Gelisah, Galau, Merana

...Memang seseorang akan menyadari sebuah perasaan ketika sedang berjauhan....

...~Abraham Barraq Alkahfi...

...****************...

Bia terdiam cukup lama. Namun, sorot matanya seakan mampu membawa gelagat kakaknya sekarang. Hal itu tentu membuat Abraham yang merasa diperhatikan lekas menatap balik sosok adiknya.

"Yaudah. Kalian siapkan saja semua. Kalau ada hal sulit, katakan pada Ayah. Ayah pasti bantu kalian berdua," Ujar Bara pada kedua anaknya yang tiba-tiba diam.

Bia mengangguk. Namun, matanya terus menatap ke arah sorot mata Abraham yang terlihat seperti gelisah.

"Ayah, Bia mau ke depan. Bia minta anter Kak Abra, boleh?" Kata Bia meminta izin.

"Sekarang sudah ada pangeran utama. Jadi gak mau minta anter Ayah," Goda Bara pura-pura merajuk.

Bia tersenyum. Dia memeluk ayahnya kembali dengan erat.

"Ayah tetap king utama di hati Bia tapi kalau sekarang ajak Ayah, takut Ibu cariin. Jadi Bia minta anter Kak Abra aja yah?"

Bara mengangguk. "Ayah hanya bercanda. Hati-hati oke?"

"Siap, Bos."

Akhirnya Bara meninggalkan kedua anaknya untuk kembali ke kamar. Setelah kepergiannya, Bia mendekat dan langsung menyipitkan matanya.

"Pasti dari Kak Aufa, 'kan?"

"Kepo!" Kata Abraham melengos.

Abraham lekas beranjak berdiri. Hal itu tentu membuat Bia ikut berdiri dan mengejar langkah kaki kakaknya.

"Bia kepo loh, Kak. Beneran, kan? Pasti Kak Aufa, 'kan?"

"Bukan urusan, Bia!"

"Galak amat sih!" Seru Bia mencibir. "Orang galak cepet tua. Nanti ada keriput di wajah, baru tau rasa!"

"Kamu do'ain Kakak tua?"

Bia mengedikkan bahunya. "Ya kan bisa aja? Tapi gakpapa sih. Jadinya nanti, Kak Aufa masih muda dan Kak Abra, udah… kakek-kakek!"

Sebelum Abraham menjawab. Bia sudah berlari dengan cepat dan menjulurkan lidahnya. Dia mengejek pria itu dan membuat kepala Abraham menggeleng.

Adiknya masih tetap sama. Jahil, punya sikap cerewet, hangat, baik dan juga satu yang paling tak bisa dicegah, keras kepala. Namun, dibalik itu semua. Bia juga termasuk orang yang lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada dirinya.

"Kamu mau pesan apa, Bi?" Tanya Abraham saat keduanya sudah sampai di depan sebuah cafe yang ada di depan rumah sakit.

Suasana cafe lumayan ramai. Banyak para bule atau warga asli berlalu lalang masuk karena cafe ini memang terkenal enak.

"Aku mau kopi aja," Kata Bia menjawab. "Tanpa gula ya."

"Kamu diet?"

Bia nyengir kuda. Dia melingkarkan tangannya di lengan Abraham dan berkedip manja.

"Aku cuma lagi makan sehat, Kak."

"Sama aja!" Seru Abraham lalu lekas memesan pesanan keduanya agar bisa segera mencari tempat duduk untuk mereka.

"Kakak gak mau hubungi Kak Aufa lagi?" Tanya Bia setelah keduanya duduk dengan tenang.

Abraham terlihat gusar memang dan Bia mampu melihatnya. Kedekatan keduanya memang sangat nyata. Bak kakak adik yang memang saling support antara satu dengan yang lain. Bak kakak adik yang memang tak pernah meninggalkan satu dengan yang lain.

Meski Abraham dekat dengan Omri. Namun, tetap saja yang tahu perjalanan mereka sejauh ini hanyalah Bia. Keduanya yang melewati masa lalu yang kelam tanpa ingin membukanya lagi, membuat Abraham dan Bia berjanji agar tak memberitahu tentang masa lalu orang tuanya pada si kembar.

"Jangan membuat Kak Aufa kepikiran. Bia juga yakin Kakak kesini gak bilang jujur, 'kan?"

Abraham mengangguk. Pria itu menyugar rambutnya ke belakang dan semakin terlihat frustasi.

