Bab 8 - Sahabat Leonardo

Pagi itu, selesai sarapan Calista yang telah menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk, segera bersiap dan datang ke istana pangeran. Ia ingin melihat putranya itu berlatih pedang.

Sesampainya di sana, Calista dapat melihat pemandangan putranya yang berlatih pedang seorang diri. Tanpa ragu Calista segera datang menghampiri Theodore, wajah anak itu berubah senang kala melihat sang ibu.

“Ibu!”

“Theodore bagaimana latihanmu, apa sudah usai?”

“Sudah, Bu, Marquis sudah pergi sedari tadi. Tapi ibu tahu mulai minggu depan aku akan berlatih di tempat pelatihan kesatria.”

“Benarkah?”

“Ya, Marquis bilang aku sudah menguasai semua jurus, jadi minggu depan aku akan mulai berlatih dengan pedang sungguhan,”

Calista tersenyum, ia berjongkok dan mencubit pipi cubby putranya, “Kau memang putra ibu yang paling cerdas.”

Theodore tersenyum bangga, “Ibu apa saat kecil kau menerima pelajaran seperti ini dulu, kan ibu juga dipersiapkan menjadi seorang permaisuri sejak kecil.”

“Hmm, iya ibu menerima pelajaran sepertimu, tapi lebih banyak mengenai peraturan istana dan etiket.”

“Berarti dulu ibu juga berlatih pedang?”

Calista mengangguk.

“Kalau begitu bisakah ibu mempelajari jurus-jurus pedang yang dulu ibu pelajari padaku.”

Calista terdiam sesaat mencoba mengingat-ingat jurus-jurus dasar yang dulu ia kuasai, tanpa menjawab perkataan putranya Calista berjalan menuju pelayan Theodore.

“Pergilah ke istana putih dan minta pelayanku membawakan pedang yang tersimpan di peti.”

“Baik Yang Mulia.”

Sementara menunggu sang pelayan mengambilkan pedang miliknya, Calista kembali datang menghampiri Theodore.

“Tunggulah, ibu akan menunjukkannya padamu,” ucap Calista sembari tersenyum simpul pada putranya.

Tak lama Alie datang membawa sebuah pedang dengan ukiran khas di ganggangnya, itu adalah pedang yang diberikan mendiang ibunya dulu pada Calista.

Calista tanpa pikir panjang mengambil pedang tersebut, di hadapan Theodore Calista mengayun-ayunkan pedangnya dengan berbagai jurus.

Theodore takjub pada sang ibu yang begitu lihai memakai pedang meski menggunakan gaun, dan tak merasa berat sama sekali memegang benda tajam tersebut.

Calista yang mengayun-ayunkan pedangnya tak menyadari akan kedatangan Leonardo yang berdiri belakangnya. Hingga ketika sang kaisar memanggil, Calista refleks langsung mengarahkan pedang ke leher Leonardo.

Sang kaisar terdiam melihat istrinya mengacungkan pedang ke arahnya, ia bukannya takut atau terkejut, Leonardo malah aneh dengan tatapan tajam nan pastinya Calista menatap dirinya.

Bahkan meski ia telah tahu kesalahannya, Calista tetap tak bergeming dan tetap menatap tajam ke arah Kaisar. Untuk sesaat keduanya saling pandang, tatapan kebencian dan tatapan berani saling beradu dalam diam.

Sampai akhirnya Kaisar mengambil tindakan, dengan tenang, ia memindahkan arah pedang yang hampir mengenai lehernya itu dengan salah satu lengannya.

Barulah setelahnya Calista menurunkan pedang miliknya, tanpa memberi hormat wanita itu langsung bertanya tujuan sang kaisar.

“Apa yang membawa Anda kemari yang Mulia?”

“Aku mencarimu di istana putih, tapi rupanya kau tidak ada sana.”

“Jadi apa yang membuat Anda mencari saya?” tanya Calista lagi.

“Sahabatku, Aaron. Dia akan datang ke kekaisaran Lezarde.”

“Baiklah aku akan menyiapkan pesta perjamuan, ” balas Calista yang telah tahu maksud sang kaisar.

“Tapi kenapa Anda tidak menyuruh pelayan untuk menyampaikannya dari pada harus datang sendiri?”

“Tidak ada salahnya untuk itu, karna aku ingin menjenguk putraku ke sini sekaligus,” balas Leonardo sembari berjalan menghampiri Theodore.

“Bagaimana pelajaranmu, kau mempelajarinya dengan baik?”

