Di tempat lainnya. Seorang wanita yang tengah merindukan adiknya tengah sibuk membuka laman instagram sang adik, wanita itu adalah Vivian, kakak Vani. Vivianerindukan Vani, tetapi Vani tidak dapat dihubungi, untuk itu Vivian coba menghubungi lewat aku instagram adiknya. Tak ada satu pun postingan terbaru dari adiknya itu, karena memang Vani bukanlah gadis yang aktif bermain sosial media, sekali pun Vani pernah menjadi viral karena postingan seseorang yang memujinya cantik.
Vivian yang tak menemukan kabar terbaru tentang Vani, mencoba membuka akun instagram Johan, pria yang Vivian tahu sebagai kekasih adiknya.
Vivian terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebuah postingan terbaru yang menandai Johan dengan memposting foto pernikahan.
Vivian menatap serius pada gambar yang dilihatnya, untuk memastikan semua itu, Vivian membuka instagram wanita yang menandai Johan.
Syok. Vivian semakin syok dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana bisa Johan menikahi wanita lain setelah adiknya berani menentang keluarga hanya demi pria itu. Meski belum pernah bertemu, Vivian jelas mengenal siapa itu, Johan dan yakin jika dia tidak salah orang.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin dia menikah dengan wanita lain? Gumam Vivian bertanya tanya.
Air mata Vivian menetes mengingat adiknya–Vani.
Vivian berlari keluar dari kamarnya, mencari keberadaan kedua orang tuanya.
"Pa, Ma!" panggilnya membuat kedua orang tua Vivian langsung menoleh.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Angga cemas.
"Pa, Ma. Lihat ini!" Tunjuk Vivian pada foto yang ada di ponselnya.
"Dia menikahi wanita lain. Bagaimana dengan adikku, Pa? Bagaimana dengan, Vani, Ma?" tanya Vivian menangis.
Angga yang melihat berita tersebut bergetar marah dengan tangan yang terkepal erat.
Berbeda dengan Ani yang jatuh terduduk di lantai dengan air mata yang juga menetes keluar. Angga jelas tahu apa yang dipikirkan istri dan putrinya saat ini, sebab Angga juga tengah memikirkan serta mencemaskan hal yang sama.
"Firasatku yang selalu merasa buruk akhir-akhir ini ternyata benar. Putriku disakiti." Tangis Ani pecah setelah mengatakan hal itu.
"Bagaimana bisa kamu terlihat tenang? Putriku, sendirian di luar sana. Dia pasti sedang terpuruk saat ini. Aku akan kesana, aku tidak akan membiarkannya sendirian." Ani bangkit berdiri. "Ayo, Vi!" ajaknya pada putri sulungnya.
"Ma, tunggu sebentar. Aku akan memastikan semuanya dulu. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Akupun juga mengkhawatirkan putri Kita. Meskipun rasa marahku belum sepenuhnya hilang, tapi aku juga begitu sangat menyayanginya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan putri kecilku," ujar Angga menahan istrinya.
"Aku tidak ingin menunda. Aku ingin sekarang juga kesana!" ucap Ani lagi kembali melanjutkan niatnya untuk mendatangi Vani.
***
Vani baru saja akan mengaktifkan ponselnya. Rasa takut Vani yang tahu jika kabar pernikahan Johan akan tersebar membuatnya takut untuk membuka ponselnya, Vani tahu akan ada banyak sekali pesan yang masuk padanya dari orang-orang yang ingin menayakan hubungan mereka.
Ya, tak sedikit orang tahu jika Vani dan Johan sepasang kekasih, karena mereka sering terlihat bersama. Vani teringat ucapan Karina tadi yang mengatakan jika mungkin saja orang tua Vani mengetahui berita itu, Vani ingin memastikan semua itu, karena itulah Vani mengaktifkan ponselnya.
Apa yang Vani pikirkan benar terjadi. Baru saja ponselnya menyala, banyak sekali notifikasi pesan yang masuk padanya. Vani tersenyum miris melihat salah satu nama orang yang menghubunginya adalah Johan.
Bohong jika mengatakan Vani tidak merasa sedih. Rasa sedih, sakit dan kecewa itu masih menyelimuti Vani. Seberapa kuatnya Vani berusaha untuk tegar. Airmata kembali meluncur membasahi wajahnya.
Vani yang saat ini telah sendiri di kamarnya setelah Esi dan Karina pergi, kembali menangis meluapkan semua kesedihannya.
Mungkin Vani pantas mendapatkan penghargaan atas sandiwaranya yang bisa mengelabuhi semua orang. Mungkin semua orang berpikir jika Vani benar-benar wanita yang kuat. Namun kenyataannya, Tidak ada yang tahu jika saat menghadiri pesta pernikahan Johan. Vani sudah menangis dalam hatinya. Tangis dalam hati berkali kali lipat lebih perih. Tidak semua orang bisa tersenyum meskipun hatinya menjerit menangis.
"Lupakan dia, Van. Tuhan, bantu aku untuk melupakan dia," ucap Vani sesegukan.
Vani sudah mencoba melupakan dan menghilangkan semua jejak Johan dalam hidupnya. Tapi bagaimana dengan hatinya? Hatinya masih menyimpan begitu banyak kenangan tentang Johan. Tiga tahun bersama menjalani hari-hari bahagia, tentu saja membuat Vani sulit untuk membuanh semua kenangan itu. Tak bisa dipungkiri hatinya masih begitu mencintai Johan.
Vani sama sekali tidak menyangka jika kisah cintanya yang selama ini berjalan mulus akan berakhir penuh luka seperti sekarang.
"Kenapa kamu begitu jahat, Jo? Aku bahkan lebih memilihmu daripada keluargaku. Aku memilihmu dan ingin membuktikan pada mereka jika kamu pria yang baik, tetapi apa yang mereka katakan tentangmu benar. Kamu tidak baik, kamu tidak pantas bersamaku. Kamu jahat," ucap Vani berbicara sendiri.
Vani teringat jelas akan janji manis Johan yang berkata akan menikahinya. Karena itu pula Vani berani menentang keluarganya, sebab Vani pikir Johan serius padanya. Namun ternyata semua itu salah. Johan justru menikahi wanita lain.
"Inikah yang disebut dengan menjaga jodoh orang lain? Aku menjaganya dengan sangat baik. Aku memberikan hatiku pada pria yang pada akhirnya hanya menyakitik. Apa ini teguran karena aku sudah berani menentang dan membuat keluargaku menangis? Aku benar-benar bodoh," gumam Vani menertawakan dirinya sendiri disela tangisannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
bener vani ini balasan dr kamu mengecewakan ortumu krn lenih memilih johan drpd mereka, udh kamu harus melupakn johan kamupun berhak bahagia dn buktikan keluarga johan kamu mendaoatkan pria yg lebih baik dr anaknya
2023-06-04
1
Zamz Hasanah
sabar Vani masih ada babang Jojon💪💪
2023-06-03
0
Riska Fatihica
sabar ya vani karena Johan bukan jodoh mu kamu harus menerima nya dengan ikhlas....
2023-05-29
0