Kami semua akhirnya berlindung di bawah pohon besar yang aneh itu. Segera hujan turun dan kami sangat terbantu oleh pohon besar tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini.
"Lebih baik kita berteduh dibawah ranting-ranting pohon besar ini?"
Angga selaku ketua tim, memerintahkan anggotanya untuk selalu mematuhi semua aturan dari setiap perintahnya.
"Siap! Ketua."
Semua orang setuju dengan keputusan angga, kecuali Yandi yang diam tak berkata apapun sedari tadi.
Mereka juga berbaris melingkar di sekitar pohon besar sehingga ditutupi dengan daun yang sangat besar, cukup untuk berlindung dari hujan lebat.
Yandi yang selama ini merasa gelisah berkata "Kenapa tiba-tiba aku punya firasat buruk tentang pohon raksasa ini?"
"Yandi, apa yang sedang kau lakukan diluar sana?"
"Cepat Kemarilah! Nanti kau akan masuk angin di tengah hujan seperti ini?"
Anehnya, Yandi menolak instruksi Angga dan memutuskan untuk mencari tempat berlindung lain atau tempat berlindung terdekat daripada tinggal bersama mereka semua.
"Hei...! Kau Pergi Mau kemana?"
Angga membentak Yandi karena tidak menuruti perintahnya.
"Jika kamu tidak patuh, kamu akan membusuk di hutan ini dan tidak ada yang akan datang mencarimu!"
Ucap Angga dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, berusaha menggapai Yandi yang semakin lama semakin jauh.
"Cliek-cliek......." Langkah kaki Yandi yang tengah berjalan di atas jalan yang tergenang oleh air.
"Aku sudah tak peduli lagi, dengan orang pembangkang seperti dia?" Angga marah atas perbuatan Yandi, jadi dia mengutuknya dalam hati.
Mereka akhirnya terpecah menjadi dua kelompok: Angga dan lima temannya yang lain Felix, Nano, Meri, Agung dan Krisna. Sementara Yandi sendirian, dia berada di tempat lain untuk keputusannya sendiri.
"Ha-ha-ha....." Suara Yandi berlari menembus derasnya hujan.
Beberapa waktu kemudian ia kebetulan menemukan pondok tua tak jauh dari lokasinya sekarang.
Yandi melihat pondok di depannya dan berkata "Ha-ha-ha....! Ada sebuah pondok."
"Sebaiknya aku memastikan dulu pondok itu aman atau tidak."
"Kuharap tidak ada hal berbahaya yang terjadi di dalam pondok tua itu." Yandi hanya dapat berharap tidak terjadi apa-apa saat dia masuk ke sana, ditengah gerimis yang masih terus mengguyur.
"Kree.....ek" suara pintu pondok yang sudah sangat tua dan semua besinya banyak yang berkarat.
Yandi memasuki pondok itu dengan perasaan campur aduk dan harus berjalan selangkah demi selangkah melewati gubuk yang sangat kecil itu.
Setelah memastikan tidak ada apa-apa di dalamnya, Yandi memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menjemur pakaiannya yang basah kuyup hingga hujan benar-benar reda.
"Syukurlah, tidak ada yang berbahaya di sekitar pondok ini."
"Aku juga memeriksa bagian belakang, tapi tidak ada yang mencurigakan."
Tiba-tiba Yandi memikirkan nasib teman-temannya yang berlindung di bawah pohon besar.
"Bagaimana dengan keadaan mereka ya, saat ini?"
"Apakah mereka baik-baik saja sekarang?" Yandi mengatakannya sambil menyimpan tasnya.
"Entahlah, kenapa saat aku berasa dekat dengan pohon besar itu membuatku merasa tidak nyaman?"
"Seperti ada sesuatu yang mendiami pohon itu, lebih tepatnya pohon itu seperti memiliki aura mistis didalamnya?"
Yandi memikirkan sekilas bayangan hitam yang sempat dia lihat saat berada di dekat pohon besar yang tampak berbentuk aneh itu.
"Apakah hanya perasaanku saja ya, yang aku lihat tadi di pohon tadi?"
"Aku jadi kepikiran dengan teman-temanku yang ada disana, pokoknya setelah hujan reda aku akan coba kembali ke sana." Ujar Yandi sambil terus saja memikirkan teman-temannya.
