"Apa maksud semua ini? Menikah? Mantan? Tolong jelaskan padaku, Jo!" Vani yang mendengar ucapan eanita itu jelas terkejut.
"Aku dan Amel sudah bertunangan. Kami akan menikah minggu depan," jawab Johan dengan raut wajah datar.
"Tidak.... becandamu kelewatan, Jo. Aku tidak suka. Tolong jangan seperti ini," ucap Vani bergetar. Sekuat apapun dia berusaha tegar, tetap saja respon tubuhnya lebih jujur dibanding dirinya sendiri.
"Aku serius. Ini Amelia, dia tunanganku."
Vani tersenyum mendengar ucapan Johan yang masih saja coba Vani anggap sebagai prank untuk ulang tahunnya.
"Kamu mencintaiku, bukan?" tanya Vani dengan lugunya.
"Iya, aku sangat mencintaimu," jawab Johan dengan sorot mata senduh, tapi terlihat cinta dimatanya.
Johan sama sekali tidak menghiraukan tatapan marah yang ditujukan Amelia padanya. "Johan!" bentak Amel tak terima.
"Kalau begitu ayo kita menikah. Ayo kita bangun keluarga yang bahagia bersama. Menikahlah denganku, Jo. Aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu," pinta Vani membuang semua rasa malu serta harga dirinya.
"Aku akan menikah, Van. Namun, bukan denganmu. Aku sudah bertunangan, dan ini buktinya. Aku dan Amel sudah bertunangan. Semua ini nyata," jawab Johan kembalo mengakat tangannya, dan memperlihatkan jarinya pada Vani.
Ucapan yang benar-benar menusuk tepat kejantung Vani. Vani tersenyum. Tersenyum mencemooh dirinya sendiri. Menggigit bibirnya, dengan tangan bergetar meremas kuat ujung dress yang digunakannya. Berharap dapat mengurangi rasa sakit yang saat ini dirasakannya.
Huhh......
Helaan napas panjang dari Vani terdengar.
"Kamu sudah bertunangan dibelakangku, disaat hubungan kita masih terjalin?" tanya Vani yang seketika sudah memasang raut wajah dingin. Sedikitpun tidak terlihat raut kesedihan di wajahnya, dalam sekejap Vani bisa menguasai dirinya untuk tidak terlihat lemah.
Cukup, Vani tidak ingin terlihat bodoh dan lemah dihadapan siapapun yang menindasnya. Meskipun Vani sama sekali tidak menyangka jika orang yang sangat dipercayainya melebihi dirinya sendiri, adalah musuh terbesar untuk hatinya dan dalam hidupnya. Pria yang Vani perjuangkan dan rela membuat keluarganya kecewa, justru mengecewakannya.
"Kapan kalian bertunangan?"
"Kemarin," jawab Johan pelan, tapi terdengar jelas ditelinga Vani.
Kamu tahu, Jo? Bagaimana dalam beberapa hari ini aku sangat mengkhawatirkanmu, aku hampir gila memikirkanmu. Aku selalu mendoakan agar dirimu selalu baik-baik saja dalam lindungan Tuhan. Benar, Tuhan mengabulkan doaku. Kamu baik-baik saja bahkan lebih dari baik. Kamu benar-benar sudah menyakitiku, Jo. Batin Vani.
"Tolong percayalah padaku. Aku sangat mencintaimu, aku terpaksa menerima perjodohan ini. Ini semua keinginan mama." Johan mencoba menjelaskan pada Vani.
"Johan! Mudah sekali kamu berbicara seperti itu setelah menuduriku, kita akan menikah karena sudah kewajibanmu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Jangan pernah berkata terpaksa saat kamu justru dengan mudah menikmati tubuhku!" bentak Amelia yang murka mendengar penjelasan Johan pada Vani.
Vani lagi-lagi tersenyum mendengar apa yang dikatakan Amelia.