"Kabari Kak Aufa, Kak Abra. Dia berani menghubungi Kakak duluan, itu menjadi tanda bahwa dia sudah mulai ada rasa yang tengah dirasakan!"

Abraham terpaku. Dia menatap sosok adiknya yang mengatakan dengan tenang. Bibirnya tersenyum dan perlahan tangan hangat dan halus Bia menggenggam tangan dirinya.

"Pria baik mana yang bakal dapetin kamu, Bi?" Tanya Abraham menatap kagum.

Jujur adiknya adalah duplikat ibunya. Hatinya lembut, cerdik dan mampu melewati semuanya tanpa bercerita. Terkadang Abraham harus menanyakan kabar pada sang adik dan sedikit memaksa agar Bia mau bercerita tentang kuliahnya.

"Pria baik yang seperti Ayah dan Kakak," Jawab Bia secara langsung.

"Tapi Kakak gak mau kalau kamu dapet pria kayak Ayah," Ujar Abraham menolak.

"Kenapa?"

"Kakak gak mau, kamu jadi kedua, ketiga atau hanya pelampiasan. Atau bisa jadi kamu jadi yang pertama tapi diduakan. Kakak gak mau dan gak pernah ikhlas!"

Bia tersenyum. Dia mengusap tangan kakaknya yang terlihat emosi itu dengan lembut.

"Takdir seseorang gak ada yang tau, Kak. Masalah dan ujian kita berbeda tapi Bia yakin. Tuhan gak bakal kasih ujian yang lebih dari apa yang kita bisa!"

...****************...

"Apa yang aku lakuin?" Umpat Aufa dengan melempar hpnya ke ranjang.

Dia benar-benar tak tahu apa yang sudah dia lakukan. Dengan nakalnya jemari lentiknya itu menekan nomor Abraham yang dia minta dari papanya dengan alasan tak masuk akal.

Dia sangat ingat betul bagaimana dirinya yang mencoba berkilah dari pertanyaan papanya tadi.

"Kamu beneran kangen sama Abra kan?" Tanya Papa Akmal dengan menaikkan salah satu alisnya.

Saat ini keduanya tengah berada di ruang kerja papanya. Papa Akmal tengah mengerjakan laporan dan terkejut dengan kehadiran putrinya.

"Apaan sih, Pa! Orang Aufa minta nomer dia cuma mau tanya dimana dia taruh kaos Aufa yang putih," Kata Aufa berkilah.

Akhh ide buruk sekali. Dirinya benar-benar nekat meminta pada papanya. Entah apa yang membuatnya bertingkah seperti ini. Angin dari mana yang merasukinya tapi yang pasti Aufa hanya ingin menghubungi suaminya.

"Yakin? Bukan ada hal lain?" Goda Papa Akmal dengan cekikikan.

Aufa cemberut. Dia duduk di kursi depan meja kerja papanya dengan kesal.

"Yaudah. Aufa gak jadi minta!"

"Tunggu-tunggu!" Kata Papa Akmal mencegah. "Papa bakalan kasih kok. Mana tega Papa menolak permintaan princess Papa satu ini?"

Entah kenapa ucapan papanya seperti angin segar. Aufa tersenyum dan mengulurkan tangannya.

"Semangat banget sih! Emang beda kalau udah cinta yah. Kayak Mama sama Papa dulu, malu-malu kucing!"

"Emang aku cinta sama dia?" Kata Aufa pada dirinya sendiri setelah lamunannya buyar.

Kepalanya menggeleng. Dia memukul kepalanya pelan seakan menyadarkan dirinya yang hampir gila.

"Apa yang membuatku cinta sama dia? Dia miskin, rumah kecil terus seorang montir lagi!"

Tapi dia ganteng, baik, perhatian dan ngangenin, lanjut suara hati Aufa yang semakin menjadi.

"Akhhh dia benar-benar bikin aku gila!" kata Aufa mengacak rambutnya sendiri.

Dia benar-benar tak ada kerjaan. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada Abraham dan ingin menghubunginya lagi.

"Lebih baik aku hubungi Mela. Aku akan mengajaknya party daripada harus diam di kamar seperti orang gila menunggu kabarnya!" Ujar Aufa berceletuk. "Tapi memang dia tahu kalau yang telfon aku. Bukanlah kita gak pernah tukeran nomor telepon?"

