Peringatan dari Arfan

"Pak Erick, ini kopi sama rotinya, Pak." Sekretaris Erick meletakkan secangkir kopi dan beberapa potong roti isi ke atas meja kerja Erick.

Erick mendongak sekilas, lalu mengangguk.

"Terima kasih," sahut lelaki itu sembari kembali melihat ke arah layar laptopnya.

"Tidak ada yang Bapak butuhkan lagi?" tanya sekretaris itu lagi.

"Tidak. Silakan lanjutkan pekerjaanmu," sahut Erick lagi tanpa beralih dari pekerjaannya.

"Baik, Pak." Sekretaris itu akhirnya sedikit membungkukkan badannya, sebelum kemudian kembali ke meja kerjanya yang berada tak jauh dari meja kerja Erick.

Rima, sosok sekretaris muda yang telah bekerja membantu semua pekerjaan Erick selama setahun belakangan ini. Dia kembali meneruskan pekerjaannya seperti yang Erick minta, tapi sesekali matanya tampak melirik ke arah atasannya itu. Selama Rima bekerja untuk Erick, baru kali ini dia melihat lelaki itu minta disiapkan sarapan di kantor. Biasanya, istrinya tak akan membiarkan Erick makan makanan sembarangan.

Siapa yang tidak tahu kalau Erick adalah suami dari Lalita Baskara, putri kesayangan dari direktur sekaligus sang pemilik hotel. Erick yang sejak menikahi Lalita diangkat menjadi wakil direktur, tentunya bertransformasi menjadi sosok yang paling disegani juga. Tak jarang dia menjadi incaran para perempuan penggoda yang kebetulan juga bekerja di hotel tersebut karena posisinya yang ini hanya setingkat di bawah pimpinan utama. Namun, tentu saja sejauh ini tak ada skandal yang menjerat Erick. Semua itu tak luput dari peran Lalita yang begitu besar.

Di kalangan para karyawan hotel, Lalita terkenal protektif dan pencemburu. Hanya Rima saja yang bertahan cukup lama menjadi sekretaris Erick karena dia tak berusaha menggoda atasannya itu. Sebelumnya, entah sudah berapa orang sekretaris yang diberhentikan karena kedapatan merayu Erick. Bukan hanya sekretaris, tapi siapapun yang terlihat memiliki gelagat tak baik, pasti akan langsung segera disingkirkan oleh Lalita.

Bahkan, putri kesayangan direktur itu rela setiap hari datang ke hotel untuk mengantarkan makan siang hasil masakannya sendiri untuk Erick, saking cintanya dia. Itulah kenapa saat ini Rima agak heran melihat Erick pagi ini sarapan ala kadarnya di kantor.

"Pak Erick," panggil Rima kemudian setelah beberapa saat sebelumnya dia menerima panggilan interkom.

"Iya?" Lagi-lagi Erick menyahut tanpa menoleh.

"Bapak diminta datang ke ruangan Direktur." Rima memberitahu.

Kali ini Erick mendongakkan kepalanya, lalu tertegun sejenak. Tak biasanya mertuanya itu memintanya datang ke ruangannya.

"Katanya Pak Arfan mau membahas hasil meeting rencana perluasan hotel tempo hari." tambah Rima lagi.

"Oh." Erick bergumam lega. Entah kenapa, dia merasa tak siap kalau mertuanya itu hendak membahas tentang Lalita. Erick sendiri memiliki begitu banyak pertanyaan yang mengganjal di pikirannya tentang sang istri, yang tentunya belum dia cari tahu jawabannya.

"Pak Arfan bilang sekarang, Pak." Rima kembali mengingatkan.

"Iya, baiklah." Erick sedikit menghela nafasnya, sebelum kemudian menutup laptopnya.

Lelaki itu kemudian bangkit dan keluar dari ruang kerjanya, lalu pergi menuju ke ruang kerja Arfan. Dia memberitahukan kedatangannya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Barulah setelah dipersilakan masuk, dia masuk ke dalam sana.

