Pencarian yang Gagal

Felix pun pada akhirnya setuju dengan rencana yang dibuat oleh yandi "Oke baiklah! Aku setuju?"

Mereka berdua pun akhirnya sepakat untuk menjalankan rencana tersebut. Yandi mencari bekas-bekas jejak yang menjadi genangan air kemarin, namun hasilnya masih sulit ditentukan karena minimnya tanda-tanda adanya bungkus snack itu.

"Bukti jejak-jejak dari bungkus snack itu masih belum bisa aku pastikan, karena tanda-tandanya juga sudah banyak yang sudah hilang." Ujar Yandi, sembari memperhatikan genangan air yang sudah sedikit mengering karena teriknya matahari.

Merasa tidak menemukan apapun, disekitaran genangan air tersebut membuat yandi berfikir 2 kali untuk menggunakan cara yang sama seperti yang ia lakukan kemarin.

Kemudian yandi meminta saran pada felix tentang rencana kedua yang akan mereka lakukan untuk pagi hari ini. Felix merasa sangat senang karena dirinya dibutuhkan oleh yandi, felix pun memikirkan caranya sendiri agar dapat keluar dari hutan ini. Lalu tak lama berselang muncullah ide dibenak felix, yang merasa ada yang janggal dengan hal ini.

"Yandi..." Tanya Felix.

"Ada apa, felix." Jawab Yandi, merasa terkejut karena felix tiba-tiba memanggilnya.

"Apa kau tahu, siapa orang yang menyarankan kepada kita untuk pergi berlibur ke hutan ini." Ujar Felix dengan nada suara tampak seperti orang yang tengah serius.

"Ya...! Tentu saja, orang itu adalah angga." Ujar Yandi, sembari menghentakkan tangan kanannya.

"Lalu apa kau tidak merasa curiga terhadapnya.

"Hmm...! Bukankah harusnya, aku yang bertanya seperti itu kepadamu." Ujar yandi, seakan merasa sedikit bingung dengan apa yang dikatakan oleh felix.

"Ya aku tahu itu! Tapi kenyataannya, akupun bahkan tak tahu jika orang yang merekomendasikan ini adalah angga sendiri."

"Bahkan, orang terdekatnya pun tak tahu jika dialah sendiri yang merekomendasikan hutan ini." Ujar yandi sembari menekukkan tangan kirinya di pinggangnya sedangkan tangan kanannya terlihat sedang memain-mainkan dagunya seolah sedang berfikir.

"Tepat seperti yang kau pikirkan, ini memang terasa sangat aneh." Ujar felix merasa ada yang janggal dengan semua ini.

Setelah saling berdiskusi satu sama lain, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan angga beserta teman-temannya yang lain yang menuju kearah mereka berdua. Tampaknya kedatangan mereka kemari telah dikerjai oleh angga sejak tadi, namun angga menunggu momen yang pas untuk menemui mereka. Yandi dan Felix tentu saja merasa kaget denga kedatangan angga beserta teman-temannya yang lain.

"Yo kalian berdua, tampaknya kalian sedang memikirkan sesuatu." Ujar angga, tetap dengan wajah sombongnya.

Lalu yandi serta felix agak sedikit menjauh dari mereka untuk mewaspadai ancaman yang akan ditimbulkan oleh angga.

"Sedang apa kau kemari, angga..." Ucap Yandi, dengan ekspresi marah dan sedikit emosional.

"Hmm...! Seharusnya aku yang berkata begitu." Ujar angga, menanggapi perkataan dari yandi dengan respon yang sinis.

Felix mencoba untuk menenangkan yandi yang lambat laun termakan oleh emosi "Sudahlah! sebaiknya kita pergi dulu dari sini, nanti kita akan pikirkan cara lain setelah keadaannya tenang."

Yandi pun menuruti perkataan dari felix dan sedikit demi sedikit emosi yang ada dalam hatinya mulai mereda "Baiklah! Jika kamu menyarankan seperti itu."

"Terima kasih karena sudah mengerti." Ujar felix, merespon positif terhadap tindakan yandi yang mau mendengarkan perkataan darinya.

Lalu tiba-tiba angga pun memotong pembicaraan yang dilakukan oleh Yandi dan juga felix "Ada apa ini! Berani-beraninya kau dekat-dekat dengan felix, apalagi bermesraan dengannya didepanku."

