Mencari Solusi

Felix akhirnya meninggalkan Kelompok dan berjalan sendirian menembus hutan, meski langit masih menunjukkan hujan yang sangat deras.

Terkejut dengan keputusan Felix, Angga tersenyum kecil. meski saat ini wanita yang telah hampir setengah tahun berpacaran itu masuk ke dalam hutan gelap gulita sendirian.

"Hmm... jadi itu keputusanmu, apa boleh buat?" Angga melepaskan Felix dengan senyum kecil di wajahnya.

"Lalu siapa lagi yang mau pergi dari sini dan mati sia-sia di tengah hutan yang gelap itu?" Dia berbalik menghadap temannya, yang sedang mengawasinya dengan ekspresi yang sangat ketakutan.

Mendengar reaksi dari pertanyaan angga seperti orang yang sedang mengancam, membuat nyali mereka untuk menjawabnya sedikit turun. Akhirnya tidak ada yang mencoba menjawab pertanyaannya, sehingga Angga menganggap mereka semua masih tetap akan setia bersamanya.

"Baiklah! Jika kalian semua tidak ada yang mau menjawab, maka aku akan menganggap kalian semua tetap bersama kelompok ini."

***

Di sisi lain Felix yang sedang berjalan sendirian di hutan yang saat ini tengah hujan deras, tiba-tiba merasa pusing dan pingsan di tempat.

Dalam keadaan setengah sadar itu, Felix tiba-tiba merasa digendong oleh seseorang sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.

Felix akhirnya sadar kembali dan menemukan dirinya di sebuah gubuk tua.

Aku mencoba menggunakan kekuatan untuk sekedar berdiri, tetapi tubuhku masih terasa lemas dan pada akhirnya terjatuh.

"Tempat apa ini! Di mana aku sekarang, aku harus segera pergi keluar dari tempat sini!"

"Aduhh...!" Terjatuh dari atas tempat tidur kayu.

Tepat setelah Felix terjatuh, seseorang tiba-tiba datang.

"Kau ini! Apa yang sedang kau pikirkan!"

"Saat ini tubuhmu belum mampu untuk bisa digerakkan, Jadi lebih baik kau istirahat dulu!" Jawab orang tersebut, yang dari nada bicaranya nampak seperti seorang pria.

Sambil membantu memegang Felix untuk berdiri kembali ke atas tempat tidur, Felix yang penasaran berusaha melihat orang tersebut dengan memperhatikan wajahnya yang ternyata orang tersebut ialah yandi yang ingin ditemuinya.

"Haa...! Yandi disini kau rupanya?" Felix terkejut menemukan Yandi berada disampingnya.

"Hmm...kau sepertinya baru menyadari, kalau ini aku." Sambil memperlihatkan senyumannya kepada Felix.

"Apakah kamu yang membantuku, saat aku pingsan di hutan tadi?" Felix bertanya dengan tatapan serius.

"Ya, benar! Aku kebetulan menemukanmu terbaring tak sadarkan diri dalam perjalanan menuju ke tempat kalian." Yandi menjawab dengan nada yang relatif santai.

"Mengapa kamu ingin kembali lagi kesana?" Tanya Felix sambil menundukkan kepalanya.

"Kurasa aku yang salah tentang insiden tadi, jadi aku berniat untuk meminta maaf kepada Angga."

Yandi mengakui, bahwa dialah yang salah hingga membuat angga murka dan sangat marah. Hal itu bukan tanpa sebab, Ketakutanku pada waktu itu dipicu dikarenakan oleh kemunculan sosok hitam besar yang dilihat olehku di samping pohon besar yang menjadi tempat kita berteduh padahal bisa saja sosok itu hanyalah bayangan dari imajinasiku saja.

Felix berfikir bahwa keputusan yang diambil oleh yandi salah dan malah akan membahayakan dirinya sendiri, "Kurasa kau tidak perlu pergi ke sana."

"Memangnya kenapa, bukannya angga itu pacarmu?" Yandi bingung dengan reaksi Felix.

Felix menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya hingga bisa berjalan sendiri di tengah hutan, serta perubahan sikap Angga setelah Yandi hengkang dari kelompoknya.

"Banyak hal terjadi setelah kamu pergi dari sana."

"Angga telah berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda dari yang dulu aku kenal."

"Dia menjadi sangat mudah tersinggung, egois, dan juga sensitif terhadap masalah yang bisa dianggap sangat kecil."

