Beberapa hari berlalu. Kehidupan Vani sudah kembali seperti biasanya, meskipun tanpa kehadiran Johan lagi di hidupnya.
Vani benar-benar wanita yang tegar, tidak butuh waktu lama untuk Vani sudah bisa menguasai dirinya sendiri tanpa harus menangis lagi sosok Johan.
Vani sadari, menangisi Johan hanya akan merugikan dirinya sendiri. Seperti Johan yang dengan mudahnya melepaskan Vani, maka Vani juga akan dengan mudahnya juga melepaskan cinta yang dia miliki untuk Johan.
Vani tidak ingin rasa cintanya menyiksa apalagi menghancurkan hidupnya. Vani bertekad akan bangkit dan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Pa, Ma. Doa kalian masih menyertaiku, bukan?" gumam Vani menatap langit dari balkon apartemen barunya.
Apartemen baru? Ya, Vani memutuskan untuk membuang dan meninggalkan semua kenangan tentang Johan dari hidupnya. Langkah pertama yang Vani ambil adalah menjual apartemen lama dan pindah ke apartemen baru yang ditempatinya saat ini. Meski jauh lebih kecil, tetapi Vani senang karena bisa mendapatkan unit yang bersebelahan dengan temannya–Esi.
Vani sudah menghilangkan semua jejak tentang Johan dari hidupnya.
Suara bel menyadarkan Vani dari lamunannya. Dengan cepat Vani melangkah keluar dari kamar.
Vani menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya membukakan pintu, saat pintu di buka, Vani dibuat terkejut melihat keberadaan teman lamanya, teman masa kecilnya yang rumahnya tak jauh dari rumah orang tua Vani.
"Hai cantik," ucap wanita cantik itu tersenyum, lalu memeluk Vani yang masih tidak menyangka atas kehadirannya.
"Karina."
"Ya, ini aku. Aku merindukanmu," ucap wanita bernama Karina tersebut. "Boleh aku masuk?" sambungnya.
"Tentu saja. Ayo masuk!" ajak Vani duduk di sofa yang ada di sana.
"Kapan kamu kembali? Kenapa tidak mengabariku? Aku dan Esi bisa menjemputmu," tanya Vani.
Karina hanya diam. Dia merasa senang sekaligus sedih melihat ketegaran sahabatnya itu, Karina sudah mendengar semua yang terjadi pada Vani dari Esi. Karina dan Esi saling mengenal lewat Vani yang sering melakukan video call bersama Karina. Karina berencana pulang bulan depan dari Jerman, tetapi setelah mendengar cerita dari Esi, gadis keturunan Jerman itu memutuskan untuk segera kembali.
Baik Karina atau pun Esi selalu mengagumi sosok Vani yang selalu dapat menghadapi semuanya dengan tenang. Bukankah harusnya hari ini menjadi hari terburuk dalam hidup Vani? Karena hari ini adalah hari dimana pria yang dicintainya menikah.
"Maafkan aku, Vani. Jika aku tidak mengenalkan kamu dengannya, maka kamu tidak akan seperti ini. Maaf," ucap Karina merasa bersalah, karena Johan dan Vani bisa bersama juga karena dirinya.
"Hei, tidak perlu meminta maaf. Semua sudah takdirku. Aku baik-baik saja, jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi padaku." Vani tersenyum mengusap lembut tangan Karina.
"Kamu mendapat undangan darinya?" tanya Vani yang ditanggapi Karina dengan anggukkan kepala.
"Kita tidak perlu datang jika kamu tidak mau datang kesana. Aku akan tetap disini menemanimu. Esi juga," ucap Karina menggenggam tangan Vani.
"Tidak apa-apa, Rin. Kita harus datang untuk turut mendoakan kebahagian Johan dan Istrinya. Aku nggak baik-baik saja, kami memang tidak berjodoh," jawab Vani tersenyum seolah memperlihatkan jika dirinya sungguh baik-baik saja.
"Tolong jangan berusaha kuat di depanku.
Aku tau kalau saat ini hatimu sangat hancur. Keluarkan semua keluh kesahmu, Van. Aku disini bersamamu," ucap Karina yang justru tak dapat menahan tangisnya melihat ketegaran hati Vani.
"Jangan menangis. Aku sudah cukup menangis melepaskan semua beban, kekecewaan, serta rasa sakitku beberapa hari belakangan. Dan setelah puas menangisinya, aku berjanji tidak akan menangisinya lagi.
Seperti yang pernah kamu katakan dulu. Jodoh, rezeki, maut, sudah ada yang mengaturnya. Aku percaya dengan semua yang kamu katakan. Aku butuh dukungan kalian, bukan tangis kalian. Jadi berhentilah menangis." Vani menghapus air mata Karina lalu memeluknya.
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Kamu benar-benar wanita yang kuat. Aku selalu bangga menjadi temanmu, Van."
Suara bel kembali terdengar membuat pelukan keduanya terlepas. Mereka yang sudah tahu siapa yang datang, bergegas membukakan pintu.
"Apa kamu yakin akan menghadiri resepsi pernikahan Johan?" tanya Esi beberapa saat setelah mereka sudah berada di dalam kamar Vani.
"Tentu. Mereka mengundangku. jadi Aku akan hadir untuk turut mendoakannya, Sekaligus memantapkan hatiku jika dia benar-benar bukan milikku lagi," jawab Vani tenang.
Dan berharap malam ini malam terakhir kita bertemu. Sambung Vani dalam hati
"Baiklah. Nanti malam kita berkumpul disini dan datang bersama-sama kesana. Kami tidak akan membiarkanmu sendirian," ucap Esi menatap Vani dan Karina yang menganggukkan kepala menyetujuinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Aqil Aqil
aku salut dng pershabatn vani .
2023-09-28
0
Pia Palinrungi
aq suka vani wanita tegar bener, tdk perlu ditangisi krn jodoh sdh diatur
datanglah dgn tegar vani buktikan ke johan kamu kuat dgn ditinggal dr lelaki bejat
2023-06-04
1
Mbah Edhok
masa palu yang menyakitkan dibuang di samudera Hindia... atau segitiga Bermuda...
2023-05-26
0