Dugaan Penyihir

Pada saat bersamaan tampak Angga yang sedang menyusul Krisna, Ia terlihat tergesa-gesa sambil membawa tas yang didalamnya berisi beberapa senjata tajam.

Kebetulan ia lalu berpapasan dengan Krisna dan langsung memanggilnya"Itu dia orangnya! Krisna."

"Dimana mereka berdua, apakah kau berhasil menangkapnya." Ucap Angga, sembari mendekati Krisna.

"Maaf! Mereka berdua berhasil melarikan diri." Ucap Krisna, Sembari menundukkan kepalanya.

"Apa! Kau membiarkan membuatkan mereka melarikan diri, dasar bodoh." Ucap Angga, dengan ekspresi marah.

"Aku tak menyangka! Jika mereka sadar bahwa aku sedang mereka

"Bagaimana dengan jejak darahnya." Ucap Angga, dengan ekspresi emosionalnya.

"Jejaknya sudah menghilang tepat disebelah batu besar itu, tampaknya ia menghentikan pengarahannya disana." Ucap Krisna, sembari menunjukkan lokasi terakhir jejak Felix dan Yandi.

"Cihh! Tampaknya aku gagal lagi menghabisi mereka berdua." Ucap Angga, menggerutu didalam hatinya.

"Ayo! Kita kembali ke tenda. Ucap Angga.

Mereka berdua pun memutuskan meninggalkan tempat tersebut dan kembali ketenda.

***

Dilain tempat Yandi serta Felix tengah berjalan kaki menuju ke tenda mereka, Tak lama lagi merekapun akan tiba disana.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Yandi beserta Felix berhasil sampai di tendanya tanpa tertangkap oleh kejaran Angga maupun Krisna.

Sesampainya didalam tenda, Felix pun segera mengambil kotak obat-obatan miliknya untuk mengobati lengan Yandi yang terluka karena tembakan tadi.

"Ayo kemarila! Aku akan mengobati lenganmu yang terluka itu." Ujar Felix Sambil memegang kotak obat.

"Baiklah." Ucap Yandi, berjalan menghampiri Felix.

"Ternyata luka nya tergolong cukup dalam juga." Ucap Felix, sambil membuka sapu tangan yang diikatkan dilengan Yandi tadi.

"Kenapa kau bisa ada disana, padahal aku sama sekali tidak memberitahumu." Ucap Felix, dengan perasaan yang gundah.

"Seharusnya aku yang berkata begitu padamu, kenapa kau pergi menemui Angga seorang diri tanpa memberitahuku." Ucap Yandi.

"Sebenarnya aku tak ingin kau membahayakan nyawanmu seorang diri, jadi aku berpikir untuk menemuinnya karena dulunya aku merupakan orang yang sangat dekat baginya." Ucap Felix, sambil memberikan cairan alkohol pada luka yang berada dilengan kanan Yandi.

"Kau tahu kan, kau seharusnya tak mempercayai dirinya." Ucap Yandi.

"Maaf! Jika keputusanku ini, sampai membuatku terluka." Ucap Felix, sambil meneteskan sedikit air mata.

"Sudahlah lupakan saja! lagipula semuanya sudah terjadi." Ucap Yandi, mencoba untuk bersabar.

"Tadi kalau aku tidak salah dengar, kau mengatakan kata cinta pada saat tadi bicara berdua dengan Angga." Ucap Tanda, dengan perasaan cemburu.

"Jadi kau mendengar pembicaraanku dengan Angga." Ucap Felix, sambil mengusap air matanya yang dari tadi berjatuhan.

"Ya...! Tadi aku tidak sengaja mendengarnya, tetapi itu hanya sebatas kata cinta saja." Ucap Yandi.

"Lalu apa maksud dari perkataanmu tadi." Ucap Yandi kembali, sembari memperhatikan Felix.

"A-Anu! Sebenarnya tadi itu aku mengatakan hal itu hanya untuk mencoba mencari kesempatan saja agar mendapatkan peta itu." Ucap Felix.

"Tapi kau baru saja hampir ditembak olehnya kan." Ucap kazuta, bicara dengan emisionalnya.

"Ya aku tahu itu! Aku juga tidak menyadarinya, jika dia sampai setega itu padaku dan ingin melenyapkanku." Ucap Felix, sambil merenung.

"Bukankah kau sudah tahu akan konsekuensinya jika bertindak gegabah, kenapa dirimu masih nekat untuk pergi kesana." Ucap Yandi, dengan perilaku emosionalnya.

"Tapi! Kalau aku tidak melakukannya, maka dirimu yang akan terbunuh." Ucap Felix, sembari membalut luka Yandi yang sebekumnya telah diobati oleh alkohol dengan perban.

"Jika dirimu tadi sampai mati hanya demi menggantikanku! jika hal itu sampai terjadi aku tidak tahu harus aku taruh mana mukaku,

"Tapi...!" Ucap Felix, namun tiba-tiba Yandi memotong pembicaraannya.