Theodore yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya membuka mulut. “Ya, semuanya sudah kupelajari,” balas Theodore yang kemudian menyunggingkan senyum.

Mendengar itu Leonardo mengelus rambut putranya. “Bagus, belajarlah sampai kau menjadi kaisar yang akan menggantikan aku di masa depan.”

Theodore mengangguk, meski ia tersenyum senang pada sang ayah, tapi dalam hatinya Theodore tak menyukai ayahnya itu, baginya sosok ayah dalam diri Leonardo telah mati sejak ia membawa selir ke kekaisaran.

Theodore tidak tahu apa yang dilakukannya itu benar atau salah, yang pasti ia benci melihat ibunya disakiti, dan sangat benci melihat ibunya harus menahan semua penderitaan dalam diam.

“Kau sudah sarapan Theodore, apa kau ingin makan bersama ayah?”

Theodore menggeleng pelan, “Tidak ayah aku sudah kenyang, lagi pula setelah ini aku harus menghadiri kelas lain.”

“Oh, iya, ini sudah waktunya, Ayah, Ibu, aku permisi untuk pergi menghadiri kelas,” ucap sang anak sembari menunduk memberi hormat.

Saat keduanya mengangguk setuju, Theodore pergi meninggalkan keduanya, kala tubuh putranya tak lagi terlihat dari pandangan, barulah Calista berjalan pergi dari tempatnya berdiri.

Ia tak memedulikan Kaisar yang masih ada di tempatnya, memberi salam perpisahan pun juga tidak. Leonardo paham betul akan perubahan tersebut, tapi ia memilih untuk tak terlalu memikirkannya.

Bukankah sangat bagus, wanita itu tak lagi mengganggu waktuku. Leonardo.

...****************...

Dua minggu setelahnya, tampak istana begitu ramai oleh para bangsawan. Seperti yang sudah Calista janjikan pada Leonardo, ia membuat pesta perjamuan dengan sangat megah, banyak makanan khas dari berbagai wilayah dihidangkan di sana.

Ya, seperti pesta sebelumnya para bangsawan sibuk bergosip tentang Calista, di negeri itu cerita tentang kehidupan permaisuri menjadi topik hangat baik di kalangan bangsawan maupun rakyat biasa, seolah setiap cerita tentangnya tak akan pernah ada habisnya.

Banyak yang beranggapan jika Calista semakin gila setelah sembuh dari sakitnya. Tapi Calista sendiri tak peduli akan apa yang dikatakan orang-orang, hal yang paling penting baginya hannyalah Theodore semata.

Seperti aturan yang ada, Kaisar dan Permaisuri harus berdiri di ambang pintu tempat pesta diadakan, untuk menyambut tamu penting tersebut. Tapi kali ini bukan hanya Kaisar dan Permaisuri, tapi selir kesayangan juga ikut berdiri di samping kanan Leonardo.

Tentu saja para bangsawan mengecam aksinya, wanita tak tahu malu yang melanggar aturan, bisa-bisanya kaisar mencintai orang seperti itu, itulah pikir orang-orang.

Tak lama kereta kuda emas berhenti di depan istana perjamuan, dari dalam keluar seorang pria berambut perak dengan mata berwarna senada, di bawah sinar bulan wajah tampannya itu begitu sempurna terlihat.

Baju kebesaran khas seorang kaisar yang ia kenakan, membuatnya sangat berkarisma setiap ia melangkahkan kakinya menaiki tangga.

Ya, itulah Aaron lebih tepatnya Aaron Ryan Beatrix, seorang kaisar dari negara tetangga sekaligus sahabat Leonardo sejak kecil. Hal itu bermula karna hubungan bilateral dua kaisar terdahulu, Aaron yang selalu ikut sang ayah mengunjungi Lezarde pun jadi sangat dekat dengan Leonardo.

Aaron tersenyum ke arah Calista dan Leonardo, sungguh senyum dan ketampanannya itu membuat seluruh wanita di perjamuan terpana, termasuk Selene yang berada di dekat kaisar.

Terpopuler

Comments

ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ B⃟Lཽ𝐀⃝🥀ᴳ᯳ᷢ ㅤㅤ

ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ B⃟Lཽ𝐀⃝🥀ᴳ᯳ᷢ ㅤㅤ

baguslah.. Lebih baik juga moga calista dapat jodoh pengganti lebih mulia dan lebih baik dari Anda Kaisar Leonard. aamiin 😒😏

2023-10-01

8

fifid dwi ariani

fifid dwi ariani

trus sabar

2023-05-19

0

Ilan Irliana

Ilan Irliana

mg Aaron jdh Calis di ms dpn...yeyeye..