"Sebelumnya, jika Aku tidak salah, ketua membentakku dan Aku mendengar dia tengah mengumpat ke arahku."
Yandi berdiri dan bersandar di dinding gubuk tua.
***
(Scane berpindah ke tempat Angga dan 5 orang lainnya yang saat ini tengah berlindung di bawah pohon besar.)
Di sana, terlihat Angga yang masih sangat kesal, karena kata-katanya ditolak mentah-mentah oleh Yandi.
Selama pengalaman aku sebelumnya sebagai pemimpin tim dalam berbagai ekspedisi berkemah, tidak ada yang tidak mematuhi perintahku.
Ini adalah pertama kalinya seseorang berani tidak setuju dengan apa yang Aku katakan.
"Ciih...! Kurang ajar sekali dia, benar-benar harus kuberi pelajaran saat bertemu dia nanti."
Angga mengaku sangat frustasi karena meski sebelumnya sangat disegani karena kualitas kepemimpinannya yang sangat baik dan tegas, ada orang yang berani menantangnya.
"Yandi Bodoh! lihat saja nanti, aku akan menunjukkan kepadamu bahwa keputusankulah yang paling benar."
Tanpa mempertimbangkan perasaan orang-orang di sekitarnya, Angga berulang kali berbicara dalam benaknya, berpikir bahwa dia telah membuat keputusan yang paling tepat.
Felix yang dekat dengannya mulai ragu dengan setiap keputusan yang diambil Angga.
"Entah kenapa, tapi setiap keputusan yang diambil Angga membuatku merasa aneh?"
Felix mengatakan demikian, namun tidak mengatakannya secara langsung karena teman-teman yang lain menaruh harapan besar atas kesuksesan kegiatan dari Angga ini.
Pada akhirnya, Felix tidak punya pilihan selain menunggu sampai dia bisa memberi tahu Angga secara terbuka tentang hal itu.
"Banyak temanku yang lain sudah percaya pada perkataan angga. Aku juga tidak bisa memberitahu pada mereka semua secara langsung."
"Aku juga butuh bantuan Yandi untuk meyakinkan mereka semua."
Felix mengatakan bahwa dia merasa tidak bisa melakukan semuanya sendiri dan membutuhkan bantuan Yandi untuk menyelesaikan semuanya.
Dapat terlihat, jika Angga sedang memikirkan cara untuk membalas Yandi atas apa yang telah dia lakukan.
Sementara itu, Meri, Nano, Agung, dan Krishna terlihat sedang menggosok-gosokkan kedua tangan lalu menempelkannya ke wajah untuk menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan akibat hujan yang semakin lama semakin mengguyur deras.
"Ssk - ssk..." (Suara kedua tangan yang saling digosokkan)
"Haa...! Setidaknya kita bisa menghangatkan diri. Walaupun hanya sebagian kecil dari tubuh kita." Kata Krishna kepada teman yang lain.
"Sampai kapan kita bakal berada disini, aku sudah mulai merasakan ketakutan berlama-lama di tempat ini." Ujar Agung yang semenjak awal perjalanan sebenarnya dirinya sudah ketakutan sejak awal perjalanan kegiatan ini.
Angga yang terus-terusan mendengarkan ocehan dari sikap Agung yang penakut itu, lantas membuatnya geram dan tidak bisa menahan amarahnya.
"Apakah lebih baik bagimu kehujanan di sana daripada berada di sini?"
Agung yang sedang mendengarkan perkataan Angga sambil meluapkan emosinya. Tiba-tiba menjadi sangat ketakutan, tidak mampu menjawab apa yang dikatakannya.
"Jika ada salah satu dari kalian memang tidak suka berada disini, kalian bisa pergi keluar dari sini?"
"Tapi, jika sesuatu terjadi pada kalian nanti! jangan pernah sekalipun menyalahkanku, karena itu merupakan keputusan dari kalian sendiri."
Mendengar kata-kata Angga, membuat semuanya yang ada disana menjadi begitu resah.
Mengingat sama sekali tidak ada cahaya pada malam hari. Jika mereka memutuskan untuk pergi dari sini meninggalkan angga, hanya Anggalah satu-satunya orang yang memiliki peta dengan petunjuk arah dari semua lokasi yang ada di hutan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Henrietta
mampir *the riddle*
2023-02-01
0
Senjana
🙄🙄
2023-01-21
0