Almeera VS Abra

...Ketika aku datang bersenang-senang untuk mencoba mengalihkan perhatian tapi bukannya mendapat ketenangan, aku semakin merasa terganggu dengan pikiranku sendiri....

...~Aufa Falisha...

...****************...

"Tumben kamu bisa keluar?" Kata Mela yang baru saja melihat sahabatnya masuk ke dalam mobilnya.

Gadis cantik yang merupakan sahabat Aufa itu mulai melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah gadis yang terlihat tak baik-baik saja.

"Kau kenapa, Aufa! Mukamu buruk sekali! Awww!" Pekik Mela mengusap kepalanya yang terkena geplakan tangan Aufa.

"Buruk apaan!" Seru Aufa dengan membuka jendela mobilnya.

"Hei, anaknya Bapak Akmal yang terhormat. AC ku hidupin dan kau!"

"Berisik?" Kata Aufa yang membuat Mela menghela nafas berat.

Jika sudah mode begini. Mela sangat tahu jika mood sahabatnya ada di titik tak baik. Dari wajahnya saja sudah sangat terlihat. Apalagi keduanya bukan hanya sahabat di kuliah saja tapi dari jaman TK dasar sampai sebesar ini mereka berdua tetap sama.

Ya, karena keluarga Mela bekerja sama dengan perusahaan keluarganya. Karena Papa Mela adalah sahabat Papa Akmal. Hal itulah yang membuat hubungan keduanya sangat dekat. Bahkan baik Mela ataupun Aufa sering tidur di rumah satu dengan yang lain begitu bebas.

"Kau sedang ada masalah, 'kan? Ada apa?" Tanya Mela menebak.

"Aku baik-baik saja, Mel!" Ketus Aufa dengan membiarkan wajahnya diterpa oleh angin malam.

"Jangan terlalu lama mengeluarkan wajahmu. Nanti kau masuk angin, Aufa!"

Aufa tak mendengar. Dia benar-benar tak peduli apapun. Yang dia inginkan sekarang adalah bagaimana menghapus jejak pikiran Abraham dari otak kecilnya.

Entah apa yang terjadi padanya. Namun, semenjak perpisahan kemarin dengan Abraham, dirinya merasa sesuatu hilang. Padahal Aufa yakin jika dia tak mencintai suaminya itu.

"Mel!" Panggil Aufa setelah beberapa menit hanya ada suara mesin mobil disana.

"Ada apa?"

"Bagaimana rasanya jatuh cinta?" Tanya Aufa ambigu yang membuat Mela menoleh.

Gadis itu mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan teman masa kecilnya ini.

"Untuk apa kau menanyakan itu? Bukankah kau sendiri yang bilang. Jika kau tak percaya cinta?" Kata Mela mengingatkan ucapan Aufa sendiri.

Aufa menegakkan tubuhnya. Dia menutup jendela mobil lalu memiringkan tubuhnya agar bisa menatap sahabatnya dengan puas.

"Jangan banyak bicara! Katakan padaku bagaimana rasanya jatuh cinta?" Ketus Aufa yang membuat Mela melirik gadis itu curiga.

"Kau sedang jatuh cinta kan? Kau uring-uringan pasti karena memikirkan cintamu kan?" Tebak Mela menggoda yang membuat tangan Aufa hendak terangkat lagi. "Oke oke. Ampun. Jangan pukul lagi!"

Mela terlihat menatap ke depan. Dia benar-benar harus membagi tatapannya dengan sesekali melihat sahabatnya yang sepertinya menunggu jawaban dirinya.

"Rasanya jatuh cinta itu, seperti… " Kata Mela menjeda yang membuat Aufa mengangguk tak sabar.

"Seperti apa?" Seru Aufa yang sudah tak sabar.

"Seperti magnum," Goda Mela yang membuat Aufa hendak mengangkat tangannya lagi.

"Oke oke. Aku serius!" Kata Mela menahan tawa.

Jujur baru kali ini dia melihat Aufa sekepo itu tentang cinta. Sejak dulu gadis itu tak pernah menanyakan hal ini padanya. Sejak dulu Aufa tak pernah bercerita tentang cinta, pria dan apapun.

"Cinta itu seperti magnum. Manis dan bikin candu," Ujarnya dengan melirik Aufa sesekali. "Rasanya kayak hati berbunga-bunga. Kalau lagi pengen, pasti kebayang. Ya sama dengan cinta. Kalau lagi jatuh cinta, rasanya gak mau jauh. Pengen deket terus!"