"Cinta? Seperti itu rasa cintamu untukku? Aku sama sekali tidak menyangka jika pria yang tiga tahun ini aku cintai dan aku perjuangkan adalah seorang bajingan. Sekarang aku mengerti apa alasan keluargaku melarangku berhubungan denganmu!" Serkas Vani menyudutkan Johan yang membeku mendengarnya. Karena untuk pertama kalinya Johan melihat sisi lain dari wanita yang selama ini selalu terlihat sangat lembut padanya.
"Sayang...," ucap Johan memelas menatap Vani penuh harap.
"Cukup! Tidak perlu memanggilku, sayang. Aku bukan wanita perusak hubungan orang. Kamu sudah bertunangan dan tidak sepantasnya kamu menyebut sayang ataupun cinta pada wanita lain seperti diriku." Setiap Kalimat yang keluar dari bibir Vani benar-benar sangat menyakiti Johan, tetapi tahukah Johan jika Vani lah yang paling tersakiti saat ini.
"Lepas....!!" bentak Vani menepis tangan Johan yang coba menyentuhnya. Amel yang melihat itu menarik Johan untuk membawanya pergi, tetapi Johan tetap saja berusaha membujuk Vani.
"Tolong percayalah, aku hanya mencintaimu dan hanya dirimu yang selamanya akan selalu kucintai dalam hidupku."
"Jika kamu mencintaiku, kamu pasti akan berjuang, Jo. Sama halnya dengan aku yang terus berjuang untuk cintaku. Kamu tidak tau Jo apa saja yang sudah aku lewati untuk memperjuangkan cinta ini. Aku menentang keluargaku hanya untuk memilih tetap bersamamu, aku menyakiti mereka demi pria sepertimu. Namun sekarang semuanya sia-sia, Jo. Kamu sama sekali tidak mengerti apa itu cinta, Jo." Vani kembali tersenyum. Senyuman yang hanya dirinya sendiri yang tahu arti dari senyumannya.
"Tolong maafkan aku. Maafkan aku. Kamu pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dan tulus mencintamu. Maafkan aku!" Suara Johan terdengar serak karena menangis.
Tidak, Jo. Aku tidak yakin akan menemukan pria seperti yang kamu katakan. Pria sebaik kamu yang selama ini sangat kupercai saja, bisa menjadi pria yang sangat kejam seperti ini. Aku benar-benar tidak percaya akan yang namanya pria baik lagi di dunia ini. Batin Vani.
Melihat keadaan Johan yang saat ini juga terlihat terpuruk, benar-benar menambah luka dihati Vani.
Ingin sekali Vani memeluk erat tubuh pria yang selama ini selalu memberikan perlindungan dan kenyamaan padanya. Namun mengingat kembali semua ucapan pahit Johan, menyadarkan Vani jika Johan bukan lagi miliknya. Wanita yang beberapa saat lalu pergi karena marah pada Johan adalah pemiliknya.
Vani tersenyum lalu memejamkan matanya. Menengadahakan kepalanya, coba menenangkan sejenak hatinya. Meskipun itu tidak akan ada gunanya.
Semua yang melihat dan mendengar langsung atas semua yang sudah terjadi antara Johan dan Vani, tentu saja mengerti dan merasa iba kepada Vani. Termasuk seorang pria yang berada di ruangan khusus yang ada di cafe tersebut, turut menyaksikan semua itu dan terus saja menatap Vani.
"Semua penilaianku selama ini tentangmu benar-benar salah. Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar karena mempercayaimu. Selamat untuk pertunangan kalian, jika benar niatmu bertemu denganku hari ini untuk mengundangku ke pernikahan kalian, maka aku pastikan aku akan datang. Aku akan datang dan turut mendoakan kebahagiaanmu," ucap Vani dengan begitu tenang mengatakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Tega Johan, Menikahin wanila lain, Ntar hujung2 ngejar2 Vani lagi, ngapain coba..
2023-10-24
0
Pia Palinrungi
begitulah fani kalau menentang ortu itu yg kamu dapat kalau laki2 bener mencintai kita akan menodai cintanya alasan hanya u pelepasan rela meniduri cewek apakah itu cinta sejati
2023-06-04
0
Mbah Edhok
jangan luruh karena putus cinta ...
2023-05-26
0