~Bersambung

Terpopuler

Comments

Cahaya Sidrap

Cahaya Sidrap

next thor

2024-05-06

1

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

TAPI TAKDIR BERKATA LAIN, BHKN KISAH BIA LBH MNYEDIHKN DARI KISAH MAMA ALMEERA....

2023-11-10

2

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

SAYANGNYA KISAH PERCINTAAN BIA SANGAT RUMIT.. MNGKIN QISAS ATAU KARMA DARI KLAKUAN BARA AYAHNYA DLU....

2023-11-10

1

lihat semua
Episodes
1 Penawaran Mematikan
2 Penghinaan di Hari Pernikahan
3 Mulut Pedas Aufa!
4 Ceraikan Putriku!
5 Sikap Lain Abraham
6 Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7 Bersihkan Aufa!
8 Pertengkaran Pagi
9 Pulangkan Aku ke Papaku!
10 Ketahuan
11 Mertua VS Menantu
12 Perempuan Bernama Auren
13 Kepulangan Bia
14 Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15 Malam Pengantin
16 Kabar Buruk
17 Ditinggalkan!
18 Siapa Abraham Sebenarnya?
19 Gelisah, Galau, Merana
20 Almeera VS Abra
21 Menyatakan Cinta
22 Abraham dan Athaya
23 Frustasi Akut!
24 Bertemu
25 Ketahuan Potret Aufa
26 Dia Kembali!
27 Aku Hanya Mencintaimu
28 Ciuman Penuh Cinta
29 Suap Manja!
30 Kumakan Kamu!
31 Izin Titut Titut Yah?
32 Malam Yang Indah
33 Otak Omes Abang
34 I Want You!
35 Pemanasan Olahraga
36 Menyatakan Hak Milik
37 Ide Gila Baju Dinas
38 Kegiatan Sempurna Ehh!
39 Kebakaran
40 Firasat buruk
41 Permintaan Resepsi Aufa
42 Perusahaan Terguncang
43 Trauma Yang Membekas
44 Sadar!
45 Kamu Percaya sama aku?
46 Kepergian Aufa dan Abraham
47 Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48 Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49 Langkah Pertama Abraham
50 Pelaku Kebakaran
51 Gombalan Berakhir Ciuman
52 Tipu Muslihat Abraham
53 Panggilan Misterius
54 Kotak Rahasia
55 Rahasia Semi
56 Paket Kedua
57 Pingsan
58 Kabar Bahagia
59 Sikap Posesif Abraham
60 Cake Coklat Keju
61 Berhasil!
62 Imbalan Nakal
63 Kepergok?
64 Hadiah Kecil Dari Abra
65 Merestui
66 Ngidam Yang Melelahkan?
67 Suami VS Istri
68 Tekad Abraham
69 Nasehat Almeera
70 Syndrom Morning Sickness
71 Tidur Dengan Mela
72 Kesempatan dalam Kesempitan
73 Bukti Perselingkuhan
74 Mela VS Aufa
75 Pria Tampan
76 Mood Buruk!
77 Pertemuan Kembali
78 Bule Gila!
79 Musibah membawa Berkah Fort
80 Chuross
81 Si Bucin
82 Fort VS Abraham
83 Kelakuan Abra
84 Godaan Mela
85 Cium Pipi?
86 Berkenalan Ulang
87 Traktiran!
88 Bermain Bersama
89 Taruhan
90 Salah Tingkah
91 Hadiah Tanpa Sengaja
92 Terbongkar Perselingkuhan!
93 Didobrak!
94 Memutar Ingatan!
95 Urus Surat Cerai Kita!
96 Kehancuran Keluarga Semi
97 Kabar Buruk Dari Indonesia
98 Rencana Makan Malam
99 Sikap Manja Abraham
100 Dukungan Abraham
101 Aya VS Ryn
102 Keberangkatan!
103 Reyn Aya Kecil
104 Pamit
105 Lamunan Aya
106 Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107 Cemburu Mode Anak
108 Bengkak
109 Sikap Peduli Abraham
110 Kekhawatiran Calon Ayah
111 Bia tinggal bersamamu
112 Kebahagiaan Aufa
113 Anak Abraham Suka Es Krim
114 Bujukan Aufa
115 Kedatangan Bia
116 Berkumpul Lagi
117 Dendam
118 Diikuti!
119 Ditinggal Sendiri!
120 Kekhawatiran Abraham
121 Balas Dendam Semi!
122 Diikat!