Jantung Aufa berdegup kencang. Kenapa penjelasan sahabatnya ini sama dengan apa yang dia rasakan.

Untuk pertama kalinya semenjak menikah. Baru kali ini mereka berpisah. Pertama kali keduanya harus berbeda tempat. Biasanya mereka selalu bersama. Meski tak ada interaksi lebih. Namun, perlakuan Abraham yang selalu membantunya tanpa diminta. Melakukan semua pekerjaan rumah secara bersama.

Lambat laun membuat perasaan Aufa luluh. Apalagi wajah tampan Abraham yang selalu mampu membuatnya bergetar. Ditambah tingkahnya yang tak bisa ditebak membuat sesuatu dalam dirinya muncul tanpa bisa dicegah.

"Kadang kalau kita inget wajahnya gitu. Inget doang, udah bikin senyum-senyum. Kalau gak dapet kabar, kek khawatir, uring-uringan, kesel pen marah gitu!"

"Cinta seindah itu memang, Fa. Ada manis dan pahit. Ada susah ada senangnya. Lengkap dan saling menyempurnakan!"

Aufa masih diam. Dia benar-benar menelaah semua penjelasan sahabatnya ini. Seumur hidupnya baru kali ini dia dekat dengan pria. Meski dia cantik, nakal, hiperaktif tapi Aufa tak pernah bermain pria di kampus.

Dia jutek dan menutup beberapa pertemanan karena dia hanya nyaman dengan Mela. Meski dia sering bolos kuliah atau tidur. Ya dia lakukan hanya dengan Mela.

"Siapa cowok yang beruntung mendapatkanmu?" Bisik Mela yang membuat lamunan Aufa buyar.

"Kau mengagetkanku!" Seru Aufa lalu menatap sekeliling.

"Kita sudah sampai?" Tanya Aufa yang baru sadar.

"Sudah lima menit yang lalu tapi aku menunggu lamunanmu buyar tentang pria itu!"

"Pria siapa sih!" Seru Aufa dengan mode galak.

Kedua gadis itu turun dari mobil. Mela dengan pelan melingkarkan tangannya di pundak Aufa dan berjalan bersama.

"Daripada kamu galau, mending kita happy happy disini! Sudah lama kita tak datang ke club!" Kata Mela yang dijawab anggukan kepala oleh Aufa.

...****************...

Sedangkan di belahan bumi yang lain. Terlihat seorang pria tengah menyuapi sosok ibunya dengan telaten. Wajah bahagia sosok perempuan paruh baya yang menerima suapan putranya itu terlihat dengan jelas.

Dia benar-benar bersyukur masih mampu melihat wajah anaknya yang dulu masih kecil kini sudah berubah menjadi sosok pria dewasa.

"Ada apa, Bu? Kenapa Ibu melihat Abraham seperti ibu?" Tanya Abraham dengan lembut.

"Ibu masih gak percaya, waktu berjalan dengan cepat. Abraham kecil yang memanggil ibu dengan sebutan Mama. Kini sudah dewasa dan berganti memanggil Ibu. Abangnya Ibu sudah besar dan siap menikah," Kata Almeera yang membuat Abraham mendongak.

"Panggilan itu berubah semenjak Abraham lulus SMA, Bu. Abraham lebih merasa dekat memanggil Ibu daripada Mama!" Kata Abraham dengan lembut.

Almeera mengangguk. Dia mengusap kepala putranya dengan lembut dan tersenyum.

"Boleh Ibu bertanya sesuatu?"

"Tentu. Apapun, Ibu!" Jawab Abraham dengan tersenyum.

"Apakah Abang dekat dengan seorang wanita?"

Jantung Abraham rasanya berhenti berdetak. Dia menatap sosok ibunya yang sepertinya menunggu jawabannya.

"Ibu hanya ingin tau, Sayang. Tapi Ibu tak memaksa Abang bercerita," Lanjut Almeera karena tak mau anaknya tersinggung.

Abraham tersenyum. Dia tak tahu harus menjawab apa karena ia tak mau terus menerus menambah kebohongan yang lain.

Jujur ini hal sulit untuknya. Dia yang sejak dulu terbuka tak akan bisa berbohong pada ibunya.

"Ibu hanya berpesan. Jangan menunda untuk menikah jika sudah menemukan seorang wanita yang tepat. Jangan membuat wanita itu menunggu terlalu lama. Belajarlah dari pengalaman Om kamu, Sayang. Waktu lama berhubungan pacaran selalu tak berakhir dengan bersama. Ibu tak mau kamu menyakiti seorang wanita hanya karena tak siap."

