Perempuan Bernama Auren

...Kadang kita perlu bersikap tegas jika tak ingin direndahkan. Kita tak boleh menunjukkan bagaimana lemahnya kita agar mereka tak semena-mena pada kita....

...~Abraham Barraq Alkahfi...

...****************...

Saat mobil yang baru saja dikemudikan oleh Abraham memasuki area bengkel yang terlihat makin ramai. Perempuan yang sejak tadi menangis di sampingnya lekas meraih tas punggungnya.

Aufa, perempuan itu mulai keluar dan menutup pintu mobil dengan kasar. Lalu dia segera berlari tanpa melihat siapapun disana.

"Aww!" Pekik seorang perempuan cantik dengan make up natural yang tertabrak oleh Aufa sampai terjatuh.

Aufa berhenti sejenak. Namun, bukannya minta maaf atau menolong. Perempuan itu kembali melanjutkan langkahnya. Dia meninggalkan wanita itu tanpa kata dan masuk ke dalam rumah.

Hal itu membuat Abraham yang melihatnya spontan berlari ke arah wanita itu.

"Maaf, Mbak. Maafkan istriku," Kata Abraham dengan suaranya yang berat dan tangannya terulur ingin membantu.

Suara itu membuat wanita cantik yang ingin mengumpat spontan mendongak. Matanya seakan terpanah melihat sosok Abraham yang berada di dekatnya.

Mata lentik itu menatap begitu lekat hingga membuat Abraham merasa risih.

"Mbak?" Kata Abraham dengan melambaikan tangannya mencoba menyadarkan wanita itu dengan baik.

"Oh iya, Mas. Maaf," Kata wanita itu terlihat salah tingkah.

"Mari saya bantu," Ujar Abraham yang benar-benar merasa bersalah dengan tingkah istrinya itu.

Akhirnya wanita itu menerima uluran tangan Abraham. Pria dengan pakaian kaos dan celana panjang itu meneliti kondisi wanita itu dengan baik.

"Mbak gak papa, 'kan? Atas nama istriku, saya benar-benar minta maaf," Kata Abraham dengan sopan.

"Jadi tadi itu. Istri?"

"Ya. Dia istri saya," Kata Abraham menegaskan.

Terlihat wajah perempuan itu seakan kecewa. Namun, Abraham tak memperdulikan hal itu. Yang terpenting dirinya sudah membantu dan meminta maaf atas perilaku istrinya.

"Sekali lagi saya minta maaf, Mbak," Kata Abraham dengan posisi yang sangat ingin mengejar Aufa.

"Iya gapapa, Mas. Tapi boleh kita berkenalan?" Ujar wanita itu dengan senyum manis dia berikan di bibirnya.

Abraham dengan wajah ramah mengangguk. Dia selalu bersikap baik dan sopan pada semua pelanggannya. Dia tak pernah pilih-pilih pada siapapun. Pada pelanggan lama, baru. Yang tua atau yang muda semua perilaku dan pelayanan Abraham sama.

"Abraham," Katanya dengan sopan dan menerima uluran tangan wanita itu.

"Saya Auren. Bisa panggil Uren," Sahutnya dengan ramah dan menggenggam tangan Abraham tanpa mau dilepas.

"Saya langganan disini. Saya selalu puas dengan kinerja para montir Anda," Ujar Auren dan membuat Abraham menelan ludahnya karena merasa tak nyaman.

"Bisa lepas tangan saya, Mbak?" Kata Abraham dengan wajah tak enak.

"Ohh. Maaf, Mas Abra. Saya tidak sengaja," Kata Auren dengan menyatukan kedua tangannya dan berwajah menyesal.

Abraham mengangguk. "Saya masuk dulu ya, Mbak. Saya mau menyusul istri saya."

"Eh tapi tunggu dulu, Mas," Kata Auren mencegah dengan menarik tangan Abraham.

Abraham yang sudah melangkah satu langkah spontan menghentikan langkahnya.

"Ya. ada apa?" Sahut Abraham dan mencoba melepas tangan Auren dari tangannya.

"Oh maaf, Mas. Maaf," Kata Auren secara langsung. "Begini mobilku ini sering mogok. Saya boleh minta nomer Mas Abra. Jadi kalau mogok saya bisa menghubungi, Mas?"

Auren mengatakannya dengan tersenyum. Dia benar-benar terpikat dan suka kepribadian pria di depannya ini. Wajahnya tampan dan manis. Bahkan jika dipandang pun tidak membosankan.