"Kau itu seorang wanita sedangkan aku seorang pria, sudah sepantasnya aku yang berada diposisimu saat itu." Ujar Yandi

"Jadi kumohon! jangan pernah kau lakukan hal yang dapat membahayakan nyawamu lagi." Ucap Yandi, dengan perasaan meminta.

"Maaf karena aku cara bicaraku terlalu berlebihan! Kuharap kau mengerti apa yang kumaksud." Ujar Yandi, sambil berjalan menuju keluar tenda setelah lengan kanannya diobati.

Yandi hanya berharap jika Felix dapat mengerti bahwa yang ia bicarakan ini demi kebaikannya semata.

Kemudian Yandi bermaksud menuju ke aliran sungai untuk membersihkan tubuhnya sekaligus mencairkan suasana hatinya yang saat ini tengah gundah.

Tak lama berselang Yandi pun sampai di aliran sungai yang biasa ia buat mandi tersebut.

Tanpa disangka tampaknya Yandi telah disambut oleh penunggu sungai itu, namun Yandi berusaha tak menghiraukannya dan bersiap untuk mandi di aliran sungai tersebut.

Sesekali sosok penunggu itu, mencoba untuk menjahili Yandi seperti menarik pakaiannya yang ia taruh diatas batu besar yang letaknya dipinggir sungai hingga jatuh keair, Namun Yandi tetap tak menghiraukannya. Ia sadar bahwa makhluk tersebut menyadari jika saat ini dirinya sedang dalam keadaan hati yang buruk.

Sesekali makhluk itu memperlihatkan mukanya yang amat menyeramkan yang membuat siapa saja merinding ketakutan, tetapi karena Yandi sudah terbiasa dengan situasi penampakan diarea aliran sungai ini menjadikannya tetap tenang dan tak nampak sama sekali ekspresi ketakutan pada wajahnya membuatnya tampak pemberani mengahadapi mahkluk gaib.

"Hmm! Sosok itu terus saja memancing amarahku." Ucap Yandi sembari memejamkan kedua matanya seakan tidak menggubris.

Disisi lain Felix sedang memisahkan pakaian yang kotor dengan pakaiannya yang bersih, dirinya kemudian pergi ke aliran sungai untuk mencuci pakaiannya. Pada saat tiba disungai Ia tidak menyangka bahwa Yandi sedang mandi disana, lalu ia mengurungkan niatnya untuk mencuci sekarang dan memilih menunggu hingga Yandi selesai mandi.

***

Ditempat lain Angga yang berada didalam tekadnya sedang kesal karena tak dapat memenuhi balas dendamnya terhadap Yandi, ia lantas membanting semua peralatan miliknya yang ada didalam tas. Dirinya merasa kesal sekaligus kecewa atas hasil yang didapat oleh krisna.

"Dasar tidak becus, mengejar orang yang sedang terluka saja tidak bisa." Ucap Angga, sambil mondar-mandir karena merasa kesal.

"Jujur aku tidak tahu, jika mereka akan lari secepat itu meski sedang terluka parah." Ucap Krisna mencoba untuk membenarkan.

"Ingat baik-baik! Aku tidak ingin ada alasan lagi pokoknya kau temukan mereka berdua secepatnya, kau paham." Ucap Angga.

"Ya! Aku paham." Ucap Krisna, sambil menganggukkan kepalanya.

"Kita secepatnya harus menyingkirkan titisan penyihir itu, jika tidak dia akan mempengaruhi banyak orang dengan sihirnya." Ucap Angga.

"Apakah tuduhanmu itu berdasar? Angga!" Ucap Krisna merasa ragu dengan keputusan yang diambilnya.

"Apa kau kira aku ini pembohong, aku juga berdasarkan fakta yang ada

"Apakah kau tidak melihat bagaimana ekspresinya pada saat melihat pohon besar itu." Ucap Angga, sembari mengambil salah satu alat yang ia lempar tadi.

"Ya aku juga melihatnya." Ucap Krisna, sambil pandangannya menghadap kebawah.

"Ia terlihat sangat ketakutan padahal dia baru pertama kali melihatnya, aku curiga mata penyihirnya pasti telah memberitahukan sesuatu padanya yang tidak bisa dilihat oleh mata kita." Ucap Angga, sambil bermain-main dengan dagunya.

"Aku juga sudah melihat itu dan aku juga merasa curiga terhadapnya." Ucap Krisna.

"Jadi! Apa lagi yang perlu dipikirkan, kita langsung saja tangkap dia dan bunuh saja penyihir itu jika perlu." Ucap Angga sembari menekankan satu matanya.

"Aku mengerti, kalau begitu aku izin keluar terlebih dahulu." Ucap Krisna, sembari berjalan menuju keluar tenda.

Akhirnya perbincangan mereka berdua pun selesai, menyisakan Angga yang masih berada didalam tenda.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!