Ditempat lain Felix yang saat ini berada ditendanya sedang menunggu yandi yang tengah mandi di aliran sungai tak jauh dari lokasi tendanya.
"Hmmm! Tampaknya dia akan lama hari ini, aku sudah menunggunya selama 30 menit tapi dia tak kunjung kembali." Ucap Felix, sembari merasa gelisah.
Saking lamanya membuat felix tak sadar telah tertidur.
Yandi yang masih berada dialiran air masih merasa bingung "Aku tak tahu! Apa yang harus kubicarakan nanti dengan felix."
Karena merasa telah cukup membersihkan badannya, yandi pun bergegas untuk naik kepermukaan dan mengeringkan badannya dengan handuk. Saat itu Yandi lagi-lagi diganggu oleh penunggu yang berada di aliran sungai, tiba-tiba handuk yang ia gunakan ditarik hingga terlepas darinya. Beruntung tidak ada seorangpun yang berada disana, jika tidak ia bakal jatuh pingsan karena malu.
"Apa lagi sihh, yang dilakukan oleh makhluk itu." Ucap Yandi, sambil merasa kesal.
Yandi pun sesegera mungkin pergi dari tempat tersebut, agar tak ada lagi ganggunan yang menimpanya.
Setelah sampai ditendanya, yandi merasa terkejut karena ia melihat felix sedang tertidur di samping tumpukan pakaiannya. Yandi merasa tak tega untuk membangunkanya, oleh karena itu Yandi memutuskan untuk menggendongnya saja untuk memindahkan ia ketempat tidurnya. Apalagi saat ini Felix berstatus sebagai pacarnya, jadi tidak ada masalah baginya untuk membantunya dengan cara ini.
Setelah mengantar felix ketempat tidurnya dengan hati-hati agar ia tidak terbangun, yandi pun sekarang dihadapkan dengan masalah baru yakni pakaian felix yang berserakan cukup banyak yang ada didalam tenda.
"Cih... joroknya! Memangnya sedang apa dia tadi sampai pakaiannya berantakan sekali seperti ini." Ucap Kazuta Sembari melihat pakaian Felix yang berantakan diatas ranselnya.
"Kalau seperti ini akan membuat suasana tenda semakin pengap." Ujar Kazuta yang pada akhirnya berinisiatif untuk menumpuknya menjadi satu dibagian paling samping didalam tenda.
Daripada dibiarkan berserakan, agar tak menimbulkan bau yang menyengat diseisi ruangan. Namun tampaknya ia merasa sangat lelah yang pada akhirnya iapun juga ikut tertidur.
Tidak terasa telah 60 menit meraka berdua tertidur. Yandi pun tersadar namun dirinya tampak seperti orang linglung. Ia melihat kearah tempat Felix tertidur dan ia melihat bahwa Felix telah tak berada disana.
Tapi kali ini tampaknya Felix tidak pergi lagi ketempat angga, itu dapat ia buktikan dengan tak adanya pakaian-pakaian kotor yang tadi ia singgahi kebagian samping tenda.
Kazuta lalu mencoba memangil serta mencarinya diluar area tenda. Yandi pun akhirnya menemuinya sedang berjalan menuju kearah aliran sungai. Yandi melihat dari kejauhan Felix sedang membawa pakaian kotar yang tampaknya akan ia cuci di aliran sungai tersebut.
Kazuta sepertinya tak berniat mengganggunya dan memilih untuk kembali kedalam tenda.
"Syukurlah, jika ia tidak kenapa-napa." Ujar Yandi, yang lalu pergi dari tempat itu menuju kembali ketendanya.
***
Ditempat lain Angga serta Krisna masih berusaha keras untuk menemukan Yandi dan juga Felix.
"Dimana sebenarnya keberadaan mereka berdua." Ucap Angga, merasa kesal karena hingga detik ini tak berhasil menangkap yandi serta Felix.
"Aku juga sudah mencarinya kemana-mana, tapi..." Ujar Krisna, Sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku tak dapat mendapatkan petunjuk dari mereka berdua." Ucap Krisna juga sama-sama merasa bingung.
Saat ini mereka berdua berada ditenda yang didirikan oleh angga, meskipun Angga memiliki peta tentang jalur yang ada di hutan ini namun tampaknya ia sama sekali tak berniat untuk memberitahukan tentang hal ini pada siapapun.