Erick sedikit terkejut saat mendapati Larisa juga ada di ruangan tersebut, meski sebenarnya kehadiran Larisa di sana bukanlah sesuatu yang aneh, mengingat Larisa juga bekerja di hotel sebagai kepala divisi perencanaan.

"Duduk dulu. Ada yang mau Papa bicarakan pada kalian berdua," perintah Arfan pada Erick.

Erick pun menurutinya dan menghenyakkan bobot tubuhnya di samping Larisa. Setelah kejadian semalam, ada perasaan tak nyaman yang kini menghinggapi dirinya hanya dengan duduk di samping kakak iparnya ini sekaligus perempuan yang dicintainya ini. Padahal, sebelumnya dialah yang selalu mencari-cari kesempatan untuk berdekatan dengan Larisa saat mereka sedang bekerja.

"Mengenai rencana perluasan hotel, kita memang belum bisa merealisasikannya dalam waktu dekat. Tapi Papa berencana untuk membangun satu cabang hotel lagi di salah satu kota yang sektor pariwisatanya sedang berkembang pesat." Arfan membuka pembicaraannya.

"Erick, kali ini Papa ingin kamu membantu Risa untuk membuat perencanaannya. Ada beberapa daftar kota. Kalian analisa, kota mana yang paling potensial," tambah Arfan lagi. Lelaki itu kemudian mengeluarkan beberapa berkas, lalu diberikannya pada Erick dan Larisa.

"Pelajari itu, lalu nanti berikan hasil analisa kalian pada Papa."

"Baik, Pa." Erick dan Larisa menjawab hampir bersamaan. Mereka saling menoleh, lalu terlihat membuang muka kembali dengan ekspresi canggung.

Erick sendiri tak paham kenapa dia tidak merasa senang saat mertuanya memerintahkan dirinya untuk bekerja sama dengan Larisa. Padahal, kesempatan seperti inilah yang selama ini dia cari. Jika kedepannya dia dan Larisa resmi memegang sebuah proyek bersama, tentu nantinya mereka akan lebih sering bepergian bersama juga.

Ada perasaan yang mengganjal yang saat ini Erick rasakan, meski dia juga tak tahu apa. Yang jelas, sejak berangkat dari rumah dalam keadaan tak menyentuh sarapannya tadi, pikiran lelaki itu terus mengarah pada Lalita.

"Itu saja yang ingin Papa katakan pada kalian. Silakan kembali dan meneruskan pekerjaan kalian," ujar Arfan kemudian, membuyarkan pikiran Erick.

"Baik, Pa. Kalau begitu, saya permisi dulu." Larisa bangkit lebih dulu dan meninggalkan ruangan Arfan, sedangkan Erick langsung ditahan kembali begitu dia hendak bangkit.

"Apa ada hal lain lagi, Pa?" tanya Erick.

"Iya. Papa baru ingat, bagaimana keadaan Lita sekarang? Apa semalam terjadi sesuatu sampai dia meninggalkan pesta?" tanya Arfan sembari menatap Erick lekat.

Sorot mata Arfan begitu tajam, membuat Erick sedikit menahan nafasnya. Akhirnya pertanyaan tentang Lalita keluar juga dari mulut Arfan. Erick sangat tahu, di balik ucapan Arfan yang terdengar cukup santai, lelaki paruh baya saat ini sedang menatapnya penuh selidik.

Arfan adalah tipe orang yang sanggup melakukan apa saja demi menghancurkan orang yang membuat putri sesayangannya bersedih. Jika Erick nekat menceraikan istrinya itu, apalagi demi Larisa, maka bisa dipastikan Arfan akan menghancurkannya dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

"Lita baik-baik saja, Pa. Tidak terjadi apa-apa. Dia hanya lelah dan memutuskan untuk langsung pulang," sahut Erick akhirnya setelah terdiam selama beberapa saat.

