🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Historia menggelengkan kepalanya pelan, ‘mendengar kalimat suaminya yang terlalu menganggap remeh setiap nyawa seseorang.
“Kamu memang egois Fin, kamu tidak mengerti perasaan aku, kamu -“
“Kamu yang tidak mengerti Histo, kamu harusnya tahu -“
“Tahu apa? Tahu kalau kamu sebenarnya dari awal tidak mau mempunyai anak? Iya?” Tuntut Historia, menanti jawaban yang sejujurnya dari Griffin.
“Bukan begitu Histo, kamu salah! Aku mau bayi ini karena ini anak kita, apa maksud kamu tidak mau anak ini?”
“Kami bahkan liat betapa bahagianya aku ketika tahu jika anak kita perempuan, lalu sekarang kamu mengatakan aku tidak senang?”
“Histo, hey.” Ucapnya, sembari mengulurkan tanganya, ingin menyentuh perut istrinya, namun Historia secepat kilat menepisnya.
“Aku bukan tidak mau memiliki anak, kamu salah paham -“ jelasnya dan kali ini mencoba dengan kata - kata lembutnya.
“Tapi, kalau aku harus kehilangan kamu demi bayi ini, aku gak bisa Histo, dan apa -“
“Bagaimana aku bisa menyayangi anak ini kalau bahkan kelahirannya aja bisa membuaku kehilangan kamu? Pahamilah posisi aku Histo,” Griffin mencoba kembali berbicara lembut pada istrinya. Namun Historia tetap menggelengkan kepalanya dan merasa pusing pada kejadian ini.
Namun, di saat mereka sedang mengobrol, Briell terlihat masuk ke dalam kamar mereka karena tidak terkunci.
“Fin, Historia sedang hamil, berhenti dulu untuk mengatakan hal - hal yang bisa membuatnya stress,” pinta Briell, agar anaknya itu berhenti untuk mengompori Historia untuk membunuh bayinya.
“Tapi Mah -“
“Mamah sudah mengatur pertemuan besok dengan Dokter Jantung yang ada di Paris, kita akan bertemu beliau besok dan kita akan tahu apa yang sebaiknya kita lakukkan.” Briell mencoba menenangka situasi. Dia tidak mau, karena keegoisan putranya, kondisi Historia yang baik - baik saja jadi kenapa - kenapa, karena terus kepikiran soal pernyataan Griffin.
Mendengar kata - kata Mamahnya, Griffin akhirnya mulai bernafas legah, karena dia akan bertanya pada Dokter besok baiknya seperti apa untuk Historia.
Dia tentu saja mau bayi itu, tapi kalau dia harus memilih di antara bayi atau ibunya, sudah jelas jika Griffin akan memilih ibunya dan tidak terlalu memperdulikan bayinya.
***
Setelah perdebatan ini selesai. Griffin mencoba mengajak Historia ke bawah, berkeliling di taman tanpa menggunakan apas kaki, dia mau Historia merasakan langsung rumput yang basah dan segar.
“Ini masih terik banget, tapi aroma anginnya enak banget.” Ucap Histo, menatap Langit dengan sedikit menyipitkan matanya.
“Sayang, besok kita ke Korea yuk.” Ajak Griffin tiba - tiba.
“Besok? Tapi bukankah kita mau ke dokter besok?” Tanya Historia, lalu berjalan menghampiri suaminya yang duduk di taman tidak jauh darinya.
“Kita lihat besok, kalau misalnya kata dokter aku tidak apa - apa, ya udah besok lusa kita berangkat, tapi kalau kata dokter aku harus istirahat, ya udah kita di rumah aja.” Jawab Historia sendiri, memberikan pendapatnya padahal Griffinlah yang mengajaknya.
“Memangnya ada apa sih di Korea? Sepertinya kamu pengen ke sana?” Tanya Historia balik pada Griffin yang tengah menikmati tea buatan Mamahnya.
“Aku sudah sempat beberapa kali ke sana, tapi baru - baru ini aku tahu kalau Korea banyak makanan yang enak, So, aku ingin mengajakmu untuk kulineran di sana.” Jawab Griffin jujur.
Dia ingin sekali, menghabiskan waktu berdua saja dengan istrinya, ya liburan keliling dunia atau apapun lah yang bisa membuat istrinya ini senang dan tidak terus - terusan memikirkan soal ketakutaannya melahirkan.
“Kalau tidak bisa, ya nanti biar Koreanya yang aku pindah ke sini.” Sambungnya lagi, ketika melihat perubahan mimik wajah istrinya yang sepertinya ragu akan kesehatannya.