Abraham mengangguk. Dia tahu maksud ibunya ini. "Abra janji tak akan menyakiti hati wanita, Ibu. Jika Abra sudah siap. Abra akan membawanya kesini!"

~Bersambung

Terpopuler

Comments

Cahaya Sidrap

Cahaya Sidrap

semangat thor

2024-05-06

1

Galih Pratama Zhaqi

Galih Pratama Zhaqi

knp aku baru nemu lnjutnya crta Almeera d Barra ya thor terlalu berkelana kemana2 kyaknya deh , 😂🤭 smp2 aku bru nemu crta ank2 mrka 🤣

2024-04-05

0

Oktavia

Oktavia

ada” aja jd ibu. sepele bgt

2023-09-05

2

lihat semua
Episodes
1 Penawaran Mematikan
2 Penghinaan di Hari Pernikahan
3 Mulut Pedas Aufa!
4 Ceraikan Putriku!
5 Sikap Lain Abraham
6 Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7 Bersihkan Aufa!
8 Pertengkaran Pagi
9 Pulangkan Aku ke Papaku!
10 Ketahuan
11 Mertua VS Menantu
12 Perempuan Bernama Auren
13 Kepulangan Bia
14 Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15 Malam Pengantin
16 Kabar Buruk
17 Ditinggalkan!
18 Siapa Abraham Sebenarnya?
19 Gelisah, Galau, Merana
20 Almeera VS Abra
21 Menyatakan Cinta
22 Abraham dan Athaya
23 Frustasi Akut!
24 Bertemu
25 Ketahuan Potret Aufa
26 Dia Kembali!
27 Aku Hanya Mencintaimu
28 Ciuman Penuh Cinta
29 Suap Manja!
30 Kumakan Kamu!
31 Izin Titut Titut Yah?
32 Malam Yang Indah
33 Otak Omes Abang
34 I Want You!
35 Pemanasan Olahraga
36 Menyatakan Hak Milik
37 Ide Gila Baju Dinas
38 Kegiatan Sempurna Ehh!
39 Kebakaran
40 Firasat buruk
41 Permintaan Resepsi Aufa
42 Perusahaan Terguncang
43 Trauma Yang Membekas
44 Sadar!
45 Kamu Percaya sama aku?
46 Kepergian Aufa dan Abraham
47 Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48 Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49 Langkah Pertama Abraham
50 Pelaku Kebakaran
51 Gombalan Berakhir Ciuman
52 Tipu Muslihat Abraham
53 Panggilan Misterius
54 Kotak Rahasia
55 Rahasia Semi
56 Paket Kedua
57 Pingsan
58 Kabar Bahagia
59 Sikap Posesif Abraham
60 Cake Coklat Keju
61 Berhasil!
62 Imbalan Nakal
63 Kepergok?
64 Hadiah Kecil Dari Abra
65 Merestui
66 Ngidam Yang Melelahkan?
67 Suami VS Istri
68 Tekad Abraham
69 Nasehat Almeera
70 Syndrom Morning Sickness
71 Tidur Dengan Mela
72 Kesempatan dalam Kesempitan
73 Bukti Perselingkuhan
74 Mela VS Aufa
75 Pria Tampan
76 Mood Buruk!
77 Pertemuan Kembali
78 Bule Gila!
79 Musibah membawa Berkah Fort
80 Chuross
81 Si Bucin
82 Fort VS Abraham
83 Kelakuan Abra
84 Godaan Mela
85 Cium Pipi?
86 Berkenalan Ulang
87 Traktiran!
88 Bermain Bersama
89 Taruhan
90 Salah Tingkah
91 Hadiah Tanpa Sengaja
92 Terbongkar Perselingkuhan!
93 Didobrak!
94 Memutar Ingatan!
95 Urus Surat Cerai Kita!
96 Kehancuran Keluarga Semi
97 Kabar Buruk Dari Indonesia
98 Rencana Makan Malam
99 Sikap Manja Abraham
100 Dukungan Abraham
101 Aya VS Ryn
102 Keberangkatan!
103 Reyn Aya Kecil
104 Pamit
105 Lamunan Aya
106 Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107 Cemburu Mode Anak
108 Bengkak
109 Sikap Peduli Abraham
110 Kekhawatiran Calon Ayah
111 Bia tinggal bersamamu
112 Kebahagiaan Aufa
113 Anak Abraham Suka Es Krim
114 Bujukan Aufa
115 Kedatangan Bia
116 Berkumpul Lagi
117 Dendam
118 Diikuti!
119 Ditinggal Sendiri!
120 Kekhawatiran Abraham