"Boleh, Mbak. Tunggu sebentar," Kata Abraham lalu berlari ke arah bengkel.

Dia seperti meminta sesuatu dan kembali ke tempat dimana ada Auren disana.

"Jika mobil Mbak Auren mogok. Mbak bisa menghubungi nomor kontak ini yah," Kata Abraham dengan sopan.

Auren melihat kartu nama itu. Dia menerimanya dan tertulis nomor telepon dan nomor rumah bengkel.

"Tapi… "

"Saya izin masuk dulu ya, Mbak. Saya benar-benar ada urusan. Mari," Sela Abraham lalu segera menunduk sopan dan lekas menyusul sangat istri yang berlari di dalam rumah.

Saat Abraham baru saja membuka pintu rumahnya. Seorang perempuan terlihat menghadang jalannya dengan mata tajam.

"Aufa!"

"Senang bicara dengan wanita lain?" Seru Aufa dengan alisnya yang mengerut tajam. "Gak malu diliatin banyak orang?"

"Apa maksudmu?" Seru Abraham tak mengerti.

"Kamu memang pria yang selalu benar dan aku membencimu!" Seru Aufa dengan marah dan lekas berlari masuk ke kamar.

Saat Abraham hendak menyusul istrinya. Seorang gadis yang tengah duduk tenang di ruang tamu menggeleng.

"Rasanya aku seperti menonton series drakor," Ujar Bia yang membuat Abraham menoleh.

Dia baru sadar jika disana ada sang adik yang masih tenang duduk di bawah sambil menatap layar laptopnya.

"Apa yang terjadi sama Aufa, Bi? Kenapa dia marah?"

Bia menahan tawanya. Sejujurnya dia adalah bukti dan saksi mata bagaimana tingkah kakak iparnya tadi. Gadis itu masih ingat betul saat dia mulai mengetik naskah yang harus dia selesaikan hari ini untuk tugas kuliah.

Sebuah pintu yang dibuka kasar membuatnya menoleh dan menghentikan tangannya. Matanya menatap sosok Aufa yang masuk dengan menghapus air matanya.

Saat Bia hendak bertanya. Aufa terlihat berbalik dan membuka sedikit tirai rumah mereka.

"Semua pria memang sama. Bukannya minta maaf karena tanganku merah dan tak diizinkan bertemu dengan mama. Dia malah asyik berbicara dengan wanita lain," Umpat Aufa dengan kesal.

Bia masih diam. Namun, perlahan dia melangkah mendekati tirai sebelah kiri yang ada di dekatnya. Dia ingin melihat apa yang sebenarnya kakak iparnya itu lihat.

"Dasar perempuan kecentilan. Lihat matanya jelalatan banget sama suami orang," Sembur Aufa yang benar-benar tak sadar jika ada Bia disana.

Bia menahan tawa. Dia perlahan duduk kembali ke tempat asalnya agar iparnya itu tak melihat posisinya. Dirinya yang duduk di bawah membuat Bia tak terlihat kecuali orang itu menatap ke arahnya.

"Pria itu juga! Sama-sama kecentilan. Setelah memarahiku dan membuatku menangis malah menggoda wanita lain!" Seru Aufa mengomel sendiri.

Dia benar-benar bak anak kecil. Menghentakkan kakinya ke lantai sebagai pelampiasan. Dirinya benar-benar marah dan terlihat seperti cemburu di mata Bia.

"Kamu serius, Bi?" Tanya Abraham tak percaya.

Ada sesuatu yang membuat Abraham senang. Bahkan bibir pria itu terlihat melengkung ke atas.

"Serius," Kata Bia lalu berjalan ke arah kakak laki-lakinya itu. "Bia yakin cinta Kakak bakalan berbalas."

"Maksud kamu?"

Bia tersenyum. Dia meraih tangan Abraham dan menggenggamnya dengan erat.

"Jangan bohong sama Bia, Kak. Kakak suka sama Kak Aufa, 'kan? Kakak udah cinta, 'kan?"

Abraham terdiam tapi sorot matanya menatap mata Bia yang sama tengah menatapnya.

"Meski Kakak gak bilang. Bia tau dari tingkah laku, Kakak. Jangan lupa, kita selalu bersama dan tahu sosok di antara kita dengan baik, Kak. Jadi Kakak gak bisa bohong sama Bia," Ujar Bia yang membuat Abraham tertegun.

