Tangis Vani terhenti saat suara bel terdengar. Vani berusaha menyamarkan wajah sembabnya sebelum membuka pintu untuj orang yang datang.
"Kamu balik lagi," ucap Vani tersenyum menatap Karina.
"Kamu menangis lagi?" tanya Karina cemas.
"Aku hanya merindukan keluargaku," jawab Vani.
"Itu apa?" tanya Vani mengalihkan pembicaraan saat melihat bungkus makanan yang diletakkan tenteng Karina.
"Aku melewati bakso mang Ucup, aku teringat padamu jadi aku membelikan juga untukmu." Karina bergerak masuk ke dalam membawa bungkusan tersebut menuju dapur.
Karina menyodorkan makanan yang sudah ia hidangkan pada Vani yang sudah duduk di Kursi.
"Makanlah. Aku tahu kamu pasti belum makan!" ucapnya.
"Terima kasih, Rin. Kamu dan Esi selalu menjadi yang terbaik."
"Jangan berterima kasih, kami sahabatmu. Oh ya aku kembali ke rumah. Kamu tahu aku belum sempat pulang ke rumah ayahku setelah kembali ke Indonesia. Habiskan makanmu, lalu istirahat. Aku pulang," ucap Karina lagi keluar dari apartement Vani tanpa menunggu balasan Vani. Tepat saat Karina membuka pintu, nampak keluarga Vani sudah berdiri di depan pintu membuat Karina terkejut melihatnya, tetapi tersenyum senang setelahnya.
"Tente, Om, Kak Vivi." Karina menyalami kedua orang tua dan saudara Vani.
"Masuklah. Vani ada di dalam dan dia merindukan kalian," ucap Karina tersenyum ramah.
"Terima kasih, Rin. Terima kasih karena sudah menjaga Vani," ucap Ani tulus menggenggam tangan Karina.
"Tidak perlu berterima kasih Tante, Om. Jangan sungkan padaku, kami berteman. Tentu saja kami harus saling menjaga."
"Aku pamit ya Tante, Om," ucap Karin lagi yang dijawab anggukan kepala oleh kedua orang tua Vani.
Tidak ada orang tua yang tega meninggalkan Anaknya. Mereka datang untukmu, Vani. Mereka selalu menyayangimu, aku turut bahagia untuk itu. Gumam Karina menghapus setetes air mata yang turun dari sudut matanya.
****
Setelah Karina pergi. Vani kembali melamun menatap makanan yang saat ini ada di depannya.
Meski sudah tidak menangis, Namun kesedihan yang ada didalam hati Vani sama sekali tidak hilang.
"Ma, Pa, Kakak.... Aku merindukan kalian. Aku butuh kalian," lirih Vani menunduk lemas tanpa menyadari jika kedua orang tua dan saudaranya sudah berada tepat di belakanya.
Terluka dan sakit!
Hati orang tua mana yang tidak terluka melihat putrinya disakiti. Mereka benar-benar merasa sakit dan sesak melihat keadaan putri kesayangan mereka yang terlihat jauh dari kata baik. Si bungsu kesayangan mereka yang selalu nampak ceria itu terlihat begitu terpuruk. Sehebat apapun Vani mengelabuhi orang orang untuk terlihat tegar, Namun semua itu tidak akan berlaku pada keluarganya.
"Kami juga sangat merindukanmu, Van." Suara yang terdengar menjawab ucapan Vani membuatnya semakin merasa sedih saat merasa semua itu hanya perasaan dan hayalan nya saja.
"Sayang Papa, si kecil Papa." Panggilan sayang dari suara yang amat Vani kenal terdengar di telinganya membuat air mata Vani turun dengan sangat deras membasahi pipinya.
Perlahan Vani memutar tubuhnya mengikuti asal suara tersebut.
"Pa...." Vani sontak bersimpuh di kaki kedua orang tuanyanya yang juga sudah menangis menatap sedih padanya.
"Maafkan aku," ucap Vani disela isak tangisnya mencium kedua kaki orang tuanya.
Ani dan Angga dengan lembut memapah Vani untuk berdiri lalu membawa Vani masuk ke dalam pelukannya.
Ketiganya menangis melepaskan semua kesedihan yang mereka rasakan. Angga memeluk sayang putrinya, begitu juga Ani yang turut memeluk Vani. Ketiganya berpelukan dengan tangis yang menyelimuti mereka. Sama hal nya dengan Vivian yang juga meneteskan air matanya melihat itu semua.
"Kamu masih punya kami, Nak. Kamu memiliki keluarga, Ada Papa, Mama, dan juga Kakakmu. Kami semua bersamamu. Jangan hadapi semua ini sendiri," ucap Angga.
"Maafkan aku, aku menyakiti kalian karena pria sepertinya. Apa yang kalian katakan benar, dia tidak baik. Dia menyakitiku," ucap Vani menyesali semua yang sudah terjadi.
"Kalian selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tetapi aku justru mengecewakan kalian. Maafkan aku karena belum bisa menjadi anak yang bisa kalian banggakan, tetapi justru menyakiti kalian. Maaf," sambung Vani.
"Kami sudah memaafkanmu, Sayang. Lupakan dia, lupakan semua yang menyakitimu. Dia tidak pantas untuk putri keluarga Anggara. Dia dan keluarganya akan menyesali semua yang telah mereka lakukan, lupakan dia! Buka lembaran baru, karena Mama percaya akan ada hikmah dari semua ini," ucap Ani mengusap lembut wajah cantik Vani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Delya Indah Pratiwi
gilaaaa deras banget baca ini
2023-06-21
1
devaloka
tenang pa calon mantu mu udah datang kok
2023-06-12
0
Pia Palinrungi
bener mamah ada hikmah dibalik ini ada pria yg sangat menyangginya yaitu arjuna
2023-06-04
0