Suara Misterius

Saat mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang aneh dengan batang pohon tempat mereka bersandar. Tiba - tiba dari arah dalam pohon terdengar rintihan suara minta tolong.

"Toloong! Saakii...**."

Tiba-tiba mendengar suara aneh yang datang dari arah dalam pohon tempat mereka semua bersandar, suara itu terdengar merintih seperti orang yang tengah kesakitan.

Kemudian Angga, Nano, Meri, Felix, Agung, serta Krisna yang berada tepat didekat pohon besar tersebut, pada akhirnya mendengar rintihan suara tersebut dengan sangat jelas.

Mereka kaget karena tidak jelas dari mana asal suara rintihan kesakitan itu berasal.

"Kalian dengar tidak, ada suara seperti orang minta tolong." Kata Nano yang pertama kali mendengar suara rintihan itu.

"Hmm....! Iya, seperti seperti suara orang yang sedang merintih kesakitan?" Ujar Felix yang mulai menaruh kecurigaan pada tempat ini.

"Kita segera pergi dari sini yuk! aku udah nggak kuat ditempat ini, disini serem banget"

Agung yang memang orangnya penakut diantara mereka semua yang datang ke hutan ini, mulai merasa ketakutan karena mendengar suara aneh yang tidak tahu asal usul dari sumber suaranya itu.

"Heiii! Kau kan anak laki-laki harusnya lebih berani dong, jangan penakut seperti ini?" Ujar Meri dengan suara sinisnya kepada agung

Angga yang berada di sana juga mendengar suara-suara aneh itu berulang-ulang, namun tidak menghiraukannya.

Dia sangat marah dan dendam terhadap Yandi, sehingga dia sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi di sekitarnya.

Krishna mencoba bertanya kepada Angga tentang hal ini. Namun, sebelum sempat menanyakannya, Angga terlebih dahulu memarahinya dan menyuruhnya untuk tidak mengganggunya sekarang.

"Ketua, ada masalah yang tengah terja...."

Krisna segera mencoba memberitahukan hal aneh ini pada angga, namun langsung dihentikan oleh angga sendiri dengan alasan tidak ingin diganggu.

"Apakah kamu tidak tahu apa yang aku lakukan sekarang, jangan ganggu aku sekarang." Ujar angga, dengan ekspresi marah karena krisna telah mengganggunya, disaat dirinya saat ini tengah kesal dengan yandi.

"Ehh, Ya..! Baiklah!"

Melihat suasana hati Angga yang sedang buruk, Krishna memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula.

Semakin lama suara itu terdengar semakin nyata dan suara rintihan itu terdengar sangat jelas seperti tepat berada didekat mereka.

Mereka tidak tahan mendengar rintihan itu, jadi mereka memutuskan untuk mencari asal sumbernya.

Hasil pencarian di area sekitar pohon besar yang menjadi sumber suara itu berasal, tidak ada hal aneh yang dapat mereka temukan di sekitarnya.

Akhirnya mereka sepakat bahwa suara yang baru saja mereka dengar hanyalah suara angin malam, atau suara binatang yang biasanya aktif di malam hari.

"Hmm....! aku sudah mencarinya disekitaran asal sumber suaranya, tapi aku tetap tidak menemukan apapun." Ujar Krisna, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku juga melihat ke batang pohon tempat aku pertama kali mendengar suaranya, tapi tidak ada apa-apa di sana juga?" Kata Felix dengan wajah sedikit kebingungan.

"Mungkin itu adalah hewan nokturnal yang kebetulan lewat, dan disaat semua orang mencarinya, hewan itu langsung melarikan diri?" ujar Nano menanggapi kejadian tersebut.

"Menurutku penjelasan Nano ada benarnya, jadi apa lagi yang perlu kita takuti!" Kata Meri, mempercayai penjelasan Nano.

"Hmm... itu mungkin saja sih! Bagaimana menurutmu gung, apakah kamu percaya pendapat mereka juga?"

"Tenang saja tidak perlu khawatir, Aku hanya ingin mendengar pendapat dari sesama pria kok."

Tanya Krishna tentang pendapat Agung.

"Sepertinya aku selalu merasa tidak nyaman dengan tempat ini, dan aku takut tinggal berlama-lama di hutan ini." Jawab Agung dengan tatapan sangat ketakutan.

"Ohh...! Begitu?" Jawab Krisna dengan sedikit rasa heran.

"Halah ! Itu cuman penjelasan dari laki-laki penakut kayak lu." Kata Meri dengan tatapan masih saja sinis ke arah Agung.