Dia juga melupakan sesuatu jika dirinya sejak dulu tak bisa berbohong dan menutupi sesuatu dari adik perempuannya ini.

"Apa sikap Kakak terlihat?"

Kepala Bia menggeleng. "Teruslah seperti ini, Kak. Aku tau Kakak menutupinya agar Kak Aufa berubah. Bia mendukung usaha Kakak yang terpenting! Jangan pernah mengikuti jejak Ayah pada Ibu."

~Bersambung

Terpopuler

Comments

Cahaya Sidrap

Cahaya Sidrap

next thor

2024-05-05

1

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

NGAKUIN JUGA KLO ABRA SUAMI LO YAA..😁😁😁😁😁

2023-11-10

2

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

CEMBURU TU AUFA....

2023-11-10

1

lihat semua
Episodes
1 Penawaran Mematikan
2 Penghinaan di Hari Pernikahan
3 Mulut Pedas Aufa!
4 Ceraikan Putriku!
5 Sikap Lain Abraham
6 Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7 Bersihkan Aufa!
8 Pertengkaran Pagi
9 Pulangkan Aku ke Papaku!
10 Ketahuan
11 Mertua VS Menantu
12 Perempuan Bernama Auren
13 Kepulangan Bia
14 Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15 Malam Pengantin
16 Kabar Buruk
17 Ditinggalkan!
18 Siapa Abraham Sebenarnya?
19 Gelisah, Galau, Merana
20 Almeera VS Abra
21 Menyatakan Cinta
22 Abraham dan Athaya
23 Frustasi Akut!
24 Bertemu
25 Ketahuan Potret Aufa
26 Dia Kembali!
27 Aku Hanya Mencintaimu
28 Ciuman Penuh Cinta
29 Suap Manja!
30 Kumakan Kamu!
31 Izin Titut Titut Yah?
32 Malam Yang Indah
33 Otak Omes Abang
34 I Want You!
35 Pemanasan Olahraga
36 Menyatakan Hak Milik
37 Ide Gila Baju Dinas
38 Kegiatan Sempurna Ehh!
39 Kebakaran
40 Firasat buruk
41 Permintaan Resepsi Aufa
42 Perusahaan Terguncang
43 Trauma Yang Membekas
44 Sadar!
45 Kamu Percaya sama aku?
46 Kepergian Aufa dan Abraham
47 Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48 Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49 Langkah Pertama Abraham
50 Pelaku Kebakaran
51 Gombalan Berakhir Ciuman
52 Tipu Muslihat Abraham
53 Panggilan Misterius
54 Kotak Rahasia
55 Rahasia Semi
56 Paket Kedua
57 Pingsan
58 Kabar Bahagia
59 Sikap Posesif Abraham
60 Cake Coklat Keju
61 Berhasil!
62 Imbalan Nakal
63 Kepergok?
64 Hadiah Kecil Dari Abra
65 Merestui
66 Ngidam Yang Melelahkan?
67 Suami VS Istri
68 Tekad Abraham
69 Nasehat Almeera
70 Syndrom Morning Sickness
71 Tidur Dengan Mela
72 Kesempatan dalam Kesempitan
73 Bukti Perselingkuhan
74 Mela VS Aufa
75 Pria Tampan
76 Mood Buruk!
77 Pertemuan Kembali
78 Bule Gila!
79 Musibah membawa Berkah Fort
80 Chuross
81 Si Bucin
82 Fort VS Abraham
83 Kelakuan Abra
84 Godaan Mela
85 Cium Pipi?
86 Berkenalan Ulang
87 Traktiran!
88 Bermain Bersama
89 Taruhan
90 Salah Tingkah
91 Hadiah Tanpa Sengaja
92 Terbongkar Perselingkuhan!
93 Didobrak!
94 Memutar Ingatan!
95 Urus Surat Cerai Kita!
96 Kehancuran Keluarga Semi
97 Kabar Buruk Dari Indonesia
98 Rencana Makan Malam
99 Sikap Manja Abraham
100 Dukungan Abraham
101 Aya VS Ryn
102 Keberangkatan!
103 Reyn Aya Kecil
104 Pamit
105 Lamunan Aya
106 Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107 Cemburu Mode Anak
108 Bengkak
109 Sikap Peduli Abraham
110 Kekhawatiran Calon Ayah
111 Bia tinggal bersamamu
112 Kebahagiaan Aufa
113 Anak Abraham Suka Es Krim
114 Bujukan Aufa
115 Kedatangan Bia
116 Berkumpul Lagi