2023-04-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Salahkah Aku Mencintaimu?
2 Bab 2 - Duke Kedrick
3 Bab 3 - Kilas Balik
4 Bab 4 - Pesta Perjamuan
5 Bab 5 - Aku menyayangimu Ibu
6 Bab 6 - Pertengkaran
7 Bab 7 - Bertemu Kaisar
8 Bab 8 - Sahabat Leonardo
9 Bab 9 - Kemarahan Calista
10 Bab 10 - Kemarahan Calista 2
11 Bab 11 - Membuat Pai
12 Bab 12 - Hanya pernikahan politik
13 Bab 13 - Surat Perceraian
14 Bab 14 - Belajar Memanah
15 Bab 15 - Festival
16 Bab 16 - Daerah Lizel
17 Bab 17 - Kenapa Kau Begitu Baik?
18 Bab 18 - Kebencian Leonardo
19 Bab 19 - Masa Lalu Calista
20 Bab 20 - Membunuh permaisuri
21 Bab 21 - Luka tusuk
22 Bab 22 - Hanya Mahkota
23 Bab 23 - Dia akan pergi
24 Bab 24 - Sakit
25 Bab 25 - Mengambil Alih
26 Bab 25 - Mengambil Alih
27 Bab 26 - Cemburu
28 Bab 27 - Mengambil Alih 2
29 Bab 28 - Freya
30 Bab 29 - Kabar Kedatangannya
31 Bab 30 - Kapan kau sadar?
32 Bab 31 - Bisakah Memulai Kembali?
33 Bab 32 - Perburuan
34 Bab 33 - Pergi
35 Bab 34 - Surat Perceraian 2
36 Bab 35 - Kabar Kematian
37 Bab 36 - Kabar kematian 2
38 Bab 37 - Kesedihan Leonardo
39 Bab 38 - Aaron dan Freya
40 Bab 39 - Kembalinya Sang Permaisuri
41 40 - Mengikuti Jejak
42 Bab 41 - Kehidupan Rodelis
43 Bab 42 - Tolong Selamatkan Permaisuri
44 Bab 43 - Masa Lalu Selene
45 Bab 44 - Mulai Bangkit
46 Bab 45 - Tahun berlalu
47 Bab 46 - Apa kau menyesal?
48 Bab 47 - Ayah Mertua
49 Bab 48 - Trodeim
50 Bab 49 - Kau Masih Hidup
51 Bab 50 - Benar Yang Dikatakan Kaisar
52 Bab 51 - Pengakuan Selene
53 Bab 52 - Maaf Permaisuri
54 Bab 53 - Penyesalan Leonardo
55 Bab 54 - Kenapa Memalsukan Kematian
56 Bab 55 - Ingin pulang (Freya dan Aaron)
57 Bab 56 - Trishan Menentang
58 Bab 57 - Pergi Ke Rodelis (Freya & Aaron)
59 Bab 58 - Bertemu Calista
60 Bab 59 - Tamparan Calista
61 Bab 60 - Maaf Freya
62 Bab 61 - Dia tetap Ayahku
63 Bab 62 - Kau tak Pantas (Freya & Aaron)
64 Bab 63 - Jangan lupakan dirimu
65 Bab 64 - Kondisi semakin buruk
66 Bab 65 - Permaisuri Masih Hidup
67 Bab 66 - Rencana Trishan dan Selene
68 Bab 67 - Kehamilan (Aaron & Freya)
69 Bab 68 - Cerita Lama Terulang Kembali
70 Bab 69 - Pembicaraan Leonardo dan Freya
71 Bab 70 - Aku akan pergi
72 Bab 71 - Menemui Kepala Desa
73 Bab 72 - Maafkan Aku Calista
74 Bab 73 - Bimbang Memaafkan
75 Bab 74 - Pelarian Freya
76 Bab 75 - Desa Tibelia
77 Bab 76 - Pembicaraan Leonardo dan Aaron
78 Bab 77 - Bayi ini lebih penting
79 Bab 78 - Kau Akan Baik-Baik Saja
80 Bab 79 - Akan membalas dendam
81 Bab 80 - Maaf Freya 2
82 Bab 81 - Kematian Kedrick
83 Bab 82 - Pemakaman Kedrick
84 Bab 83 - Perjalanan menuju Axios
85 Bab 84 - Anastasia
86 Bab 85 - Rencana Perceraian
87 Bab 86 - Serangan Elena
88 Bab 87 - Ratu (Tamat)
89 Bab 88 - Extra Bab
90 Novel Baru Kleo