"Jika dia hanya lelah, bukannya bisa beristirahat di kamar hotel saja, tidak perlu langsung pulang. Kamu yakin kalau tidak ada hal buruk yang dialaminya?" tanya Arfan lagi.

"Tidak, Pa. Lita hanya lelah dan ingin beristirahat dengan nyaman di rumah, bukan karena apa-apa." Erick berbohong. Padahal faktanya, dia juga tidak tahu alasan Lalita buru-buru pulang semalam.

Arfan terlihat menghela nafasnya.

"Aku harap memang seperti itu, Erick," gumamnya.

"Aku harap kamu tidak melakukan sesuatu yang membuat Lita bersedih, apalagi sampai meneteskan air mata. Kamu mesti ingat, alasan kenapa aku mengangkat posisimu sampai setinggi sekarang, itu karena aku ingin kamu memiliki kemampuan untuk membahagiakan putriku. Jangan pernah sakiti dia meski hanya seujung kuku. Jika dia sampai tidak bahagia, aku pastikan kamu akan kembali ke tempat di mana kamu berasal, tentunya dalam keadaan yang lebih buruk dibandingkan saat aku membawamu dulu." Arfan mengingatkan dengan nada bicara yang tak main-main.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

YA JD ERICK TERPAKSA JG BERTAHAN GAK BERANI MENCERAIKAN LALITA KRN ANCAMAN PAPA LALITA. KASIHAN LALITA

2025-02-03

0

ALNAZTRA ILMU

ALNAZTRA ILMU

hmm erick tak ada daya.. salah langkah.. cubalah awal2 jujur sebelum nikah kan.

2025-02-12

0

C2nunik987

C2nunik987

mampus loe ga tau diri udh dpt adiknya ....kakanya msh km harapkan dasar serakah 😡😡😡

