil minum dan meneguk habis air dari gelasnya. "Jangan seenaknya mengubah nama belakangku!" Vani merasa amat kesal.
"Aku calon suamimu, namaku Arjuna Lakeswara, lalu apa yang salah dengan Stevani Lakeswara?" tanya Arjuna tanpa rasa bersalah.
"Dasar Gila!!" Bentak Vani memutuskan panggilan telepon.
Masih di gedung yang sama, Arjuna tersenyum senang setelah berhasil membuat Vani kesal. Apapun yang berhubungan dengan Vani selalu dapat membuat dia tersenyum. Dan sepertinya membuat Vani kesal juga akan menjadi hobi barunya mulai sekarang.
Kamu orang pertama yang berani memutuskan telepon dariku, sayang. Kamu juga yang berani membentakku dan mengataiku gila. Bahkan kedua orang tuaku tidak pernah memutuskan telepon sepihak seperti yang kamu lakukan. Sikapmu seperti ini semakin membuatku tertarik padamu. Batin Arjuna yang saat ini berdiri tepat didepan pintu apartemen Vani.
Vani yang masih merasa kesal belum melanjutkan makan malamnya. Mendengar suara bel, Vani bergegas membukakan pintu saat dia pikir itu adalah Esi, tapi saat melihat orang yang berdiri di depan pintu adalah pria yang yang baru saja berbicara di telepon dengannya, membuat wajah cantik itu semakin terlihat kesal.
"Selamat malam, Sayang. Kamu terlihat semakin cantik saat tengah kesal seperti ini. Siapa yang membuatmu kesal?" tanya Arjuna tersenyum menatap Vani yang ingin sekali menghajarnya.
"Ada apa? Kenapa datang kemari?" tanya Vani ketus.
"Aku lapar. Bukankah tadi aku sudah bilang?"
"Semua itu tidak ada urusan denganku. Tolong pergilah dan jangan menggangguku!" pinta Vani merasa lelah dengan tingkah Arjuna yang benar-benar aneh dan tak masuk akal menurutnya.
"Tentu saja semua itu adalah urusanmu. Kita pasangan," jawab Arjuna sambil menerobos masuk ke dalam apartemen Vani.
"Kebetulan sekali," ucap Arjuna lagi saat melihat meja makan kecil milik Vani yang sudah tersedia makanan di atasnya.
Arjuna tanpa merasa sungkan melanjutkan untuk menghabiskan makanan yang ada di piring Vani. Vani yang melihat itu bergegas mendekat, tetapi Arjuna sudah lebih dulu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Itu bekasku!" ucap Vani.
"Lalu?" tanya Arjuna acuh.
"Kamu tidak merasa jijik makan bekas orang lain?" tanya Vani lagi.
Arjuna yang mendengar itu tertawa. Dia menarik tangan Vani untuk duduk di sebelahnya, setelah Vani duduk, Arjuna menyuapi Vani yang tanpa sadar membuka mulutnya. "Kamu juga makan bekasku!" ucap Arjuna membuat Vani lagi-lagi tersedak saat sadar apa yang Arjuna katakan benar, mereka makan sepiring berdua.
Arjuna dengan cepat memberikan Vani minum, mengusap punggung Vani dengan lembut. "Maaf," ujarnya sambil mengusap lembut bibir Vani.
"Makanlah! Setelah itu pergi dari sini. Aku lelah dan ingin istirahat!" usir Vani bangkit dari duduknya, meninggalkan Arjuna sendirian di sana yang hanya tersenyum menatapnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Dwi apri
ati2 keriput vani ...tiap hari marah2 trs....🤣🤣🤣🤣🤣
2023-06-17
0
Pia Palinrungi
mantap arjuna jgn kasih kendor kejarlah krn itulah jodohmu dr outhor🤣🤣🤣🤣🤣
2023-06-04
2
Riska Fatihica
kejar terus.....
2023-05-29
0