117 Dendam
118 Diikuti!
119 Ditinggal Sendiri!
120 Kekhawatiran Abraham
121 Balas Dendam Semi!
122 Diikat!
123 Menggilanya Semi
124 Abraham Kembali
125 Siuman
126 Pulang
127 Detik-detik opening
128 Panik
129 Memberi Kabar
130 Penyemangat Utama
131 Welcome To The World
132 Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Penawaran Mematikan
2
Penghinaan di Hari Pernikahan
3
Mulut Pedas Aufa!
4
Ceraikan Putriku!
5
Sikap Lain Abraham
6
Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7
Bersihkan Aufa!
8
Pertengkaran Pagi
9
Pulangkan Aku ke Papaku!
10
Ketahuan
11
Mertua VS Menantu
12
Perempuan Bernama Auren
13
Kepulangan Bia
14
Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15
Malam Pengantin
16
Kabar Buruk
17
Ditinggalkan!
18
Siapa Abraham Sebenarnya?
19
Gelisah, Galau, Merana
20
Almeera VS Abra
21
Menyatakan Cinta
22
Abraham dan Athaya
23
Frustasi Akut!
24
Bertemu
25
Ketahuan Potret Aufa
26
Dia Kembali!
27
Aku Hanya Mencintaimu
28
Ciuman Penuh Cinta
29
Suap Manja!
30
Kumakan Kamu!
31
Izin Titut Titut Yah?
32
Malam Yang Indah
33
Otak Omes Abang
34
I Want You!
35
Pemanasan Olahraga
36
Menyatakan Hak Milik
37
Ide Gila Baju Dinas
38
Kegiatan Sempurna Ehh!
39
Kebakaran
40
Firasat buruk
41
Permintaan Resepsi Aufa
42
Perusahaan Terguncang
43
Trauma Yang Membekas
44
Sadar!
45
Kamu Percaya sama aku?
46
Kepergian Aufa dan Abraham
47
Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48
Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49
Langkah Pertama Abraham
50
Pelaku Kebakaran
51
Gombalan Berakhir Ciuman
52
Tipu Muslihat Abraham
53
Panggilan Misterius
54
Kotak Rahasia
55
Rahasia Semi
56
Paket Kedua
57
Pingsan
58
Kabar Bahagia
59
Sikap Posesif Abraham
60
Cake Coklat Keju
61
Berhasil!
62
Imbalan Nakal
63
Kepergok?
64
Hadiah Kecil Dari Abra
65
Merestui
66
Ngidam Yang Melelahkan?
67
Suami VS Istri
68
Tekad Abraham
69
Nasehat Almeera
70
Syndrom Morning Sickness
71
Tidur Dengan Mela
72
Kesempatan dalam Kesempitan
73
Bukti Perselingkuhan
74
Mela VS Aufa
75
Pria Tampan
76
Mood Buruk!
77
Pertemuan Kembali
78
Bule Gila!
79
Musibah membawa Berkah Fort
80
Chuross
81
Si Bucin
82
Fort VS Abraham
83
Kelakuan Abra
84
Godaan Mela
85
Cium Pipi?
86
Berkenalan Ulang
87
Traktiran!
88
Bermain Bersama
89
Taruhan
90
Salah Tingkah
91
Hadiah Tanpa Sengaja
92
Terbongkar Perselingkuhan!
93
Didobrak!
94
Memutar Ingatan!
95
Urus Surat Cerai Kita!
96
Kehancuran Keluarga Semi
97
Kabar Buruk Dari Indonesia
98
Rencana Makan Malam
99
Sikap Manja Abraham
100
Dukungan Abraham
101
Aya VS Ryn
102
Keberangkatan!
103
Reyn Aya Kecil
104
Pamit
105
Lamunan Aya
106
Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107
Cemburu Mode Anak
108
Bengkak
109
Sikap Peduli Abraham
110
Kekhawatiran Calon Ayah
111
Bia tinggal bersamamu
112
Kebahagiaan Aufa
113
Anak Abraham Suka Es Krim
114
Bujukan Aufa
115
Kedatangan Bia
116
Berkumpul Lagi
117
Dendam
118
Diikuti!
119
Ditinggal Sendiri!
120
Kekhawatiran Abraham
121
Balas Dendam Semi!
122
Diikat!
123
Menggilanya Semi
124
Abraham Kembali
125
Siuman
126
Pulang
127
Detik-detik opening
128
Panik
129
Memberi Kabar
130
Penyemangat Utama
131
Welcome To The World
132
Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!