"Mantra apa yang sudah kau gunakan pada pacarku felix." Ujar angga, sembari menunjukan ekspresi marahnya dan juga tangan kanannya yang menunjuk-nunjuk kearah yandi seolah sedang mengancamnya.

Yandi yang merasa bahwa dirinya tidak pernah sekalipun berbuat seperti yang dituduhkan oleh angga, membuat emosinya kembali naik "Kau gila ya! Mana mungkin aku berbuat hal sepengecut itu, aku sama sekali tidak memaksa felix untuk ikut denganku sejak awal."

"Alah...! Dasar pembohong, mana mungkin seorang penjahat mau mengakui perbuatannya." Ujar angga, dengan segala cara mencoba untuk memojokkan yandi.

Hal tersebut lantas membuat semua temannya merasa kebingungan, mana diantara yandi dan juga angga yang harus mereka percayai.

Pada saat situasinya tengah memanas, akhirnya felix pun buka suara tentang kejadiannya selama ini serta menjelaskan kepada semua teman-temannya yang sebenarnya terjadi

"Disini aku akan menjelaskan semuanya yang sebenarnya terjadi." Felix mengeraskan suaranya, sembari bergerak mendekati yandi dan juga angga.

"Yang sebenarnya ialah aku sama sekali tidak diguna-guna ataupun hal lain sebagainya seperti yang dituduhkan oleh Angga pada Yandi, justru Yandilah yang telah menyelamatkanku pada saat aku sedang sekarat didalam gubuk." Ujar felix dengan menepukan tangan kanannya kebagian dadanya.

"Jadi semua tuduhan yang dilemparkan oleh angga kepada yandi semua itu sama sekali tidak benar." Sembari menunjuk Angga, bahwa selama ini ialah yang bersalah.

Tiba-tiba Angga yang merasa kecewa pada felix, dikarenakan ia lebih memilih membela Yandi ketimbang dirinya. Lalu mencoba untuk menyerang mereka berdua dengan sebatang balok, namun sepertinya Angga sengaja tidak mengenainya karena merasa bahwa perilakunya tersebut dilihat oleh banyak teman-temannya yang berada dibelakang dan memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut dengan perasaan marah dan juga kecewa.

Setelah perginya Angga serta teman-temannya yang lain membuat perasaan felix terasa lebih tenang karena tak perlu harus ada yang terluka diantara mereka. Kemudian felix mengajak yandi yang tengah terdiam memikirkan sesuatu untuk kembali sejenak di tenda mereka "Yandi! Ayo kita kembali ke tenda terlebih dahulu, nanti kita bisa susun rencananya saat sudah sampai disana."

"Oke...Baiklah!" Ujar Yandi, menanggapinya dengan santai.

Felix sangat bersyukur sepertinya yandi tak terlalu memikirkan hal yang baru saja terjadi dan memilih untuk bersikap dewasa menanggapi hal tersebut. Namun Felix sedikit khawatir, jika saja Angga kembali datang menemuinya.

Mereka berdua pun memutuskan kembali ke tenda mereka untuk menata ulang rencana mereka dengan tujuan menemukan arah keluar dari hutan ini sekaligus mencairkan suasana setelah kejadian tadi.

Pada saat perjalanan kembali ke tenda, Felix melihat wajah Yandi tampak sedang gusar. Entah apa yang tengah ia pikirkan setelah kejadian tadi dengan angga, tetapi yang jelas hal itu tampaknya telah membuat ia merasa sangat cemas.

"Mungkin sedikit ngobrol membuat hatinya merasa lebih baik." Ujar felix, dalam batinnya.

Akhirnya Felix memberanikan diri untuk mengobrol dengan Yandi "Hmm...! Setelah kita sampai di tenda, sebaiknya kita makan terlebih dahulu aku masih mempunyai beberapa persedian makanan untuk bisa kita makan nanti."

"Hmm...! Ya." Jawab Yandi, terasasa seperti agak cuek pada Felix.

Mendapat respon dingin dari Yandi, membuat felix agak bingung harus berbuat apa lagi. Namun bukan felix namanya, jika harus menyerah hanya karena mendapat respon yang dingin dari seorang pria.

Felix pun sudah memikirkan ide yang matang agar mendapatkan respon yang baik dari yandi, yang pasti rencananya tersebut akan ia jalankan pada saat telah sampai di tenda, felix yakin idenya tersebut akan berjalan sangat baik dan juga sesuai dengan harapannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!