"Hei, ada apa?" tanya Esi menyadarkan Vani yang tengah melamun, mengingat kejadian tempo hari.
"Tidak ada apa-apa," jawab Vani tersenyum.
"Van, aku belum melihat Johan beberapa hari ini. Di mana dia?" tanya Esi lagi.
"Entahlah," jawab Vani lemas.
Sudah tiga hari Vani tidak bertemu ataupun mendapat kabar dari Johan–Kekasihnya, semua itu jelas membuat Vani dipenuhi rasa khawatir.
Tidak sedikitpun Vani curiga atau berpikiran yang buruk pada Johan. Vani begitu percaya pada Johan. Yang Vani khawatirkan adalah keadaan Johan, apakah dia baik baik saja atau tidak.
Vani sudah berulang kali mencoba menghubungi Johan, tetapi nomor Johan tidak bisa dihubungi, begitu juga Vani sudah mendatangi kantornya, tapi Johan juga tidak berada di kantornya.
Ya Tuhan... Semoga Johan baik baik saja. Lindungi dia dari bahaya apapun Tuhan.
"Sayang.... apapun yang terjadi kedepannya. Aku harap kamu bisa hidup lebih baik lagi dari sekarang. Tolong percayalah, Dimana pun dan kapan pun itu. Aku akan selalu mencintaimu, Hanya dirimu yang akan selalu menempati hatiku." Ucapan Johan saat terakhir kali mereka bertemu semakin membuat Vani cemas. Vani benar-benar merindukan dan mengkhawatirkan kondisi Johan.
"Kamu tidak bertanya padanya?" ucap Esi.
"Aku sudah berulang kali menghubunginya, tetapi yidak ada tanggapan. Lebih tepatnya tidak bisa dihubungi," jawab Vani sembari kembali mengetik pesan untuk Johan.
[Sayang.. Kamu dimana? Apa semua baik-baik saja?]
***
Di tempat yang berbeda. Seorang pria yang sedang dirindukan oleh Vani, menatap nanar pada cincin yang sudah melingkar dijari manisnya beberapa jam yang lalu itu.
Sebelum menghancurkan perasaan Vani nanti saat ia akan menjelaskan pada Vani, saat ini hatinya lah yang benar-benar sudah hancur, hancur tak tersisa karna telah menjadi penyebab kesedihan Vani nanti.
Disatu sisi Johan tidak ingin melepaskan Vani, tapi disisi lainnya Johan juga tidak bisa mempertahankan dan memperjuangkan cinta mereka karena terhalang restu. Johan juga tidak bisa menolak permintaan orang tuanya untuk menikahi wanita yang telah mereka jodohkan padanya. Melampiaskan kekesalannya pada wanita itu hingga akhirnya justru keadaan semakin mendesaknya untuk menerima wanita yang akan dijodohkan padanya.
Mungkin sebagian orang akan berpikir jika Johan tidak benar-benar mencintai Vani, tapi kenyataannya semua itu salah, Johan begitu sangat mencintai Vani.
Johan pria normal yang membutuhkan pelepasan. Cinta yang dimiliki Johan membuatnya selalu menahan diri untuk tidak merenggut kesucian kekasihnya tanpa status pernikahan. Sebab itu Johan mencari kepuasan diluar sana. Tapi percayalah Johan hanya butuh pelepasan, Tidak lebih karena rasa cintanya sepenuhnya milik Vani–kekasihnya.
Tidakkah Johan sadar jika sudah begitu banyak kesalahan yang ia lakukan dibelakang Vani? Sebuah hubungan harus dilandasi dengan saling percaya dan terbuka, tetapi Johan menutupi semuanya dari Vani. Johan bertunangan dengan wanita yang sudah ditidurinya dibelakang Vani. Mengkhianati kepercayaan Vani.
Johan benar-benar hancur dan merasa menjadi pria yang sangat buruk. Karena tidak bisa memperjuangkan cinta mereka. Johan tidak bisa memilih Vani dibanding wanita yang sudah ditidurinya, karena tuntutan dari keluarga wanita itu membuat perjodohan mereka harus terjadi.
"Aku sangat mencintaimu Vani... Tolong maafkan aku," ucap Johan menangis membayangkan betapa terlukanya Vani setelah tahu semua kebenarannya yang disembunyikan olehnya.