2024-11-14

0

lihat semua
Episodes
1 Kejutan di Hari Anniversary
2 Hanya Sandiwara
3 Terakhir Kalinya
4 Berubah
5 Peringatan dari Arfan
6 Alasan dari Semua Kebencian
7 Berusaha Tegar
8 Meminta Penjelasan
9 Kecewa
10 Sebenarnya, Kenapa Dia?
11 Sesuatu yang paling Diinginkan
12 Sebuah Keputusan
13 Meminta Bantuan
14 Pesan untuk Arfan
15 Isi Hati Lalita
16 Panik
17 Anugerah Sekaligus Kutukan
18 Langkah Pertama
19 Surat dari Lalita
20 Pilu
21 Semakin Kacau
22 Tabir yang Tersingkap
23 Keluarga Palsu
24 Akhiri Semuanya
25 Maafkan Aku Karena Memisahkan Kalian
26 Hati yang Tulus
27 Sesal
28 Persidangan Pertama
29 Akhir dari Rasa
30 Meninggalkan Semuanya
31 Kasih Sayang yang Salah
32 Sekali Ini Saja
33 Tak Lagi Memiliki Kesempatan
34 Ternyata Arfan Tahu
35 Bukan Kasih Sayang, Tapi Racun!
36 Harapan di Balik Sikap Membangkang
37 Resmi Menjadi Mantan Suami
38 Salam Perpisahan
39 Kabar dari Arfan
40 Nasihat Riani
41 Tindakan yang Riani Ambil
42 Dia Berhak Tahu
43 Hal yang Tak Mungkin Terjadi
44 Hukuman Dimulai
45 Tekad Baru
46 Kenyataan Pahit untuk Erick
47 Rumpi dulu yuk, Gaessss
48 Menjadi Lebih Dewasa
49 Menyadari Kesalahan
50 Pengumuman
51 Pengumuman
52 Sebuah Tamparan
53 Gadis Tanpa Rahim
54 Bukan Keluarga Palsu
55 Pergilah, Erick ... Jangan Kembali Lagi ....
56 Tak Ada Jalan Kembali
57 Sebuah Perubahan Kecil
58 Pendosa yang Memohon Pengampunan
59 Riani dan Arfan
60 Kembali Utuh
61 Permintaan Maaf Arfan
62 Terima Kasih, Lita ....
63 Impian yang Tertunda
64 Mengikhlaskan
65 Sesal
66 Lelaki Luar Biasa
67 The Broken Ring
68 Kalandra Ingin Bulan Madu
69 Layu Sebelum Berkembang
70 Berusaha Menerima Kenyataan
71 Rahasia Zayn
72 Impian dan Pengharapan
73 Atmosfer yang Berubah
74 Percayalah Padaku
75 Pengakuan Tak Terduga
76 Hai-hai ....
77 Aku Mencintaimu, Zayn
78 Kak Shelin dan Kalandra
79 Jodoh Terbaik
80 Harapan Lalita
81 Akan Indah Pada Waktunya (End)
82 Sudah Rilis
83 Karya Baru
84 Info Karya Baru Keren
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Kejutan di Hari Anniversary
2
Hanya Sandiwara
3
Terakhir Kalinya
4
Berubah
5
Peringatan dari Arfan
6
Alasan dari Semua Kebencian
7
Berusaha Tegar
8
Meminta Penjelasan
9
Kecewa
10
Sebenarnya, Kenapa Dia?
11
Sesuatu yang paling Diinginkan
12
Sebuah Keputusan
13
Meminta Bantuan
14
Pesan untuk Arfan
15
Isi Hati Lalita
16
Panik
17
Anugerah Sekaligus Kutukan
18
Langkah Pertama
19
Surat dari Lalita
20
Pilu
21
Semakin Kacau
22
Tabir yang Tersingkap
23
Keluarga Palsu
24
Akhiri Semuanya
25
Maafkan Aku Karena Memisahkan Kalian
26
Hati yang Tulus
27
Sesal
28
Persidangan Pertama
29
Akhir dari Rasa
30
Meninggalkan Semuanya
31
Kasih Sayang yang Salah
32
Sekali Ini Saja
33
Tak Lagi Memiliki Kesempatan
34
Ternyata Arfan Tahu
35
Bukan Kasih Sayang, Tapi Racun!
36
Harapan di Balik Sikap Membangkang
37
Resmi Menjadi Mantan Suami
38
Salam Perpisahan
39
Kabar dari Arfan
40
Nasihat Riani
41
Tindakan yang Riani Ambil
42
Dia Berhak Tahu
43
Hal yang Tak Mungkin Terjadi
44
Hukuman Dimulai
45
Tekad Baru
46
Kenyataan Pahit untuk Erick
47
Rumpi dulu yuk, Gaessss
48
Menjadi Lebih Dewasa
49
Menyadari Kesalahan
50
Pengumuman
51
Pengumuman
52
Sebuah Tamparan
53
Gadis Tanpa Rahim
54
Bukan Keluarga Palsu
55
Pergilah, Erick ... Jangan Kembali Lagi ....
56
Tak Ada Jalan Kembali
57
Sebuah Perubahan Kecil
58
Pendosa yang Memohon Pengampunan
59
Riani dan Arfan
60
Kembali Utuh
61
Permintaan Maaf Arfan
62
Terima Kasih, Lita ....
63
Impian yang Tertunda
64
Mengikhlaskan
65
Sesal
66
Lelaki Luar Biasa
67
The Broken Ring
68
Kalandra Ingin Bulan Madu
69
Layu Sebelum Berkembang
70
Berusaha Menerima Kenyataan
71
Rahasia Zayn
72
Impian dan Pengharapan
73
Atmosfer yang Berubah
74
Percayalah Padaku
75
Pengakuan Tak Terduga
76
Hai-hai ....
77
Aku Mencintaimu, Zayn
78
Kak Shelin dan Kalandra
79
Jodoh Terbaik
80
Harapan Lalita
81
Akan Indah Pada Waktunya (End)
82
Sudah Rilis
83
Karya Baru
84
Info Karya Baru Keren

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!