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1 - Salahkah Aku Mencintaimu?
2
Bab 2 - Duke Kedrick
3
Bab 3 - Kilas Balik
4
Bab 4 - Pesta Perjamuan
5
Bab 5 - Aku menyayangimu Ibu
6
Bab 6 - Pertengkaran
7
Bab 7 - Bertemu Kaisar
8
Bab 8 - Sahabat Leonardo
9
Bab 9 - Kemarahan Calista
10
Bab 10 - Kemarahan Calista 2
11
Bab 11 - Membuat Pai
12
Bab 12 - Hanya pernikahan politik
13
Bab 13 - Surat Perceraian
14
Bab 14 - Belajar Memanah
15
Bab 15 - Festival
16
Bab 16 - Daerah Lizel
17
Bab 17 - Kenapa Kau Begitu Baik?
18
Bab 18 - Kebencian Leonardo
19
Bab 19 - Masa Lalu Calista
20
Bab 20 - Membunuh permaisuri
21
Bab 21 - Luka tusuk
22
Bab 22 - Hanya Mahkota
23
Bab 23 - Dia akan pergi
24
Bab 24 - Sakit
25
Bab 25 - Mengambil Alih
26
Bab 25 - Mengambil Alih
27
Bab 26 - Cemburu
28
Bab 27 - Mengambil Alih 2
29
Bab 28 - Freya
30
Bab 29 - Kabar Kedatangannya
31
Bab 30 - Kapan kau sadar?
32
Bab 31 - Bisakah Memulai Kembali?
33
Bab 32 - Perburuan
34
Bab 33 - Pergi
35
Bab 34 - Surat Perceraian 2
36
Bab 35 - Kabar Kematian
37
Bab 36 - Kabar kematian 2
38
Bab 37 - Kesedihan Leonardo
39
Bab 38 - Aaron dan Freya
40
Bab 39 - Kembalinya Sang Permaisuri
41
40 - Mengikuti Jejak
42
Bab 41 - Kehidupan Rodelis
43
Bab 42 - Tolong Selamatkan Permaisuri
44
Bab 43 - Masa Lalu Selene
45
Bab 44 - Mulai Bangkit
46
Bab 45 - Tahun berlalu
47
Bab 46 - Apa kau menyesal?
48
Bab 47 - Ayah Mertua
49
Bab 48 - Trodeim
50
Bab 49 - Kau Masih Hidup
51
Bab 50 - Benar Yang Dikatakan Kaisar
52
Bab 51 - Pengakuan Selene
53
Bab 52 - Maaf Permaisuri
54
Bab 53 - Penyesalan Leonardo
55
Bab 54 - Kenapa Memalsukan Kematian
56
Bab 55 - Ingin pulang (Freya dan Aaron)
57
Bab 56 - Trishan Menentang
58
Bab 57 - Pergi Ke Rodelis (Freya & Aaron)
59
Bab 58 - Bertemu Calista
60
Bab 59 - Tamparan Calista
61
Bab 60 - Maaf Freya
62
Bab 61 - Dia tetap Ayahku
63
Bab 62 - Kau tak Pantas (Freya & Aaron)
64
Bab 63 - Jangan lupakan dirimu
65
Bab 64 - Kondisi semakin buruk
66
Bab 65 - Permaisuri Masih Hidup
67
Bab 66 - Rencana Trishan dan Selene
68
Bab 67 - Kehamilan (Aaron & Freya)
69
Bab 68 - Cerita Lama Terulang Kembali
70
Bab 69 - Pembicaraan Leonardo dan Freya
71
Bab 70 - Aku akan pergi
72
Bab 71 - Menemui Kepala Desa
73
Bab 72 - Maafkan Aku Calista
74
Bab 73 - Bimbang Memaafkan
75
Bab 74 - Pelarian Freya
76
Bab 75 - Desa Tibelia
77
Bab 76 - Pembicaraan Leonardo dan Aaron
78
Bab 77 - Bayi ini lebih penting
79
Bab 78 - Kau Akan Baik-Baik Saja
80
Bab 79 - Akan membalas dendam
81
Bab 80 - Maaf Freya 2
82
Bab 81 - Kematian Kedrick
83
Bab 82 - Pemakaman Kedrick
84
Bab 83 - Perjalanan menuju Axios
85
Bab 84 - Anastasia
86
Bab 85 - Rencana Perceraian
87
Bab 86 - Serangan Elena
88
Bab 87 - Ratu (Tamat)
89
Bab 88 - Extra Bab
90
Novel Baru Kleo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!