Disisi lain kedua temannya yang lain yakni Angga serta nano saat ini sedang berada diluar tenda dan mereka berdua sedang mencari kayu bakar untuk dapat digunakan sebagai penerangan pada malam hari serta mematangkan ikan hasil tangkapan mereka.
"Kita harus cepat-cepat mengumpulkan kaya bakar, karena hari mulai gelap." Ujar Nano, sambil kedua tangannya mengumpulkan kayu-kayu yang berserakan disekitar pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Mereka berdua pun bergegas mendapatkan kayu bakar sebanyak-banyaknya agar malam nanti dapat berkemah dengan tenang.
Setelah dirasa telah mendapatkan banyak sekali kayu bakar, merak berdua pun langsung pergi dari tempat itu dan menuju ke tenda yang arahnya cukup jauh dari tempat mereka saat ini. Mengingat hari yang sudah semakin gelap.
"Ayo! Cepatlah gung, jika tidak kau akan kutinggal sendirian ditengah hutan." Ujar Nano yang telah lebih dulu selesai mengumpulkan kayu bakar.
"Ya...baiklah! Tunggu aku, tinggal sebentar lagi aku akan selesai." Ujar Angga, Sambil kedua tangannya serta matanya ia fokuskan untuk mencari kayu bakar secepatnya.
Agung yang sangat tergesa-gesa dalam mengumpulkan kayu bakar, tak sengaja menginjak sebuah patung berukuran kecil berbentuk seekor naga. Iapun lansung pergi bersama dengan nano tanpa menghiraukan apa yang baru saja dirinya injak.
Sesampainya dijalan menanjak menuju area tenda, tiba-tiba agung merasakan mual di perut yang membuatnya jatuh pingsan. Nano yang memperhatikannya mencoba untuk membangunkannya.
"Bangun! Bangun kau payah, jika diru tidak bangun kita akan terjebak disini semalaman." Ujar nano yang merasa cemas sekaligus kesal terhadap agung yang membuat perjalanannya menuju kembali ke tenda menjadi terhenti.
"Perutku tiba-tiba sakit." Ujar Agung, sembari memegang perutnya yang terasa seperti ditusuk-ditusuk.
Melihat Agung yang tampak sudah tak berdaya dan melihat suasana sekitar telah berubah menjadi gelap. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain meninggalkan Agung seorang diri ditengah hutan yang terasa semakin menyeramkan itu.
"Maafkan aku, tapi tampaknya aku harus meninggalkanmu disini." Ujar Nano, sembari perlahan-lahan dirinya menjauhi agung serta melepaskan genggaman agung pada tangannya.
"Kumohon! Jangan tinggalkan aku seorang disini nano." Ucap Agung, sembari berteriak aset an meneteskan air mata karena merasa ketakutan.
Sembari menggelengkan kepalanya Nano mulai meninggalkan agung yang terkapar ditengah hutan seorang diri serta ditengah suasana gelapnya malam.
"Nano...!" Ucap Agung, terkapar tak berdaya seorang diri sembari menangis tiada henti karena memikirkan nasibnya.
Nano yang baru saja telah meninggalkan rekannya didalam hutan dengan tujuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Namun dengan itu dirinya telah membuang harga dirinya sebagai seorang yang telag dianggap teman baiknya oleh Agung.
Nano yang tergesa-gesa ingin sampai di tempat tendanya, mengalami hal yang diluar nalar manusia. Dirinya melihat seseorang yang tengah berdiri diatas ranting pohon dengan muka yang rusak serta penuh dengan darah. Hal tersebut lantas membuat nano berlari kearah yang berbeda dari rute menuju kearah tendanya.
"Sosok menyeramkan apa itu?" Ujar Nano sembari berlari dengan nafas terengah-engah serta wajahnya yang tampak pucat.
***
Krisna yang menunggu ke datangan mereka berdua didepan tenda untuk menyalakan api unggun merasa ada sesuatu yang janggal karena mereka tak pernah pulang ketenda hingga gelap seperti ini sebelumnya.
"Kemana perginya mereka berdua, sampai hari mulai malam begini." Ujar Krisna, sembari berjalan mondar-mandir di depan tendanya karena merasa khawatir dengan keadaan teman-temannya saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments