Vani perlahan mengerjapkan matanya. Saat kesadarannya benar-benar kembali, Vani menatap sekeliling ruangan yang dia sadari adalah ruangan sebuah rumah sakit.
"Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga," ucap Esi yang berada di sana.
"Kamu yang membawaku kesini?" tanya Vani pelan karena tubuhnya masih terasa lemas.
"Tidak. Aku tidak tau siapa yang membawamu kemari. Tadi saat aku menghubungimu seseorang menjawab nya dan mengatakan jika kamu berada disini. Ada apa, Van Kenapa bisa seperti ini? Apa sesuatu terjadi?" Esi balik bertanya membuat Vani kembali berkaca-kaca, saat dia kembali teringat akan kenyataan menyakitkan yang menimpanya.
Tangis Vani pecah, Vani benar-benar kembali melepaskan semua tangis kesedihan yang benar-benar menyiksa jiwa dan raganya.
Meskipun belum mengetahui apa yang terjadi. Melihat dan mendengar tangis dari sahabatnya itu membuat Esi turut bersedih. Esi dapat merasakan jika saat ini Vani benar-benar sedang terpuruk.
"Ceritakan padaku. Ada apa? Apa ini tentang Johan? Apa dia menyakitimu?" tanya Esi dengan air mata yang juga sudah meluncur keluar membasahi wajahnya.
"Dia bukan hanya menyakitiku. Dia benar-benar sudah menghancurkan hidupku. Dia menghancurkan ku," jawab Vani disela isak tangisnya.
Ya Tuhan.. yang aku takutkan akhirnya terjadi. Aku selalu merasa jika hubungan mereka tidak akan berhasil.
"Sakit, sungguh sakit. Sakit sekali rasanya," ucap Vani yang saat ini menangis dalam pelukan Esi.
"Tenangkan dirimu, Van. Aku disini dan akan selalu bersamamu. Jangan tangisi pria berengsek Itu. Kamu tidak pantas menangisinya karena dia tidak pantas untukmu," jawab Esi yang juga menangis turut merasakan kesedihan Vani.
"Bukan dia. Aku tidak menangisi pengkhianat itu. Aku sedih, aku menangis karena aku begitu hancur. Aku begitu bodoh. Aku wanita yang sangat bodoh. Aku menyakiti keluargaku demi dia. Aku meninggalkan keluargaku dan lebih memilih dia. Kenapa aku begitu bodoh?" Isak Vani melepaskan pelukan mereka lalu memukul kepalanya sendiri.
"Jangan seperti ini! Jangan sakiti dirimu seperti ini. Kamu tidak bersalah, Van. Dia yang salah." Esi coba menghentikan tangan Vani yang terus memukul kepalanya sendiri.
"Aku bahkan rela dibenci oleh Keluargaku hanya demi dia. Aku sudah mengecewakan papa dan mama. Aku benar-benar anak yang durhaka. Aku sudah menghancurkan diriku sendiri. Aku sudah menghancurkan hidupku. Apa yang harus aku katakan pada keluargaku? Bagaimana caranya aku meminta maaf pada mereka? Sekarang semua yang mereka katakan menjadi nyata jika Johan bukan pria yang baik," ucap Vani cukup mengejutkan Esi, karena Esi sama sekali tidak tahu perihal orang tua Vani yang tidak merestui hubungan Vani dan Johan karena selama ini semua terlihat baik-baik saja.
"Apa aku tidak pantas menjadi temanmu? Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya padaku? Kenapa kamu menahan semua ini sendiri? Kenapa kamu menghadapi semuanya sendiri? Ada aku, bukankah kita selalu bersama. Jangan pendam semuanya sendiri, Van. Aku selalu berbagi cerita denganmu, lakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Bagi kesedihan dan masalahmu padaku," ucap Esi kembali memeluk Vani yang terus terisak menangis.