123 Menggilanya Semi
124 Abraham Kembali
125 Siuman
126 Pulang
127 Detik-detik opening
128 Panik
129 Memberi Kabar
130 Penyemangat Utama
131 Welcome To The World
132 Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Penawaran Mematikan
2
Penghinaan di Hari Pernikahan
3
Mulut Pedas Aufa!
4
Ceraikan Putriku!
5
Sikap Lain Abraham
6
Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7
Bersihkan Aufa!
8
Pertengkaran Pagi
9
Pulangkan Aku ke Papaku!
10
Ketahuan
11
Mertua VS Menantu
12
Perempuan Bernama Auren
13
Kepulangan Bia
14
Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15
Malam Pengantin
16
Kabar Buruk
17
Ditinggalkan!
18
Siapa Abraham Sebenarnya?
19
Gelisah, Galau, Merana
20
Almeera VS Abra
21
Menyatakan Cinta
22
Abraham dan Athaya
23
Frustasi Akut!
24
Bertemu
25
Ketahuan Potret Aufa
26
Dia Kembali!
27
Aku Hanya Mencintaimu
28
Ciuman Penuh Cinta
29
Suap Manja!
30
Kumakan Kamu!
31
Izin Titut Titut Yah?
32
Malam Yang Indah
33
Otak Omes Abang
34
I Want You!
35
Pemanasan Olahraga
36
Menyatakan Hak Milik
37
Ide Gila Baju Dinas
38
Kegiatan Sempurna Ehh!
39
Kebakaran
40
Firasat buruk
41
Permintaan Resepsi Aufa
42
Perusahaan Terguncang
43
Trauma Yang Membekas
44
Sadar!
45
Kamu Percaya sama aku?
46
Kepergian Aufa dan Abraham
47
Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48
Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49
Langkah Pertama Abraham
50
Pelaku Kebakaran
51
Gombalan Berakhir Ciuman
52
Tipu Muslihat Abraham
53
Panggilan Misterius
54
Kotak Rahasia
55
Rahasia Semi
56
Paket Kedua
57
Pingsan
58
Kabar Bahagia
59
Sikap Posesif Abraham
60
Cake Coklat Keju
61
Berhasil!
62
Imbalan Nakal
63
Kepergok?
64
Hadiah Kecil Dari Abra
65
Merestui
66
Ngidam Yang Melelahkan?
67
Suami VS Istri
68
Tekad Abraham
69
Nasehat Almeera
70
Syndrom Morning Sickness
71
Tidur Dengan Mela
72
Kesempatan dalam Kesempitan
73
Bukti Perselingkuhan
74
Mela VS Aufa
75
Pria Tampan
76
Mood Buruk!
77
Pertemuan Kembali
78
Bule Gila!
79
Musibah membawa Berkah Fort
80
Chuross
81
Si Bucin
82
Fort VS Abraham
83
Kelakuan Abra
84
Godaan Mela
85
Cium Pipi?
86
Berkenalan Ulang
87
Traktiran!
88
Bermain Bersama
89
Taruhan
90
Salah Tingkah
91
Hadiah Tanpa Sengaja
92
Terbongkar Perselingkuhan!
93
Didobrak!
94
Memutar Ingatan!
95
Urus Surat Cerai Kita!
96
Kehancuran Keluarga Semi
97
Kabar Buruk Dari Indonesia
98
Rencana Makan Malam
99
Sikap Manja Abraham
100
Dukungan Abraham
101
Aya VS Ryn
102
Keberangkatan!
103
Reyn Aya Kecil
104
Pamit
105
Lamunan Aya
106
Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107
Cemburu Mode Anak
108
Bengkak
109
Sikap Peduli Abraham
110
Kekhawatiran Calon Ayah
111
Bia tinggal bersamamu
112
Kebahagiaan Aufa
113
Anak Abraham Suka Es Krim
114
Bujukan Aufa
115
Kedatangan Bia
116
Berkumpul Lagi
117
Dendam
118
Diikuti!
119
Ditinggal Sendiri!
120
Kekhawatiran Abraham
121
Balas Dendam Semi!
122
Diikat!
123
Menggilanya Semi
124
Abraham Kembali
125
Siuman
126
Pulang
127
Detik-detik opening
128
Panik
129
Memberi Kabar
130
Penyemangat Utama
131
Welcome To The World
132
Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!