"Aku yang pernah dua kali mengikuti kegiatan camping sebelumnya, sudah terbiasa mendengar suara-suara hewan didalam hutan kayak gini."

"Kau tidak jauh berbeda dengan Yandi yang melarikan diri keluar dari kelompok dan berjalan seorang diri ditengah hutan?"

Meri, mencoba menyamakan perilaku penakut agung dengan Yandi, yang menurut dia rasa takutnya telah kelewat batas.

"Kalian berdua! Sudah cukup, ini bukan waktunya untuk bertengkar." Kata Krishna untuk menenangkan keributan itu.

"Lalu! Bagaimana menurutmu, Felix?" Tanya Krisna tentang pendapatnya.

Felix bingung harus percaya atau tidak dengan pendapat Nano, sebenernya dia merasa ada yang tidak beres dengan semua kejadian ini.

"Jika ini adalah memang suara binatang nokturnal, mengapa aku tidak melihat binatang apa pun sejak memasuki hutan ini?" Kata Felix, Memikirkan hal itu.

Tak ingin membuat khawatir teman-temannya, Felix mengambil keputusan yang tidak diinginkannya.

"Menurutku pendapat Nano tidak salah." dia membungkuk.

"Fufu! Bukankah aku mengatakan bahwa, apa yang dikatakan pengecut itu salah?" Jawab Meri yang langsung senang mendengar Felix setuju dengan pendapatnya.

Setelah mendengarkan semua temannya, Krisna berkata, "Yah, kita semua setuju bahwa suara aneh yang kita dengar sebelumnya hanyalah suara hewan malam saja."

Setelah menduga bahwa apa yang baru saja mereka dengar tidak lebih dari suara binatang di malam hari, masing-masing dari mereka memutuskan untuk menunggu sampai hujan benar-benar reda dan kemudian kembali ke tempat duduk mereka di bawah pohon besar.

"Sebaiknya kita kembali sekarang, sebelum hujannya semakin deras."

Mereka akhirnya kembali ke tempat mereka pertama kali duduk bersama Angga.

Angga pun secara mengejutkan mendekati mereka setelah sebelumnya hanya diam dengan tatapan marah ke arah Yandi dan tidak melakukan apapun untuk membantu mereka terkait masalah rintihan seseorang.

"Dari mana saja kalian?" Angga bertanya kepada teman-temannya yang baru saja tiba dan basah kuyup diguyur hujan.

"Ada apa kau tiba-tiba menanyakan tentang kami?"

"Bukankah dari tadi, kau sama sekali tidak memperdulikan kami."

Felix yang mengabaikannya sebelumnya, malah menanggapi dengan sangat marah sikap Angga yang memarahi Krishna karena sebelumnya mencoba memberitahunya tentang situasi mereka.

"Apa yang sedang kau bicarakan Felix?"

"Kenapa nada bicaramu kasar begitu padaku, aku pacarmu, kan?" Sambil menatap Felix dengan mata kejam itu.

"Memangnya kenapa, jika nada bicaraku begitu?" Jawab Balas Felix menantang Angga.

"Bukankah sudah sepatutnya aku mengkhawatirkan kalian semua, karena aku adalah pemimpin kelompok ini." Dengan sifat angkuhnya, Angga mengatakan hal tersebut kepada teman-temannya, Tak terkecuali Kepada Felix.

"Jadi begitu! Kalau itu jawabanmu lebih baik aku pergi dari kelompok ini." Tanpa memikirkan resiko kedepannya, Felix mengatakannya sambil sudah merasa kesal dengan sikapnya yang arogan.

"Hmm....! Memangnya seorang gadis sepertimu berani untuk meninggalkan kelompok ini dan menyusuri hutan seorang diri." Masih sombong dan percaya diri, menurutnya Felix tidak akan bisa keluar dari dalam kelompoknya.

"Akan kutunjukkan padamu, kalau aku mampu melakukannya?" Felix ingin membuktikan apa yang Angga katakan padanya tidaklah benar, dia benar-benar bisa pergi tanpa bantuan Angga.

"Hmm..., sangat disayangkan seharusnya kau tetap disini bersamaku dan menemaniku sebagai pacarku."

"Tidak memaksakan keegoisan bodohmu itu karena mungkin saja kau akan mati dalam hitungan detik, jika kau pergi kedalam hutan seorang diri?" Angga berkata demikian dan tersenyum pada Felix.

Felix akhirnya keluar dari kelompok, dia kecewa dan marah dengan sikap yang ditunjukkan Angga padanya sebagai kekasihnya.

Terpopuler

Comments

Senjana

Senjana

WKWKWKWK

2023-01-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!