"Dengarkan aku. Aku tidak bisa membenarkan apa yang sudah kamu lakukan
Namun, tidak ada orang tua yang tega membuang anaknya. mereka hanya marah, mereka tidak membencimu. Percayalah itu tidak akan berlangsung lama. Tidak ada orang tua yang membenci anaknya. Tidak ada orang tua yang akan tahan hidup tanpa Anaknya. Percayalah mereka pasti memaafkan mu. Setiap orang tua sangat menyayangi anaknya, Van. Bahkan orang tua rela melakukan apapun demi kebahagian anaknya. Percayalah mereka hanya butuh waktu untuk memaafkan mu. Kamu bisa kembali menemui mereka jika keadaanmu sudah lebih baik. Aku akan menemanimu," ucap Esi lagi menenangkan Vani.
"Justru itu. Aku sudah memberikan luka dan kekecewaan pada mereka. Mereka yang dengan tulus mencintai dan menyayangiku, Aku sudah mengecewakan dan menyakiti mereka. Bodohnya aku..."
"Kamu tahu, Van, apa yang paling aku sukai darimu?" tanya Esi mengusap lembut punggung Vani.
"Aku menyukai mu karena kamu adalah wanita mandiri, yang selalu bersikap dewasa. kamu wanita yang bijak, wanita yang tegar. kamu wanita yang tidak pernah terlihat lemah. Kamu wanita yang tidak mudah ditindas. Itulah yang paling aku sukai darimu. Bahkan aku sangat mengidolakan mu. Aku masih teringat jelas awal kita bertemu, saat itu kita sama-sama berniat melanjutkan kuliah ke Jakarta, kita bertemu di bandara, punya tujuan universitas yang sama, dan menjadi teman sejak saat itu hingga sekarang. Aku menjadi seperti ini semua juga karena mu, ingat dulu aku seperti apa? Aku kampungan, penakut dan ceroboh," Esi tersenyum menjawab sendiri pertanyaannya.
"Aku pengagum beratmu. Wanita cantik mandiri dan tegas. Itulah kamu di mataku," ucap Esi mencoba menghibur Vani dengan semua kenangan masa lalu mereka. Dan ternyata semua tidak sia-sia, terbukti Vani mulai tertawa disela tangisnya.
"Aku sungguh mengidolakan mu," ucap Esi lagi melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Vani mencubit gemas keduanya.
"Kamu benar. Aku tidak boleh di tindas. Johan menyakitiku sama saja dengan dia menindasku." Vani berkata ragu.
"Seperti inilah Vani yang kukenal. Vani yang kuat, Vani yang tegar. Meski sulit, tapi cobalah lupakan dan relakan dia. Kamu pantas bahagia meski tanpa dia," Esi tersenyum sembari jarinya menghapus sisa air mata di wajah Vani.
"Sahabat adalah orang yang selalu bisa menerima temannya apa adanya. Orang yang selalu mau menerima keluh kesah temannya ketika ada masalah. Sahabat juga menjadi orang yang menyelamatkan kita dari rasa kesepian, dan menguatkan kita saat salah satu dari kita lemah. Mendapatkan sahabat yang bisa mengerti setiap keadaan kita baik senang maupun duka adalah salah anugerah yang diberikan tuhan. Aku sahabatmu begitu juga sebaliknya, kita akan selalu bersama menghadapi semuanya," ucap Esi lagi perlahan menghentikan tangis Vani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Satu Dua
adaka teman seperti ini di dunia nyata,kebanyakan teman bermuka dua, pura2 baik,dibelakang nikung,dia yg jahat seolah2 dia yg tersakiti
2023-06-21
2
Pia Palinrungi
itulah sahabat sejati, yg ada disaat kita senang maupun susah, sdh vani lupa johan walaupun dibilang cinta sama kamu jgn denger itu pun cinta
2023-06-04
1
Advan S5e
Jaman sekarang tak ada persahabatan yang tulus. Biasanya didepan manis dibelakang pahit. Saudara aja juga bisa begitu. Bisa saling bunuh karena warisan. Bisa membunuh karena iri.
2023-05-28
1