“Aaaahhh.” Lirih Historia pelan, sontak membuat Griffin terkejut melihatnya.
“Ada apa?” Tanya Griffin sembari mendekati istrinya dan meminta istrinya untuk duduk sejenak.
Histroia tersenyum, lalu mengambil tangan Suaminya untuk memegang perutnya. “Lihat deh, perut aku gerak.” Jawabnya, dan meminta Griffin untuk merasakan pergerakan bayinya.
“Bisa gitu ya? Dia geser - geser gitu?” Tanya Griffin, ketika dia merasakan gerakannya berpindah - pindah.
“Mungkin benar kata dokter, dia masih mencari tempat yang ternyaman untuk tidur.” Jawab Historia di iringi dengan tawa kecilnya.
Griffin yang penasaraan, langsung meletakan telinganya ke perut Histo, dia ingin mendengar apakah bayinya akan bersuara atau tidak.
“Hey, kalian sedang apa?” Tanya Briell, yang tersenyum melihat kebersamaan anak - anaknya.
“Mamah,” sahut Histo, terkejut melihat mertuanya yang datang dengan membawkannya segelas susu.
“Griffin sudah jam berapa ini? Kamu tidak membuatkan Historia susu hamilnya?” Tanya Briell dengan sinis pada putranya.
“Ahhh, lupa Mah.” Jawabnya, lalu memggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Historia tersenyum, ketika suaminya merasa bersalah seperti itu. “Utung Mamah ingat, jadi Mamah aja yang buatkan.” Balas Briell lagi, laly memberikan segelas susu itu pada Historia.
“Terima kasih Mah.” Ucap Historia di saat menerima gelas berisikan susu dari mertuanya itu.
“Sama - sama sayang.” Briell tersenyum, ketika Historia sepertinya sudah tidak mengingat lagi kejadian tadi, dan kini hubungan mereka baik - baik saja.
“Oh ya, nanti malam karena acara kumpul keluarga, Mamah mengadakan acara Gendre reveal party.” Tandasnya, membuat Griffin menyeritkan keningnya bingung.
“Bukankah kita sudah tahu, jika bayi kita perempuan Mah? Lalu untuk apa acara seperti itu?” Tanya Griffin pada Mamahnya, yang bahkan tidak paham dengan acara - acara seperti itu.
“Ya juga sih, tapi Mamah sudah pesan kue dengan dalam warna pink, gimana dong?” Tanya Briell balik, karena dia merasa telat memberitahu putranya untuk tidak meminta hasil jenis kelamin dulu pada dokter yang menangani menantunya.
“Ya sudahlah, kuenya gpp, Sebagai dessert kita malam ini, tapi di anak ke dua nanti wajib ya.” Jawabnya sendiri, karena Griffin dan Historia terlihat diam saja tanpa menganggapinya.
“Hem, oh ya, Mamah sudah menyaring desain - desain kamar baby girl yang paling bagus,”
“Ini kalin lihat.”
“Kalian mau pilih gambar yang mana? Biar langsung Mamah Eksekusi ini?” Tanya Briell, menunjukkan gambar - gambar yang di kirim oleh tukang Decoration profesional langganan mereka.
Griffin dan Historia terlihat menimbang - nimbang sejenak, “aku suka desain yang gambar pertama sih Mah, lebih luas dan aku tidak mau kamar putriku sempit.” Ujar Griffin pada mamahnya.
“Hem, bagaimana kalau Desainnya gambar yang pertama di tambah gambar yang ke 7, kaya boneka - bonekanya gitu, dan Tempat tiur babynya aku mau yang seperti nomor 6, jadi Mamah atau Papahnya kalau lagi nemenin bisa ikut masuk juga, bisa gitu tidak ya Mah?” Tanya Historia pada mertunya.
“Tentu saja bisa, apapun yang kamu inginkan sayang, Mamah akan langsung eksekusi.” Jawab Briell dengan penuh antusias. Karena awalnya dia bahkan ingin membuatkan kolam renang kecil buat cucunya di dalam kamar, namun suaminya melarang karena takut bahaya untuk keselamatan bayinya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
HR_junior
yg gercep ni si briell si nenek cantik..yg pengen punya anak LG syang dah gak bisa
2023-01-05
0
🌸𝓐𐝥𐔎𐒻𐀁🍒⃞⃟🦅OFF
olang kaya mah bebas mau apa aja yg penting happy
2023-01-05
0
Diah Ayu Lukitowati
It's up to you.
Yang penting Lyla bahagia.😁😁😁💜
2023-01-05
0