***
[Sayang... Kita bertemu ditempat biasa saat jam makan siang, ya! Aku menunggumu.]
Vani tersenyum senang dan menghela nafas lega saat mendapat pesan, dari pria yang selama tiga hari ini tidak mengabarinya. Pesan dari Johan menandakan jika dia baik-baik saja dan itu sudah lebih dari cukup membuat Vani merasa tenang.
"Johan?" Esi yang duduk di samping Vani bertanya.
"Iya Johan," jawab Vani dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Kamu tahu, Esi? Johan memintaku bertemu di cafe biasa tempat favorit kami. Aku sangat yakin dia tidak akan mungkin melupakan hari ulang tahunku, sesibuk apapun dia, dan ternyata keyakinan ku benar bukan? Johan mengingat hari ini. Buktinya dia memintaku datang ketempat favorit kami," ucap Vani lagi.
Esi hanya menanggapi dengan senyuman semua ucapan Vani. Jika Vani bahagia maka tentu saja sebagai sahabat, dia juga akan bahagia.
"Ya ampun, sebentar lagi jam makan siang. Aku harus segera bersiap siap. Kenapa aku bisa menjadi gugup begini ingin bertemu dengannya?" Vani terlihat panik setelah melihat jam di phonselnya.
"Tenang, Van. Ini baru jam sebelas. Vani yang aku kenal adalah wanita yang selalu bisa bersikap tenang dalam menghadapi apapun itu, kenapa sekarang seperti cacing kepanasan?" ucap Esi tertawa pelan.
Huhhhhh.......
Vani menghela napas kasar lalu kembali tersenyum menatap Esi.
"Terimakasih, Ya. Jika nanti aku terlambat, tolong bantu aku untuk mencari alasan izin, please..." pinta Vani yang di anggukkan oleh Esi–sahabatnya.
Vani saat ini sudah berada di cafe tempat mereka janjian yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor dan apartemen Vani. Vani begitu semangat mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Johan di hari bahagianya itu.
Menggunakan Midi Dress berwarna salem yang terlihat sangat cantik melekat ditubuhnya. Dress yang dikenakan Vani adalah dress yang pernah dibelikan Johan untuknya.
Rambut panjang kecoklatan yang bergelombang miliknya dibiarkan terurai, serta ditambah dengan sedikit polesan make up yang pastinya natural menambah kesempurna pada penampilan Vani.
"Aku mencintaimu, Jo. Aku benar-benar tidak sabar bertemu denganmu, selalu merindukanmu. Di hari ulang tahunku ini, aku ingin memintamu melamarku," ucap Vani menatap kembaran dirinya di cermin besar yang ada dihadapan nya saat ini.
1 jam menunggu, Johan akhirnya terlihat.
Perasaan gugup, takut, gelisah, ditambah dengan degup jantung yang berdetak kencang. Dirasakan Vani saat ini saat melihat sosok pria yang sangat dicintainya, masuk ke dalam cafe bersama seorang wanita berjalan menghampirinya.
Vani membeku setelah melihat bagaimana wanita yang datang bersama Johan, mengangkat tangan mereka lalu menunjukan jari tangan mereka kepada Vani.
Perasaan gelisah, takut, serta kebingungan menyelimuti Vani. Vani berusaha tenang mengenyahkan semua pikiran buruk yang terlintas di kepalanya.
"Sayang, katakan pada mantan kekasihmu jika kita akan segera menikah!" ucap wanita itu pada Johan, tetapi memberikan tatapan menghina pada Vani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
kejora
katanya cinta kq berkhianat 😤
2023-06-25
0
Pia Palinrungi
vani ini yg kamu pertahankan dgn rela meninggalkan kedua ortumu, johan mmng cinta tp cintanya palsu krn main dibelakang kamu...penyesalanmy nanti tdk berguna vani, cinta mmng boleh tp akal jg harus jalan
2023-06-04
0
Nurwana
astaga Johan.... inikah balasan yg kamu berikan Ats pengorbanan Vani.....???? dia rela meninggalkan ortunya demi kamu tp kamunya bermain api dibelakangnya. jgn mngharap maaf dari Vani setelah apa yg kamu lakukan.
2023-05-23
0