"Angga yang kukenal adalah pria yang solid dan ramah yang tidak akan marah karena hal sepele seperti itu!" Sambil mengenang masa lalu bersama Angga dan menitikkan air mata.

Mendengar hal tersebut dari Felix, Yandi menjadi sangat prihatin dengan apa yang terjadi padanya. Lebih jauh lagi, karena ini menyangkut masalah pacarnya, dia terpaksa diam dan berpikir untuk tidak berkomentar apa-apa tentang Angga sambil memikirkan solusi untuk masalah saat ini.

"Menurutku, kita harus segera keluar dari dalam hutan dan berhenti melanjutkan kegiatan ini.

" Karena aku merasa sejak diawal kita masuk tadi, ada banyak hal aneh yang terjadi didalam hutan ini." Kata Yandi berbicara serius akan apa yang dibicarakannya itu.

"Baiklah kalau begitu aku setuju." Jawab Felix sambil menghapus air mata yang keluar lebih dulu.

"Baiklah, jika kau memang setuju." Ujar Yandi sambil mengangguk.

Yandi ingat ini akan sangat sulit, karena dia tidak tahu jalan mana yang harus diambil untuk keluar dari hutan.

"Aku ingat kalau aku tidak memiliki petunjuk atau peta lokasi hutan ini, mana bisa kita keluar dari sini."

"Kau benar juga! Satu-satunya Peta yang mengetahui tentang semua jalur yang ada didalam hutan, saat ini dipegang oleh angga." Felix memberitahu Yandi satu-satunya orang yang tengah memegang peta lokasi hutan ini.

"Lalu apakah ada cara lain lagi selain mengambil peta dari tangan Angga?" Tanya Felix pada Yandi.

Yandi memikirkan kembali solusi untuk keluar dari dalam hutan, dan Yandi mengingat sesuatu sebelum memasuki hutan ini.

Ia sendiri melihat Agung selalu menjatuhkan bungkus snack yang dimakannya di tempat-tempat tertentu seperjalanan ia memasuki hutan, sehingga Yandi langsung menceritakan hal tersebut kepada Felix.

"Aku menyadari suatu hal, waktu kita pertama kali masuk kedalam hutan."

“Saya kebetulan melihat Agung yang membawa sekantong penuh makanan ringan sebelum masuk kedalam hutan, dia memakannya satu per satu, lalu membuang bungkusan itu dan pergi ke hutan bersama.”

Felix menganggap ide Yandi terlalu konyol untuk dijadikan solusi masalah ini.

"Bagiku! Itu ide terbodoh yang pernah kudengar. Apa Kamu benar-benar serius dengan apa yang kamu katakan.

"Ha..., apa menurutmu aku bercanda?"

"Dengan kata lain, jika kita mengikuti jalan yang diambil bungkus permen itu, kita bisa mengetahui jalan keluar dari hutan ini." Yandi berkata demikian dan menjelaskan arti dari kata-kata sebelumnya.

“Namun, bungkus makanan ringan bisa hilang ditiup angin saat hujan, atau terbawa arus air." kata Felix, masih tak percaya ide Yandi akan berhasil.

"Penjelasanmu ada benarnya juga, lebih baik aku memeriksanya sekarang ditempat dimana terakhir agung membuangnya, aku akan menunggu ketika hujan sudah sedikit reda." Ujar Yandi, dengan rasa bimbang ingin memastikan bahwa bungkus dan snack itu masih ada ataupun telah hilang.

Mendengar hal tersebut, Felix meminta Yandi untuk mengajaknya juga.

"Aku akan ikut denganmu."

"Sebaiknya kau tetap di sini. Sangat berbahaya berada di tengah hutan dalam keadaan lemah."

Aku khawatir mengajak Felix untuk pergi bersamaku ketika dia belum sembuh 100%.

"Jangan khawatir, aku akan kembali segera setelah selesai memeriksanya." Yandi berkata demikian dan berusaha menenangkan Felix.

Dengan berat hati Felix menerima hal itu.

"Baiklah!"

Yandi sangat yakin gubuk itu adalah tempat yang aman, jadi dia tidak perlu khawatir meninggalkan Felix di sini untuk sementara waktu.

Lagi pula, dia sudah berada di sini sendirian sejak tadi sebelum Felix datang, memeriksa setiap sudut dan celah gubuk ini.

Yandi akhirnya keluar dari gubuk sendirian untuk memastikan petunjuk yang didapat dari bungkus jajan Agung untuk bisa keluar dari hutan ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!