121 Balas Dendam Semi!
122 Diikat!
123 Menggilanya Semi
124 Abraham Kembali
125 Siuman
126 Pulang
127 Detik-detik opening
128 Panik
129 Memberi Kabar
130 Penyemangat Utama
131 Welcome To The World
132 Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Penawaran Mematikan
2
Penghinaan di Hari Pernikahan
3
Mulut Pedas Aufa!
4
Ceraikan Putriku!
5
Sikap Lain Abraham
6
Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7
Bersihkan Aufa!
8
Pertengkaran Pagi
9
Pulangkan Aku ke Papaku!
10
Ketahuan
11
Mertua VS Menantu
12
Perempuan Bernama Auren
13
Kepulangan Bia
14
Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15
Malam Pengantin
16
Kabar Buruk
17
Ditinggalkan!
18
Siapa Abraham Sebenarnya?
19
Gelisah, Galau, Merana
20
Almeera VS Abra
21
Menyatakan Cinta
22
Abraham dan Athaya
23
Frustasi Akut!
24
Bertemu
25
Ketahuan Potret Aufa
26
Dia Kembali!
27
Aku Hanya Mencintaimu
28
Ciuman Penuh Cinta
29
Suap Manja!
30
Kumakan Kamu!
31
Izin Titut Titut Yah?
32
Malam Yang Indah
33
Otak Omes Abang
34
I Want You!
35
Pemanasan Olahraga
36
Menyatakan Hak Milik
37
Ide Gila Baju Dinas
38
Kegiatan Sempurna Ehh!
39
Kebakaran
40
Firasat buruk
41
Permintaan Resepsi Aufa
42
Perusahaan Terguncang
43
Trauma Yang Membekas
44
Sadar!
45
Kamu Percaya sama aku?
46
Kepergian Aufa dan Abraham
47
Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48
Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49
Langkah Pertama Abraham
50
Pelaku Kebakaran
51
Gombalan Berakhir Ciuman
52
Tipu Muslihat Abraham
53
Panggilan Misterius
54
Kotak Rahasia
55
Rahasia Semi
56
Paket Kedua
57
Pingsan
58
Kabar Bahagia
59
Sikap Posesif Abraham
60
Cake Coklat Keju
61
Berhasil!
62
Imbalan Nakal
63
Kepergok?
64
Hadiah Kecil Dari Abra
65
Merestui
66
Ngidam Yang Melelahkan?
67
Suami VS Istri
68
Tekad Abraham
69
Nasehat Almeera
70
Syndrom Morning Sickness
71
Tidur Dengan Mela
72
Kesempatan dalam Kesempitan
73
Bukti Perselingkuhan
74
Mela VS Aufa
75
Pria Tampan
76
Mood Buruk!
77
Pertemuan Kembali
78
Bule Gila!
79
Musibah membawa Berkah Fort
80
Chuross
81
Si Bucin
82
Fort VS Abraham
83
Kelakuan Abra
84
Godaan Mela
85
Cium Pipi?
86
Berkenalan Ulang
87
Traktiran!
88
Bermain Bersama
89
Taruhan
90
Salah Tingkah
91
Hadiah Tanpa Sengaja
92
Terbongkar Perselingkuhan!
93
Didobrak!
94
Memutar Ingatan!
95
Urus Surat Cerai Kita!
96
Kehancuran Keluarga Semi
97
Kabar Buruk Dari Indonesia
98
Rencana Makan Malam
99
Sikap Manja Abraham
100
Dukungan Abraham
101
Aya VS Ryn
102
Keberangkatan!
103
Reyn Aya Kecil
104
Pamit
105
Lamunan Aya
106
Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107
Cemburu Mode Anak
108
Bengkak
109
Sikap Peduli Abraham
110
Kekhawatiran Calon Ayah
111
Bia tinggal bersamamu
112
Kebahagiaan Aufa
113
Anak Abraham Suka Es Krim
114
Bujukan Aufa
115
Kedatangan Bia
116
Berkumpul Lagi
117
Dendam
118
Diikuti!
119
Ditinggal Sendiri!
120
Kekhawatiran Abraham
121
Balas Dendam Semi!
122
Diikat!
123
Menggilanya Semi
124
Abraham Kembali
125
Siuman
126
Pulang
127
Detik-detik opening
128
Panik
129
Memberi Kabar
130
Penyemangat Utama
131
Welcome To The World
132
Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!